Peluang Bisnis Crochet, Merajut Keuntungan dari Benang dan Jarum
13 September 2025 |
11:06 WIB
Merajut merupakan seni kerajinan tangan yang dapat menghasilkan berbagai macam barang, mulai dari baju hingga gantungan kunci. Seni kerajinan yang menggunakan alat benang dan jarum ini menjadi hobi bagi sebagian orang, dan beberapa orang memanfaatkannya sebagai ide bisnis.
Sebut saja Hafidah Rohadatul Aisy (31) yang tengah mengelola Everlastpink. Perempuan yang biasa dipanggil Ais ini mulanya hanya menjual bunga kertas di Everlastpink. Akan tetapi, setelah belajar merajut, dirinya justru fokus untuk membuat barang lain, seperti tas, gantungan kunci, pakaian, bahkan boneka.
Menurutnya, produk rajutan adalah barang yang versatile. Merajut dapat menghasilkan barang yang beragam macamnya seperti yang disebutkan di atas. Selain itu, produk rajutan bisa dipesan oleh orang-orang kapanpun tanpa harus menunggu hari-hari khusus.
Baca juga: Bisnis Florist Saleeya, Eksplorasi Gaya Buket Bunga yang Bersih dan Berkarakter
Ais bercerita bahwa awalnya dia hanya mengunggah hasil rajutannya tanpa berpikiran bahwa produk itu akan menarik para pembeli. Ternyata seiring waktu, para pelanggan berdatangan untuk memesan produk rajutannya secara custom. Oleh karena itulah, Everlastpink tetap bertahan untuk menjangkau orang-orang yang mencintai karya handmade.
Everlastpink berusaha menjaring target pasarnya melalui unggahan di media sosial yang disusun dengan gaya storytelling. Foto-foto yang diunggah pun dipoles ala Pinterest, sebuah media berbasis visual yang menyediakan ide menarik dan estetik. Usahanya terbukti berhasil ketika unggahan boneka Bernadya yang dibuatnya viral di media sosial. Pelanggan online pun mulai berdatangan dengan memesan boneka custom darinya.
“Padahal sebenarnya saya paling mager bikin boneka, tapi sejak saat itu saya jadi enjoy bikin boneka,” cerita Ais.
Harga dan keuntungan yang didapat dari produk bervariasi tergantung jenisnya, tetapi secara keseluruhan, dalam sebulan keuntungan bersih dari bisnis ini bisa mencapai RP3 juta- Rp4 juta. Ais juga menambahkan, bahwa dia menikmati bisnis ini sembari menjalankan hobinya. Meski demikian, bisnis yang dijalaninya dengan senang hati ini tak luput dari tantangan.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana masyarakat indonesia masih kurang dalam menghargai karya handmade,” ujar Ais.
Menurutnya, harga jual produk rajutan yang ada di pasaran cenderung dibanderol di bawah harga wajar dari sebuah kerajinan tangan, alias underprice. Ais berpendapat bahwa menjual karya rajutan secara underprice seolah tidak menghargai tenaga dan waktu pengrajin saat membuat karya tersebut. Dia juga menegaskan bahwa dirinya tidak mau menjual produknya dengan underprice.
Namun, hal itu tak membuat Ais pesimis dengan bisnis ini. Menurutnya, bisnis rajutan akan semakin banyak diminati pada masa mendatang, karena makin banyak orang juga yang mulai untuk belajar merajut. Maka dari itu, dia berharap agar orang-orang mulai lebih menghargai karya handmade agar para pengrajin dapat menjual produknya dengan harga yang sehat.
Sama seperti Ais yang memulai bisnisnya dari hobi, Nabilah Resaldi (21) juga menuangkan ide-ide kreatifnya melalui produk rajutan. Hobinya ini mengantarkannya untuk membangun bisnis bernama Nala POV Crochet yang biasanya dijual secara pre-order.
Dia mengaku bahwa Nala POV Crochet mulai dikenali saat mengunggah konten produk rajutannya sembari memenuhi tugas kuliah. ”Awalnya, saat saya mengunggah hasil rajutan, teman-teman banyak yang bilang mau beli. Terus akhirnya saya kepikiran buka pre-order hanya untuk beberapa orang, eh, lama lama keterusan, banyak yang mau,” kata perempuan yang akrab disapa Nala.
Oleh karena itu, Nala sadar bahwa media sosial menjadi jembatan yang penting untuk menghubungkannya pada para pelanggan. Dia berusaha membuat konten yang sedang trending untuk mempromosikan karya rajutannya. Akhirnya, Nala POV Crochet pun berhasil menggaet mahasiswa, dengan domisili Bandung dan Jatinangor yang tertarik dengan produk rajutan.
Dalam sekali pre-order, Nala bisa mendapatkan keuntungan lebih dari Rp100.000. Keuntungan yang didapat ini berasal dari modal usaha yang cukup menantang baginya. Sebagai anak kos, Nala mengaku kesulitan karena harga benang sebagai alat sekaligus bahan rajutan yang lumayan mahal, yakni Rp10.000 per benang.
Menurut Nala, bisnis ini punya tantangan besar karena bersaing dengan produk yang dibuat secara massal. “Menurut saya agak kurang oke, karena saat ini mulai kalah dengan rajutan hasil pabrik cuma karena harganya yang lebih murah,” keluhnya.
Meskipun Nala pesimis dengan keberlanjutan bisnis kerajinan rajutan karena sulitnya persaingan dengan rajutan hasil pabrik, dirinya justru memandang tren rajutan akan berkembang positif pada masa depan. Menurutnya tren hobi merajut akan tetap bertahan.
“Tren rajutan sendiri masih akan bertahan. Terlebih lagi, sudah banyak platform yang menyediakan referensi bagus untuk model rajutan trendy dan kalcer,” kata Nala.
Baca juga: Menengok Peluang hingga Tantangan Bisnis Trinkets yang Kreatif dan Personal
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sebut saja Hafidah Rohadatul Aisy (31) yang tengah mengelola Everlastpink. Perempuan yang biasa dipanggil Ais ini mulanya hanya menjual bunga kertas di Everlastpink. Akan tetapi, setelah belajar merajut, dirinya justru fokus untuk membuat barang lain, seperti tas, gantungan kunci, pakaian, bahkan boneka.
Menurutnya, produk rajutan adalah barang yang versatile. Merajut dapat menghasilkan barang yang beragam macamnya seperti yang disebutkan di atas. Selain itu, produk rajutan bisa dipesan oleh orang-orang kapanpun tanpa harus menunggu hari-hari khusus.
Baca juga: Bisnis Florist Saleeya, Eksplorasi Gaya Buket Bunga yang Bersih dan Berkarakter
Ais bercerita bahwa awalnya dia hanya mengunggah hasil rajutannya tanpa berpikiran bahwa produk itu akan menarik para pembeli. Ternyata seiring waktu, para pelanggan berdatangan untuk memesan produk rajutannya secara custom. Oleh karena itulah, Everlastpink tetap bertahan untuk menjangkau orang-orang yang mencintai karya handmade.
Everlastpink berusaha menjaring target pasarnya melalui unggahan di media sosial yang disusun dengan gaya storytelling. Foto-foto yang diunggah pun dipoles ala Pinterest, sebuah media berbasis visual yang menyediakan ide menarik dan estetik. Usahanya terbukti berhasil ketika unggahan boneka Bernadya yang dibuatnya viral di media sosial. Pelanggan online pun mulai berdatangan dengan memesan boneka custom darinya.
“Padahal sebenarnya saya paling mager bikin boneka, tapi sejak saat itu saya jadi enjoy bikin boneka,” cerita Ais.
Harga dan keuntungan yang didapat dari produk bervariasi tergantung jenisnya, tetapi secara keseluruhan, dalam sebulan keuntungan bersih dari bisnis ini bisa mencapai RP3 juta- Rp4 juta. Ais juga menambahkan, bahwa dia menikmati bisnis ini sembari menjalankan hobinya. Meski demikian, bisnis yang dijalaninya dengan senang hati ini tak luput dari tantangan.
“Tantangan terbesar adalah bagaimana masyarakat indonesia masih kurang dalam menghargai karya handmade,” ujar Ais.
Menurutnya, harga jual produk rajutan yang ada di pasaran cenderung dibanderol di bawah harga wajar dari sebuah kerajinan tangan, alias underprice. Ais berpendapat bahwa menjual karya rajutan secara underprice seolah tidak menghargai tenaga dan waktu pengrajin saat membuat karya tersebut. Dia juga menegaskan bahwa dirinya tidak mau menjual produknya dengan underprice.
Namun, hal itu tak membuat Ais pesimis dengan bisnis ini. Menurutnya, bisnis rajutan akan semakin banyak diminati pada masa mendatang, karena makin banyak orang juga yang mulai untuk belajar merajut. Maka dari itu, dia berharap agar orang-orang mulai lebih menghargai karya handmade agar para pengrajin dapat menjual produknya dengan harga yang sehat.
Sama seperti Ais yang memulai bisnisnya dari hobi, Nabilah Resaldi (21) juga menuangkan ide-ide kreatifnya melalui produk rajutan. Hobinya ini mengantarkannya untuk membangun bisnis bernama Nala POV Crochet yang biasanya dijual secara pre-order.
Dia mengaku bahwa Nala POV Crochet mulai dikenali saat mengunggah konten produk rajutannya sembari memenuhi tugas kuliah. ”Awalnya, saat saya mengunggah hasil rajutan, teman-teman banyak yang bilang mau beli. Terus akhirnya saya kepikiran buka pre-order hanya untuk beberapa orang, eh, lama lama keterusan, banyak yang mau,” kata perempuan yang akrab disapa Nala.
Oleh karena itu, Nala sadar bahwa media sosial menjadi jembatan yang penting untuk menghubungkannya pada para pelanggan. Dia berusaha membuat konten yang sedang trending untuk mempromosikan karya rajutannya. Akhirnya, Nala POV Crochet pun berhasil menggaet mahasiswa, dengan domisili Bandung dan Jatinangor yang tertarik dengan produk rajutan.
Dalam sekali pre-order, Nala bisa mendapatkan keuntungan lebih dari Rp100.000. Keuntungan yang didapat ini berasal dari modal usaha yang cukup menantang baginya. Sebagai anak kos, Nala mengaku kesulitan karena harga benang sebagai alat sekaligus bahan rajutan yang lumayan mahal, yakni Rp10.000 per benang.
Menurut Nala, bisnis ini punya tantangan besar karena bersaing dengan produk yang dibuat secara massal. “Menurut saya agak kurang oke, karena saat ini mulai kalah dengan rajutan hasil pabrik cuma karena harganya yang lebih murah,” keluhnya.
Meskipun Nala pesimis dengan keberlanjutan bisnis kerajinan rajutan karena sulitnya persaingan dengan rajutan hasil pabrik, dirinya justru memandang tren rajutan akan berkembang positif pada masa depan. Menurutnya tren hobi merajut akan tetap bertahan.
“Tren rajutan sendiri masih akan bertahan. Terlebih lagi, sudah banyak platform yang menyediakan referensi bagus untuk model rajutan trendy dan kalcer,” kata Nala.
Baca juga: Menengok Peluang hingga Tantangan Bisnis Trinkets yang Kreatif dan Personal
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.