Apa Itu Mubeng Beteng? Tradisi Keraton Yogyakarta Sambut Malam 1 Suro
25 June 2025 |
11:00 WIB
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah jatuh pada 27 Juni 2025. Peringatan Tahun Baru Hijriah atau 1 Suro pun identik dengan berbagai tradisi kebudayaan yang sarat makna. Salah satunya tradisi Mubeng Beteng yang dilaksanakan oleh Keraton Yogyakarta. Tradisi ini bagian dari rangkaian tradisi malam satu Suro yang masih dilaksanakan hingga saat ini.
Melalui unggahan di akun Instagram resmi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengumumkan bahwa tradisi Mubeng Beteng akan diselenggarakan pada Kamis, 26 Juni 2025 malam, pukul 23.00 WIB.
Baca juga: Resep Bubur Suro, Hidangan Tradisi Khas Jawa saat Tahun Baru Islam
Prosesinya akan akan dimulai dari Bangsal Ponconiti, Kompleks Kamandungan Lor (Keben) hingga Keraton Yogyakarta. Sebelum pemberangkatan, terlebih dulu akan dilakukan pembacaan Macapat selepas Isya di lokasi yang sama. Acara ini pun terbuka untuk umum.
"Bagi Sahabat yang hendak mengikuti agenda tersebut, diharapkan dapat saling menjaga kenyamanan, keheningan, ketertiban, berbusana rapi, serta tidak mengenakan celana pendek," demikian tulis akun @kratonjogja.
Mubeng Beteng biasanya diikuti oleh abdi dalem dan prajurit keraton juga masyarakat umum pada malam 1 Suro. Prosesinya terdiri dari beberapa acara, yang dimulai dengan pembacaan tembang-tembang Jawa, yang menggambarkan doa dan harapan kehidupan yang lebih baik untuk tahun mendatang.
Salah satu tembang yang biasanya dinyanyikan ialah Dhandhang Gula, yang menjadi simbol semangat untuk menjalani tahun yang baru dengan menjadi lebih baik, dan penuh dengan rasa cinta tanpa kebencian. Biasanya, akan dilantunkan juga salah satu surat dalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Fatihah.
Setelah itu, nantinya para peserta Mubeng Beteng akan melakukan lampah budaya, berjalan berlawanan dengan arah jarum jam, yaitu dari barat, selatan, timur lalu ke utara dan kembali ke tempat semula.
Dimulai dari Bangsal Ponconiti, rombongan berjalan menuju Jalan Rotowijayan, Jalan Agus Salim, Jalan KH Wahid Hasyim, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara dan kembali ke Bansal Ponconiti sebagai akhir dari prosesi. Jarak yang ditempuh oleh peserta Mubeng Beteng sekitar 4 kilometer. Rangkaian acara pun ditutup dengan doa bersama.
Baca juga: Daftar Film Horor yang Cocok Ditonton Saat Malam Satu Suro
Selama mengikuti Mubeng Beteng, para peserta berjalan tanpa alas kaki dan tidak boleh saling berbicara. Pantangan tidak boleh bersuara apalagi berbicara dengan peserta lainnya disebut dengan Tapa Bisu atau puasa bicara. Tapa Bisu menjadi momen peserta Mubeng Beteng untuk melakukan intropeksi diri atas apa yang telah diperbuat selama setahun yang lalu, serta menjadi pengingat untuk selalu memperbaiki diri di tahun-tahun yang akan datang.
Tradisi Mubeng Beteng memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Yogyakarta. Dalam konteks kepercayaan Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai malam yang sakral dan penuh dengan energi spiritual. Dengan melakukan Mubeng Beteng, peserta diharapkan dapat merenungi diri, memperbaiki niat, dan memohon perlindungan serta keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu, Mubeng Beteng juga melambangkan siklus kehidupan yang terus berputar, seperti halnya perputaran Bumi. Dalam filosofi Jawa, setiap individu harus selalu berusaha untuk menjaga keseimbangan antara dunia material dan spiritual, serta mengharmoniskan hubungan dengan alam dan sesama.
Menukil dari laman Wisata Budayaku, Mubeng Beteng merupakan tradisi asli Jawa yang berkembang pada abad ke-6 sebelum Mataram-Hindu. Tradisi Jawa ini disebut muser yang artinya mengelilingi pusat, lebih tepatnya mengelilingi pusat wilayah desa.
Sementara sumber sejarah lain mengatakan, Mubeng Beteng merupakan tradisi Jawa-Islam yang dimulai ketika Kerajaan Mataram (Kotagede) membangun benteng mengelilingi kerajaan atau keraton, yang selesai pada 1 Suro 1580.
Setelah itu, para prajurit rutin mengelilingi benteng untuk menjaga dari ancaman musuh. Setelah dibangunnya parit, tugas berkeliling digantikan oleh abdi dalem agar tidak terkesan seperti militer. Para abdi berkeliling dengan membisu sambil membacakan doa-doa dalam hati agar mereka diberi keselamatan.
Konon, prosesi Mubeng Benteng terinspirasi oleh perjalanan suci hijrah dari Mekah-Madinah oleh rombongan Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan yang penuh keprihatinan dan penderitaan melintasi lautan pasir yang sangat panas tanpa menggunakan alas kaki. Peristiwa tersebut yang kemudian menjadi landasan peringatan tahun baru di Jawa dan Nuswantara sebagai laku prihatin.
Baca juga: Jadwal & Rangkaian Acara Kirab Pusaka Malam 1 Suro 2025 di Pura Mangkunegaran
Dahulu, prosesi Mubeng Beteng merupakan upacara resmi atau upacara kenegaraan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dilaksanakan atas perintah dalem Sri Sultan Hamengkubuwana dan dilaksanakan oleh para abdi dalem. Namun, sejak tahun 2017, Mubeng Beteng dilaksanakan oleh masyarakat dan komunitas abdi dalem setelah memperoleh izin dari GKR Mangkubumi, putri Sri Sultan Hamengkubuwana X.
Karena hal tersebut, Mubeng Beteng setiap tahunnya selalu diikuti oleh ribuan masyarakat tidak hanya dari dalam tetapi juga luar Yogyakarta, yang memang ingin berlaku batin atau merasakan aura hening dari tradisi lampah tapa bisu. Sampai saat ini, tradisi Mubeng Beteng tetap lestari sebagai rangkaian acara perayaan malam tahun baru Islam.
Melalui unggahan di akun Instagram resmi, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengumumkan bahwa tradisi Mubeng Beteng akan diselenggarakan pada Kamis, 26 Juni 2025 malam, pukul 23.00 WIB.
Baca juga: Resep Bubur Suro, Hidangan Tradisi Khas Jawa saat Tahun Baru Islam
Prosesinya akan akan dimulai dari Bangsal Ponconiti, Kompleks Kamandungan Lor (Keben) hingga Keraton Yogyakarta. Sebelum pemberangkatan, terlebih dulu akan dilakukan pembacaan Macapat selepas Isya di lokasi yang sama. Acara ini pun terbuka untuk umum.
"Bagi Sahabat yang hendak mengikuti agenda tersebut, diharapkan dapat saling menjaga kenyamanan, keheningan, ketertiban, berbusana rapi, serta tidak mengenakan celana pendek," demikian tulis akun @kratonjogja.
Apa Itu Mubeng Beteng
Mubeng Beteng merupakan tradisi yang dilakukan oleh Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ketika memasuki Tahun Baru Hijriah ataupun Tahun Baru Jawa. Dikutip dari laman Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, prosesi Mubeng Beteng merupakan bagian dari tirakat lampah ratri, yakni munajat atau madrawa ke hadirat Allah SWT dengan berjalan mengikuti lintasan tertentu.Mubeng Beteng biasanya diikuti oleh abdi dalem dan prajurit keraton juga masyarakat umum pada malam 1 Suro. Prosesinya terdiri dari beberapa acara, yang dimulai dengan pembacaan tembang-tembang Jawa, yang menggambarkan doa dan harapan kehidupan yang lebih baik untuk tahun mendatang.
Salah satu tembang yang biasanya dinyanyikan ialah Dhandhang Gula, yang menjadi simbol semangat untuk menjalani tahun yang baru dengan menjadi lebih baik, dan penuh dengan rasa cinta tanpa kebencian. Biasanya, akan dilantunkan juga salah satu surat dalam Al-Qur’an yaitu surat Al-Fatihah.

Suasana pembacaan tembang Macapat sebelum Mubeng Beteng. (Sumber gambar: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat)
Dimulai dari Bangsal Ponconiti, rombongan berjalan menuju Jalan Rotowijayan, Jalan Agus Salim, Jalan KH Wahid Hasyim, Pojok Beteng Kulon, Plengkung Gading, Pojok Beteng Wetan, Jalan Brigjen Katamso, Jalan Ibu Ruswo, Alun-Alun Utara dan kembali ke Bansal Ponconiti sebagai akhir dari prosesi. Jarak yang ditempuh oleh peserta Mubeng Beteng sekitar 4 kilometer. Rangkaian acara pun ditutup dengan doa bersama.
Baca juga: Daftar Film Horor yang Cocok Ditonton Saat Malam Satu Suro
Selama mengikuti Mubeng Beteng, para peserta berjalan tanpa alas kaki dan tidak boleh saling berbicara. Pantangan tidak boleh bersuara apalagi berbicara dengan peserta lainnya disebut dengan Tapa Bisu atau puasa bicara. Tapa Bisu menjadi momen peserta Mubeng Beteng untuk melakukan intropeksi diri atas apa yang telah diperbuat selama setahun yang lalu, serta menjadi pengingat untuk selalu memperbaiki diri di tahun-tahun yang akan datang.
Tradisi Mubeng Beteng memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Yogyakarta. Dalam konteks kepercayaan Jawa, malam 1 Suro dianggap sebagai malam yang sakral dan penuh dengan energi spiritual. Dengan melakukan Mubeng Beteng, peserta diharapkan dapat merenungi diri, memperbaiki niat, dan memohon perlindungan serta keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Selain itu, Mubeng Beteng juga melambangkan siklus kehidupan yang terus berputar, seperti halnya perputaran Bumi. Dalam filosofi Jawa, setiap individu harus selalu berusaha untuk menjaga keseimbangan antara dunia material dan spiritual, serta mengharmoniskan hubungan dengan alam dan sesama.

Prosesi Mubeng Beteng. (Sumber gambar: Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat)
Sejarah Mubeng Beteng
Menukil dari laman Wisata Budayaku, Mubeng Beteng merupakan tradisi asli Jawa yang berkembang pada abad ke-6 sebelum Mataram-Hindu. Tradisi Jawa ini disebut muser yang artinya mengelilingi pusat, lebih tepatnya mengelilingi pusat wilayah desa.Sementara sumber sejarah lain mengatakan, Mubeng Beteng merupakan tradisi Jawa-Islam yang dimulai ketika Kerajaan Mataram (Kotagede) membangun benteng mengelilingi kerajaan atau keraton, yang selesai pada 1 Suro 1580.
Setelah itu, para prajurit rutin mengelilingi benteng untuk menjaga dari ancaman musuh. Setelah dibangunnya parit, tugas berkeliling digantikan oleh abdi dalem agar tidak terkesan seperti militer. Para abdi berkeliling dengan membisu sambil membacakan doa-doa dalam hati agar mereka diberi keselamatan.
Konon, prosesi Mubeng Benteng terinspirasi oleh perjalanan suci hijrah dari Mekah-Madinah oleh rombongan Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan yang penuh keprihatinan dan penderitaan melintasi lautan pasir yang sangat panas tanpa menggunakan alas kaki. Peristiwa tersebut yang kemudian menjadi landasan peringatan tahun baru di Jawa dan Nuswantara sebagai laku prihatin.
Baca juga: Jadwal & Rangkaian Acara Kirab Pusaka Malam 1 Suro 2025 di Pura Mangkunegaran
Dahulu, prosesi Mubeng Beteng merupakan upacara resmi atau upacara kenegaraan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dilaksanakan atas perintah dalem Sri Sultan Hamengkubuwana dan dilaksanakan oleh para abdi dalem. Namun, sejak tahun 2017, Mubeng Beteng dilaksanakan oleh masyarakat dan komunitas abdi dalem setelah memperoleh izin dari GKR Mangkubumi, putri Sri Sultan Hamengkubuwana X.
Karena hal tersebut, Mubeng Beteng setiap tahunnya selalu diikuti oleh ribuan masyarakat tidak hanya dari dalam tetapi juga luar Yogyakarta, yang memang ingin berlaku batin atau merasakan aura hening dari tradisi lampah tapa bisu. Sampai saat ini, tradisi Mubeng Beteng tetap lestari sebagai rangkaian acara perayaan malam tahun baru Islam.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.