Rentan Rusak, Dokumentasi Koleksi Perlu Digencarkan di Permuseuman Indonesia
18 July 2025 |
09:00 WIB
Koleksi museum adalah saksi bisu perjalanan peradaban. Namun, di balik kekayaan sejarah dan budaya yang tersimpan, dunia permuseuman Indonesia masih dihadapkan pada tantangan besar, salah satunya adalah minimnya dokumentasi sistematis terhadap koleksi yang dimiliki.
Iklim tropis di Nusantara membuat berbagai artefak menjadi sangat rentan terhadap kerusakan. Selain itu, Indonesia yang berada di lingkaran Cincin Api Pasifik juga memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam, mulai dari gempa bumi hingga banjir dan kebakaran.
Namun, permasalahan yang paling krusial justru terletak pada aspek dokumentasi. Tidak semua koleksi museum tercatat secara rapi dan terdigitalisasi. Akibatnya, saat terjadi bencana, banyak koleksi tidak dapat diidentifikasi atau ditelusuri kembali asal-usulnya.
Baca juga: Menbud Dorong Inovasi & Tata Kelola Museum Agar Dilirik Generasi Muda
Menjawab kebutuhan tersebut, Indonesian Museums Documentation Project (IMDP) resmi diluncurkan pada Kamis (17/7/2025) di Museum Nasional, Jakarta. Proyek yang juga dikenal dengan nama "Koleksi Kita" ini bertujuan memperkuat kapasitas museum-museum di Jakarta dalam mengelola, melindungi, dan berbagi koleksi budaya mereka secara lebih bertanggung jawab.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo mengatakan bahwa sebagai negara yang berada di zona rawan bencana, Indonesia harus memprioritaskan perlindungan terhadap dokumen dan koleksi museum. Ia mencontohkan salah satu koleksi dari situs Bongal di Sumatra Utara yang pernah hilang akibat tsunami. Koleksi itu diyakini sebagai bukti penting masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-7.
"Hal ini menunjukkan betapa pentingnya melindungi dokumen dari risiko bencana. Saya mengapresiasi peluncuran proyek ini, yang semoga mampu menjadi solusi nyata dalam menjaga benda budaya di museum kita," ujarnya.
Selaras, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter M. Haymond, mengatakan bahwa pihaknya bersama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) dan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta siap mendukung pelestarian warisan budaya Indonesia. Fokus kerja sama ini mencakup penguatan dokumentasi, pelestarian, dan aksesibilitas koleksi di museum-museum publik di Jakarta.
“Kami akan menerapkan sistem dokumentasi di 12 museum, termasuk Museum Nasional. Salah satunya dengan cara mengorganisasi dan melacak benda-benda yang ada,” ujarnya.
Mengutip laman resminya, IMDP dijalankan oleh SEAMS bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Indonesian Heritage Agency. Program ini didukung oleh U.S. Ambassador’s Fund for Cultural Preservation (AFCP) dan berlangsung dari 2024 hingga 2026.
Proyek ini mencakup pendokumentasian lebih dari 1.200 objek koleksi dari 11 museum publik di Jakarta, serta penelitian asal-usul (provenance) terhadap 60 koleksi dari era kolonial yang disimpan di Museum Nasional dengan pendekatan kuratorial yang signifikan.
Lewat serangkaian lokakarya praktis, seminar kuratorial, hingga pameran digital, proyek ini bertujuan mendorong praktik permuseuman berkelanjutan serta membuka ruang partisipasi publik. Upaya ini tidak hanya memperkuat kapasitas tenaga museum, tetapi juga membangun kesadaran publik akan pentingnya dokumentasi dalam pelestarian budaya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Iklim tropis di Nusantara membuat berbagai artefak menjadi sangat rentan terhadap kerusakan. Selain itu, Indonesia yang berada di lingkaran Cincin Api Pasifik juga memiliki kerentanan tinggi terhadap bencana alam, mulai dari gempa bumi hingga banjir dan kebakaran.
Namun, permasalahan yang paling krusial justru terletak pada aspek dokumentasi. Tidak semua koleksi museum tercatat secara rapi dan terdigitalisasi. Akibatnya, saat terjadi bencana, banyak koleksi tidak dapat diidentifikasi atau ditelusuri kembali asal-usulnya.
Baca juga: Menbud Dorong Inovasi & Tata Kelola Museum Agar Dilirik Generasi Muda
Menjawab kebutuhan tersebut, Indonesian Museums Documentation Project (IMDP) resmi diluncurkan pada Kamis (17/7/2025) di Museum Nasional, Jakarta. Proyek yang juga dikenal dengan nama "Koleksi Kita" ini bertujuan memperkuat kapasitas museum-museum di Jakarta dalam mengelola, melindungi, dan berbagi koleksi budaya mereka secara lebih bertanggung jawab.
Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha Djumaryo mengatakan bahwa sebagai negara yang berada di zona rawan bencana, Indonesia harus memprioritaskan perlindungan terhadap dokumen dan koleksi museum. Ia mencontohkan salah satu koleksi dari situs Bongal di Sumatra Utara yang pernah hilang akibat tsunami. Koleksi itu diyakini sebagai bukti penting masuknya Islam ke Nusantara pada abad ke-7.
"Hal ini menunjukkan betapa pentingnya melindungi dokumen dari risiko bencana. Saya mengapresiasi peluncuran proyek ini, yang semoga mampu menjadi solusi nyata dalam menjaga benda budaya di museum kita," ujarnya.
Selaras, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Peter M. Haymond, mengatakan bahwa pihaknya bersama Southeast Asia Museum Services (SEAMS) dan Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta siap mendukung pelestarian warisan budaya Indonesia. Fokus kerja sama ini mencakup penguatan dokumentasi, pelestarian, dan aksesibilitas koleksi di museum-museum publik di Jakarta.
“Kami akan menerapkan sistem dokumentasi di 12 museum, termasuk Museum Nasional. Salah satunya dengan cara mengorganisasi dan melacak benda-benda yang ada,” ujarnya.
Mengutip laman resminya, IMDP dijalankan oleh SEAMS bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dan Indonesian Heritage Agency. Program ini didukung oleh U.S. Ambassador’s Fund for Cultural Preservation (AFCP) dan berlangsung dari 2024 hingga 2026.
Proyek ini mencakup pendokumentasian lebih dari 1.200 objek koleksi dari 11 museum publik di Jakarta, serta penelitian asal-usul (provenance) terhadap 60 koleksi dari era kolonial yang disimpan di Museum Nasional dengan pendekatan kuratorial yang signifikan.
Lewat serangkaian lokakarya praktis, seminar kuratorial, hingga pameran digital, proyek ini bertujuan mendorong praktik permuseuman berkelanjutan serta membuka ruang partisipasi publik. Upaya ini tidak hanya memperkuat kapasitas tenaga museum, tetapi juga membangun kesadaran publik akan pentingnya dokumentasi dalam pelestarian budaya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.