Menilik Proses Kreatif di Balik Skenografi Lakon Mencari Semar Teater Koma
13 August 2025 |
14:10 WIB
Pementasan Mencari Semar tidak hanya memanjakan penonton lewat cerita dan akting para pemainnya, tapi juga melalui aspek skenografi yang dirancang dengan detail. Skenografi atau tata panggung memang menjadi salah satu elemen penting yang menghidupkan dunia lakon, membuat penonton seakan dibawa masuk ke dalam dunia Semar.
Di bawah arahan skenografer Deden Bulqini, panggung Mencari Semar memadukan konsep futuristik dengan sentuhan teknologi digital. Tata cahaya yang dinamis, elemen multimedia, dan proyeksi visual interaktif disatukan untuk menciptakan perubahan suasana yang drastis sesuai pergerakan waktu dan ruang dalam cerita.
Deden menegaskan, elemen-elemen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi menjadi bagian dari dramaturgi yang tengah terjadi di tiap adegan. Set panggung, katanya, dirancang untuk lebih “berbicara” dengan aktor, sehingga pengalaman yang dihadirkan terasa imersif dan komunikatif bagi penonton.
"Dalam Mencari Semar, kami mencoba mendekatkan konsep skenografi ke arah pengalaman visual yang responsif," kata Deden.
Baca juga: Persiapan Sudah 95 Persen, Teater Koma Siap All Out Pentaskan Lakon Mencari Semar
Deden menjelaskan, teknologi proyeksi, efek suara, dan tata cahaya di Mencari Semar dibuat menyatu agar panggung terasa hidup. Semua unsur ini bekerja bersama menciptakan suasana yang terus berubah mengikuti jalannya cerita.
Menurutnya, cara ini membuat penonton bisa merasakan perubahan waktu dalam pementasan. Efek tersebut sejalan dengan kisah Semar yang terjebak dalam putaran waktu, sehingga penonton ikut larut dalam ketegangan dan atmosfer ceritanya.
Deden mengatakan, pementasan Mencari Semar dirancang untuk menampilkan dimensi waktu yang terus bergerak. Konsep ini mengikuti alur cerita tentang Semar yang terjebak dalam putaran waktu.
Oleh karena itu, dirinya berharap cara ini membuat penonton bisa merasakan perubahan waktu dalam pementasan. Pengalaman menonton di pentas ini akan semakin lengkap dengan paduan berbagai elemen khas Teater Koma lain, seperti kostum berwarna-warni, lagu-lagu jenaka, tarian teatrikal, dan humor cerdas yang tetap relevan dengan kondisi saat ini.
"Ini adalah upaya kami untuk membawa penonton tidak hanya melihat, tapi ikut merasa terperangkap dalam dunia Semar,” imbuhnya.
Sementara itu, Rangga Riantiarno menyebut tawaran konsep panggung dari Bulqi ini memang jadi satu kebaruan di pertunjukan Teater Koma. Ditambah lagi, sentuhan penata cahaya Fajar Okto yang menghadirkan lengkungan warna-warni yang menyatu dengan latar cerita.
Meski sangat menarik, kata Rangga, dalam perjalanannya konsep tersebut tak datang dari satu kali ide. Dirinya dan tim perlu berpikir keras untuk mengolah dua tawaran yang menjadi bagian skenografi ini agar pas dan mulus sesuai dengan adegan yang terjadi.
Oleh karena itu, ada penambahan di hal-hal lain juga untuk menyelaraskan hingga akhirnya menemukan bentuk yang seperti ini.
Namun, menurutnya, yang paling menyenangkan dari skenografi ini ialah karena lewat bentuk tersebut, pengalaman menonton di berbagai arah jadi lebih sama. Dalam artian, para penonton dari balkon pun bahkan bisa tetap merasakan pengalaman serupa, layaknya melihat pola sirkuit di atas panggung.
Di usianya yang ke-48 tahun, Teater Koma kembali berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan pementasan teater terbaru bertajuk Mencari Semar, sebuah lakon fantasi yang menggabungkan mitologi Jawa dengan narasi futuristik.
Pementasan ini berlangsung pada 13 - 17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, memadukan kekuatan cerita, kekayaan visual, musik, tarian dan teknologi panggung dalam satu pengalaman teatrikal yang imersif.
Ditulis dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno, Mencari Semar mengisahkan tentang Semar, sang panakawan bijak yang menyimpan pusaka sakti bernama Jimat Kalimasada dalam tubuhnya di masa pensiunnya.
Seiring berjalannya waktu, Kekaisaran Nimacha, sebuah peradaban futuristik yang hidup berdasarkan Perintah Utama menghadapi ancaman kepunahan akibat Perintah yang telah berkali-kali ditulis ulang, lima Agen diutus untuk mencari jalan keluar.
Mereka menemukan catatan sejarah tentang Kalimasada dan meyakini bahwa jimat itu mampu menulis ulang Perintah Utama. Demi menguasainya, para Agen ditugaskan untuk mencari Semar dan membawanya ke Ruang Putih, ruang ilusi yang dirancang untuk menarik keluar Kalimasada.
Pementasan Mencari Semar berlangsung setiap hari mulai 13 hingga 17 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, dengan dua pertunjukan khusus di hari Sabtu (16 Agustus) pada pukul 13.30 dan 19.30, serta Minggu (17 Agustus) pukul 13.30 WIB.
Tiket pertunjukan masih tersedia dan dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma dan melalui platform pembelian tiket. Harga tiket bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga Rp850.000.
Baca juga: 7 Pertunjukan Seni Siap Digelar Agustus 2025, Teater Koma hingga Konser Jumbo
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Di bawah arahan skenografer Deden Bulqini, panggung Mencari Semar memadukan konsep futuristik dengan sentuhan teknologi digital. Tata cahaya yang dinamis, elemen multimedia, dan proyeksi visual interaktif disatukan untuk menciptakan perubahan suasana yang drastis sesuai pergerakan waktu dan ruang dalam cerita.
Deden menegaskan, elemen-elemen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi menjadi bagian dari dramaturgi yang tengah terjadi di tiap adegan. Set panggung, katanya, dirancang untuk lebih “berbicara” dengan aktor, sehingga pengalaman yang dihadirkan terasa imersif dan komunikatif bagi penonton.
"Dalam Mencari Semar, kami mencoba mendekatkan konsep skenografi ke arah pengalaman visual yang responsif," kata Deden.
Baca juga: Persiapan Sudah 95 Persen, Teater Koma Siap All Out Pentaskan Lakon Mencari Semar

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Sumber gambar: Bisnis/Robby Fathan)
Menurutnya, cara ini membuat penonton bisa merasakan perubahan waktu dalam pementasan. Efek tersebut sejalan dengan kisah Semar yang terjebak dalam putaran waktu, sehingga penonton ikut larut dalam ketegangan dan atmosfer ceritanya.
Deden mengatakan, pementasan Mencari Semar dirancang untuk menampilkan dimensi waktu yang terus bergerak. Konsep ini mengikuti alur cerita tentang Semar yang terjebak dalam putaran waktu.
Oleh karena itu, dirinya berharap cara ini membuat penonton bisa merasakan perubahan waktu dalam pementasan. Pengalaman menonton di pentas ini akan semakin lengkap dengan paduan berbagai elemen khas Teater Koma lain, seperti kostum berwarna-warni, lagu-lagu jenaka, tarian teatrikal, dan humor cerdas yang tetap relevan dengan kondisi saat ini.
"Ini adalah upaya kami untuk membawa penonton tidak hanya melihat, tapi ikut merasa terperangkap dalam dunia Semar,” imbuhnya.
Sementara itu, Rangga Riantiarno menyebut tawaran konsep panggung dari Bulqi ini memang jadi satu kebaruan di pertunjukan Teater Koma. Ditambah lagi, sentuhan penata cahaya Fajar Okto yang menghadirkan lengkungan warna-warni yang menyatu dengan latar cerita.
Meski sangat menarik, kata Rangga, dalam perjalanannya konsep tersebut tak datang dari satu kali ide. Dirinya dan tim perlu berpikir keras untuk mengolah dua tawaran yang menjadi bagian skenografi ini agar pas dan mulus sesuai dengan adegan yang terjadi.
Oleh karena itu, ada penambahan di hal-hal lain juga untuk menyelaraskan hingga akhirnya menemukan bentuk yang seperti ini.
Namun, menurutnya, yang paling menyenangkan dari skenografi ini ialah karena lewat bentuk tersebut, pengalaman menonton di berbagai arah jadi lebih sama. Dalam artian, para penonton dari balkon pun bahkan bisa tetap merasakan pengalaman serupa, layaknya melihat pola sirkuit di atas panggung.
Di usianya yang ke-48 tahun, Teater Koma kembali berkolaborasi dengan Bakti Budaya Djarum Foundation menghadirkan pementasan teater terbaru bertajuk Mencari Semar, sebuah lakon fantasi yang menggabungkan mitologi Jawa dengan narasi futuristik.
Pementasan ini berlangsung pada 13 - 17 Agustus 2025 di Ciputra Artpreneur, memadukan kekuatan cerita, kekayaan visual, musik, tarian dan teknologi panggung dalam satu pengalaman teatrikal yang imersif.
Ditulis dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno, Mencari Semar mengisahkan tentang Semar, sang panakawan bijak yang menyimpan pusaka sakti bernama Jimat Kalimasada dalam tubuhnya di masa pensiunnya.

Seniman dari Teater Koma mementaskan Mencari Semar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Selasa (12/8/2025). (Sumber gambar: Bisnis/Robby Fathan)
Mereka menemukan catatan sejarah tentang Kalimasada dan meyakini bahwa jimat itu mampu menulis ulang Perintah Utama. Demi menguasainya, para Agen ditugaskan untuk mencari Semar dan membawanya ke Ruang Putih, ruang ilusi yang dirancang untuk menarik keluar Kalimasada.
Pementasan Mencari Semar berlangsung setiap hari mulai 13 hingga 17 Agustus 2025, pukul 19.30 WIB, dengan dua pertunjukan khusus di hari Sabtu (16 Agustus) pada pukul 13.30 dan 19.30, serta Minggu (17 Agustus) pukul 13.30 WIB.
Tiket pertunjukan masih tersedia dan dapat diperoleh melalui situs resmi Teater Koma dan melalui platform pembelian tiket. Harga tiket bervariasi mulai dari Rp100.000 hingga Rp850.000.
Baca juga: 7 Pertunjukan Seni Siap Digelar Agustus 2025, Teater Koma hingga Konser Jumbo
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.