Dihelat di Bali, CHANDI 2025 Soroti Peran Budaya di Era Transformasi Digital
04 September 2025 |
20:34 WIB
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia membuka konferensi budaya internasional Culture, Heritage, Art, Narrative, Diplomacy, and Innovation (CHANDI) 2025 di Denpasar, Bali. Forum ini dihadiri delegasi dari 40 negara, pada Rabu, (3/9/2025).
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menekankan budaya merupakan kekuatan pemersatu di tengah arus perubahan global yang semakin intens. Menurutnya, budaya dapat melampaui batas geografis, bahasa, dan teknologi.
Baca juga: Tak Hanya Museum Bagawanta, Ini Daftar Cagar Budaya yang Terdampak Aksi Demonstrasi
CHANDI 2025 mengangkat tema Culture for the Future bertepatan dengan 80 tahun Kemerdekaan Indonesia. Ihwal pemiilihan tajuk tersebut merupakan bentuk cerminan tekad untuk menjadikan budaya sebagai penuntun dalam menghadapi era baru, termasuk perkembangan kecerdasan buatan.
Melalui forum diskusi dan pameran, CHANDI 2025 mengajak dunia melihat budaya bukan sekadar warisan, melainkan fondasi menghadapi transformasi digital. Diplomasi budaya diarahkan agar mampu membangun perdamaian, keberlanjutan, sekaligus menghadapi tantangan teknologi.
Menurut Fadli, masalah global seperti krisis iklim hingga kesenjangan sosial tak bisa hanya dijawab lewat pendekatan teknologi. Budaya hadir sebagai jembatan yang mempertemukan bangsa-bangsa dengan cara lebih manusiawi.
“Budaya dapat menjadi kekuatan transformatif dalam membentuk masa depan yang lebih inklusif dan damai,” kata Fadli dalam taklimat resmi, Kamis (4/9/25).
Indonesia, tambahnya, memiliki posisi strategis dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Lebih dari 1.340 etnis, ratusan bahasa daerah, serta ribuan warisan budaya takbenda menjadi modal besar untuk menghadapi dunia digital.
“Dengan potensi ini, Indonesia dapat berkontribusi pada pembangunan dunia yang saling terhubung dan harmonis. Budaya adalah dasar yang membuat teknologi tetap berpihak pada manusia,” ujarnya.
Dia juga menegaskan, prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan gotong royong adalah nilai yang bisa ditawarkan Nusantara untuk menghadapi era kecerdasan buatan. Nilai tersebut dapat menjadi filter agar kemajuan teknologi tidak mengikis kemanusiaan.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno menyoroti langsung soal artificial intelligence (AI) dalam pidatonya. Menurutnya, teknologi ini seharusnya menjadi sarana yang mempermudah hidup sekaligus mendukung pelestarian budaya.
Namun, dia juga mengingatkan bahwa kecanggihan AI berpotensi menimbulkan risiko jika tidak dikawal. Karena itu, tata kelola AI perlu dirancang agar mampu memperkuat ikatan budaya, bukan melemahkannya.
“Indonesia mendorong lahirnya tata kelola AI yang bisa berbicara dalam semua bahasa dan melestarikan semua budaya. Dengan begitu, Bhinneka Tunggal Ika dapat menjadi fondasi peradaban digital yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.
CHANDI 2025 adalah konferensi budaya internasional yang dirancang sebagai forum global untuk memperkuat peran budaya dalam menjawab tantangan zaman. Tahun ini, konferensi tersebut digelar di Bali, Indonesia, tepatnya pada tanggal 3 hingga 5 September 2025.
Tahun ini, CHANDI 2025 diikuti oleh beragam negara dari berbagai kawasan dunia. Beberapa di antaranya adalah Brunei Darussalam, Singapura, Libya, Palestina, Suriah, Zimbabwe, Yordania, Iran, Uzbekistan, dan Venezuela. Kehadiran mereka menegaskan posisi CHANDI sebagai forum lintas budaya yang mampu menarik partisipasi luas.
Selain itu, perwakilan dan pejabat tinggi juga datang dari Albania, Kamboja, Prancis, Irlandia, Italia, Malaysia, Maroko, Serbia, Thailand, hingga Inggris Raya. Negara-negara lain yang turut berpartisipasi mencakup Armenia, Aljazair, Bangladesh, Belarusia, Belgia, Bulgaria, Siprus, Fiji, Georgia, India, Laos, Mongolia, Belanda, Oman, Pakistan, Rusia, Rwanda, Tanzania, dan Tunisia.
Baca juga: Ketua AMI: Perusakan Museum Kediri Adalah Kerugian Besar Bagi Warisan Budaya
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya menekankan budaya merupakan kekuatan pemersatu di tengah arus perubahan global yang semakin intens. Menurutnya, budaya dapat melampaui batas geografis, bahasa, dan teknologi.
Baca juga: Tak Hanya Museum Bagawanta, Ini Daftar Cagar Budaya yang Terdampak Aksi Demonstrasi
CHANDI 2025 mengangkat tema Culture for the Future bertepatan dengan 80 tahun Kemerdekaan Indonesia. Ihwal pemiilihan tajuk tersebut merupakan bentuk cerminan tekad untuk menjadikan budaya sebagai penuntun dalam menghadapi era baru, termasuk perkembangan kecerdasan buatan.
Melalui forum diskusi dan pameran, CHANDI 2025 mengajak dunia melihat budaya bukan sekadar warisan, melainkan fondasi menghadapi transformasi digital. Diplomasi budaya diarahkan agar mampu membangun perdamaian, keberlanjutan, sekaligus menghadapi tantangan teknologi.
Menurut Fadli, masalah global seperti krisis iklim hingga kesenjangan sosial tak bisa hanya dijawab lewat pendekatan teknologi. Budaya hadir sebagai jembatan yang mempertemukan bangsa-bangsa dengan cara lebih manusiawi.
“Budaya dapat menjadi kekuatan transformatif dalam membentuk masa depan yang lebih inklusif dan damai,” kata Fadli dalam taklimat resmi, Kamis (4/9/25).
Indonesia, tambahnya, memiliki posisi strategis dengan kekayaan budaya yang luar biasa. Lebih dari 1.340 etnis, ratusan bahasa daerah, serta ribuan warisan budaya takbenda menjadi modal besar untuk menghadapi dunia digital.
“Dengan potensi ini, Indonesia dapat berkontribusi pada pembangunan dunia yang saling terhubung dan harmonis. Budaya adalah dasar yang membuat teknologi tetap berpihak pada manusia,” ujarnya.
Dia juga menegaskan, prinsip Bhinneka Tunggal Ika dan gotong royong adalah nilai yang bisa ditawarkan Nusantara untuk menghadapi era kecerdasan buatan. Nilai tersebut dapat menjadi filter agar kemajuan teknologi tidak mengikis kemanusiaan.
Sementara itu, Menko PMK Pratikno menyoroti langsung soal artificial intelligence (AI) dalam pidatonya. Menurutnya, teknologi ini seharusnya menjadi sarana yang mempermudah hidup sekaligus mendukung pelestarian budaya.
Namun, dia juga mengingatkan bahwa kecanggihan AI berpotensi menimbulkan risiko jika tidak dikawal. Karena itu, tata kelola AI perlu dirancang agar mampu memperkuat ikatan budaya, bukan melemahkannya.
“Indonesia mendorong lahirnya tata kelola AI yang bisa berbicara dalam semua bahasa dan melestarikan semua budaya. Dengan begitu, Bhinneka Tunggal Ika dapat menjadi fondasi peradaban digital yang adil dan berkelanjutan,” ujarnya.
CHANDI 2025 adalah konferensi budaya internasional yang dirancang sebagai forum global untuk memperkuat peran budaya dalam menjawab tantangan zaman. Tahun ini, konferensi tersebut digelar di Bali, Indonesia, tepatnya pada tanggal 3 hingga 5 September 2025.
Tahun ini, CHANDI 2025 diikuti oleh beragam negara dari berbagai kawasan dunia. Beberapa di antaranya adalah Brunei Darussalam, Singapura, Libya, Palestina, Suriah, Zimbabwe, Yordania, Iran, Uzbekistan, dan Venezuela. Kehadiran mereka menegaskan posisi CHANDI sebagai forum lintas budaya yang mampu menarik partisipasi luas.
Selain itu, perwakilan dan pejabat tinggi juga datang dari Albania, Kamboja, Prancis, Irlandia, Italia, Malaysia, Maroko, Serbia, Thailand, hingga Inggris Raya. Negara-negara lain yang turut berpartisipasi mencakup Armenia, Aljazair, Bangladesh, Belarusia, Belgia, Bulgaria, Siprus, Fiji, Georgia, India, Laos, Mongolia, Belanda, Oman, Pakistan, Rusia, Rwanda, Tanzania, dan Tunisia.
Baca juga: Ketua AMI: Perusakan Museum Kediri Adalah Kerugian Besar Bagi Warisan Budaya
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.