Pejalan kaki melintasi zebra cross di Jakarta. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Abdurachman)

Uji Nyali di Zebra Cross, Kenapa Menyeberang Jalan di Kota Besar Begitu Menegangkan?

25 June 2025   |   15:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Berjalan kaki dan menikmati suasana kota menjadi salah satu kegiatan yang kerap dilakukan oleh banyak orang. Namun, di balik itu, terdapat kegiatan menyeberang jalan yang kerap menjadi momen menegangkan dan berbahaya di banyak kota besar Indonesia.

Pengamat transportasi Muhammad Akbar menilai bahwa jalan raya menjadi tempat uji nyali bagi banyak warga di kota-kota besar di Indonesia lantaran tidak ramah terhadap pejalan kaki, terlebih lansia, anak-anak, ibu dengan bayi, dan penyandang disabilitas.

“Jalan menjadi arena adu deru mesin, klakson, dan kendaraan yang melaju cepat. Seolah-olah, jalan hanya milik kendaraan bermotor,” katanya seperti dikutip dari siaran pers, Selasa (24/6/2025).

Baca juga: Yuk Simak Sejarah Munculnya Zebra Cross, Awalnya Tak Berwarna Hitam Putih

Dia menuturkan, para pejalan kaki kerap terpinggirkan di tengah padatnya lalu lintas dan arus kendaraan. Kegiatan menyeberang jalan dengan nyaman seharusnya menjadi hak dasar setiap orang mengingat siapa saja memiliki hak bergerak bebas di ruang publik.

Kegiatan menyeberang jalan yang seharusnya mudah dan aman kerap berubah menjadi momen menegangkan dan tidak jarang mengancam nyawa. Padahal, kota yang maju bukan diukur dari lebar jalan atau arus lalu lintas yang lancar. Namun, dari seberapa aman dan nyaman masyarakat berjalan kaki dan menyeberang.

Berikut beberapa alasan menyeberang di kota-kota besar menjadi sangat sulit dan solusi agar kota menjadi ramah untuk pejalan kaki.


Zebra Cross & Jembatan Penyeberangan Jadi Pajangan

Saat ini, zebra cross memang sudah tersebar di berbagai titik jalan. Namun sayangnya, masih banyak pengendara yang abai dan tetap melaju meski ada pejalan kaki yang sudah berada di atas garis penyeberangan.

Lebih dari itu, banyak zebra cross dipasang di lokasi yang kurang strategis, jauh dari halte, pusat aktivitas, atau jalur pejalan kaki yang sering dilalui. Sementara itu, jembatan penyeberangan pun tak kalah problematik: terlalu tinggi dan tidak ramah bagi lansia maupun penyandang disabilitas.

Tak sedikit juga jembatan penyeberangan yang dibiarkan kusam, sempit, atau tidak terawat seperti bangunan terlantar. Jembatan yang harusnya menjadi solusi malah berubah jadi rintangan.

Kondisi JPO itu membuat banyak orang akhirnya memilih nekat menyeberang langsung di tengah jalan. Mereka paham dengan risiko yang ada. Namun, pilihan itu menjadi opsi paling masuk akal di tengah tata kota yang tak berpihak pada pejalan kaki.

Tidak hanya itu, di beberapa lokasi justru tidak ada fasilitas penyeberangan sama sekali, sehingga banyak orang mencari celah di antara kendaraan yang melaju cepat untuk menyeberang jalan.  
 

zebra cross

Pejalan kaki melintasi zebra cross di Jakarta. (Sumber foto: JIBI/Hypeabis.id/Abdurachman)

Sulitnya menyeberang di jalan raya menjadi cermin budaya lalu lintas yang belum berpihak terhadap pejalan kaki. Di banyak negara maju, pengemudi mobil segera melambat atau berhenti kala melihat orang berdiri di zebra cross.

Kondisi tersebut berbeda dengan di Indonesia. Banyak pengemudi justru menekan klakson sebagai peringatan agar pejalan kaki lekas menyingkir. Tidak sedikit juga pengemudi yang menambah kecepatan kendaraannya ketika melihat individu hendak menyeberang.  

Situasi ini menunjukkan betapa minimnya empati dan rendahnya penghormatan terhadap hak pejalan kaki, serta absennya budaya berbagi ruang yang adil di jalan. Budaya pengemudi yang abai terhadap hak pejalan kaki tidak lahir dalam semalam.

Budaya itu tumbuh dari kelalaian sistemik yang sudah berlangsung lama— dari regulasi yang lemah, pendidikan yang setengah hati, hingga praktik harian yang terus dibiarkan di lapangan.

Kondisi ini juga memperlihatkan betapa desain kota-kota di Indonesia  masih mengabaikan keberadaan pejalan kaki. Jalan terus diperlebar dan flyover dibangun, tapi semua itu umumnya hanya demi kelancaran kendaraan bermotor.

Sementara kebutuhan dasar warga untuk berjalan dengan aman dan nyaman justru terpinggirkan. Trotoar sempit, tak ada ruang aman di tengah jalan untuk berpijak, dan zebra cross yang tak terhubung dengan halte atau stasiun angkutan umum adalah tanda betapa rendahnya prioritas kota terhadap pejalan kaki.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Gramedia & Kementerian Hukum Gaungkan #LiterasiKaryaAsli Lawan Pembajakan Buku

BERIKUTNYA

10 Maskapai Terbaik yang Masuk Penghargaan World Airline Awards 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: