Broadway Rasa Nusantara: Saat Cerita Rakyat Menyala di Panggung Sabang Merauke 2025
23 August 2025 |
07:45 WIB
Keragaman suku di Indonesia memberikan keberkahan tersendiri bagi masyarakat di dalamnya. Dari sanalah lahir selaksa sastra lisan yang mengajarkan kearifan, menanamkan nilai-nilai luhur, dan terus hidup lewat cerita yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kekayaan itu kembali dihidupkan secara apik melalui aksi teatrikal, orkestra, dan tari daerah dalam Pagelaran Sabang Merauke-The Indonesian Broadway Hikayat Nusantara, yang digelar di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, pada Jumat (22/8/25).
Di panggung, lagu "Padang Wulan" mengalun dengan ritmis, disusul hentakan beat yang menyentak dalam suasana temaram. Lembayung merembang saat para gergasi menari, seolah menyambut malam yang terang laiknya siang, sementara sebuah visi berdentang dalam benak Semar.
Baca juga: Vokalis Fadly Merasa Kembali Jadi Anak Kecil saat Ulik Musik di Pagelaran Sabang Merauke
Alkisah, tokoh sentral punakawan itu menyingkap bahaya laten yang mengancam kebudayaan Indonesia. Dari situlah dia memberi wangsit pada para punakawan dan generasi muda agar senantiasa berhati-hati dalam menjaga persatuan sekaligus melestarikan warisan leluhur.
Semar pun mengutus Bagong dan Petruk, dengan ditemani Dewi Kanistri, untuk mengumpulkan pasukan sekaligus melanglang ke Nusantara. Dari perjalanan itulah penonton diajak meresapi kembali tradisi lisan yang perlahan kian tergerus zaman.
Sutradara Rusmedie Agus cukup piawai dalam meramu pementasan berdurasi tiga jam ini. Meski alur dramatiknya sesekali terasa goyah, kehadiran tembang-tembang daerah yang dibawakan para pemain berhasil menyelamatkan narasi dari kerumpangan.
Perjalanan para tokoh dalam mencari pasukan membawa penonton melintasi sejumlah dongeng Nusantara. Sekilas publik diajak masuk ke kisah Ande-Ande Lumut (Jawa Timur), Malin Kundang (Sumatera Barat), Si Tumang (Jawa Barat), hingga Calon Arang (Bali).
Setiap babak legenda diperkaya oleh tembang khas daerah tempat cerita itu tumbuh. Hadir di antaranya "Bungong Jeumpa" (Aceh), "Butet dan Rambadia" (Sumatera Utara), "Injit-Injit Semut" (Jambi), hingga "Pak Pung Pak Mustafa" (Sumatera Selatan).
Berlatar skenografi garapan Iskandar Loedin, dan koreografi dari Sandhidea Cahyo Narpati, pertunjukan ini berhasil menyeret penonton dalam pengalaman visual ala Broadway bercita rasa Nusantara. Apalagi ketika arak-arakan 351 penari tampil keluar masuk secara bergantian dengan trengginas.
Data Susenas MSBP 2024 mencatat, 79,36 persen penduduk Indonesia berusia 5 tahun ke atas masih mengetahui cerita rakyat. Menariknya, masyarakat perkotaan lebih banyak mengetahuinya (83,72 persen) dibandingkan perdesaan (73,03 persen).
Namun karena sifatnya lokal, tidak semua cerita rakyat dikenal lintas wilayah. Di sinilah dibutuhkan pendekatan kreatif, modern, dan relevan agar kisah-kisah tersebut mampu bersaing dengan derasnya budaya digital yang mendominasi ruang publik.
Rusmedie Agus menekankan, sejak pertama digelar pada 2022, Sabang Merauke bukan hanya tentang panggung yang megah. Lebih jauh, dia ingin membangun rasa cinta pada tradisi Nusantara, terutama dari para pelaku seni yang terlibat langsung di dalamnya.
Menurutnya, para pemain bukan sekadar berlatih untuk menyuguhkan tontonan yang rancak. Mereka juga mempelajari tradisi-tradisi daerah lain di Indonesia, yang bahkan sebagian belum pernah mereka ketahui sebelumnya.
“Pentas ini adalah wujud dari kreasi dan proses panjang seniman untuk menghadirkan kekayaan Indonesia dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke. Rasa cinta itulah yang tampak nyata pada pertunjukan malam ini,” ujarnya saat konferensi pers.
Sejalan dengan itu, penyanyi Yura Yunita berharap gelaran ini menjadi jembatan agar publik kian mencintai tradisi dan budaya Indonesia. Menurutnya, panggung ini bisa menjadi sarana generasi muda menemukan kembali kebanggaan pada akar budayanya sendiri.
Yura yang tampil memukau dengan melayang di udara menegaskan, acara ini bukan semata pertunjukan melainkan sebuah gerakan kebudayaan. Dia berharap estafet semangat ini dapat diteruskan oleh generasi muda lain di Indonesia.
“Salah satu tantangan tersendiri adalah menyanyikan lagu Mahadewi dari Padi Reborn. Sebab, mereka adalah idola saya sejak SD, dan lagu itu punya makna personal yang kuat,” ucapnya.
Melibatkan lebih dari 1.500 pelaku seni, Sabang Merauke-The Indonesian Broadway Hikayat Nusantara masih akan berlanjut pada 23–24 Agustus 2025. Selama dua hari, empat pentas siap kembali menghadirkan kemeriahan seni dan budaya bagi publik.
Baca juga: Yura Yunita Jatuh Hati pada Cerita Pagelaran Sabang Merauke Tahun Ini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Kekayaan itu kembali dihidupkan secara apik melalui aksi teatrikal, orkestra, dan tari daerah dalam Pagelaran Sabang Merauke-The Indonesian Broadway Hikayat Nusantara, yang digelar di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, pada Jumat (22/8/25).
Di panggung, lagu "Padang Wulan" mengalun dengan ritmis, disusul hentakan beat yang menyentak dalam suasana temaram. Lembayung merembang saat para gergasi menari, seolah menyambut malam yang terang laiknya siang, sementara sebuah visi berdentang dalam benak Semar.
Baca juga: Vokalis Fadly Merasa Kembali Jadi Anak Kecil saat Ulik Musik di Pagelaran Sabang Merauke
Alkisah, tokoh sentral punakawan itu menyingkap bahaya laten yang mengancam kebudayaan Indonesia. Dari situlah dia memberi wangsit pada para punakawan dan generasi muda agar senantiasa berhati-hati dalam menjaga persatuan sekaligus melestarikan warisan leluhur.
Semar pun mengutus Bagong dan Petruk, dengan ditemani Dewi Kanistri, untuk mengumpulkan pasukan sekaligus melanglang ke Nusantara. Dari perjalanan itulah penonton diajak meresapi kembali tradisi lisan yang perlahan kian tergerus zaman.

Premiere Pagelaran Sabang Merauke-The Indonesian Broadway Hikayat Nusantara, yang digelar di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, pada Jumat (22/8/25). (Sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)
Perjalanan para tokoh dalam mencari pasukan membawa penonton melintasi sejumlah dongeng Nusantara. Sekilas publik diajak masuk ke kisah Ande-Ande Lumut (Jawa Timur), Malin Kundang (Sumatera Barat), Si Tumang (Jawa Barat), hingga Calon Arang (Bali).
Setiap babak legenda diperkaya oleh tembang khas daerah tempat cerita itu tumbuh. Hadir di antaranya "Bungong Jeumpa" (Aceh), "Butet dan Rambadia" (Sumatera Utara), "Injit-Injit Semut" (Jambi), hingga "Pak Pung Pak Mustafa" (Sumatera Selatan).
Berlatar skenografi garapan Iskandar Loedin, dan koreografi dari Sandhidea Cahyo Narpati, pertunjukan ini berhasil menyeret penonton dalam pengalaman visual ala Broadway bercita rasa Nusantara. Apalagi ketika arak-arakan 351 penari tampil keluar masuk secara bergantian dengan trengginas.
Cara Baru Mengemas Tradisi
Lebih dari sekadar tontonan, Sabang Merauke menjadi medium baru untuk mengenalkan kembali tradisi lisan kepada generasi muda. Sebab, di tengah derasnya arus digital, memori kolektif dari tradisi kerap terpinggirkan, bahkan sulit tumbuh di komunitas asalnya.Data Susenas MSBP 2024 mencatat, 79,36 persen penduduk Indonesia berusia 5 tahun ke atas masih mengetahui cerita rakyat. Menariknya, masyarakat perkotaan lebih banyak mengetahuinya (83,72 persen) dibandingkan perdesaan (73,03 persen).
Namun karena sifatnya lokal, tidak semua cerita rakyat dikenal lintas wilayah. Di sinilah dibutuhkan pendekatan kreatif, modern, dan relevan agar kisah-kisah tersebut mampu bersaing dengan derasnya budaya digital yang mendominasi ruang publik.
Rusmedie Agus menekankan, sejak pertama digelar pada 2022, Sabang Merauke bukan hanya tentang panggung yang megah. Lebih jauh, dia ingin membangun rasa cinta pada tradisi Nusantara, terutama dari para pelaku seni yang terlibat langsung di dalamnya.
Menurutnya, para pemain bukan sekadar berlatih untuk menyuguhkan tontonan yang rancak. Mereka juga mempelajari tradisi-tradisi daerah lain di Indonesia, yang bahkan sebagian belum pernah mereka ketahui sebelumnya.
“Pentas ini adalah wujud dari kreasi dan proses panjang seniman untuk menghadirkan kekayaan Indonesia dari Aceh sampai Papua, dari Sabang sampai Merauke. Rasa cinta itulah yang tampak nyata pada pertunjukan malam ini,” ujarnya saat konferensi pers.

Premiere Pagelaran Sabang Merauke-The Indonesian Broadway Hikayat Nusantara, yang digelar di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, pada Jumat (22/8/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Arief Hermawan P)
Yura yang tampil memukau dengan melayang di udara menegaskan, acara ini bukan semata pertunjukan melainkan sebuah gerakan kebudayaan. Dia berharap estafet semangat ini dapat diteruskan oleh generasi muda lain di Indonesia.
“Salah satu tantangan tersendiri adalah menyanyikan lagu Mahadewi dari Padi Reborn. Sebab, mereka adalah idola saya sejak SD, dan lagu itu punya makna personal yang kuat,” ucapnya.
Melibatkan lebih dari 1.500 pelaku seni, Sabang Merauke-The Indonesian Broadway Hikayat Nusantara masih akan berlanjut pada 23–24 Agustus 2025. Selama dua hari, empat pentas siap kembali menghadirkan kemeriahan seni dan budaya bagi publik.
Baca juga: Yura Yunita Jatuh Hati pada Cerita Pagelaran Sabang Merauke Tahun Ini
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.