Mengenal Jejak Banon & Gunungan Brama, Tradisi Sekaten Khusus Menyambut Tahun Dal di Yogyakarta
03 September 2025 |
10:41 WIB
1
Like
Like
Like
Selama sepekan menjelang peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW, seluruh elemen di Keraton Yogyakarta tengah disibukkan untuk saling bahu-membahu menyukseskan upacara Hajad Dalem Sekaten. Rangkaian acara ini terasa istimewa karena bertepatan dengan tahun Dal yang hanya hadir setiap delapan tahun sekali.
Tahun Dal merupakan tahun kelima dalam satu siklus delapan tahun (windu) pada kalender Jawa. Tahun ini dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai masa penuh ujian. Di beberapa daerah di Jawa, bahkan muncul kepercayaan untuk melarang pernikahan atau acara penting lainnya di tahun Dal karena dianggap membawa kesialan.
Lantaran tahun Dal dipandang sebagai tahun yang istimewa, Keraton Yogyakarta pun secara khusus memiliki tradisi tersendiri untuk menyambutnya. Pada perayaan ini, Keraton menambahkan dua tradisi langka, yaitu Jejak Banon dan Gunungan Brama, dalam acara Sekaten.
Baca juga: Apa Itu Mubeng Beteng? Tradisi Keraton Yogyakarta Sambut Malam 1 Suro
Mengutip laman resmi Keraton Yogyakarta, perayaan Sekaten telah dimulai sejak Jumat (29/08) atau 5 Mulud Dal 1959 hingga Jumat (05/09) atau 12 Mulud Dal 1959 (12 Rabiulawal 1447 H). Banyak orang awam mengenal Sekaten hanya sebagai pasar malam meriah. Akan tetapi, Keraton Yogyakarta setiap tahunnya terus berupaya mengembalikan makna Sekaten sebagai syiar Islam melalui budaya.
Berbagai prosesi tradisional digelar, seperti Sugengan Sekul Gurih, Miyos Gangsa, Geladi Bersih Prajurit, Numplak Wajik, Mbusanani Pusaka, Bethak, Pembacaan Riwayat, Kondur Gangsa, Pisowanan Garebeg Dal 1956, hingga puncaknya dalam upacara Garebeg Maulid.
Tradisi Jejak Banon yang jarang dilaksanakan muncul dalam rangkaian Pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW sampai Pisowanan Garebeg Dal 1959. Prosesnya dimulai malam menjelang 12 Mulud, Kamis (4/9/2025), dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe.
Sebelum itu, Sri Sultan Hamengku Bawono Ke-10 terlebih dahulu hadir di halaman Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik (campuran beras, biji-bijian, uang logam, dan bunga) di Pagongan Kidul lalu Pagongan Lor. Setelahnya, Sultan bersama rombongan masuk ke dalam masjid dan kembali menyebar udhik-udhik.
Setelah prosesi udhik-udhik selesai, Abdi Dalem Pengulon akan membacakan riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat pembacaan, Sri Sultan akan duduk di tengah Saka Guru serambi Masjid Gedhe, sedangkan Putri Dalem, Mantu Dalem, para tamu undangan, serta Abdi Dalem duduk melingkar dengan tertib.
Ketika sampai pada bagian asrokal (peristiwa kelahiran Nabi), Sultan bersama rombongannya menerima persembahan Sumping Melati. Hal ini melambangkan peran Sultan sebagai raja yang selalu mendengarkan suara rakyatnya dan berusaha memenuhi harapan mereka.
Biasanya, saat pembacaan riwayat selesai, Sultan kembali ke keraton melalui pintu utama. Namun, khusus pada Tahun Dal, kepulangan Sultan dari Masjid Gedhe dilakukan dengan prosesi Jejak Banon, yakni menapaki tumpukan bata di dinding benteng sisi selatan masjid.
Tradisi ini untuk mengenang Pangeran Mangkubumi yang pernah menyelamatkan diri dari musuh setelah salat Jumat di tempat itu. Sementara itu, Gamelan Sekati terus dimainkan bergantian hingga tengah malam sebelum akhirnya dikembalikan ke Bangsal Trajumas di dalam keraton. Proses kembalinya gamelan ini disebut Kondur Gangsa.
Prosesi berlanjut pada Jumat pagi (05/09), dengan digelarnya Pisowanan Garebeg Mulud Dal 1959 di Bangsal Kencana pukul 09.00 WIB. Dalam prosesi ini, Sri Sultan mengambil nasi dari periuk Kanjeng Nyai Mrica, mengepalkannya menjadi bulatan kecil, lalu menaruhnya di piring Kanjeng Kiai Blawong. Nasi kepalan itu kemudian dibagikan kepada GKR Hemas, para kerabat, dan Abdi Dalem yang hadir.
Selain Jejak Banon, perayaan Sekaten di Tahun Dal juga menghadirkan tradisi khusus lain, yakni keluarnya Gunungan Brama. Setelah prosesi Kondur Gangsa pada Jumat (5/9/2025) pagi, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Garebeg Mulud dengan menghadirkan enam jenis gunungan, yaitu Gunungan Kakung, Estri/Wadon, Gepak, Dharat, Pawuhan, dan Brama.
Gunungan Brama ini hanya dibuat khusus pada tahun Dal. Perlakuannya juga berbeda, sebab tidak dibagikan kepada masyarakat, melainkan dibawa kembali ke kompleks Cepuri Kedhaton.
Gunungan Brama menjadi gunungan istimewa yang diperuntukkan bagi Sri Sultan, keluarga, dan Sentana Dalem. Kehadirannya menegaskan keunikan tradisi Sekaten pada tahun Dal yang hanya bisa disaksikan setiap delapan tahun sekali.
Baca juga: 5 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, Pawai Obor sampai Ledhug Suro
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tahun Dal merupakan tahun kelima dalam satu siklus delapan tahun (windu) pada kalender Jawa. Tahun ini dipercaya sebagian masyarakat Jawa sebagai masa penuh ujian. Di beberapa daerah di Jawa, bahkan muncul kepercayaan untuk melarang pernikahan atau acara penting lainnya di tahun Dal karena dianggap membawa kesialan.
Lantaran tahun Dal dipandang sebagai tahun yang istimewa, Keraton Yogyakarta pun secara khusus memiliki tradisi tersendiri untuk menyambutnya. Pada perayaan ini, Keraton menambahkan dua tradisi langka, yaitu Jejak Banon dan Gunungan Brama, dalam acara Sekaten.
Baca juga: Apa Itu Mubeng Beteng? Tradisi Keraton Yogyakarta Sambut Malam 1 Suro

Rangkaian tradisi Sekaten (Sumber gambar: Website Kraton Jogja)
Berbagai prosesi tradisional digelar, seperti Sugengan Sekul Gurih, Miyos Gangsa, Geladi Bersih Prajurit, Numplak Wajik, Mbusanani Pusaka, Bethak, Pembacaan Riwayat, Kondur Gangsa, Pisowanan Garebeg Dal 1956, hingga puncaknya dalam upacara Garebeg Maulid.
Tradisi Jejak Banon yang jarang dilaksanakan muncul dalam rangkaian Pembacaan Riwayat Nabi Muhammad SAW sampai Pisowanan Garebeg Dal 1959. Prosesnya dimulai malam menjelang 12 Mulud, Kamis (4/9/2025), dengan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW di Masjid Gedhe.
Sebelum itu, Sri Sultan Hamengku Bawono Ke-10 terlebih dahulu hadir di halaman Masjid Gedhe untuk menyebar udhik-udhik (campuran beras, biji-bijian, uang logam, dan bunga) di Pagongan Kidul lalu Pagongan Lor. Setelahnya, Sultan bersama rombongan masuk ke dalam masjid dan kembali menyebar udhik-udhik.
Setelah prosesi udhik-udhik selesai, Abdi Dalem Pengulon akan membacakan riwayat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Saat pembacaan, Sri Sultan akan duduk di tengah Saka Guru serambi Masjid Gedhe, sedangkan Putri Dalem, Mantu Dalem, para tamu undangan, serta Abdi Dalem duduk melingkar dengan tertib.
Ketika sampai pada bagian asrokal (peristiwa kelahiran Nabi), Sultan bersama rombongannya menerima persembahan Sumping Melati. Hal ini melambangkan peran Sultan sebagai raja yang selalu mendengarkan suara rakyatnya dan berusaha memenuhi harapan mereka.
Biasanya, saat pembacaan riwayat selesai, Sultan kembali ke keraton melalui pintu utama. Namun, khusus pada Tahun Dal, kepulangan Sultan dari Masjid Gedhe dilakukan dengan prosesi Jejak Banon, yakni menapaki tumpukan bata di dinding benteng sisi selatan masjid.
Tradisi ini untuk mengenang Pangeran Mangkubumi yang pernah menyelamatkan diri dari musuh setelah salat Jumat di tempat itu. Sementara itu, Gamelan Sekati terus dimainkan bergantian hingga tengah malam sebelum akhirnya dikembalikan ke Bangsal Trajumas di dalam keraton. Proses kembalinya gamelan ini disebut Kondur Gangsa.

Rangkaian tradisi Sekaten (Sumber gambar: Website Kraton Jogja)
Selain Jejak Banon, perayaan Sekaten di Tahun Dal juga menghadirkan tradisi khusus lain, yakni keluarnya Gunungan Brama. Setelah prosesi Kondur Gangsa pada Jumat (5/9/2025) pagi, Keraton Yogyakarta menggelar Hajad Dalem Garebeg Mulud dengan menghadirkan enam jenis gunungan, yaitu Gunungan Kakung, Estri/Wadon, Gepak, Dharat, Pawuhan, dan Brama.
Gunungan Brama ini hanya dibuat khusus pada tahun Dal. Perlakuannya juga berbeda, sebab tidak dibagikan kepada masyarakat, melainkan dibawa kembali ke kompleks Cepuri Kedhaton.
Gunungan Brama menjadi gunungan istimewa yang diperuntukkan bagi Sri Sultan, keluarga, dan Sentana Dalem. Kehadirannya menegaskan keunikan tradisi Sekaten pada tahun Dal yang hanya bisa disaksikan setiap delapan tahun sekali.
Baca juga: 5 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, Pawai Obor sampai Ledhug Suro
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.