Tren Vintage Masa Kini: Antara Nostalgia, Keberlanjutan, dan Krisis Identitas
30 August 2025 |
14:30 WIB
Pakaian dan aksesoris dari masa lalu nampaknya tetap mendapat hati di kalangan niche. Tren itu masih mendapat pasar, utamanya karena ramainya pasar thrift. Vintage bukan sekadar soal nostalgia atau estetika retro semata. Menurut pengamat mode Sonny Muchlison, tren ini sejatinya berakar dari gerakan global yang lebih besar.
“Sebetulnya kan berawal dari global warming, kemudian banyak orang mengagungkan yang namanya sustainable,” ujar Sonny. Gerakan lingkungan dan prinsip keberlanjutan menjadi pemicu kesadaran untuk menggunakan kembali pakaian lama demi mengurangi limbah industri fashion yang dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar.
Baca juga: 5 Cara Menerapkan Vintage Style, Biar Jadul Tapi Elegan
Kesadaran tersebut berkembang menjadi gerakan zero waste yang mendorong orang untuk memanfaatkan kembali barang bekas, termasuk dalam hal berbusana. Sonny menyebut gerakan ini sebagai bagian dari bersih-bersih bumi, yang kemudian diadopsi dalam dunia fashion melalui aktivitas seperti thrifting dan penggunaan kembali pakaian vintage.
Namun demikian, di Indonesia, pemaknaan terhadap vintage fashion masih sangat terbatas. Menurut Sonny, istilah vintage sering dicampuradukkan dengan barang bekas tanpa nilai kurasi. Banyak barang hasil thrifting masuk ke pasar tanpa kejelasan asal-usul, bahkan sempat memenuhi mal-mal tanpa regulasi yang jelas. Meskipun saat ini mulai muncul toko-toko yang melakukan seleksi terhadap barang vintage dan mengemasnya secara menarik, pemahaman mendalam mengenai nilai sejarah dan budaya di balik pakaian tersebut masih minim.
Bagi Sonny, vintage sejati bukan hanya tentang tampilan, melainkan soal warisan dan identitas. Dia menyampaikan bahwa koleksi vintage yang dia miliki misalnya, adalah hasil warisan keluarga seperti pakaian dari sang ibu atau saudara yang disimpan dan digunakan kembali bukan karena tren melainkan asas manfaat dan nilai historis. “Saya sekarang pakai barang vintage itu adalah karena memang asas manfaat saja daripada enggak dipakai,” jelasnya.
Dalam konteks global, tren vintage seringkali terlihat melebur dengan gaya klasik dari negara-negara seperti Korea dan Jepang. Gaya-gaya ini kemudian dianggap vintage oleh masyarakat Indonesia, padahal menurut Sonny, gaya tersebut bukanlah hasil dari nostalgia, melainkan bagian dari keseharian dan identitas kultural mereka. Sayangnya, masyarakat Indonesia cenderung meniru secara visual tanpa memahami makna di balik gaya tersebut.
“Bajunya itu bukan vintage, tapi memang dari sananya klasik. Kalau dipakai orang Indonesia, baru terlihat seperti jadul,” kata Sonny mencontohkan gaya berpakaian orang Korea.
Dalam konteks lokal, Sonny melihat bahwa vintage fashion Indonesia justru sering kehilangan jati diri karena pemahaman yang keliru terhadap warisan budaya sendiri. Kebaya, sebagai salah satu contoh pakaian tradisional, sering dimodifikasi secara ekstrem hingga bentuknya menyimpang dari versi asli. Dia menyalahkan bahwa kebaya yang selama ini dianggap sebagai simbol keanggunan perempuan Indonesia justru lebih dihargai dan dilestarikan oleh negara lain.
Sonny menyoroti bagaimana beberapa model kebaya dari Bandung, misalnya, bahkan diklaim oleh negara tetangga sebagai bagian dari warisan budaya mereka, sementara Indonesia sibuk melakukan modifikasi. Dalam beberapa kasus, negara-negara seperti Malaysia dan Singapura bahkan telah lebih dulu mendaftarkan model-model kebaya sebagai bagian dari kekayaan budaya mereka secara resmi.
“Saya menyadari bahwa kenapa kebaya sampai tidak diterima lagi sebagai warisan budaya UNESCO, tetapi hanya kepemilikan bersama karena mereka lebih preserve,” tambahnya.
Bagi Sonny, gaya vintage Indonesia sejatinya sangat kaya, mulai dari siluet kebaya, batik Madura, hingga blues. Namun, karena kurangnya dokumentasi dan edukasi, banyak generasi muda yang lebih mengenal gaya luar negeri daripada sejarah gaya dalam negeri sendiri. Hal ini membuat gaya vintage lokal sering dimodifikasi berlebihan demi terlihat modern, alih-alih dihargai sebagaimana adanya.
Di tengah derasnya pengaruh global, Sonny mengajak masyarakat dan pelaku mode untuk kembali menengok akar. Vintage bukan sekadar busana lama, tetapi jejak visual dari perjalanan sejarah bangsa, katanya. Alih-alih terus mencari inspirasi dari luar, Sonny menekankan pentingnya menjaga identitas kultural melalui pakaian yang kita pilih dan kenakan.
“Where is your ID? Where is your identity? Vintage di negara lain itu sifatnya remembering dan asas manfaat, seharusnya kita bisa begitu,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
“Sebetulnya kan berawal dari global warming, kemudian banyak orang mengagungkan yang namanya sustainable,” ujar Sonny. Gerakan lingkungan dan prinsip keberlanjutan menjadi pemicu kesadaran untuk menggunakan kembali pakaian lama demi mengurangi limbah industri fashion yang dikenal sebagai salah satu penyumbang polusi terbesar.
Baca juga: 5 Cara Menerapkan Vintage Style, Biar Jadul Tapi Elegan
Kesadaran tersebut berkembang menjadi gerakan zero waste yang mendorong orang untuk memanfaatkan kembali barang bekas, termasuk dalam hal berbusana. Sonny menyebut gerakan ini sebagai bagian dari bersih-bersih bumi, yang kemudian diadopsi dalam dunia fashion melalui aktivitas seperti thrifting dan penggunaan kembali pakaian vintage.
Namun demikian, di Indonesia, pemaknaan terhadap vintage fashion masih sangat terbatas. Menurut Sonny, istilah vintage sering dicampuradukkan dengan barang bekas tanpa nilai kurasi. Banyak barang hasil thrifting masuk ke pasar tanpa kejelasan asal-usul, bahkan sempat memenuhi mal-mal tanpa regulasi yang jelas. Meskipun saat ini mulai muncul toko-toko yang melakukan seleksi terhadap barang vintage dan mengemasnya secara menarik, pemahaman mendalam mengenai nilai sejarah dan budaya di balik pakaian tersebut masih minim.
Bagi Sonny, vintage sejati bukan hanya tentang tampilan, melainkan soal warisan dan identitas. Dia menyampaikan bahwa koleksi vintage yang dia miliki misalnya, adalah hasil warisan keluarga seperti pakaian dari sang ibu atau saudara yang disimpan dan digunakan kembali bukan karena tren melainkan asas manfaat dan nilai historis. “Saya sekarang pakai barang vintage itu adalah karena memang asas manfaat saja daripada enggak dipakai,” jelasnya.
Dalam konteks global, tren vintage seringkali terlihat melebur dengan gaya klasik dari negara-negara seperti Korea dan Jepang. Gaya-gaya ini kemudian dianggap vintage oleh masyarakat Indonesia, padahal menurut Sonny, gaya tersebut bukanlah hasil dari nostalgia, melainkan bagian dari keseharian dan identitas kultural mereka. Sayangnya, masyarakat Indonesia cenderung meniru secara visual tanpa memahami makna di balik gaya tersebut.
“Bajunya itu bukan vintage, tapi memang dari sananya klasik. Kalau dipakai orang Indonesia, baru terlihat seperti jadul,” kata Sonny mencontohkan gaya berpakaian orang Korea.
Dalam konteks lokal, Sonny melihat bahwa vintage fashion Indonesia justru sering kehilangan jati diri karena pemahaman yang keliru terhadap warisan budaya sendiri. Kebaya, sebagai salah satu contoh pakaian tradisional, sering dimodifikasi secara ekstrem hingga bentuknya menyimpang dari versi asli. Dia menyalahkan bahwa kebaya yang selama ini dianggap sebagai simbol keanggunan perempuan Indonesia justru lebih dihargai dan dilestarikan oleh negara lain.
Sonny menyoroti bagaimana beberapa model kebaya dari Bandung, misalnya, bahkan diklaim oleh negara tetangga sebagai bagian dari warisan budaya mereka, sementara Indonesia sibuk melakukan modifikasi. Dalam beberapa kasus, negara-negara seperti Malaysia dan Singapura bahkan telah lebih dulu mendaftarkan model-model kebaya sebagai bagian dari kekayaan budaya mereka secara resmi.
“Saya menyadari bahwa kenapa kebaya sampai tidak diterima lagi sebagai warisan budaya UNESCO, tetapi hanya kepemilikan bersama karena mereka lebih preserve,” tambahnya.
Bagi Sonny, gaya vintage Indonesia sejatinya sangat kaya, mulai dari siluet kebaya, batik Madura, hingga blues. Namun, karena kurangnya dokumentasi dan edukasi, banyak generasi muda yang lebih mengenal gaya luar negeri daripada sejarah gaya dalam negeri sendiri. Hal ini membuat gaya vintage lokal sering dimodifikasi berlebihan demi terlihat modern, alih-alih dihargai sebagaimana adanya.
Di tengah derasnya pengaruh global, Sonny mengajak masyarakat dan pelaku mode untuk kembali menengok akar. Vintage bukan sekadar busana lama, tetapi jejak visual dari perjalanan sejarah bangsa, katanya. Alih-alih terus mencari inspirasi dari luar, Sonny menekankan pentingnya menjaga identitas kultural melalui pakaian yang kita pilih dan kenakan.
“Where is your ID? Where is your identity? Vintage di negara lain itu sifatnya remembering dan asas manfaat, seharusnya kita bisa begitu,” katanya.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.