Suasana pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis, Jakarta (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Membongkar Jejak Kolonial Lewat Seni di Erasmus Huis Jakarta

20 August 2025   |   18:00 WIB
Image
Prasetyo Agung Ginanjar Jurnalis Hypeabis.id

Bayang-bayang kolonialisme ternyata tak pernah benar-benar hilang. Dia masih berdiam di balik arsip, ruang kota, hingga narasi tentang siapa kita. Pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis, Jakarta, membuka kembali luka itu, dan mengajukan kembali tanya: sudahkah kita merdeka? 

Berlangsung hingga 1 November 2025, seteleng Bersama ini menghadirkan karya enam perupa kontemporer Indonesia yang menelisik bagaimana warisan kolonial masih membentuk masyarakat, ruang, dan identitas di Indonesia hari ini. 

Keenam seniman tersebut adalah Maharani Mancanegara, Arahmaiani, Budi Agung Kuswara, Dita Gambiro, Elvia Nurvista, dan Eldwin Pradipta. Dengan beragam pendekatan, teknik, dan material, mereka membongkar ulang kelindan kuasa kolonial yang menahun. 

Baca juga: Putu Fajar Arcana Tampilkan 34 Lukisan Hasil Healing di Pameran Chromatica 

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah karya Budi Agung Kuswara. Seniman lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini memboyong lukisan bertajuk Anonymous Deities from the East (2024), yang mengeksplorasi identitas budaya dan arsip visual. 

Kabul—panggilan akrab sang seniman—menggabungkan seni lukis tradisional Kamasan untuk mengangkat kembali harkat leluhurnya. Di bidang kanvasnya, tampak figur perempuan anonim yang dahulu diobjektifikasi sebagai perempuan Bali pada masa kolonial. 
 
Karya Budi Agung Kuswara,  berjudul Anonymous Deities from the East (2024),  dalam pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Alih-alih menggambarkan citra eksotisme dengan visual telanjang dada sebagaimana klise kolonial, Kabul justru mendandani figur-figur ini dengan busana Eropa dan memusatkannya dalam posisi yang megah. 

Dari objek pasif, figur perempuan Bali anonim dalam kanvas Kabul, justru berubah menjadi sosok yang berdaya, seolah menegur balik pandangan luar yang sejak dulu melekatkan label ‘surga tropis’ pada Bali.

Rangkaian idiom pun hadir memperkaya narasi. Buah nanas tropis yang mengkilap, tanaman hijau yang rimbun di atas guci-guci China, hingga arsip-arsip kolonial dalam bingkai pigura. Kolase yang ditata rapat ini seolah menjadi gugatan sekaligus pengingat situasi Bali masa kini.

Menariknya, Kabul juga menggunakan teknik cetak fotografi cyanotype dengan memanfaatkan cahaya matahari. Pilihan ini bukan tanpa makna, sebab cyanotype dulu digunakan kolonial Eropa untuk merekam ‘the other’. 

Kabul membalikkan cara pandang itu dengan merekam ulang data-data arsip memakai sinar matahari, memaknai ulang peredaran waktu dan kuasa yang membayanginya. 

“Ini tentang bagaimana mereka [Eropa] memotret Bali di masa itu, lalu menjualnya sebagai konsumsi publik untuk orang yang mau melihat Bali secara tidak langsung,” ujarnya.

Lain halnya dengan Maharani Mancanegara yang menghadirkan ironi lewat Allegory of Cornucopia (2023). Terdiri dari tiga seri lukisan, karya ini mengeksplorasi narasi sejarah dari sisi sosial, politik, dan budaya, mulai masa kuno hingga masa kini. 

Maharani dengan jeli mengkontraskan relief kolonial Eropa yang kerap merayakan penaklukan imperium dan eksploitasi pertanian dengan ukiran Asia Tenggara yang memuliakan keseimbangan dengan alam, layaknya relief candi-candi.
 

Karya Maharani Mancanegara berjudul Allegory of Cornucopia (2023) dalam pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis, Jakarta

Karya Maharani Mancanegara berjudul Allegory of Cornucopia (2023) dalam pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Dalam detailnya, Maharani menampakkan bagaimana kolonialisme membawa trauma paling sunyi, mulai jejak sepatu lars tentara kolonial dalam kerja paksa, hingga dominasi global yang silih berganti wujud di masa kini. 

Lewat karya ini, sang seniman seolah menegaskan bahwa narasi sejarah tidak selalu tentang pemenang atau elite, tetapi juga tentang rakyat biasa yang kisahnya patut disimpan serta dikabarkan pada publik luas.

Eldwin Pradipta, melalui Wijkenstelsel (2017), juga mengajak penonton membaca ulang asal-usul kebijakan segregasi kolonial di ruang kota Indonesia. Menggunakan cetakan kulit dan proyeksi video peta, Eldwin membongkar bagaimana Belanda pada abad ke-19 memecah penduduk menjadi tiga kelompok: Eropa, Timur Asing (keturunan Tionghoa, India, Arab), dan Pribumi.

Kendati kebijakan tersebut dihapuskan pada 1915, akan tetapi sisa ruang segregasi tetap berbekas—kawasan Pecinan, misalnya, masih diwarnai rasa eksklusivitas hingga kini. Bagi Eldwin, warisan inilah yang membentuk penghalang sosial yang kerap luput diakui.

Kurator Sadiah Boonstra menegaskan, pameran ini lahir dari upaya membayangkan masa depan dekolonial yang bertumpu pada kepedulian, perlawanan, dan pengetahuan lokal. Lewat karya-karya tersebut, publik diajak melihat bahwa luka kolonial bukan sekadar catatan sejarah di buku sekolah, tetapi jejak yang menempel pada tanah, pangan, ruang, hingga tubuh.

Refleksi dekolonial ini pun terasa pada karya Arahmaiani. Lewat The Flag Project (2006–sekarang), puluhan bendera yang identik dengan simbol nasionalisme justru diubah menjadi medium dialog. Bersama berbagai komunitas, Arahmaiani menulis nilai-nilai bersama seperti harapan dan kekuatan, lalu menjahitnya dengan tangan dan merayakannya lewat parade.


Anonymous Deities from the East (2024),

karya Arahmaiani berjudul  The Flag Project dalam pameran Beyond Unsettled Pasts di Erasmus Huis, Jakarta. (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)

Bendera baginya bukan lambang kuasa kaku, tetapi ruang bersama untuk membayangkan masa depan yang bebas dari belenggu penjajahan. Ada pula karya Elvia Nurvista yang menyoroti ketimpangan struktural dan relasi kuasa yang diwariskan kolonialisme lewat asal-usul kolonial industri kelapa sawit. 

Dalam karya bertajuk Long Hanging Fruits (2023) Elvia memboyong 125 patung kelapa sawit dengan kaki manusia yang tertanam di tanah. Simbol ini seolah merepresentasikan orang-orang yang terjerat dalam industri kelapa sawit, dan terperangkap dalam sistem eksploitasi perkebunan. 

Direktur Erasmus Huis Nicolaas de Regt mengatakan, pameran ini merupakan bentuk komitmen untuk menjadikan budaya sebagai katalisator hubungan yang lebih tulus dan bermakna. “Budaya membuka dialog dan memungkinkan Indonesia dan Belanda memperkuat hubungan dengan saling memahami,” katanya. 

Baca juga: Karya-Karya Henk Ngantung Era Kemerdekaan Tampil di Pameran Seni dan Diplomasi Museum Proklamasi 

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Editor:

SEBELUMNYA

Fitur Baru Spotify Hadirkan Fitur Mix dengan Transisi Custom

BERIKUTNYA

Biaya Perawatan Infrastruktur Kereta Api Tak Boleh Dipangkas Demi Keselamatan Anker & Wisatawan

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: