Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Review Pentas Teater Koma: Saat Kemanusiaan Kian Samar, Dunia Butuh Semar

16 August 2025   |   11:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Masa depan yang dipenuhi teknologi artificial intelligence digambarkan dengan wajah yang muram oleh Teater Koma dalam pentas terbarunya bertajuk Mencari Semar. Saat hidup manusia seluruhnya sudah bergantung dengan akal imitasi, kekacauan ala dunia distopia bukan lagi akan dilihat di tayangan fiksi. Ia bisa jadi akan nyata.

Teater Koma tengah meliuk mengikuti arus zaman. Dalam pementasan lakon ke-235 ini, kelompok teater yang didirikan mendiang Nano Riantiarno tampil lebih kekinian. Inovasi ini merupakan bentuk keluwesan para pelaku seni dalam berdialog dengan zaman yang kian berubah.

Baca juga: Menilik Proses Kreatif di Balik Skenografi Lakon Mencari Semar Teater Koma

Naskah Mencari Semar ditulis dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno. Dalam pentas ini, Rangga mencoba mengulang-alik cerita di antara teknologi masa depan yang penuh kemajuan dan mitologi di masa silam yang kini perlahan tampak ditinggalkan.

Eksplorasi itu tampak saat Semar, tokoh utama dalam punakawan di pewayangan Jawa, tak dihidupkan dari suasana masa lalu. Dia digambarkan punya kekuatan sakti dan terus hidup hingga dunia yang ditinggali sudah dipenuhi cyborg atau manusia setengah robot.

Sejak awal pementasan, penonton langsung disuguhi dengan skenografi megah Deden Bulqini berbentuk setengah lingkaran yang kaya akan elemen multimedia. Latar ini menjadikan panggung punya nuansa fiksi ilmiah yang kuat. Robot-robot kemudian berbaris sembari bernyanyi.

Mulanya, robot dan manusia masih saling berinteraksi. Manusia pun mengendalikan robot yang kepintarannya terus bertumbuh berkat Perintah Utama yang diciptakannya. Namun, seiring waktu, timbullah konflik di antara manusia. Manusia dan manusia saling berperang hingga tersisa ras manusia yang masih kuat bertahan, yakni cyborg yang disebut bangsa Nimacha.

Konflik tak kunjung berhenti. Sebab, kehidupan terus bergerak ke arah kekacauan akibat para cyborg yang hidup hanya berdasarkan Perintah Utama ini mulai berbelok arah. Perintah Utama, yang didefinisikan semacam prompt, perlahan mulai mengendalikan mereka tak tentu arah.

Lima agen dari bangsa Nimacha kemudian muncul. Mereka melakukan riset mendalam tentang sejarah manusia dan menemukan fakta bahwa kehidupan bangsa robot bisa diperbaiki dengan cara di-setting ulang dengan mengubah Perintah Utama.
 

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). Bisnis/Robby Fathan

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Dalam penelitian tersebut, mereka menyebut satu-satunya yang bisa mengubah Perintah Utama adalah Jimat Kalimasada. Sebuah ajian sakti yang ditanam di tubuh Semar. Mereka pun segera mencari Semar, menculiknya, dan mengambil ajian tersebut.

"Saya menulis lakon ini dengan membayangkan pertukaran posisi yang mungkin bisa terjadi. Dahulu, Semar dianggap sebagai penasehat yang bijak, tetapi di masa depan apakah Semar masih dibutuhkan oleh manusia, atau justru manusia lebih senang bertanya dengan yang lain yang mungkin lebih cerdas," ujar Rangga.

Di dalam pikiran Rangga, premis itu bergejolak dengan hebat. Dia mencoba merefleksikan banyak hal terkait kemunculan AI. Dengan segala kebisaan yang dimiliki, Rangga membayangkan apakah manusia akan sepenuhnya menggantungkan diri kepada AI, bukan hanya tentang kebutuhan informasi. Jangan-jangan, katanya, pilihan nurani dan sikap kebijaksanaannya akan disetir berdasarkan itu.

"Namun, pertanyaan muncul, kalau ternyata AI bukan hanya cerdas, tapi diprogram dengan tujuan tertentu. Apakah manusia bisa bertahan dari tujuan-tujuan tersebut nantinya," imbuhnya.

Rangga mengemas kisah Mencuri Semar dalam balutan genre penculikan. Namun, penculikan yang dihadirkan tak sekadar soal intrik, tapi juga metafora. Barang kali, bukan hanya tokoh Semar yang diculik, melainkan juga hati nurani dan eksistensi kemanusiaan yang kian tergerus oleh perkembangan teknologi.

Dalam kisah ini, Rangga menampilkan kontras menarik antara bangsa Nimacha dan para punakawan saat penculikan terjadi. Para agen Nimacha menculik Semar dengan berbagai tipu muslihat demi kepentingan egois mereka.

Namun, istri Semar, Sutiragen, tidak tinggal diam. Dia mengajak para punakawan lain, Togog, Bilung, Cangik, dan Limbuk, serta anak-anaknya, Gareng, Petruk, dan Bagong, untuk mencari dan menyelamatkan Semar.

Semar pun menjelma bukan hanya sebagai tokoh pewayangan, melainkan simbol kebijaksanaan dan hati nurani wajib dijaga. Sebuah pengingat bahwa di tengah percepatan zaman, ada nilai-nilai yang perlu tetap menjadi pegangan manusia dan tak boleh diculik akibat kemajuan teknologi.


Nurani Sebagai Kompas Peradaban Digital

Rangga mengatakan Mencari Semar bukan ajakan untuk menolak kemajuan teknologi. Karyanya ini lebih mengeksplorasi pertanyaan-pertanyaan mendasar soal eksistensi nilai-nilai kemanusiaan di tengah pesatnya teknologi.

Dalam konteks cerita, Semar adalah simbol pembimbing moral dan penasehat yang melindungi manusia dari jalan yang salah. Secara premis, tokoh Semar berperan sebagai penyeimbang yang mencegah manusia jatuh ke dalam kegelapan.

Jika manusia kehilangan sosok penuntun seperti Semar dan sepenuhnya mengikuti arahan teknologi AI dengan tujuan yang samar, maka peradaban terancam runtuh secara moral. Perang dan penculikan hanyalah sepotong kecil dari bayangan distopia yang dihadirkan di panggung ini.

"Posisi Semar dan AI jelas. Saya melihatnya Semar menghargai semua bentuk kehidupan. Makanya tadi ada dialog 'saya menunjukkan diri saya yang welas asih terhadap makhluk lain'. Jadi, Semar masih melihat itu sebagai makhluk yang punya kesempatan. Buat Semar semua makhluk harus disayangi," jelasnya.

Tak hanya soal moral dan teknologi, pentas ini juga mencoba menyentuh berbagai isu dengan sentilan khas Punakawan yang muncul di beberapa adegan.

Misalnya, saat penonton disuguhi dialog “Hati-hati soal memilih, salah pilih dampaknya bisa lima tahun ke depan.” atau saat bangsa Nimacha meragukan Semar dengan dialog “Apa buktinya kamu sakti atau dewa? Coba tunjukkan ijazah kamu kalau beneran sakti?”
 

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). Bisnis/Robby Fathan

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Sumber foto: Hypeabis.id/Robby Fathan)

Sementara itu, Produser Ratna Riantiarno mengungkapkan, tahun ini Teater Koma telah menginjak usia ke-48. Sejak berdiri pada 1977, kelompok teater ini berusaha menjaga konsistensi dengan menghadirkan dua produksi panggung setiap tahunnya.

Konsistensi tersebut, menurut Ratna, mendapat sambutan hangat dari para penonton setia. Dukungan mereka bahkan datang dari tiga hingga empat generasi, yang terus mengikuti karya-karya Teater Koma dari masa ke masa.

Bagi Ratna, apresiasi tersebut menjadi sumber energi dan motivasi untuk tetap berkarya. Dia menegaskan semangat tersebut penting agar Teater Koma bisa terus bertahan dan relevan di tengah tantangan serta perubahan zaman.

"Momentum ini kami jaga sebagai bagian dari perjalanan menuju ulang tahun ke-50 Teater Koma pada 2027, sekaligus ungkapan terima kasih atas dukungan dan energi penonton yang membuat kami semangat berkarya dan tidak pernah titik, selalu Koma,” ujar Ratna.

Ratna mengatakan naskah Semar kali ini cukup menarik. Sebab, saat membaca dan melihat pertunjukannya secara langsung, ada banyak hal yang berbeda. Di pertunjukan, katanya, apa yang ditulis menjadi lebih hidup.

Semar dan kisah Punakawan, kata Ratna, memang telah lama hidup di pertunjukan Teater Koma. Dari zaman Nano Riantiarno hingga kini anaknya, Rangga Riantiarno, Semar senantiasa muncul dan menjadi warna cerita.

Lakin yang menadai pentas ke-235 Teater Koma ini digelar masih digelar dari 13-17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta Pusat. 

Baca juga: 7 Pertunjukan Seni Siap Digelar Agustus 2025, Teater Koma hingga Konser Jumbo

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Pentas Bunga Penutup Abad Bakal Tampilkan Keindahan Bahasa Indonesia Klasik

BERIKUTNYA

3 Hotel di Jakarta Tawarkan Promo Spesial HUT ke-80 Kemerdekaan RI

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga