Amanda Rawles (Sumber gambar: dok Rapi Films)

Cara Amanda Rawles Dalami Karakter di Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah

31 August 2025   |   06:59 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Aktris Amanda Rawles kembali menunjukkan kemampuan aktingnya melalui peran Alin dalam film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah. Karakter ini, menurutnya, cukup kompleks karena menuntutnya menampilkan layer-layer emosi yang tak mudah dikeluarkan.

Di film ini, Alin digambarkan sebagai seorang anak yang tengah mempertanyakan sosok kepala keluarga di dalam sebuah rumah tangga. Meski sang ayah masih hidup, keberadaannya justru tak pernah benar-benar terasa. Dirinya pun mulai mempertanyakan mengapa sang ibu mau menikahi ayahnya meski tak berguna dan justru selalu membawa masalah.

Baca Juga: Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah Angkat Tema Luka Keluarga yang Tersembunyi

Bagi Amanda, menghidupkan karakter Alin bukanlah proses yang sederhana. Secara karakter, dirinya sebenarnya merasa banyak kemiripan dengan Alin. Namun, di sinilah letak masalahnya. Meski secara karakter mirip, dirinya merasa sangat berbeda dengan Alin dalam mengambil sebuah keputusan.

Dalam beberapa momen, Amanda mengaku kesulitan membedakan antara pandangan pribadinya dengan pandangan Alin yang tertulis dalam naskah. Hal ini yang pada awalnya membuatnya cukup sulit masuk ke dalam karakter ini.

“Dalam sesi reading, saya sempat berdebat mengenai pilihan yang diambil Alin. Ada momen ketika saya merasa tidak setuju. Padahal, sebagai pemeran, saya seharusnya mewakili perasaan Alin, bukan membawa sudut pandang Amanda," ujarnya.

Selama proses reading, Amanda pun mencoba untuk melepaskan kedirian dan seutuhnya masuk ke dalam karakter. Kendati demikian, Amanda menyebut proses pendalamannya masih cukup lancar. Dirinya merasa sangat terbantu karena seluruh proses dijalankan secara kolaboratif.

Selain itu, di produksi ini, katanya, setiap pemain juga diberi waktu yang panjang untuk menyelami lebih jauh peran yang akan dibawakannya. Dengan demikian, proses pencarian emosi dari karakter yang dibawakannya lebih optimal. Menurutnya, waktu yang cukup panjang, dukungan dari lawan main, serta bimbingan tim produksi membuatnya lebih leluasa dalam menggali perasaan Alin.

"Selama project ini, para pemain diberikan kesempatan untuk menyelami karakter masing-masing dengan waktu yang cukup, termasuk melalui sesi panjang bersama pelatih akting. Selain itu, Mas Kunz sebagai sutradara juga selalu terlibat dalam proses reading," ujar Amanda.

Dalam proses mendalami karakter, menurutnya, salah satu menarik dari karakter Alin ialah cara pandangnya terhadap pilihan hidup. Pada akhirnya, karakter ini menyadari bahwa setiap individu memiliki hak atas pilihannya sendiri, meski kemudian setiap keputusan yang diambil juga pasti membawa konsekuensi. Kesadaran inilah yang membentuk prinsip Alin untuk lebih berhati-hati dalam menentukan arah hidup ke depannya.

Amanda juga menyukai bagian bagaimana pergulatan batin tokoh ini terhadap pernikahan. Dari awalnya enggan terburu-buru, kemudian melihat pernikahan sebagai jalan keluar, hingga akhirnya sampai pada pemahaman baru yang lebih matang.

Dirinya berharap film ini nantinya bisa diterima dengan baik oleh penonton. Sebab, film ini punya layer dramatik yang menarik yang mencoba membuka ruang refleksi mengenai trauma keluarga, pilihan hidup, dan keberanian memutus siklus luka antar generasi.

Film ini berkisah tentang Alin, seorang mahasiswi kedokteran yang terpaksa pulang ke rumah karena beasiswanya terancam hilang. Namun, kepulangannya tidaklah mudah. Sebab dia harus kembali berhadapan dengan keluarga yang disfungsional. 

Setibanya di rumah, Alin disambut dengan kenyataan pahit kehidupan keluarganya yang sengsara. Sang ibu, Wulan, adalah sosok perempuan tangguh yang membesarkan tiga anak perempuannya dalam serba keterbatasan. Dia bekerja tanpa henti, mulai dari mencuci pakaian tetangga hingga memperbaiki atap rumah yang bocor.

Semua itu dijalani seorang diri. Sementara suaminya, Tio, lebih sering tidak peduli dengan kondisi keluarganya. Kedua adik Alin, Anis dan Asya, bahkan harus mengorbankan impian mereka demi menopang kehidupan keluarga. 

Namun, kepulangannya kali ini juga membawanya ke satu kisah yang tak pernah diketahui sebelumnya. Alin menemukan sebuah buku harian tua milik ibunya yang terselip di antara pakaian lama. 
 

Buku itu membuka kisah masa muda sang ibu, sekaligus menyingkap luka yang selama ini tersembunyi. Dari sanalah Alin mulai mempertanyakan alasan ibunya tetap bertahan dalam pernikahan yang tidak membahagiakan, sekaligus mengandaikan bagaimana hidup sang ibu jika tidak menikah dengan ayahnya.

Disutradarai oleh Kuntz Agus, dengan cerita dan naskah oleh Evelyn Afnilia, Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah dibintangi Sha Ine Febriyanti, Amanda Rawles, Eva Celia, Nayla Purnama, Bucek, Indian Akbar, Ariyo Wahab, dan aktor muda Bintang Alvarendra Soemardi.

Di kursi produser eksekutif, ada Sunil Samtani yang telah banyak menelurkan film-film box office di Indonesia. Film produksi Rapi Films bersama Screenplay Films, Legacy Pictures, dan Vortera Studios tersebut direncanakan tayang 4 September 2025 di bioskop. 

Baca Juga: Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah, Memaknai Proses Berdamai dengan Keluarga

SEBELUMNYA

4 Desainer Indonesia Raih Beasiswa di Arsutoria School Milan, Angkat Sentra Kerajinan Kulit Garut

BERIKUTNYA

Eksklusif William Wongso: Tantangan Masakan Nusantara di Tengah Gempuran Makanan dari Negara Lain

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga