46 Wilayah di Indonesia Laporkan KLB Campak, Kemenkes Imbau Percepatan Imunisasi
26 August 2025 |
18:30 WIB
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengonfirmasi adanya 46 Kejadian Luar Biasa (KLB) campak yang tersebar di 42 kabupaten/kota di 14 provinsi. Seluruh masyarakat, terutama orang tua dan para pengasuh anak diimbau untuk segera melengkapi imunisasi campak ke fasilitas kesehatan, posyandu, maupun puskesmas terdekat.
"Data yang masuk ke kami ada 46 KLB campak pasti, ini adalah campak yang memang secara pemeriksaan laboratorium sudah positif, dengan artian ditemukan antibodi terhadap campak pada anak yang menderita gejalanya," kata dr Prima Yosephine, Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan dalam konferensi pers, Selasa (26/8/2025).
Baca Juga: Campak Bisa Dicegah, Waspadai Gejala & Komplikasinya
Terhitung hingga pekan ke-33 tahun 2025 atau 24 Agustus 2025, data nasional mencatat 23.128 kasus suspek campak, dengan 3.444 kasus terkonfirmasi positif dan tingkat positivity rate sekitar 16,6 persen.
Wilayah dengan lonjakan kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan 2.139 kasus suspek. Sebanyak 205 kasus terkonfirmasi positif dan 17 angka kematian. Data Dinas Kesehatan setempat mengungkap bahwa 16 dari 17 korban meninggal tidak memiliki riwayat imunisasi campak.
46 wilayah melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Indonesia. Di Sumatera Utara, daerah terdampak meliputi Kota Medan, Deli Serdang, Tapanuli Selatan, Kota Tebing Tinggi, Padang Lawas, Dairi, Samosir, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Kota Pematang Siantar, dan Padang Lawas Utara. Sementara itu, di Sumatera Barat, kasus KLB dilaporkan di Kabupaten Agam dan Sijunjung.
Wilayah Banten juga mencatat penyebaran kasus di Kabupaten Serang, Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Di DKI Jakarta, KLB campak terdeteksi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Laporan serupa juga datang dari Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Garut dan Cirebon.
Di Jawa Tengah, lonjakan kasus ditemukan di Banyumas dan Kota Surakarta, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta melaporkan kasus di Kabupaten Sleman. Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan kasus terbanyak, meliputi Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kota Surabaya, Jember, Sidoarjo, Lumajang, dan Probolinggo.
Kasus KLB juga teridentifikasi di wilayah timur Indonesia. Di Bali, Kabupaten Karangasem menjadi daerah terdampak, sementara Provinsi Gorontalo melaporkan kasus di Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pahuwato, dan Kota Gorontalo. Kalimantan Timur melaporkan kasus di Kota Balikpapan dan Kota Bontang, sedangkan Kalimantan Utara mencatat KLB di Kabupaten Nunukan.
Di Sulawesi, KLB campak terdeteksi di Kabupaten Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah dan Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan.
Kementerian Kesehatan RI mengimbau seluruh masyarakat, khususnya para orang tua dan pengasuh anak, untuk:
Baca Juga: Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat, Ini Kata Kemenkes dan Dokter
"Data yang masuk ke kami ada 46 KLB campak pasti, ini adalah campak yang memang secara pemeriksaan laboratorium sudah positif, dengan artian ditemukan antibodi terhadap campak pada anak yang menderita gejalanya," kata dr Prima Yosephine, Direktur Imunisasi Kementerian Kesehatan dalam konferensi pers, Selasa (26/8/2025).
Baca Juga: Campak Bisa Dicegah, Waspadai Gejala & Komplikasinya
Terhitung hingga pekan ke-33 tahun 2025 atau 24 Agustus 2025, data nasional mencatat 23.128 kasus suspek campak, dengan 3.444 kasus terkonfirmasi positif dan tingkat positivity rate sekitar 16,6 persen.
Wilayah dengan lonjakan kasus tertinggi terjadi di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan 2.139 kasus suspek. Sebanyak 205 kasus terkonfirmasi positif dan 17 angka kematian. Data Dinas Kesehatan setempat mengungkap bahwa 16 dari 17 korban meninggal tidak memiliki riwayat imunisasi campak.
46 wilayah melaporkan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di Indonesia. Di Sumatera Utara, daerah terdampak meliputi Kota Medan, Deli Serdang, Tapanuli Selatan, Kota Tebing Tinggi, Padang Lawas, Dairi, Samosir, Tapanuli Tengah, Mandailing Natal, Kota Pematang Siantar, dan Padang Lawas Utara. Sementara itu, di Sumatera Barat, kasus KLB dilaporkan di Kabupaten Agam dan Sijunjung.
Wilayah Banten juga mencatat penyebaran kasus di Kabupaten Serang, Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Di DKI Jakarta, KLB campak terdeteksi di Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Laporan serupa juga datang dari Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Garut dan Cirebon.
Di Jawa Tengah, lonjakan kasus ditemukan di Banyumas dan Kota Surakarta, sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta melaporkan kasus di Kabupaten Sleman. Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan kasus terbanyak, meliputi Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, Kota Surabaya, Jember, Sidoarjo, Lumajang, dan Probolinggo.
Kasus KLB juga teridentifikasi di wilayah timur Indonesia. Di Bali, Kabupaten Karangasem menjadi daerah terdampak, sementara Provinsi Gorontalo melaporkan kasus di Kabupaten Boalemo, Kabupaten Pahuwato, dan Kota Gorontalo. Kalimantan Timur melaporkan kasus di Kota Balikpapan dan Kota Bontang, sedangkan Kalimantan Utara mencatat KLB di Kabupaten Nunukan.
Di Sulawesi, KLB campak terdeteksi di Kabupaten Tojo Una-Una di Sulawesi Tengah dan Kabupaten Maros di Sulawesi Selatan.
Kementerian Kesehatan RI mengimbau seluruh masyarakat, khususnya para orang tua dan pengasuh anak, untuk:
- Segera membawa anak ke Posyandu, Puskesmas, atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan imunisasi campak, baik imunisasi rutin maupun tambahan yang diberikan saat terjadi KLB, sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
- Tidak menunda dan tidak takut imunisasi. Vaksin campak terbukti aman, bermutu, dan diberikan secara gratis oleh pemerintah untuk melindungi anak-anak dari risiko komplikasi serius, bahkan kematian. Masyarakat juga diminta untuk tidak mudah percaya pada informasi menyesatkan atau hoaks seputar vaksin.
- Mendukung pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI). Masyarakat diharapkan aktif menginformasikan kepada keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar mengenai pentingnya imunisasi campak sebagai upaya bersama mencegah penyebaran penyakit.
- Segera memeriksakan anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, bercak merah pada kulit, batuk, pilek, atau mata merah. Anak yang terinfeksi campak sebaiknya diisolasi di rumah untuk mencegah penularan ke orang lain, serta diberikan asupan makanan bergizi seimbang untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan mempercepat pemulihan.
- Menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Mengingat campak menular melalui droplet, gunakan masker saat berinteraksi dengan penderita dan jaga kebersihan lingkungan untuk meminimalkan risiko penularan.
Baca Juga: Kematian Akibat Leptospirosis Meningkat, Ini Kata Kemenkes dan Dokter
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.