Sambut Pengakuan UNESCO, ANRI Gelar Pameran Arsip Surat-Surat Kartini
21 August 2025 |
06:00 WIB
Surat-surat Raden Ajeng Kartini resmi masuk ke dalam Memory of the World Register UNESCO. Pengakuan internasional ini bukan hanya soal prestise budaya, tapi juga menegaskan bahwa pemikiran Kartini tentang pendidikan, kesetaraan, dan martabat perempuan telah menjadi bagian dari ingatan kolektif dunia.
Tahun ini, UNESCO menambahkan 74 warisan dokumentasi ke dalam daftar tersebut, sehingga total koleksi yang terdaftar mencapai 570. Dari jumlah itu, lima berasal dari Indonesia, termasuk surat-surat Kartini yang setiap 21 April selalu dikenang sebagai simbol perjuangan emansipasi perempuan.
Baca juga: Putu Fajar Arcana Tampilkan 34 Lukisan Hasil Healing di Pameran Chromatica
Menyambut penetapan itu, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menggelar seminar dan pameran bertajuk Kartini’s World: A Perspective and Legacy on Equality di Gedung ANRI. Kegiatan ini dirancang untuk membuka ruang refleksi mengenai pemikiran Kartini dalam konteks kesetaraan masa kini.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut pengakuan atas surat-surat Kartini merupakan bentuk apresiasi dunia terhadap kontribusi pemikiran Indonesia. Menurutnya, semangat Kartini telah memberi arah bagi tumbuhnya kesadaran global tentang pentingnya kesetaraan dan pendidikan.
“Pengakuan ini bukan hanya mengangkat martabat Kartini, tapi juga menjadi inspirasi bagi setiap perempuan Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurut Menbud, konteks sejarah memperlihatkan betapa relevan gagasan Kartini hingga hari ini. Saat perempuan di Amerika Serikat baru memperoleh hak pilih pada 1920, gagasan tentang kesetaraan sudah lebih dulu diperjuangkan di tanah air melalui Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928.
Catatan itu juga menunjukkan bahwa suara Kartini merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas, yang menempatkan perempuan Indonesia sebagai pelopor dalam perjuangan hak politik. Pandangan dan semangatnya terhadap pendidikan, emansipasi, kesetaraan, serta kebangsaan menjadi warisan yang terus hidup.
"Pameran yang ditampilkan pada hari ini juga merupakan bentuk nyata dari upaya kita untuk mendekatkan masyarakat kepada sejarah perjuangan Kartini," imbuhnya.
Seetali tiga uang, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, menilai surat-surat Kartini adalah bukti bahwa pemikiran progresif bisa melampaui zamannya. Ia menekankan bahwa pengarsipan ini bukan semata soal administrasi, melainkan langkah simbolik untuk menjaga warisan intelektual seorang perempuan visioner dalam konteks global.
Kepala ANRI, Mego Pinandito, menambahkan bahwa seminar dan pameran yang digelar bersamaan dengan penetapan ini diharapkan dapat membuka ruang refleksi bagi masyarakat. Melalui arsip-arsip yang dipamerkan, publik bisa melihat kembali bagaimana gagasan Kartini tentang pendidikan, kemandirian, dan kesetaraan tetap relevan.
Pameran ini, ujarnya, menjadi jembatan untuk mendekatkan masyarakat pada sejarah sekaligus memberi inspirasi bagi generasi penerus. "Melalui refleksi atas pemikiran Kartini, acara ini mengajak semua pihak melanjutkan perjuangan dalam mewujudkan Indonesia yang inklusif dan berkeadilan," katanya.
Buku kumpulan surat Kartini berjudul Door Duisternis tot Licht pertama kali diterbitkan pada 1911. Pada 1922 Balai Pustaka kemudian menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Melayu dan menerbitkannya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.
Baca juga: Karya-Karya Henk Ngantung Era Kemerdekaan Tampil di Pameran Seni dan Diplomasi Museum Proklamasi
Kemudian pada 1938, keluarlah buku Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane, seorang sastrawan Pujangga Baru. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, pernah juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.
Surat-surat Kartini menuliskan pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan, khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.
Tahun ini, UNESCO menambahkan 74 warisan dokumentasi ke dalam daftar tersebut, sehingga total koleksi yang terdaftar mencapai 570. Dari jumlah itu, lima berasal dari Indonesia, termasuk surat-surat Kartini yang setiap 21 April selalu dikenang sebagai simbol perjuangan emansipasi perempuan.
Baca juga: Putu Fajar Arcana Tampilkan 34 Lukisan Hasil Healing di Pameran Chromatica
Menyambut penetapan itu, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) menggelar seminar dan pameran bertajuk Kartini’s World: A Perspective and Legacy on Equality di Gedung ANRI. Kegiatan ini dirancang untuk membuka ruang refleksi mengenai pemikiran Kartini dalam konteks kesetaraan masa kini.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut pengakuan atas surat-surat Kartini merupakan bentuk apresiasi dunia terhadap kontribusi pemikiran Indonesia. Menurutnya, semangat Kartini telah memberi arah bagi tumbuhnya kesadaran global tentang pentingnya kesetaraan dan pendidikan.
“Pengakuan ini bukan hanya mengangkat martabat Kartini, tapi juga menjadi inspirasi bagi setiap perempuan Indonesia,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Menurut Menbud, konteks sejarah memperlihatkan betapa relevan gagasan Kartini hingga hari ini. Saat perempuan di Amerika Serikat baru memperoleh hak pilih pada 1920, gagasan tentang kesetaraan sudah lebih dulu diperjuangkan di tanah air melalui Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928.
Catatan itu juga menunjukkan bahwa suara Kartini merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas, yang menempatkan perempuan Indonesia sebagai pelopor dalam perjuangan hak politik. Pandangan dan semangatnya terhadap pendidikan, emansipasi, kesetaraan, serta kebangsaan menjadi warisan yang terus hidup.
"Pameran yang ditampilkan pada hari ini juga merupakan bentuk nyata dari upaya kita untuk mendekatkan masyarakat kepada sejarah perjuangan Kartini," imbuhnya.
Seetali tiga uang, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifatul Choiri Fauzi, menilai surat-surat Kartini adalah bukti bahwa pemikiran progresif bisa melampaui zamannya. Ia menekankan bahwa pengarsipan ini bukan semata soal administrasi, melainkan langkah simbolik untuk menjaga warisan intelektual seorang perempuan visioner dalam konteks global.
Kepala ANRI, Mego Pinandito, menambahkan bahwa seminar dan pameran yang digelar bersamaan dengan penetapan ini diharapkan dapat membuka ruang refleksi bagi masyarakat. Melalui arsip-arsip yang dipamerkan, publik bisa melihat kembali bagaimana gagasan Kartini tentang pendidikan, kemandirian, dan kesetaraan tetap relevan.
Pameran ini, ujarnya, menjadi jembatan untuk mendekatkan masyarakat pada sejarah sekaligus memberi inspirasi bagi generasi penerus. "Melalui refleksi atas pemikiran Kartini, acara ini mengajak semua pihak melanjutkan perjuangan dalam mewujudkan Indonesia yang inklusif dan berkeadilan," katanya.
Buku kumpulan surat Kartini berjudul Door Duisternis tot Licht pertama kali diterbitkan pada 1911. Pada 1922 Balai Pustaka kemudian menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Melayu dan menerbitkannya dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran.
Baca juga: Karya-Karya Henk Ngantung Era Kemerdekaan Tampil di Pameran Seni dan Diplomasi Museum Proklamasi
Kemudian pada 1938, keluarlah buku Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane, seorang sastrawan Pujangga Baru. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, pernah juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan Sunda.
Surat-surat Kartini menuliskan pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan, khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.