Penulis Ratih Kumala (kiri) & Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Ratih Kumala Rilis Novel Koloni, Fabel Satir Lewat Kisah Semut

23 August 2025   |   09:02 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Penulis Ratih Kumala resmi meluncurkan novel anyarnya berjudul Koloni. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, novel ini menghadirkan kisah perebutan kuasa di dunia semut yang penuh gejolak, sekaligus menyuguhkan refleksi tajam tentang dinamika sosial dan politik manusia. 
 
Koloni adalah fabel dengan latar dunia serangga di bawah tanah, sebuah dunia yang kecil, nyaris tidak terlihat di permukaan, tapi sebenarnya masif, terstruktur, dan sistematis. Tak ubahnya mesin dengan surat cinta untuk budak korporat. Tak ubahnya intrik perebutan kekuasaan di dunia manusia. 
 
Mengusung premis “semut untuk koloni, koloni untuk semut”, Koloni berpusat pada pertarungan dua ratu semut yakni Ratu Gegana, sang penguasa lama yang enggan turun tahta, dan Ratu Darojak, generasi muda yang berambisi mengambil alih kekuasaan. Konflik keduanya memantik pergeseran besar dalam koloni, membuka kisah tentang loyalitas, ambisi, hingga politik yang getir. 

Baca juga: Novel Korpus Uterus dan Realitas Kelam Kekerasan Seksual di Indonesia 
 
"Lahir sebagai semut adalah lahir dalam koloni yang pincang, tidak adil. Yang pekerja terus bekerja, yang prajurit bisa semena-mena, yang jantan harus menunggu tak pasti, yang menjadi ratu selamanya dilayani.” 
 
Kutipan yang tertulis dalam novel Koloni tersebut menjadi gambaran dunia kecil di bawah tanah yang ternyata masif, terstruktur, dan penuh hierarki, tak ubahnya kehidupan manusia modern. Lewat novel ini, Ratih kembali memperlihatkan kemampuannya meramu fabel yang relevan dengan isu kontemporer.

Sumber gambar: Gramedia Pustaka Utama.

Novel Koloni (Sumber gambar: Gramedia Pustaka Utama)

Ratih bercerita awalnya dia tidak berniat untuk membuat fabel, melainkan buku fiksi dengan karakter manusia. Akan tetapi, dalam proses menulis, dia mengaku banyak memendam keresahan sekaligus kekesalan terhadap apa yang terjadi di kehidupan sosial-politik saat ini, sehingga naskah yang ditulisnya kental dengan kemarahan personalnya. 
 
Kala itu, Ratih merasa tidak sreg dengan tulisannya yang sudah jalan sekitar seperempat bagian. Dia juga mengaku sempat menunda proyek bukunya itu, dan perlahan mengendapkan kembali pikirannya. Di tengah-tengah proses itu, dia pun terinspirasi dengan buku Animal Farm karya George Orwell. 
 
"Terus aku pikir, kayaknya pada akhirnya semua penulis akan fabel pada waktunya gitu. Akhirnya aku menulis novel yang baru, sementara tulisanku sebelumnya tidak aku pakai sama sekali. Tapi kerangka besar ceritanya masih aku pakai. Cuman karakternya semua aku ganti menjadi semut," katanya dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025).
 

Penulis Ratih Kumala (kiri) & Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Penyanyi Sal Priadi (tengah) & Penulis Ratih Kumala (kanan) dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Menurut Ratih, menulis fabel dan menyajikan kisah layaknya dongeng menjadi cara yang paling aman untuk meredam amarahnya. Di samping itu, alasannya memilih semut sebagai tokoh-tokoh dalam novel Koloni berawal dari kesukaannya menonton salah satu kanal YouTube yang secara khusus membahas kehidupan semut. 
 
Dari pengamatannya, dia menyimpulkan bahwa ada kesamaan antara kehidupan semut dan manusia yakni sama-sama berkoloni, memiliki kehidupan sosial sekaligus strata sosial. "Tapi stratanya kalau semut itu tidak dibentuk oleh masyarakat. Kalau kita kan strata kita dibentuk oleh masyarakat. Kalau semut itu stratanya dibentuk sejak mereka lahir," ucapnya.
 
Ratih menambahkan novel Koloni lahir dari kegelisahan dirinya pada situasi di Indonesia. Melalui novel ini, katanya, kisah semut menjadi cermin bagi realitas sosial manusia yang tidak lepas dari ambisi dan polemik kekuasaan. 
 
"Koloni bukan sekadar cerita tentang dunia semut, melainkan sebuah cermin satir yang menyingkap wajah kehidupan manusia," imbuhnya. 
 
Pada kesempatan yang sama, Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan mengatakan Ratih Kumala adalah sosok penulis yang selalu punya cara tersendiri untuk menyampaikan atas pembacaannya pada dinamika zaman saat ini. Menurutnya hal itu bisa menjadi langkah yang bisa diikuti oleh siapapun bahwa dengan bidang apapun, seseorang bisa menyampaikan keresahan atau kegelisahannya. 
 
"Intinya kita punya cara untuk tidak sekadar diam saja. Kita melihat situasinya, kita melihat apa yang terjadi, dan kita sampaikan itu dengan cara kita, dengan kekritisan kita. Kalau saya baca kisahnya di novel Koloni, banyak hal yang memang itulah yang terjadi hari ini," ucapnya. 
 
Adapun, novel Koloni sudah tersedia di seluruh jaringan toko buku Gramedia yang dibanderol dengan harga Rp109.000. 

Baca juga: Resensi Novel Katri, Catatan Perempuan Korban Politik yang Bertahan Menantang Zaman 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 
Editor:

SEBELUMNYA

Broadway Rasa Nusantara: Saat Cerita Rakyat Menyala di Panggung Sabang Merauke 2025

BERIKUTNYA

IIMS Siap Hadir Lagi Februari 2026 dengan Skala Lebih Besar

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga