Menenun Luka Merajut Harapan Suara Perupa di Pameran Out of Nowhere Vol. 2
25 August 2025 |
14:54 WIB
Kesehatan mental kini makin diperbincangkan. Ia hadir diam-diam, mengintai siapa saja tanpa memandang gender, usia, maupun profesi termasuk seniman. Melalui karya, para perupa menyuarakan persoalan itu, mengajak publik peduli pada kondisi medis yang sering dianggap sepele, namun berdampak panjang bagi kehidupan seseorang.
Isu tersebut menjadi sorotan dalam pameran Out of Nowhere Vol. 2: NGEHENG! Refleksi Mental yang berlangsung di Semesta Gallery, Jakarta. Pameran yang berlangsung itu menampilkan karya seniman dari berbagai wilayah di Indonesia.
Baca juga: Buka Pameran Out of Nowhere Vol. 2, Cosmas D. Gozali Bicara Pentingnya Isu Kesehatan Mental
Di antara karya-karya yang ada, seni instalasi berjudul Weaving Story (2025) dengan medium kebaya, manekin transparan, benang wool, besi berongga dari seniman asal Bandung, Jawa Barat, dari seniman Dieni Kartadinata menjadi salah satu sorotan banyak pengunjung.
Karya instalasi itu tampak sederhana, tetapi menyimpan pesan mendalam. Dari kejauhan, terlihat kebaya putih berdiri anggun dengan gestur melangkah, diletakkan dalam frame kotak. Namun, bukan hanya kebaya yang menarik perhatian. Ruang di sekeliling kotak tempat kebaya itu penuh benang-benang putih yang bersilang rapat, menciptakan jalinan seperti jejaring yang rumit sekaligus menyesakkan.
Lewat karyanya, wanita perupa itu menghadirkan perasaan yang begitu kompleks tentang kesehatan mental wanita anggun, kuat, rapuh, sekaligus pilu.
Dieni mengungkapkan, Weaving Story hadir sebagai reaksi atas berbagai informasi pilu tentang wanita yang beredar di media sosial maupun media. “Setiap hari saya membaca berita tentang perempuan, tentang kekerasan dalam rumah tangga, seksisme, misoginis. Ini reaksi saya terhadap semua itu,” ujarnya kepada Hypeabis.id.
Pemilihan kebaya pengantin dan berwarna putih sebagai objek utama yang berada dalam kotak besi bukan tanpa alasan. Selain menjadi simbol suci, kebaya itu juga merepresentasikan kepatuhan yang harus dimiliki oleh wanita dalam budaya patriarki.
Dalam banyak tradisi, budaya patriarki yang masih ada kerap menuntut perempuan untuk tunduk serta mengikuti aturan sosial yang membentuk mereka harus menjadi seperti apa tanpa melibatkan keinginannya sendiri.
Kebaya itu tidak berdiri sendiri. Benang-benang yang menembus tubuh kebaya dan memenuhi ruang di sekelilingnya menghadirkan metafora yang tajam. Benda putih itu menggambarkan tekanan sosial yang masuk dan keluar tubuh, mengikat, dan kerap menyakiti.
“Mereka selalu dituntut untuk harus begini atau harus begitu,” katanya
Kotak yang berada mengelilingi kebaya dan penuh dengan jalinan benang putih melambangkan keterbatasan yang kerap membuat gerak perempuan tidak begitu leluasa dalam banyak hal termasuk ruang sosial.
Tidak hanya itu, Dieni juga menegaskan bahwa perempuan sebagai individu kerap tidak terlihat dengan simbol manekin bening yang membentuk kebaya. Keberadaan mereka sebagai manusia kerap dipandang tidak berarti.
Dieni tidak ingin wanita berdiam diri atau terpuruk dalam berbagai persoalan dan berbagai masalah yang menimpa dan datang bertubi-tubi. Dia pun menghadirkan harapan dan imbauan bahwa perempuan adalah individu yang kuat lewat gestur kebaya yang tampak melangkah.
Bagi sang perupa, perempuan memiliki kerentanan mental yang tinggi. Luka sering datang bukan hanya dari lawan jenis, melainkan juga dari sesama perempuan. Situasi itu membuat mereka semakin rentan secara psikologis. Namun, Dieni percaya ada jalan keluar.
Dia mendorong perempuan untuk bercerita, berbagi pengalaman, dan saling mendukung. Dengan begitu, mereka bisa menjaga kesehatan mental sekaligus menegaskan kembali keberadaannya.
Di sudut lain ruang pameran, seniman Fitra Rahardjo hadir dengan karya seni lukisan berjudul Anatomi Emosi dengan medium acrylic on canvas dan Ruang Gerak yang Terpotong dengan medium acrylic on canvas.
Ruang Gerak yang Terpotong menggambarkan tubuh yang merepresentasikan simbol atas keterbatasan ruang gerak secara fisik maupun psikis, terutama dalam konteks trauma, penindasan, atau refleksi eksistensial.
Sementara Anatomi Emosi menjelajahi tubuh manusia bukan sebagai objek biologis semata, melainkan sebagai ruang konflik, kerentanan, dan kekuatan yang saling berkelindan.
Fitra mengungkapkan karya tersebut merupakan fragmen-fragmen perasaan yang lahir dari perjalanan panjang kehidupannya. Pada dasarnya, kedua karya itu datang dari apa yang dirasakan oleh diri sendiri.
Proses kreatif kedua karya berangkat dari refleksi mental yang dijalani sejak awal kehidupannya. Dari pengalaman tumbuh sebagai perempuan, menstruasi, melahirkan, dan sebagainya. Semua fase itu ia rangkai menjadi potongan-potongan emosi yang divisualisasikan ke dalam kanvas.
“Aku respons jadi satu pecahan yang tidak utuh. Tapi dari segi warna utuh,” tambahnya.
Melalui dua karyanya, Fitra berusaha membuka ruang dialog dengan para penikmat. Dia mengajak audiens, khususnya perempuan, untuk kembali menilik perjalanan hidup yang telah mereka lalui.
“Apa yang sudah kita jalankan, siklus yang kita lewatkan, apa sih yang kita dapatkan? Aku sebenarnya bertanya balik ke audiens,” katanya. Pertanyaan itu ditujukan kepada semua orang - terutama kepada perempuan: Apakah sudah berdamai dengan diri sendiri? Atau masih ada rasa sengsara, terpaksa, dan tidak enakan yang membelenggu?
Dia pun mendorong orang untuk berani menjadi diri sendiri karena itulah inti dari refleksi mental yang sesungguhnya.
Karya dari Dieni dan Fitra merupakan contoh respons para seniman tentang kesehatan mental dalam pameran Out of Nowhere Vol. 2: NGEHENG! Refleksi Mental.
Kurator Irene Agrivina mengungkapkan bahwa pameran ini tidak hadir sebagai medium terapi, tetapi menjadi ruang visual yang menyuarakan fragmen-fragmen kegelisahan yang tidak terwakili dalam narasi arus utama.
Berbagai karya yang hadir di dalam pameran berperan sebagai mikro-narasi, pengalaman personal, subjektif, dan tidak selalu utuh. Semuanya, bersama-sama, membentuk lanskap psikologis masyarakat pada era digital saat ini.
Kata NGE-HANG adalah metafora atas error eksistensial yang melanda manusia modern. Melalui karya-karya ini, audiens diingatkan bahwa kerentanan mental adalah bagian dari kemanusiaan. Dalam keterputusan dan disorientasi, manusia masih punya ruang untuk rekalibrasi, kontemplasi, dan pemulihan.
Pameran ini adalah ruang jeda, menjadi sebuah pause di tengah noise algoritmik. Di sini, manusia bukanlah data, bukan impresi, bukan avatar, melainkan entitas yang bernapas, merasakan, dan butuh dipahami.
Para seniman dalam pameran ini refleksikan kondisi mental dengan berbagai sudut pandang. Ada seniman yang memilih berbicara lewat tubuh, memanfaatkan benda-benda keseharian, dan ada pula yang menyuarakan kritik secara lantang.
Beberapa dari para seniman juga menyoroti relasi tubuh dengan entitas Ilahi maupun dengan sesama makhluk hidup. Tidak sedikit pula yang menyinggung cara tubuh perempuan diposisikan dalam masyarakat.
Baca juga: Semesta Gallery Gelar Pameran Out of Nowhere Vol. 2, Usung Tema NGE-HANG! Refleksi Mental
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Isu tersebut menjadi sorotan dalam pameran Out of Nowhere Vol. 2: NGEHENG! Refleksi Mental yang berlangsung di Semesta Gallery, Jakarta. Pameran yang berlangsung itu menampilkan karya seniman dari berbagai wilayah di Indonesia.
Baca juga: Buka Pameran Out of Nowhere Vol. 2, Cosmas D. Gozali Bicara Pentingnya Isu Kesehatan Mental
Di antara karya-karya yang ada, seni instalasi berjudul Weaving Story (2025) dengan medium kebaya, manekin transparan, benang wool, besi berongga dari seniman asal Bandung, Jawa Barat, dari seniman Dieni Kartadinata menjadi salah satu sorotan banyak pengunjung.

Karya berjudul Weaving Story (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Arief Hermawan P)
Karya instalasi itu tampak sederhana, tetapi menyimpan pesan mendalam. Dari kejauhan, terlihat kebaya putih berdiri anggun dengan gestur melangkah, diletakkan dalam frame kotak. Namun, bukan hanya kebaya yang menarik perhatian. Ruang di sekeliling kotak tempat kebaya itu penuh benang-benang putih yang bersilang rapat, menciptakan jalinan seperti jejaring yang rumit sekaligus menyesakkan.
Lewat karyanya, wanita perupa itu menghadirkan perasaan yang begitu kompleks tentang kesehatan mental wanita anggun, kuat, rapuh, sekaligus pilu.
Dieni mengungkapkan, Weaving Story hadir sebagai reaksi atas berbagai informasi pilu tentang wanita yang beredar di media sosial maupun media. “Setiap hari saya membaca berita tentang perempuan, tentang kekerasan dalam rumah tangga, seksisme, misoginis. Ini reaksi saya terhadap semua itu,” ujarnya kepada Hypeabis.id.
Pemilihan kebaya pengantin dan berwarna putih sebagai objek utama yang berada dalam kotak besi bukan tanpa alasan. Selain menjadi simbol suci, kebaya itu juga merepresentasikan kepatuhan yang harus dimiliki oleh wanita dalam budaya patriarki.
Dalam banyak tradisi, budaya patriarki yang masih ada kerap menuntut perempuan untuk tunduk serta mengikuti aturan sosial yang membentuk mereka harus menjadi seperti apa tanpa melibatkan keinginannya sendiri.
Kebaya itu tidak berdiri sendiri. Benang-benang yang menembus tubuh kebaya dan memenuhi ruang di sekelilingnya menghadirkan metafora yang tajam. Benda putih itu menggambarkan tekanan sosial yang masuk dan keluar tubuh, mengikat, dan kerap menyakiti.
“Mereka selalu dituntut untuk harus begini atau harus begitu,” katanya
Kotak yang berada mengelilingi kebaya dan penuh dengan jalinan benang putih melambangkan keterbatasan yang kerap membuat gerak perempuan tidak begitu leluasa dalam banyak hal termasuk ruang sosial.
Tidak hanya itu, Dieni juga menegaskan bahwa perempuan sebagai individu kerap tidak terlihat dengan simbol manekin bening yang membentuk kebaya. Keberadaan mereka sebagai manusia kerap dipandang tidak berarti.
Dieni tidak ingin wanita berdiam diri atau terpuruk dalam berbagai persoalan dan berbagai masalah yang menimpa dan datang bertubi-tubi. Dia pun menghadirkan harapan dan imbauan bahwa perempuan adalah individu yang kuat lewat gestur kebaya yang tampak melangkah.
Bagi sang perupa, perempuan memiliki kerentanan mental yang tinggi. Luka sering datang bukan hanya dari lawan jenis, melainkan juga dari sesama perempuan. Situasi itu membuat mereka semakin rentan secara psikologis. Namun, Dieni percaya ada jalan keluar.
Dia mendorong perempuan untuk bercerita, berbagi pengalaman, dan saling mendukung. Dengan begitu, mereka bisa menjaga kesehatan mental sekaligus menegaskan kembali keberadaannya.
Di sudut lain ruang pameran, seniman Fitra Rahardjo hadir dengan karya seni lukisan berjudul Anatomi Emosi dengan medium acrylic on canvas dan Ruang Gerak yang Terpotong dengan medium acrylic on canvas.

Karya seniman Fitra Rahardjo (Sumber gambar: Hypeabis.id/ Arief Hermawan P)
Sementara Anatomi Emosi menjelajahi tubuh manusia bukan sebagai objek biologis semata, melainkan sebagai ruang konflik, kerentanan, dan kekuatan yang saling berkelindan.
Fitra mengungkapkan karya tersebut merupakan fragmen-fragmen perasaan yang lahir dari perjalanan panjang kehidupannya. Pada dasarnya, kedua karya itu datang dari apa yang dirasakan oleh diri sendiri.
Proses kreatif kedua karya berangkat dari refleksi mental yang dijalani sejak awal kehidupannya. Dari pengalaman tumbuh sebagai perempuan, menstruasi, melahirkan, dan sebagainya. Semua fase itu ia rangkai menjadi potongan-potongan emosi yang divisualisasikan ke dalam kanvas.
“Aku respons jadi satu pecahan yang tidak utuh. Tapi dari segi warna utuh,” tambahnya.
Melalui dua karyanya, Fitra berusaha membuka ruang dialog dengan para penikmat. Dia mengajak audiens, khususnya perempuan, untuk kembali menilik perjalanan hidup yang telah mereka lalui.
“Apa yang sudah kita jalankan, siklus yang kita lewatkan, apa sih yang kita dapatkan? Aku sebenarnya bertanya balik ke audiens,” katanya. Pertanyaan itu ditujukan kepada semua orang - terutama kepada perempuan: Apakah sudah berdamai dengan diri sendiri? Atau masih ada rasa sengsara, terpaksa, dan tidak enakan yang membelenggu?
Dia pun mendorong orang untuk berani menjadi diri sendiri karena itulah inti dari refleksi mental yang sesungguhnya.
Karya dari Dieni dan Fitra merupakan contoh respons para seniman tentang kesehatan mental dalam pameran Out of Nowhere Vol. 2: NGEHENG! Refleksi Mental.
Jeda Eksistensial
Kurator Irene Agrivina mengungkapkan bahwa pameran ini tidak hadir sebagai medium terapi, tetapi menjadi ruang visual yang menyuarakan fragmen-fragmen kegelisahan yang tidak terwakili dalam narasi arus utama.Berbagai karya yang hadir di dalam pameran berperan sebagai mikro-narasi, pengalaman personal, subjektif, dan tidak selalu utuh. Semuanya, bersama-sama, membentuk lanskap psikologis masyarakat pada era digital saat ini.
Kata NGE-HANG adalah metafora atas error eksistensial yang melanda manusia modern. Melalui karya-karya ini, audiens diingatkan bahwa kerentanan mental adalah bagian dari kemanusiaan. Dalam keterputusan dan disorientasi, manusia masih punya ruang untuk rekalibrasi, kontemplasi, dan pemulihan.
Pameran ini adalah ruang jeda, menjadi sebuah pause di tengah noise algoritmik. Di sini, manusia bukanlah data, bukan impresi, bukan avatar, melainkan entitas yang bernapas, merasakan, dan butuh dipahami.
Para seniman dalam pameran ini refleksikan kondisi mental dengan berbagai sudut pandang. Ada seniman yang memilih berbicara lewat tubuh, memanfaatkan benda-benda keseharian, dan ada pula yang menyuarakan kritik secara lantang.
Beberapa dari para seniman juga menyoroti relasi tubuh dengan entitas Ilahi maupun dengan sesama makhluk hidup. Tidak sedikit pula yang menyinggung cara tubuh perempuan diposisikan dalam masyarakat.
Baca juga: Semesta Gallery Gelar Pameran Out of Nowhere Vol. 2, Usung Tema NGE-HANG! Refleksi Mental
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.