Buku FX Harsono: Sebuah Monograf (sumber gambar: Instagram FX Harsono)

Yuk Belajar Berkesenian dari FX Harsono

29 August 2022   |   20:00 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Buku berjudul FX Harsono: Sebuah Monografi diluncurkan dalam ajang Art Jakarta 2022 pada pekan lalu. Dengan dirilisnya buku ini diharapkan banyak masyarakat dapat mengetahui dan belajar tentang berkesenian dari sosok seniman FX Harsono.

FX Harsono mengatakan bahwa buku tersebut menuliskan tentang perjalanan kesenian dan kehidupan oleh kurator dan kritikus seni rupa Hendro Wiyanto. “Maka dari itu disebutnya sebagai monograf, bukan biografi,” katanya kepada Hypeabis.id.

Baca juga: Simak Cerita Seniman Mamedz tentang Perkembangan Ekosistem NFT

Dia menjelaskan bahwa buku itu hanya akan bercerita tentang kehidupan diri sendiri jika disebut sebagai biografi. Namun, menurutnya, buku itu tidak hanya bicara tentang kehidupan diri, tapi juga tentang kesenian yang dilakukan.

Melalui buku itu, Harsono ingin membagikan apa saja yang telah dilakukan dan latar belakang penciptaan karya. Dia mengaku banyak yang ingin disampaikan sejak 1975 sampai dengan saat ini dalam berkesenian.

Dia memastikan bahwa setiap karya yang dibuat selalu berbasis penelitian, perkembangan sosial, politik, dan kebudayaan di Indonesia.

“Harapan saya bahwa perkembangan seni rupa Indonesia selalu bisa berangkat dari sejarah perkembangan seni rupa itu sendiri, dan saya sebagai seniman yang boleh dibilang awal dari gerakan atau perkembangan seni rupa kontemporer, saya merasa perlu untuk bicara,” katanya.

Dia bercerita proses perjalanan berkesenian yang dialami sejak 1975 tidak lah mulus. Sejak 1975, karya yang dibuat tidak pernah laku di pasar seni di dalam negeri. Menurutnya, karya yang dibuat baru laku pada 1998.

Dengan begitu, dia menuturkan, karya yang dibuat baru laku sekitar 20-an tahun kemudian. Pada saat itu, karya yang dihasilkan dikoleksi oleh museum di Fukuoka, Jepang.

Saat menjadi mahasiswa dia berpikir bahwa dirinya harus menghidupi kesenian jika ingin berkesenian, dan bukan sebaliknya. Jadi, dia menuturkan tidak pernah membuat karya yang sesuai dengan selera pasar.

“Saya tidak akan melukis yang dikehendaki pasar,” katanya.


Tidak hanya itu, bagi pria seniman yang merupakan seorang keturunan China tersebut juga persoalan diskriminasi menjadi persoalan yang dialami pada waktu-waktu dahulu.

Dia mengatakan ada kolektor yang mulai menyukai karya yang dibuat setelah 1998, dan dari karya seni ternyata dirinya bisa hidup. Pada 2010, dia pun memutuskan untuk berhenti menjadi seorang karyawan dan menjadi seniman full.

Langkah tersebut, lanjutnya, bukan berarti menyerah terhadap pasar. “Karya saya jarang dikoleksi kolektor Indoensia,” katanya. Dia menuturkan bahwa karya yang dihasilkan saat ini berada di sejumlah tempat di luar negeri.

Dia pun menilai bahwa kondisi itu yang membuat dirinya tidak sekaya seniman lain di dalam negeri. Meskipn begitu, bagi sang seniman bisa melakukan riset dan berkarya sudah sesuatu yang cukup baginya.

Dilansir dari laman Galeri Nasional Indonesia, FX Harsono adalah salah satu dari banyak seniman yang karyanya menjadi koleksi galeri. Karya FX Harsono yang dikoleksi oleh Galeri Nasional Indonesia adalah Buka Mulutmu yang dibuat pada 2002.

Karya dengan ukuran 57 x 219 cm tersebut terdiri dalam empat panel yang memvisualkan sekuen narasi figur-figur, yang dipaksa membuka mulut untuk melakukan konsumsi dengan rakus.Dari samping kanan-kiri diungkap penanda berupa gambar-gambar sapi yang dikaitkan dengan segelas susu ataupun hamburger.

Ekspresi figur-figur tampak kosong seperti robot yang bergerak tanpa rasa dan patuh dengan perintah. Karya dengan kecenderungan PopArt ini merupakan ungkapan kontekstual yang mewakili seni rupa Indonesia masa kini.

Baca juga: 2 Lukisan Karya Affandi Terjual dengan Harga Fantastis di Art Jakarta 2022

Buka Mulutmu atau Open Your Mouth merupakan tanggapan terhadap berbagai gejala patologi sosiokultural. Perilaku konsumtif manusia secara masif dipengaruhi oleh berbagai kebijakan para kapitalis yang mendorong kebutuhan-kebutuhan artifisial untuk dijejalkan dalam mulut.

Secara simbolik, karya ini menyentuh problem kebudayaan dalam arti luas. Bagaimana pola konsumsi mencerminkan suatu sistem global yang berdampak pada keseragaman gaya hidup, mengalirnya modal ekonomi ke negara maju, dan terkikisnya berbagai daya artikulasi lokal negaranegara berkembang seperti halnya Indonesia.

Editor: Fajar Sidik

SEBELUMNYA

Taylor Swift Mendominasi, Ini Daftar Pemenang & Nominasi Video Music Awards 2022

BERIKUTNYA

Keseruan Hanbin x Afgan Kolaborasi di KV Fest 2022

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: