Vaksin penting untuk menangkal campak (Sumber gambar/ilustrasi: Pexels/ Nataliya Vaitkevich)

Daftar Mitos Campak yang Keliru di Masyarakat

28 August 2025   |   10:30 WIB
Image
Yudi Supriyanto Jurnalis Hypeabis.id

Campak menjadi kejadian luar biasa di sejumlah daerah Indonesia. Sayangnya, masih banyak orang tua terjebak mitos yang dapat membahayakan penderitanya lantaran dapat memicu komplikasi serius - bahkan menyebabkan kematian. Salah satu mitos itu adalah tidak perlu vaksin. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), campak adalah penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus dan mudah menyebar melalui napas, batuk, atau bersin dari penderita. “Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi berat hingga kematian,” demikian pernyataan WHO.

Baca juga: 46 Wilayah di Indonesia Laporkan KLB Campak, Kemenkes Imbau Percepatan Imunisasi

Campak dapat menyerang siapa saja, meski paling banyak dialami anak-anak. Virus ini menginfeksi saluran pernapasan sebelum menyebar ke seluruh tubuh. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta ruam di sekujur tubuh.

Tanda awal biasanya muncul 10–14 hari setelah terpapar, berlangsung 4–7 hari, berupa pilek, batuk, mata berair, dan bintik putih kecil di dalam pipi. Ruam kemudian muncul 7–18 hari setelah paparan, dimulai dari wajah dan leher atas lalu menyebar ke seluruh tubuh. Ruam biasanya bertahan 5–6 hari sebelum menghilang.

Sebagian besar kematian akibat campak disebabkan oleh komplikasi, seperti kebutaan, ensefalitis, diare parah, dehidrasi, infeksi telinga, hingga pneumonia. Pada ibu hamil, campak dapat menimbulkan risiko serius, termasuk bayi lahir prematur dengan berat badan rendah.

Komplikasi paling sering terjadi pada anak di bawah 5 tahun dan orang dewasa di atas 30 tahun. Risiko meningkat pada anak dengan gizi buruk, terutama kekurangan vitamin A, atau yang memiliki sistem kekebalan lemah akibat HIV maupun penyakit lain.

Selain itu, campak dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat tubuh “lupa” cara melawan infeksi. Kondisi ini membuat anak-anak yang pernah terinfeksi sangat rentan terhadap penyakit lain.

Dengan dampak tersebut, sejumlah mitos masih hadir di tengah masyarakat. Kepercayaan masyarakat tentang campak yang salah dapat berakibat fatal. Berikut beberapa mitos tersebut dirangkum dari berbagai sumber:


Campak penyakit ringan

Mitos pertama yang kerap ada di tengah masyarakat adalah campak sebagai penyakit ringan. Anggapan ini salah besar karena WHO mengungkapkan campak bisa membuat seseorang kehilangan nyawa. Pada 2023, WHO memperkirakan ada 107.500 kematian akibat campak di seluruh dunia, sebagian besar terjadi pada anak-anak di bawah usia 5 tahun.


Vaksin campak tidak diperlukan

Mitos lain terkait dengan campak adalah vaksin tidak diperlukan. WHO menuliskan bahwa ratusan ribu orang yang meninggal dunia akibat campak sebagian adalah individu yang tidak atau kurang divaksinasi.

Sebelum diperkenalkan vaksin campak pada 1963 dan vaksinasi yang meluas, epidemi campak yang besar terjadi kira-kira setiap dua hingga tiga tahun dan menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian setiap tahun.


Vaksin campak dapat menyebabkan autisme

Mitos lain yang hadir di tengah-tengah masyarakat adalah vaksin campak dapat menyebabkan autisme. Dalam laman National Library of Medicine, informasi salah ini berasal dari laporan yang pernah diterbitkan pada 1998 dan kemudian ditarik kembali.

Setelah laporan palsu itu keluar, sejumlah studi epidemiologi dilakukan untuk meneliti dugaan kaitan antara vaksin MMR dan autisme. Hasilnya, pada berbagai desain penelitian dan populasi yang berbeda, tidak ditemukan peningkatan risiko autisme setelah vaksinasi MMR.


Campak hanya menyerang anak-anak

Campak adalah penyakit yang tidak pandang bulu. Dia dapat menyerang siapa saja, dari anak-anak hingga orang dewasa. Selain anak, komplikasi campak paling umum juga terjadi terhadap orang dewasa di atas usia 30 tahun.


Keluar ruam bukan berarti kondisi penderita aman

Banyak masyarakat percaya bahwa penderita penyakit campak yang memiliki gejala ruam berarti kondisinya sudah aman. Ruam yang kerap timbul di penderita adalah salah satu gejala awal yang kerap muncul. Jadi, kehadirannya bukan pertanda individu sudah aman atau belum.


Tidak boleh mandi

Mitos lain yang juga hadir di tengah masyarakat terkait penyakit campak adalah penderita tidak boleh mandi. Padahal, individu yang terkena campak tetap boleh mandi demi menjaga kebersihannya. Penderita yang hendak mandi dapat menggunakan air hangat agar merasa lebih nyaman.

Baca juga: Campak Bisa Dicegah, Waspadai Gejala & Komplikasinya

SEBELUMNYA

Legenda Kelam Malin Kundang Rilis Teaser Perdana, Tayang 27 November 2025

BERIKUTNYA

Cek Daftar Destinasi Wisata Ramah Muslim di Thailand

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga