Sho Shibuya (Sumber Foto: Instagram/@shoshibuya)

Profil Seniman Sho Shibuya, Bendera Merah Putih di Kanvas Koran the New York Times

02 September 2025   |   16:57 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Sho Shibuya, seniman asal Jepang yang kini menetap di Brooklyn, New York, kembali mencuri perhatian dunia melalui karya terbarunya. Kali ini, karyanya menjadi viral di media sosial karena menampilkan bendera merah putih Indonesia yang dilukis di atas halaman depan The New York Times. 

Lewat gradasi merah ke putih yang kuat, karyanya tidak hanya menampilkan estetika minimalis, tetapi juga sarat simbol solidaritas terhadap situasi yang tengah dihadapi masyarakat Indonesia saat ini. 

Seperti yang diketahui, Indonesia tengah diguncang gelombang demonstrasi besar-besaran sejak akhir Agustus 2025, dipicu kemarahan publik atas kenaikan tunjangan DPR yang dinilai tidak sensitif di tengah inflasi dan kesulitan ekonomi. Aksi yang awalnya damai berubah menjadi kerusuhan dan memicu protes lanjutan di berbagai kota. 

Baca juga: Arti Warna Pink & Hijau, Simbol Solidaritas yang Viral di Dunia Maya 

Adapun, Sho Shibuya merupakan seorang seniman yang karyanya berfokus pada eksplorasi konsep waktu, menggabungkan kesederhanaan visual dengan kekuatan makna. Lukisan-lukisannya telah dipamerkan di Triennale Milano, Art Basel Miami Beach melalui kolaborasi dengan Saint Laurent, serta di Museum Mode Momu, dan berbagai galeri bergengsi lainnya.

Lahir di Jepang dan pindah ke New York untuk mengejar karier di bidang desain, Shibuya mulai dikenal luas pada 2020, saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Kala itu, dia memulai sebuah proyek pribadi yang kemudian menjadi karya fenomenal, yakni lukisan matahari terbit di atas halaman depan The New York Times. 

Proyek ini, dia sebut Sunrise From a Small Window, terinspirasi dari rutinitas paginya selama masa lockdown. Setiap pagi, Shibuya bangun, membaca koran, lalu mengamati warna langit pagi dari jendela kecil apartemennya di Brooklyn. 

Pemandangan itu dia tuangkan dalam gradasi warna lembut di atas halaman depan koran yang biasanya dipenuhi berita-berita yang membuat orang cemas. Konsepnya sederhana tapi mendalam, menampilkan keindahan dan ketenangan yang tetap ada, bahkan ketika dunia sedang kacau. 

Kegiatan ini menjadi sebuah meditasi visual yang membantunya meresapi perjalanan waktu. Inspirasinya dalam melukis sebagian datang dari karya seniman konseptual Jepang, On Kawara, yang terkenal dengan dokumentasi harian dalam bentuk seni.

"Saya suka mengerjakan sesuatu yang berkelanjutan, seri lukisan ini dimulai sebagai bentuk meditasi sederhana yang lahir dari rasa gelisah dan pengamatan atas kontras antara kekacauan di berita dan ketenangan alami di luar jendela saya," katanya, dikutip melalui situs web resminya. 

Proyek ini pun terus berkembang seiring dia melanjutkan proses melukis dan mengeksplorasi emosi serta reaksinya terhadap berita-berita yang terbit setiap harinya. Dengan demikian, proyek tersebut sebetulnya tidak pernah benar-benar selesai dan terus berlanjut sampai sekarang. 

Meski dikenal lewat lukisan matahari terbit, karya Shibuya tidak selalu menampilkan warna cerah. Saat peristiwa kedukaan besar terjadi, seperti kematian George Floyd pada 2020, dia mengubah kanvas koran tersebut menjadi hitam pekat. Warna-warna yang dia pilih bukan sekadar palet artistik, melainkan refleksi emosional dan catatan sejarah.

Dengan latar belakang sebagai desainer grafis, dia terbiasa dengan keteraturan, komposisi, dan kepekaan visual yang tajam. Pendekatan ini kemudian dia terapkan dalam dunia seni rupa untuk menciptakan karya-karya yang seolah menjadi arsip visual perjalanan waktu. 
 
 

Gradasi Merah Putih yang Sarat Makna 

Lukisan merah putih lahir dari kepekaannya terhadap isu internasional, termasuk situasi yang tengah terjadi di Indonesia. Dengan menggunakan teknik gradasi yang telah menjadi ciri khasnya, Shibuya mengaplikasikan warna merah yang tegas di bagian atas dan putih bersih di bagian bawah halaman koran.

Banyak orang menafsirkan karya ini sebagai bentuk solidaritas, pengingat bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyuarakan empati dan kepedulian lintas batas negara.

Karya merah putih yang dibuatnya untuk Indonesia mempertegas posisi Shibuya sebagai seniman yang tak hanya fokus pada keindahan visual, tetapi juga konteks sosial dan kemanusiaan. Dia memahami bahwa seni bisa menjadi bahasa universal, serta mampu berbicara melintasi batas budaya dan geografis. 

Sho Shibuya bukan sekadar pelukis, dia adalah perekam waktu yang  mengajak kita merenung tentang kehidupan dan berita melalui gradasi warna dalam kanvas koran. Dari jendela kecil studionya di Brooklyn, dia terus mengabadikan dunia dalam satu halaman penuh warna. 

Baca juga: Sastrawan-Seniman Berkumpul di TIM dalam Gerakan Seni Melawan Tirani 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

6 Alasan Rumah-Rumah di Amerika Tidak Punya Pagar

BERIKUTNYA

Singapura Jadi Negara Paling Aman di Asia 2025, Indonesia Level Berapa?

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga