Hubungan MBTI dan Perilaku Mengemudi, Studi Ungkap Risiko Kecelakaan
10 September 2025 |
06:00 WIB
Kecelakaan lalu lintas masih menjadi penyebab utama kematian akibat cedera di seluruh dunia. Menurut laporan Scientific Reports, sekitar 29 persen kematian akibat cedera disebabkan oleh kecelakaan di jalan raya. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kasus bunuh diri, jatuh, maupun kekerasan.
Meski kondisi kendaraan dan kualitas infrastruktur jalan berperan, faktor manusia tetap dianggap yang paling dominan. Sebuah studi berjudul "A Study on the Correlation Between MBTI Dimensions and Driving Behavior Characteristics" oleh Bai, L., Wang, T., Tu, J. et al. (2025) mengungkapkan bahwa kepribadian pengemudi, khususnya berdasarkan MBTI, punya kaitan erat dengan cara seseorang mengemudi.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 500 pengemudi berlisensi, yang diminta mengikuti tes MBTI, mengisi kuesioner perilaku berkendara, serta berpartisipasi dalam wawancara dan observasi lapangan.
Baca Juga: Rekomendasi Ide Kencan & Hadiah Valentine Berdasarkan Tipe Kepribadian MBTI
MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator adalah tes kepribadian populer yang membagi individu ke dalam 16 tipe. Klasifikasi ini didasarkan pada empat dikotomi utama: extrovert–introvert, sensing–intuition, thinking–feeling, dan judging–perceiving.
Menurut laporan Scientific Reports, kerangka MBTI digunakan untuk mengidentifikasi enam aspek perilaku mengemudi, yaitu:
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe kepribadian benar-benar tercermin di balik kemudi.
Menurut penelitian ini, memahami kepribadian pengemudi dapat membantu menyusun strategi keselamatan lalu lintas yang lebih efektif. Misalnya, sistem bantuan mengemudi adaptif (ADAS) bisa diprogram untuk memberi peringatan dengan gaya komunikasi berbeda sesuai tipe kepribadian. Tipe ekstrovert mungkin lebih cocok dengan alarm yang tegas, sedangkan introvert lebih responsif pada notifikasi yang tenang.
Selain itu, program pelatihan mengemudi juga bisa disesuaikan. Pengemudi Perceiving bisa diberi edukasi soal disiplin aturan, sedangkan tipe Thinking bisa dilatih untuk lebih mempertimbangkan aspek emosional dalam berkendara.
Peneliti menambahkan bahwa temuan ini juga relevan untuk masa depan kendaraan otonom. Dengan memahami profil kepribadian, mobil pintar bisa berinteraksi lebih baik dengan pengemudi, sehingga pengalaman berkendara menjadi lebih aman dan nyaman.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Orang Korea Selatan Terobsesi dengan MBTI
Meski kondisi kendaraan dan kualitas infrastruktur jalan berperan, faktor manusia tetap dianggap yang paling dominan. Sebuah studi berjudul "A Study on the Correlation Between MBTI Dimensions and Driving Behavior Characteristics" oleh Bai, L., Wang, T., Tu, J. et al. (2025) mengungkapkan bahwa kepribadian pengemudi, khususnya berdasarkan MBTI, punya kaitan erat dengan cara seseorang mengemudi.
Penelitian tersebut melibatkan lebih dari 500 pengemudi berlisensi, yang diminta mengikuti tes MBTI, mengisi kuesioner perilaku berkendara, serta berpartisipasi dalam wawancara dan observasi lapangan.
Baca Juga: Rekomendasi Ide Kencan & Hadiah Valentine Berdasarkan Tipe Kepribadian MBTI
MBTI atau Myers-Briggs Type Indicator adalah tes kepribadian populer yang membagi individu ke dalam 16 tipe. Klasifikasi ini didasarkan pada empat dikotomi utama: extrovert–introvert, sensing–intuition, thinking–feeling, dan judging–perceiving.
Menurut laporan Scientific Reports, kerangka MBTI digunakan untuk mengidentifikasi enam aspek perilaku mengemudi, yaitu:
- Response readiness (kesiapan merespons situasi darurat)
- Mental composure (ketenangan mental saat menghadapi stres)
- Safety awareness (kesadaran terhadap risiko)
- Courteous conduct (kesopanan di jalan)
- Risk inclination (kecenderungan mengambil risiko)
- Emotional resilience (kemampuan mengendalikan emosi)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe kepribadian benar-benar tercermin di balik kemudi.
Ekstrovert vs Introvert
Pengemudi ekstrovert cenderung lebih berani mengambil keputusan cepat, bahkan dalam kondisi penuh risiko. Sebaliknya, pengemudi introvert lebih berhati-hati, stabil, dan cenderung menghindari konfrontasi di jalan.Thinking vs Feeling
Tipe Thinking lebih mengandalkan logika sehingga kadang terlihat dingin atau agresif. Sementara tipe Feeling sering menempatkan keselamatan orang lain di atas dirinya, sehingga lebih hati-hati dalam mengambil keputusan.Judging vs Perceiving
Pengemudi dengan tipe Judging umumnya disiplin, terstruktur, dan taat aturan lalu lintas. Sebaliknya, tipe Perceiving fleksibel, spontan, dan adaptif, tetapi kadang dianggap sembrono karena mudah mengubah keputusan di detik terakhir.Sensing vs Intuition
Tipe Sensing fokus pada detail nyata di jalan, seperti marka atau tanda lalu lintas. Sedangkan tipe Intuition sering mengandalkan perasaan atau pola yang mereka tangkap, yang kadang membuat mereka menyepelekan detail kecil namun penting.Menurut penelitian ini, memahami kepribadian pengemudi dapat membantu menyusun strategi keselamatan lalu lintas yang lebih efektif. Misalnya, sistem bantuan mengemudi adaptif (ADAS) bisa diprogram untuk memberi peringatan dengan gaya komunikasi berbeda sesuai tipe kepribadian. Tipe ekstrovert mungkin lebih cocok dengan alarm yang tegas, sedangkan introvert lebih responsif pada notifikasi yang tenang.
Selain itu, program pelatihan mengemudi juga bisa disesuaikan. Pengemudi Perceiving bisa diberi edukasi soal disiplin aturan, sedangkan tipe Thinking bisa dilatih untuk lebih mempertimbangkan aspek emosional dalam berkendara.
Peneliti menambahkan bahwa temuan ini juga relevan untuk masa depan kendaraan otonom. Dengan memahami profil kepribadian, mobil pintar bisa berinteraksi lebih baik dengan pengemudi, sehingga pengalaman berkendara menjadi lebih aman dan nyaman.
Baca Juga: Ternyata Ini Alasan Orang Korea Selatan Terobsesi dengan MBTI
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.