Musik Lawas Menembus Generasi: Dari Vinyl, Film, hingga Media Sosial
05 September 2025 |
18:00 WIB
Di tengah derasnya arus genre baru dan rilisan musik segar setiap hari, justru muncul fenomena menarik di blantika musik Tanah Air, kebangkitan lagu-lagu lawas yang kembali bersinar dan kembali merebut perhatian lintas generasi penikmat musik.
Hits era 70-an hingga 90-an yang dulu pernah berjaya kini menemukan panggung barunya, digemari bukan hanya oleh pendengar senior, tetapi juga generasi muda yang akrab dengan dunia digital dan algoritma musik. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari gelombang nostalgia yang tengah merasuki budaya populer.
Baca juga: Hypereport: Tren Musik Lawas Tak Sekadar Nostalgia
Menurut pengamat musik Nuran Wibisono, ada banyak faktor yang membuat musik lawas kembali diminati dan relevan di telinga publik masa kini. Label-label besar kini tak segan merilis ulang katalog lama mereka dalam format remastered, baik digital maupun fisik. Langkah ini membuat musik lama terasa baru tanpa kehilangan esensi aslinya.
“Album legendaris seperti The White Album [The Beatles], Rumours [Fleetwood Mac], hingga Bintang Lima [Dewa 19] bisa dinikmati lagi dengan kualitas lebih jernih,” jelas pengamat musik Nuran Wibisono.
Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah kembalinya piringan hitam atau vinyl sebagai medium prestisius. Vinyl kini kembali menjadi primadona, dengan label besar merilis ulang katalog lama mereka dalam format analog. Bagi anak muda, vinyl menghadirkan suara yang lebih hangat sekaligus berfungsi sebagai koleksi dengan nilai estetika tinggi.
Beberapa contoh rilisan ulang termasuk The White Album milik The Beatles yang hadir kembali pada 2018, Rumours dari Fleetwood Mac yang dipasarkan dalam format vinyl remaster pada 2023, serta Bintang Lima dari Dewa 19 yang diremaster di tahun yang sama.
“Vinyl tidak hanya soal audio, tapi juga aura nostalgia dan nilai estetika,” tambah Nuran. Data dari RIAA bahkan mencatat bahwa pada 2024, penjualan vinyl melampaui CD untuk pertama kalinya sejak 1987.
Selain rilisan fisik, pengaruh film dan serial juga berperan besar dalam menghidupkan kembali musik lawas. Dari Guardians of the Galaxy hingga Cobra Kai, lagu-lagu lawas dipakai pada momen emosional yang membuatnya terasa relevan kembali. Ketika ditempatkan dalam adegan heroik atau penuh emosi, musik lama mendapatkan nyawa baru, bahkan sering kali menjadi viral di media sosial.
Tren media sosial sendiri tak bisa dilepaskan dari kebangkitan musik lawas. Fenomena viral di TikTok dan Instagram telah mempercepat kembalinya lagu-lagu lama ke permukaan. Banyak lagu yang tiba-tiba populer kembali setelah dijadikan latar untuk tren video tertentu.
Salah satunya adalah Pretty Little Baby milik Connie Francis (1962) yang viral pada pertengahan 2025, puluhan tahun setelah pertama kali dirilis. Fenomena ini membuktikan bagaimana algoritma platform dan kreativitas pengguna bisa menghidupkan kembali kejayaan musik masa lalu.
Festival musik dan konser reuni juga memberi ruang baru bagi band-band lawas untuk kembali tampil di panggung besar. Nostalgia audiens berpadu dengan pengalaman langsung menjadikan musik lama tetap relevan. “Tentu saja festival musik juga bisa dianggap sebagai salah satu faktor yang mempopulerkan kembali band-band lawas,” ujar Nuran.
Menariknya, penikmat musik lawas tidak terbatas pada generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu itu. Generasi muda pun aktif melakukan apa yang disebut sebagai digging the past, yaitu menggali dan mencari referensi dari masa lalu.
“Ini terjadi di hampir semua ranah mulai dari fashion, film, dan tentu saja musik. Jadi bisa disebut bahwa kecenderungan mendengar musik lawas juga merambah ke generasi muda,” ucap Nuran.
Data dari Spotify Wrapped 2024 memperkuat hal ini, mencatat lonjakan pemutaran lagu-lagu The Beatles, Fleetwood Mac, hingga Dewa 19 dari pengguna berusia 18–25 tahun. Meski demikian, tetap ada perbedaan selera antar generasi. Mereka yang tumbuh di era 1980–90-an cenderung menyukai rock, alternatif, atau pop klasik, sementara generasi saat ini lebih akrab dengan hip-hop, R&B kontemporer, dan electronic pop.
Pengaruh musik lawas juga terasa pada karya musisi baru. Nuran menegaskan bahwa musik generasi sekarang tidak bisa dilepaskan dari warisan masa lalu. “Para musisi memang biasanya selalu berdiri di pundak para raksasa terdahulu. Dalam arti, musik baru pasti mendapatkan pengaruh dari musik sebelumnya,” katanya.
Dia mencontohkan musisi Indonesia seperti Bilal Indrajaya dari grup The Lantis yang secara musikal banyak terinspirasi oleh The Beatles. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai musikal lama masih menjadi fondasi bagi terciptanya karya baru.
Bagi Nuran, mendengarkan musik lawas bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian alami dari perkembangan seni.
“Ini adalah sebuah kewajaran. Karya masa lalu selalu bisa menginspirasi karya baru,” ujarnya.
Seniman, menurutnya, memang kerap menengok ke belakang untuk mencari inspirasi, pembelajaran, dan keindahan dari karya-karya terdahulu untuk melahirkan sesuatu yang lebih segar. Tidak mengherankan bila musik yang sempat dianggap “usang” di rak-rak tua kini kembali bersinar terang di era digital.
Baca juga: 5 Lagu Lawas Andalan Pengguna Medsos: Bee Gees hingga ABBA
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Hits era 70-an hingga 90-an yang dulu pernah berjaya kini menemukan panggung barunya, digemari bukan hanya oleh pendengar senior, tetapi juga generasi muda yang akrab dengan dunia digital dan algoritma musik. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari gelombang nostalgia yang tengah merasuki budaya populer.
Baca juga: Hypereport: Tren Musik Lawas Tak Sekadar Nostalgia
Menurut pengamat musik Nuran Wibisono, ada banyak faktor yang membuat musik lawas kembali diminati dan relevan di telinga publik masa kini. Label-label besar kini tak segan merilis ulang katalog lama mereka dalam format remastered, baik digital maupun fisik. Langkah ini membuat musik lama terasa baru tanpa kehilangan esensi aslinya.
“Album legendaris seperti The White Album [The Beatles], Rumours [Fleetwood Mac], hingga Bintang Lima [Dewa 19] bisa dinikmati lagi dengan kualitas lebih jernih,” jelas pengamat musik Nuran Wibisono.
Salah satu fenomena yang paling menonjol adalah kembalinya piringan hitam atau vinyl sebagai medium prestisius. Vinyl kini kembali menjadi primadona, dengan label besar merilis ulang katalog lama mereka dalam format analog. Bagi anak muda, vinyl menghadirkan suara yang lebih hangat sekaligus berfungsi sebagai koleksi dengan nilai estetika tinggi.
Beberapa contoh rilisan ulang termasuk The White Album milik The Beatles yang hadir kembali pada 2018, Rumours dari Fleetwood Mac yang dipasarkan dalam format vinyl remaster pada 2023, serta Bintang Lima dari Dewa 19 yang diremaster di tahun yang sama.
“Vinyl tidak hanya soal audio, tapi juga aura nostalgia dan nilai estetika,” tambah Nuran. Data dari RIAA bahkan mencatat bahwa pada 2024, penjualan vinyl melampaui CD untuk pertama kalinya sejak 1987.
Selain rilisan fisik, pengaruh film dan serial juga berperan besar dalam menghidupkan kembali musik lawas. Dari Guardians of the Galaxy hingga Cobra Kai, lagu-lagu lawas dipakai pada momen emosional yang membuatnya terasa relevan kembali. Ketika ditempatkan dalam adegan heroik atau penuh emosi, musik lama mendapatkan nyawa baru, bahkan sering kali menjadi viral di media sosial.
Tren media sosial sendiri tak bisa dilepaskan dari kebangkitan musik lawas. Fenomena viral di TikTok dan Instagram telah mempercepat kembalinya lagu-lagu lama ke permukaan. Banyak lagu yang tiba-tiba populer kembali setelah dijadikan latar untuk tren video tertentu.
Salah satunya adalah Pretty Little Baby milik Connie Francis (1962) yang viral pada pertengahan 2025, puluhan tahun setelah pertama kali dirilis. Fenomena ini membuktikan bagaimana algoritma platform dan kreativitas pengguna bisa menghidupkan kembali kejayaan musik masa lalu.
Festival musik dan konser reuni juga memberi ruang baru bagi band-band lawas untuk kembali tampil di panggung besar. Nostalgia audiens berpadu dengan pengalaman langsung menjadikan musik lama tetap relevan. “Tentu saja festival musik juga bisa dianggap sebagai salah satu faktor yang mempopulerkan kembali band-band lawas,” ujar Nuran.
Menariknya, penikmat musik lawas tidak terbatas pada generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu itu. Generasi muda pun aktif melakukan apa yang disebut sebagai digging the past, yaitu menggali dan mencari referensi dari masa lalu.
“Ini terjadi di hampir semua ranah mulai dari fashion, film, dan tentu saja musik. Jadi bisa disebut bahwa kecenderungan mendengar musik lawas juga merambah ke generasi muda,” ucap Nuran.
Data dari Spotify Wrapped 2024 memperkuat hal ini, mencatat lonjakan pemutaran lagu-lagu The Beatles, Fleetwood Mac, hingga Dewa 19 dari pengguna berusia 18–25 tahun. Meski demikian, tetap ada perbedaan selera antar generasi. Mereka yang tumbuh di era 1980–90-an cenderung menyukai rock, alternatif, atau pop klasik, sementara generasi saat ini lebih akrab dengan hip-hop, R&B kontemporer, dan electronic pop.
Pengaruh musik lawas juga terasa pada karya musisi baru. Nuran menegaskan bahwa musik generasi sekarang tidak bisa dilepaskan dari warisan masa lalu. “Para musisi memang biasanya selalu berdiri di pundak para raksasa terdahulu. Dalam arti, musik baru pasti mendapatkan pengaruh dari musik sebelumnya,” katanya.
Dia mencontohkan musisi Indonesia seperti Bilal Indrajaya dari grup The Lantis yang secara musikal banyak terinspirasi oleh The Beatles. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai musikal lama masih menjadi fondasi bagi terciptanya karya baru.
Bagi Nuran, mendengarkan musik lawas bukan sekadar tren sesaat, melainkan bagian alami dari perkembangan seni.
“Ini adalah sebuah kewajaran. Karya masa lalu selalu bisa menginspirasi karya baru,” ujarnya.
Seniman, menurutnya, memang kerap menengok ke belakang untuk mencari inspirasi, pembelajaran, dan keindahan dari karya-karya terdahulu untuk melahirkan sesuatu yang lebih segar. Tidak mengherankan bila musik yang sempat dianggap “usang” di rak-rak tua kini kembali bersinar terang di era digital.
Baca juga: 5 Lagu Lawas Andalan Pengguna Medsos: Bee Gees hingga ABBA
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.