Pottery, Hobi Kreatif dan Healing: Pilih Hand-Building atau Wheel Throwing?
10 September 2025 |
19:00 WIB
Pottery muncul sebagai hobi , kesenian, sekaligus metode untuk mengurangi stres. Aktivitas membuat produk tembikar atau keramik dari tanah liat ini membutuhkan kreativitas dan fokus. Hobi pottery juga bisa membantu keseimbangan motorik. Banyaknya orang yang mulai tertarik pada hobi ini membuat kelas-kelas pottery di kota besar bermunculan.
Kelas pottery bisa menjadi pilihan yang populer untuk menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Genhype bisa berkunjung dan mengikuti kelas pottery sembari me time, bersama teman, pasangan, bahkan keluarga. Di dalam kelas pottery, biasanya kita ditawarkan dua metode pembuatan keramik, yakni wheel throwing dan hand-building.
Baca juga: Hypeprofil Seniman Ayu Larasati: Berkarya & Belajar Tentang Hidup dari Keramik
Metode wheel throwing merupakan metode pottery klasik yang paling terkenal. Metode ini merupakan proses pembuatan keramik yang ada di bayangan orang-orang, dengan duduk di depan mesin roda pembuat keramik, baik itu roda elektrik ataupun manual.
Wheel throwing bisa dimulai dari menempatkan bola tanah liat di tengah-tengah roda dan memutarnya. Kemudian, Genhype membuka adonan menjadi berbentuk wadah. Dinding wadah ditekan dan dibentuk ke atas secara perlahan seiring berputarnya roda. Proses ini memungkinkan produk berbentuk cenderung bulat dan simetris.
Pengrajin keramik biasanya menggunakan metode ini ketika memproduksi banyak item sekaligus, karena waktu yang dihabiskan terbilang efisien dan mudah untuk mereplika produk. Metode wheel throwing juga terkenal dapat menenangkan pikiran karena kita akan tenggelam dengan proses gerakan yang berulang-ulang.
Sementara itu, metode pengerjaan keramik dengan tangan sebagai alat utama disebut hand-building. Metode ini telah ada sejak sebelum wheel throwing ditemukan. Tiga gerakan utamanya adalah memencet tanah liat, menggulungnya, serta membuat lembaran.
Lalu, metode mana yang harus dipilih ketika memulai kelas pottery?
Pembuatan keramik dengan hand-building ini biasanya cenderung lebih mudah karena kontrol sepenuhnya ada di tangan. Selain itu, bentuk yang dikreasikan juga bisa lebih bervariasi, kompleks, dan imajinatif. Ketika menggunakan metode wheel throwing pun, pengrajin biasanya menambahkan aksen tambahan melalui hand-building.
Oleh karenanya, metode hand-building menjadi yang paling cocok untuk pemula. Melatih kepercayaan diri dengan kontrol tangan sebelum pergi lebih jauh ke kontrol roda adalah pilihan yang efektif. Meski metode hand-building lebih kuno, tetapi metode ini sangat cocok untuk berkreasi dengan beragam bentuk. Ekspresi dan kepribadian pengrajin dapat ditampilkan dengan jelas melalui metode ini.
Selanjutnya, jika ingin mengembangkan kemampuan dan keterampilan tangan dalam seni pottery, Genhype bisa mencoba wheel-throwing. Pengerjaan menggunakan alat akan membantu untuk menghasilkan produk yang banyak dan seragam. Selain itu, wheel throwing juga bisa menjadi aktivitas healing dari keseharian yang menyibukkan.
Baca juga: Intip Proses Pembuatan Keramik Handmade, Karya Seni Ciamik dan Fungsional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kelas pottery bisa menjadi pilihan yang populer untuk menghabiskan waktu luang di akhir pekan. Genhype bisa berkunjung dan mengikuti kelas pottery sembari me time, bersama teman, pasangan, bahkan keluarga. Di dalam kelas pottery, biasanya kita ditawarkan dua metode pembuatan keramik, yakni wheel throwing dan hand-building.
Baca juga: Hypeprofil Seniman Ayu Larasati: Berkarya & Belajar Tentang Hidup dari Keramik
Metode wheel throwing merupakan metode pottery klasik yang paling terkenal. Metode ini merupakan proses pembuatan keramik yang ada di bayangan orang-orang, dengan duduk di depan mesin roda pembuat keramik, baik itu roda elektrik ataupun manual.
Wheel throwing bisa dimulai dari menempatkan bola tanah liat di tengah-tengah roda dan memutarnya. Kemudian, Genhype membuka adonan menjadi berbentuk wadah. Dinding wadah ditekan dan dibentuk ke atas secara perlahan seiring berputarnya roda. Proses ini memungkinkan produk berbentuk cenderung bulat dan simetris.
Pengrajin keramik biasanya menggunakan metode ini ketika memproduksi banyak item sekaligus, karena waktu yang dihabiskan terbilang efisien dan mudah untuk mereplika produk. Metode wheel throwing juga terkenal dapat menenangkan pikiran karena kita akan tenggelam dengan proses gerakan yang berulang-ulang.
Sementara itu, metode pengerjaan keramik dengan tangan sebagai alat utama disebut hand-building. Metode ini telah ada sejak sebelum wheel throwing ditemukan. Tiga gerakan utamanya adalah memencet tanah liat, menggulungnya, serta membuat lembaran.
Lalu, metode mana yang harus dipilih ketika memulai kelas pottery?
Pembuatan keramik dengan hand-building ini biasanya cenderung lebih mudah karena kontrol sepenuhnya ada di tangan. Selain itu, bentuk yang dikreasikan juga bisa lebih bervariasi, kompleks, dan imajinatif. Ketika menggunakan metode wheel throwing pun, pengrajin biasanya menambahkan aksen tambahan melalui hand-building.
Oleh karenanya, metode hand-building menjadi yang paling cocok untuk pemula. Melatih kepercayaan diri dengan kontrol tangan sebelum pergi lebih jauh ke kontrol roda adalah pilihan yang efektif. Meski metode hand-building lebih kuno, tetapi metode ini sangat cocok untuk berkreasi dengan beragam bentuk. Ekspresi dan kepribadian pengrajin dapat ditampilkan dengan jelas melalui metode ini.
Selanjutnya, jika ingin mengembangkan kemampuan dan keterampilan tangan dalam seni pottery, Genhype bisa mencoba wheel-throwing. Pengerjaan menggunakan alat akan membantu untuk menghasilkan produk yang banyak dan seragam. Selain itu, wheel throwing juga bisa menjadi aktivitas healing dari keseharian yang menyibukkan.
Baca juga: Intip Proses Pembuatan Keramik Handmade, Karya Seni Ciamik dan Fungsional
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.