Jasa MUA Bukan Sekadar Rias, tapi Bisnis Kreatif yang Terus Bertumbuh
10 July 2025 |
12:14 WIB
Dunia makeup artist (MUA) kini telah bertransformasi menjadi industri mikro yang menjanjikan. Tak lagi sebatas rias wajah untuk wisuda atau pernikahan, jasa ini telah melebar ke ranah yang lebih luas, mulai dari editorial, fashion show, pemotretan produk, hingga event komunitas.
Meski tutorial instan dan teknologi AI makin merajalela, nyatanya sentuhan personal dan keahlian langsung dari tangan manusia tetap menjadi nilai lebih yang tak tergantikan.
Baca juga: Cara Memakai Foundation Anti Gagal ala Makeup Artist Marlene Hariman
Di balik kuas-kuas yang menari di wajah klien, ada kisah inspiratif dari dua MUA muda, yaitu Ajeng Dheya Nindira Prasetyo (20) dan Iktiarni (23), atau yang akrab disapa Arni. Keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, tapi sama-sama membuktikan bahwa industri ini membutuhkan lebih dari sekadar teknik rias.
Dheya memulai perjalanan sejak SMP, terinspirasi dari video beauty vlogger yang ramai di YouTube. Ia lalu memperdalam ilmunya lewat kursus dan sekolah makeup. Arni, di sisi lain, semula ingin jadi content creator namun merasa tak cukup nyaman di depan kamera.
Justru dari permintaan senior kampus pada 2021, kariernya sebagai MUA dimulai. Sejak itu, permintaan pun berdatangan, dan ia memutuskan untuk mengikuti kelas privat rias wajah.
Meski layanan makeup wisuda masih mendominasi pemasukan, kini jenis klien yang mereka tangani jauh lebih variatif. Dheya sudah terbiasa menangani sesi pemotretan profesional, bahkan makeup untuk peragaan busana. Arni pun mulai merambah dunia makeup tari dan event komunitas.
Namun menjadi MUA bukan soal teknis semata. Genhype yang tertarik masuk ke dunia ini perlu tahu, tantangan justru terletak pada bagaimana membaca karakter klien. “Nggak semua klien sama. Ada yang santai, ada yang tegas. Kita harus bisa menyesuaikan pendekatan,” ujar Dheya.
Sementara Arni lebih fokus pada kondisi kulit klien. “Kulit berminyak dan kering butuh perlakuan beda. Saya selalu tanya dulu sebelum mulai makeup,” tambahnya.
Dalam hal promosi, keduanya aktif di media sosial. Instagram dan TikTok jadi etalase digital yang mereka manfaatkan untuk membangun portofolio dan menarik calon pelanggan. “Konten yang rutin dan testimoni klien itu penting. Saya juga pakai hashtag lokal biar lebih mudah ditemukan,” kata Arni. Dheya bahkan menambahkan Google Business untuk menjangkau mereka yang tak aktif di Instagram.
Meski algoritma medsos sering tak menentu, keduanya sepakat bahwa konsistensi tetap membuahkan hasil. “Konten bagus belum tentu langsung viral, tapi kalau rajin upload, dampaknya tetap terasa,” ujar Dheya.
Yang tak kalah penting, menurut mereka, adalah menjaga kebersihan alat dan membangun kenyamanan saat sesi makeup berlangsung. Arni selalu mencuci brush dan menyemprotkan purifying spray setelah tiap sesi. Dheya percaya, klien akan kembali jika suasana selama sesi terasa nyaman. “Kalau obrolannya nyambung dan suasananya santai, mereka lebih mungkin repeat order,” katanya.
Harga layanan juga ditentukan dengan pertimbangan matang seperti jenis acara, tingkat kesulitan, durasi makeup, hingga pengalaman. Arni mengaku masih menyesuaikan tarif dengan standar MUA pemula, sementara Dheya lebih fokus pada effort dan jam terbang sebagai dasar penetapan harga.
Musim puncak biasanya datang setelah Lebaran Haji dan saat musim wisuda di Mei atau September. Sebaliknya, Ramadan justru menjadi masa yang relatif sepi “Kalau lagi ramai banget seperti bulan Mei kemarin bisa Rp5 jutaan,” kata Arni. Meski begitu, mereka tak ingin mengambil terlalu banyak klien dalam sehari. “Saya batasi biar bisa tetap jaga kualitas dan punya waktu bersih-bersih alat,” ujar Dheya.
Meski kini banyak orang bisa belajar makeup dari internet, jasa MUA tetap memiliki tempat istimewa. “Di hari spesial, orang ingin tampil maksimal tanpa ribet. Mereka butuh profesional untuk hasil yang tahan lama dan sesuai ekspektasi,” kata Arni.
Keduanya juga punya impian besar. Dheya bercita-cita membuka studio sendiri, lengkap dengan fasilitas makeup, fitting, hingga pemotretan. Arni pun ingin memperluas bisnis ke sewa baju dan dekorasi, bahkan membentuk tim profesional.
Untuk genhype, kalau sedang mempertimbangkan karier kreatif yang punya ruang tumbuh luas dan penuh ekspresi, dunia MUA bisa jadi ladang yang menarik. Di balik tiap riasan yang memesona, ada kerja keras, strategi, dan passion yang tak bisa dibeli instan.
Baca juga: Meniti Karier Cantik Jadi Makeup Artist
Meski tutorial instan dan teknologi AI makin merajalela, nyatanya sentuhan personal dan keahlian langsung dari tangan manusia tetap menjadi nilai lebih yang tak tergantikan.
Baca juga: Cara Memakai Foundation Anti Gagal ala Makeup Artist Marlene Hariman
Di balik kuas-kuas yang menari di wajah klien, ada kisah inspiratif dari dua MUA muda, yaitu Ajeng Dheya Nindira Prasetyo (20) dan Iktiarni (23), atau yang akrab disapa Arni. Keduanya berasal dari latar belakang yang berbeda, tapi sama-sama membuktikan bahwa industri ini membutuhkan lebih dari sekadar teknik rias.
Dheya memulai perjalanan sejak SMP, terinspirasi dari video beauty vlogger yang ramai di YouTube. Ia lalu memperdalam ilmunya lewat kursus dan sekolah makeup. Arni, di sisi lain, semula ingin jadi content creator namun merasa tak cukup nyaman di depan kamera.
Justru dari permintaan senior kampus pada 2021, kariernya sebagai MUA dimulai. Sejak itu, permintaan pun berdatangan, dan ia memutuskan untuk mengikuti kelas privat rias wajah.
Meski layanan makeup wisuda masih mendominasi pemasukan, kini jenis klien yang mereka tangani jauh lebih variatif. Dheya sudah terbiasa menangani sesi pemotretan profesional, bahkan makeup untuk peragaan busana. Arni pun mulai merambah dunia makeup tari dan event komunitas.
Namun menjadi MUA bukan soal teknis semata. Genhype yang tertarik masuk ke dunia ini perlu tahu, tantangan justru terletak pada bagaimana membaca karakter klien. “Nggak semua klien sama. Ada yang santai, ada yang tegas. Kita harus bisa menyesuaikan pendekatan,” ujar Dheya.
Sementara Arni lebih fokus pada kondisi kulit klien. “Kulit berminyak dan kering butuh perlakuan beda. Saya selalu tanya dulu sebelum mulai makeup,” tambahnya.
Dalam hal promosi, keduanya aktif di media sosial. Instagram dan TikTok jadi etalase digital yang mereka manfaatkan untuk membangun portofolio dan menarik calon pelanggan. “Konten yang rutin dan testimoni klien itu penting. Saya juga pakai hashtag lokal biar lebih mudah ditemukan,” kata Arni. Dheya bahkan menambahkan Google Business untuk menjangkau mereka yang tak aktif di Instagram.
Meski algoritma medsos sering tak menentu, keduanya sepakat bahwa konsistensi tetap membuahkan hasil. “Konten bagus belum tentu langsung viral, tapi kalau rajin upload, dampaknya tetap terasa,” ujar Dheya.
Yang tak kalah penting, menurut mereka, adalah menjaga kebersihan alat dan membangun kenyamanan saat sesi makeup berlangsung. Arni selalu mencuci brush dan menyemprotkan purifying spray setelah tiap sesi. Dheya percaya, klien akan kembali jika suasana selama sesi terasa nyaman. “Kalau obrolannya nyambung dan suasananya santai, mereka lebih mungkin repeat order,” katanya.
Harga layanan juga ditentukan dengan pertimbangan matang seperti jenis acara, tingkat kesulitan, durasi makeup, hingga pengalaman. Arni mengaku masih menyesuaikan tarif dengan standar MUA pemula, sementara Dheya lebih fokus pada effort dan jam terbang sebagai dasar penetapan harga.
Musim puncak biasanya datang setelah Lebaran Haji dan saat musim wisuda di Mei atau September. Sebaliknya, Ramadan justru menjadi masa yang relatif sepi “Kalau lagi ramai banget seperti bulan Mei kemarin bisa Rp5 jutaan,” kata Arni. Meski begitu, mereka tak ingin mengambil terlalu banyak klien dalam sehari. “Saya batasi biar bisa tetap jaga kualitas dan punya waktu bersih-bersih alat,” ujar Dheya.
Meski kini banyak orang bisa belajar makeup dari internet, jasa MUA tetap memiliki tempat istimewa. “Di hari spesial, orang ingin tampil maksimal tanpa ribet. Mereka butuh profesional untuk hasil yang tahan lama dan sesuai ekspektasi,” kata Arni.
Keduanya juga punya impian besar. Dheya bercita-cita membuka studio sendiri, lengkap dengan fasilitas makeup, fitting, hingga pemotretan. Arni pun ingin memperluas bisnis ke sewa baju dan dekorasi, bahkan membentuk tim profesional.
Untuk genhype, kalau sedang mempertimbangkan karier kreatif yang punya ruang tumbuh luas dan penuh ekspresi, dunia MUA bisa jadi ladang yang menarik. Di balik tiap riasan yang memesona, ada kerja keras, strategi, dan passion yang tak bisa dibeli instan.
Baca juga: Meniti Karier Cantik Jadi Makeup Artist
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.