William Wirjaatmadja Wongso, pakar kuliner terkenal Indonesia. (Sumber gambar: IG/epicureasia)

Eksklusif William Wongso: Tantangan Masakan Nusantara di Tengah Gempuran Makanan dari Negara Lain

31 August 2025   |   11:00 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Di tengah derasnya penetrasi kuliner asing, posisi makanan Nusantara di kalangan generasi muda menghadapi tantangan besar. Menu-menu khas Indonesia berisiko hilang lantaran banyak generasi kini tidak lagi mengenalnya. Padahal, di balik setiap hidangan tersimpan warisan budaya sekaligus identitas yang kaya.

Tteokbokki, kimbap, bibimbap, sushi, takoyaki, dan katsu adalah sebagian contoh makanan yang saat ini digemari masyarakat Indonesia, termasuk generasi muda. Hidangan-hidangan tersebut hadir menjangkau berbagai kalangan dan sanggup menciptakan tren baru. Tidak sedikit orang rela mengantre demi menikmatinya.

Fenomena itu berbanding terbalik dengan posisi sejumlah makanan Nusantara yang justru kian terpinggirkan. Sebagian generasi muda terkesan enggan meliriknya, dengan beragam alasan yang melatarbelakangi.

Baca Juga: Eksklusif Founder Visinema Angga Dwimas Sasongko: Mimpi Jadi Game Changer

Kenyataan tersebut menimbulkan kekhawatiran akan terputusnya mata rantai budaya. Makanan Nusantara sejatinya bukan hanya perkara cita rasa, melainkan juga identitas yang merekam sejarah panjang bangsa. Setiap hidangan lahir dari kearifan lokal dan menyimpan nilai filosofis yang mendalam.

Sebagai negara yang sangat luas dengan berlapis-lapis keragaman masyarakat, Indonesia memiliki khazanah kuliner yang tidak dimiliki negara lain. Kekayaan ini merupakan aset budaya yang harus dijaga bersama, terutama oleh generasi muda.

Pakar kuliner William Wirjaatmadja Wongso menegaskan, betapa luas dan kayanya khazanah tersebut. Dia yang sudah puluhan tahun mendalami kuliner Indonesia, mengaku belum mampu menjangkau seluruh menu Nusantara karena jumlahnya yang begitu banyak dan variatif. Padahal, berbagai makanan khas Indonesia sudah pernah dicicipinya.

Baginya, kekayaan ini tidak boleh hilang begitu saja. Jadi, semua pihak perlu mulai berpikir untuk membuat agar hidangan khas Nusantara tetap dapat bertahan. Generasi muda sebagai generasi penerus bangsa harus mulai mengenalnya.

Berikut cukilan wawancara Hypeabis.id dengan William Wongso:


Bagaimana Anda melihat posisi masakan khas Nusantara pada saat ini di tengah gempuran makanan dari negara lain?

Ada dua cara untuk melihat posisi masakan khas Nusantara. Pertama, ambil Jakarta sebagai patokan. Pada saat ini, banyak rumah makan baru yang buka di Jakarta. Namun, jumlah restoran Indonesianya sedikit.

Kondisi itu dapat terjadi lantaran orang usaha pasti akan melihat pasar. Jadi, kenapa restoran yang menyajikan masakan Indonesia sedikit dibandingkan non-Indonesia bisa jadi karena mungkin mencari kokinya sulit atau kurang trendi.

Sementara itu, jika melihat tren orang-orang Indonesia yang jalan-jalan berwisata ke berbagai daerah, makanan lokal akan menjadi buruan. Mereka akan mencari makanan asli di daerah tempat tujuan berwisata.

Namun di antara generasi yang ada, saya agak skeptis dengan generasi Z terkait makanan-makanan khas Nusantara.

Apa yang membuat Anda skeptis dengan Generasi Z?

Generasi Z memiliki lingkungan yang kerap berbeda. Banyak Generasi Z sekolah di luar negeri. Kemudian, mereka juga tumbuh besar di lingkungan yang keluarganya kerap kumpul di tempat seperti mal, kafe, dan sebagainya yang makanan khas Indonesianya lebih minim.

Selain itu, mereka juga kerap mendapatkan pengaruh dari budaya-budaya luar negeri, seperti Korea Selatan dari K-Drama dan sebagainya. Pada saat ini, ada banyak anak-anak yang suka dengan topokki, tapi tidak pernah ke Korea Selatan adalah sesuatu yang aneh. Dari mana itu? Ya dari drama Korea itu.

Kondisi tersebut ditambah dengan pemerintah yang tidak terlalu memperhatikan berbagai hal itu. Kemudian, pendidikan dan budaya kuliner Indonesia juga tidak terlalu intensif.

Jika kondisi-kondisi itu terus dibiarkan, seperti apa dampaknya terhadap makanan khas Indonesia?

Ketika kondisi makanan khas Indonesia terus dibiarkan seperti ini, terus dibombardir dengan makanan-makanan dari luar yang penampilannya bagus, lebih berani promosi, dan sebagainya, tidak menutup kemungkinan akan hilang.

Lantas, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah dan semua pihak terkait ini?

Pemerintah perlu bergerak melalui jalur pendidikan serta penyuluhan yang lebih intensif mengenai makanan khas Indonesia. Upaya ini harus melibatkan ahli-ahli dari berbagai daerah agar pengetahuan yang diajarkan benar-benar otentik dan berakar pada tradisi lokal.

Dengan wilayah Indonesia yang begitu luas, pemerintah juga harus menentukan makanan apa saja yang layak dijadikan wakil. Sebagai perbandingan, Tiongkok hanya menunjuk delapan provinsi ikonik untuk mewakili kekayaan kuliner mereka di dunia.

Indonesia tidak mungkin mengangkat semua makanan sebagai representasi, karena banyak kuliner Nusantara bergantung pada kearifan lokal serta bahan yang sulit dipindahkan, seperti ikan sungai atau bumbu khas daerah tertentu.

Bagaimana Anda melihat kompleksitas kuliner Indonesia?

Makanan atau kuliner Indonesia sangat kompleks dan memiliki varian yang sangat banyak dengan landasan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kondisi ini berbeda jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Seperti di Jepang, makanan di tiap daerahnya memiliki profil yang hampir sama, seperti menggunakan wasabi. Namun, perbedaan di tiap daerah di Jepang adalah kualitasnya. Saat di Jepang, kita makan sushi di daerah mana saja tetap memakai soyu.

Sementara di Indonesia, makanan di Aceh dan Padang sudah berbeda. Padahal, letak keduanya tidak jauh berbeda. Kemudian, makanan keduanya juga berbeda jika dibandingkan dengan makanan Batak. Sebagai contoh masakan rendang. Pada saat ini, di Sumatra Barat ada sekitar 900 nagari dan setiap nagari memiliki versi rendang yang berbeda-beda.

Perbedaan-perbedaan itu adalah keunikan Indonesia yang sering tidak dipikirkan dan terus dibiarkan saja sampai akhirnya generasi berikutnya enggak pernah tahu.

Apakah kekayaan kuliner ini seharusnya dapat menjadi kekuatan Indonesia?

Iya, tapi siapa yang mau menguatkan? Untuk membuat kuliner Indonesia menjadi kekuatan, tidak bisa dilakukan oleh individu.

Apakah perlu badan khusus untuk mengelola kuliner khas Indonesia yang sangat kaya?

Sebenarnya memang harusnya begitu. Sudah pernah diusulkan juga. Masalahnya, sekarang di Indonesia ini setiap orang seperti punya sentra kuliner sendiri. Kalau ada satu badan resmi, lebih jelas. Badan itu yang memberikan akses, jadi siapa pun yang ingin tahu soal kuliner, tinggal menghubungi ke sana.

Selain itu, badan tersebut bisa mendatangkan ahli-ahli langsung dari daerah. Misalnya untuk cooking course, sebaiknya diajarkan oleh orang asli, bukan yang “KW3”. Kalau saya sendiri disuruh mengajar masakan daerah, orang bisa-bisa malah menertawakan. Karena itu, biarlah masakan daerah diajarkan oleh ahlinya langsung. Itu akan jauh lebih tepat.

Berbicara inovasi, bagaimana Anda melihatnya di masakan khas Indonesia pada saat ini?

Aku sebenarnya tidak terlalu pro dengan inovasi. Alasannya, yang dasar saja belum banyak dikenal, sudah buru-buru ingin berinovasi. Saat ini, sejumlah pihak justru mengakui dan mengeklaim seolah-olah makanan modern yang dibuatnya adalah hidangan khas Indonesia. Kalau saya mau inovasi, yang dilakukan adalah dengan memperbaiki kualitas.

Apa harapan Anda terhadap masakan khas Indonesia?

Harapan saya sederhana, yaitu agar fenomena yang terjadi terhadap kuliner Nusantara ini dilihat dengan serius dan benar-benar ditangani, jangan sampai terlambat.

Sebenarnya media sosial sangat membantu. Bahkan bisa dibilang memaksa orang untuk ikut membantu. Contohnya, sejak ada media sosial, di seluruh dunia ketika seseorang bepergian ke sebuah kota, tinggal mencari di Google, langsung muncul layanan local food tour yang banyak sekali.

Baca Juga: Eksklusif Helmy Yahya: Meracik Kembali Nilai Sejarah & Seni dengan Sentuhan Teknologi AI

SEBELUMNYA

Cara Amanda Rawles Dalami Karakter di Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah

BERIKUTNYA

Film Jay Kelly Dapat Standing Ovation 10 Menit di Venice Film Festival 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga