Penulis Ratih Kumala dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Cerita Ratih Kumala Garap Fabel Koloni, Terinspirasi Novel Animal Farm

25 August 2025   |   19:22 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Penulis Ratih Kumala menghadirkan karya novel baru berjudul Koloni. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama, novel setebal 251 halaman ini menghadirkan kisah perebutan kuasa di dunia semut yang penuh gejolak, sekaligus menyuguhkan refleksi tajam tentang dinamika sosial dan politik manusia. 
 
Koloni adalah fabel dengan latar dunia serangga di bawah tanah, sebuah dunia yang kecil, nyaris tidak terlihat di permukaan, tapi sebenarnya masif, terstruktur, dan sistematis. Kisahnya berpusat pada pertarungan dua ratu semut yakni Ratu Gegana dan Ratu Darojak.
 
Ratu Gegana ialah sang penguasa lama yang enggan turun tahta, sementara Ratu Darojak adalah generasi muda yang berambisi mengambil alih kekuasaan. Konflik keduanya memantik pergeseran besar dalam koloni, membuka kisah tentang loyalitas, ambisi, hingga politik yang getir. 

Baca juga: Ratih Kumala Rilis Novel Koloni, Fabel Satir Lewat Kisah Semut
 

Penulis Ratih Kumala (kiri) & Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Penulis Ratih Kumala (kiri) & Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Ratih Kumala bercerita Koloni merupakan salah satu karyanya yang terbilang cukup cepat waktu penulisannya yakni hanya sekitar 9 bulan. Berbeda dengan buku-buku sebelumnya yang umumnya memakan waktu dua hingga empat tahun.
 
Awalnya, dia tidak berniat untuk membuat fabel, melainkan buku fiksi dengan karakter manusia. Akan tetapi, dalam proses menulis, dia mengaku banyak memendam keresahan sekaligus kekesalan terhadap apa yang terjadi di kehidupan sosial-politik saat ini, sehingga naskah yang ditulisnya kental dengan kemarahan personalnya. 

Kala itu, Ratih merasa tidak sreg dengan tulisannya yang sudah jalan sekitar seperempat bagian. Dia juga mengaku sempat menunda proyek bukunya itu, dan untuk sementara waktu mengendapkan kembali pikirannya. Di tengah-tengah proses itu, dia terinspirasi dengan buku Animal Farm karya George Orwell. 
 
Menurutnya, cara yang paling aman untuk menumpahkan seluruh keresahannya sebagai penulis ialah dengan menjadikan bukunya sebagai dongeng dalam bentuk fabel, dan mengubah seluruh karakter dalam cerita yang dibuatnya menjadi semut.
 
"Aku pikir kayanya pada akhirnya semua penulis akan fabel pada waktunya. Akhirnya aku menulis novel yang baru, sementara tulisanku sebelumnya tidak aku pakai sama sekali. Tapi kerangka besar ceritanya masih aku pakai. Cuma karakternya semua aku ganti menjadi semut," katanya dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, baru-baru ini.
 
Ada alasan tersendiri mengapa penulis berusia 45 tahun itu memilih semut sebagai karakter utama dalam novel Koloni. Ratih bercerita hal itu berawal dari kesukaannya menonton salah satu kanal YouTube yang secara khusus membahas kehidupan semut. 
 
Dari pengamatannya, dia menyimpulkan bahwa ada kesamaan antara kehidupan semut dan manusia yakni sama-sama berkoloni, memiliki kehidupan sosial sekaligus strata sosial. "Tapi stratanya kalau semut itu tidak dibentuk oleh masyarakat. Kalau kita kan strata kita dibentuk oleh masyarakat. Kalau semut itu stratanya dibentuk sejak mereka lahir," ucapnya.
 

Penulis Ratih Kumala (kiri) & Kepala Redaksi Gramedia Pustaka Utama Andi Tarigan dalam acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Acara peluncuran novel Koloni di Perpustakaan Jakarta, TIM, Cikini, Jakarta, Jumat (22/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Dalam menulis Koloni, Ratih masih menggunakan metode yang sama seperti menggarap buku-buku sebelumnya, yakni memulainya dengan membuat kerangka (outline) karangan terlebih dahulu. Setelah itu, dia akan menuliskan gagasan-gagasan besar dari kerangka bukunya, lalu mengembangkannya menjadi cerita yang utuh dalam bentuk novel.
 
Lantaran semua karakternya semut, akhirnya Ratih harus membuat semacam character bible yang berisikan latar belakang dan motif dari tiap-tiap karakter semut secara jelas. Termasuk, konsep pengembangan dari semua karakternya.
 
Sebagai penulis, Ratih bukan tipe yang harus meramu bukunya secara berurutan dari bab awal hingga akhir. Dia justru akan lebih mendahulukan untuk menggarap bab yang menurutnya paling nyaman untuk ditulis.
 
"Bisa itu bab akhir atau bab tengah, dan nanti aku akan isi bab-bab tersebut. Menurut aku semua karya itu bisa di-puzzling, artinya dibolak-balik. Tinggal ketika proses puzzling itu kan adalah bagaimana kita menyajikannya ke pembaca. Semenarik apa gitu kita bisa menyajikan karya tersebut ke pembaca," katanya.
 
Meski terinspirasi dari Animal Farm, novel Koloni memiliki sajian cerita yang berbeda. Jika dalam buku Animal Farm semua karakter hewannya memiliki sifat yang dimanusiakan, sementara cerita dalam Koloni berusaha setia dengan karakter dan dunia semut itu sendiri. "Aku tidak mau berubah dan tidak mau menjadikan semut ini kemudian tiba-tiba menjadi manusia," imbuhnya.

Ratih menambahkan novel Koloni lahir dari kegelisahan dirinya pada situasi di Indonesia. Melalui novel ini, katanya, kisah semut menjadi cermin bagi realitas sosial manusia yang tidak lepas dari ambisi dan polemik kekuasaan. "Koloni bukan sekadar cerita tentang dunia semut, melainkan sebuah cermin satir yang menyingkap wajah kehidupan manusia," terangnya. 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Dijual Mulai Rp2 Jutaan, iQOO Z10 Lite Bawa Fitur Smartphone Flagship

BERIKUTNYA

Survei: Konsumen Makin Selektif dan Sensitif Harga dalam Berbelanja

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga