5 Tradisi Tahun Baru Islam di Indonesia, Pawai Obor sampai Ledhug Suro
27 June 2025 |
11:06 WIB
Tahun Baru Islam atau 1 Muharram memiliki makna penting bagi umat Muslim di Indonesia. Momen ini memperingati peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, yang menjadi awal mula penanggalan Islam.
Di berbagai penjuru Nusantara, perayaan 1 Muharram disambut dengan beragam tradisi yang mencerminkan kekayaan budaya lokal yang berakar dari nilai-nilai keislaman.
Sejumlah tradisi perayaan Tahun Baru Islam, mulai dari pawai obor yang meriah, kuliner bubur suro, sampai kirab kebo bule. Tradisi-tradisi ini menjadi warisan budaya yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Berikut sejumlah tradisi perayaan Tahun Baru Islam di berbagai daerah Indonesia.
Baca juga: 7 Tradisi Malam 1 Suro, Mulai Dari Jamasa Pusaka Hingga Larung Sesaji
Sambil berjalan mengelilingi kampung atau kota, orang-orang melantunkan shalawat, ayat suci Al-Qur’an, atau takbir, sebagai simbol cahaya hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sekaligus semangat harapan baru bagi umat Islam di tahun berikutnya.
Ritual ini dijalankan dalam suasana hening total, peserta tidak berbicara, tidak makan, dan tidak minum sepanjang prosesi berlangsung. Mereka berjalan kaki sejauh sekitar 5 kilometer mengelilingi benteng sambil mengenakan pakaian serba hitam atau putih.
Bubur Suro umumnya berwarna putih dan diberi lauk pauk sederhana seperti telur rebus, abon, kacang goreng, atau kerupuk, dan kadang dipadukan dengan warna merah sebagai lambang keseimbangan antara suci dan pengorbanan.
Puncak acara Ledhug Suro biasanya berupa kirab budaya yang menampilkan berbagai kesenian lokal, iring-iringan hasil bumi, serta barisan tokoh-tokoh dalam balutan busana adat. Prosesi ini juga sering diiringi ritual doa bersama sebagai bentuk permohonan perlindungan dan berkah dari Allah SWT untuk tahun yang akan datang.
Baca juga: Resep Bubur Suro, Hidangan Khas Tahun Baru Islam Sarat Makna
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Di berbagai penjuru Nusantara, perayaan 1 Muharram disambut dengan beragam tradisi yang mencerminkan kekayaan budaya lokal yang berakar dari nilai-nilai keislaman.
Sejumlah tradisi perayaan Tahun Baru Islam, mulai dari pawai obor yang meriah, kuliner bubur suro, sampai kirab kebo bule. Tradisi-tradisi ini menjadi warisan budaya yang terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi. Berikut sejumlah tradisi perayaan Tahun Baru Islam di berbagai daerah Indonesia.
Baca juga: 7 Tradisi Malam 1 Suro, Mulai Dari Jamasa Pusaka Hingga Larung Sesaji
1. Pawai Obor
Pawai obor merupakan salah satu tradisi paling meriah dan sering dilakukan di berbagai daerah. Anak-anak sampai orang dewasa, membawa obor dari malam hingga pengajian pagi.Sambil berjalan mengelilingi kampung atau kota, orang-orang melantunkan shalawat, ayat suci Al-Qur’an, atau takbir, sebagai simbol cahaya hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah sekaligus semangat harapan baru bagi umat Islam di tahun berikutnya.
2. Mubeng Beteng
Mubeng Beteng adalah tradisi berjalan kaki mengelilingi benteng Keraton Yogyakarta yang dilakukan pada malam 1 Suro sebagai bagian dari ritual spiritual dan budaya Jawa. Kata mubeng berarti mengelilingi dan beteng berarti benteng, merujuk pada tembok besar yang mengitari kompleks Keraton.Ritual ini dijalankan dalam suasana hening total, peserta tidak berbicara, tidak makan, dan tidak minum sepanjang prosesi berlangsung. Mereka berjalan kaki sejauh sekitar 5 kilometer mengelilingi benteng sambil mengenakan pakaian serba hitam atau putih.
3. Kirab Kebo Bule
Kirab Kebo Bule merupakan tradisi khas dari Kota Solo (Surakarta), tradisi ini menampilkan kerbau albino bernama “Kebo Bule” yang diarak keliling kraton bersama pusaka keraton. Ritual ini diyakini membawa keberkahan dan melestarikan nilai-nilai kebudayaan Jawa-Islam, disertai rangkaian doa dan harapan untuk memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.4. Bubur Suro
Tradisi Bubur Suro merupakan salah satu bentuk perayaan Tahun Baru Islam yang banyak dijumpai di berbagai daerah di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Bubur ini biasanya disajikan pada malam atau hari pertama bulan Muharram sebagai simbol rasa syukur sekaligus doa keselamatan untuk mengawali tahun baru Hijriyah.Bubur Suro umumnya berwarna putih dan diberi lauk pauk sederhana seperti telur rebus, abon, kacang goreng, atau kerupuk, dan kadang dipadukan dengan warna merah sebagai lambang keseimbangan antara suci dan pengorbanan.
5. Ledhug Suro
Ledhug Suro adalah tradisi khas masyarakat Magetan, Jawa Timur, yang dilaksanakan untuk memperingati datangnya 1 Suro. Kata ledhug berasal dari suara dentuman atau tabuhan alat musik tradisional, seperti bedug, gong, kentongan, dan lesung, yang ditabuh oleh warga.Puncak acara Ledhug Suro biasanya berupa kirab budaya yang menampilkan berbagai kesenian lokal, iring-iringan hasil bumi, serta barisan tokoh-tokoh dalam balutan busana adat. Prosesi ini juga sering diiringi ritual doa bersama sebagai bentuk permohonan perlindungan dan berkah dari Allah SWT untuk tahun yang akan datang.
Baca juga: Resep Bubur Suro, Hidangan Khas Tahun Baru Islam Sarat Makna
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.