Naskah Buku Baru Pramoedya Ananta Toer Ditemukan di Pasar Loak Senen
15 August 2025 |
17:32 WIB
1
Like
Like
Like
Pihak keluarga Pramoedya Ananta Toer tengah mempertimbangkan untuk merilis buku baru dari sang sastrawan yang belum pernah diterbitkan sebelumnya. Perilisan buku ini rencanannya menjadi bagian dari perayaan 100 tahun Pramoedya Ananta Toer yang digelar maraton setahun penuh dari 6 Februari 2025 hingga 6 Februari 2026.
Dari beberapa judul yang akan terbit, dua buku di antaranya diketahui telah siap untuk rilis. Dua buku tersebut adalah Mata Pusaran dan Musim Kawin di Nusa Kambangan. Hal ini disampaikan langsung oleh Astuti Ananta Toer, putri sulung sastrawan Pramoedya dengan Maemunah Thamrin.
Baca juga: Pramoedya Ananta Toer & Gagasan tentang Indonesia yang Tak Lekang Zaman
Astuti mengatakan saat ini kedua buku tersebut secara umum siap rilis. Namun, pihaknya juga masih mencoba melakukan pencarian dan penyusunan. Sebab, sejumlah lembar naskah dari buku Pram masih hilang dan tercecer. Pihaknya pun masih berusaha mencari naskah-naskah tersebut yang belum ditemukan.
Salah satunya pada Mata Pusaran yang hingga saat ini naskahnya belum lengkap. Sebagai informasi, naskah master ketikan dari karya ini sempat dirampas dan disita negara. Hingga saat ini naskah tersebut tak diketahui rimbanya. Buku ini merupakan salah satu karya yang disebut sebagai tulisan terakhir Pram.
Meski begitu, ada pula naskah yang kembali ke tangan keluarga melalui cara yang tak terduga. Salah satunya adalah sebagian naskah Mata Pusaran yang ditemukan di pasar loak Senen, Kwitang. Penemunya adalah seorang warga negara Belanda yang kemudian menyerahkannya kepada keluarga sebagai hadiah ulang tahun untuk Pramoedya.
"Sebagian masih kita dapat, seperti Mata Pusaran itu naskahnya bahkan ada yang ditemukan di loakan Senen, Kwitang. Itu yang nemuin orang Belanda, dan sudah diserahkan kepada keluarga sebagai hadiah ulang tahun pak Pram kemarin," ungkap Astuti di Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Menurut Astuti, jika seluruh naskah kembali, bukunya akan memiliki jumlah halaman yang cukup banyak. Sebab, katanya, naskah-naskah ini ditulis oleh Pramoedya sejak 1980 hingga 2006.
“Kalau Pak Pram menulis buku harian itu tidak sedikit-sedikit, bisa sampai 21 halaman sekali tulis,” ujarnya.
Kebiasaan itu membuat catatan hariannya kerap berkembang menjadi karya utuh. Beberapa bukunya, seperti Larasati, bahkan berasal dari kumpulan catatan harian yang panjang dan mendetail.
Sementara itu, Aditya Ananta Toer, cucu Pramoedya, menambahkan bahwa saat ini dua buku tersebut secara umum sudah siap tayang. Tahapannya saat ini tengah di penyuntingan. Proses ini dilakukan untuk memutuskan bagian mana yang bisa diterbitkan dan mana yang sebaiknya tidak dimasukkan.
“Beberapa naskah kan memang belum kembali, jadi kami harus menyesuaikan. Tapi secara umum, semuanya sudah siap cetak,” kata Aditya.
Dia menegaskan, keluarga selalu memperhitungkan waktu yang tepat sebelum merilis karya baru sang kakek. Menurutnya, pemilihan momentum ini selalu punya makna penting bagi perilisan buku Pram.
"Setiap kali keluarga mengeluarkan buku baru Pramoedya, biasanya kami berupaya mencari momen yang sesuai," katanya.
Adit belum bisa memastikan apakah perilisan buku ini masih masuk dalam rangkaian 100 tahun Pramoedya atau justru akan dipilih momen lain. Pihak keluarga kini masih berdiskusi terkait hal tersebut.
Sebelumnya, dalam rangka 100 tahun Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Pulau Buru yang terdiri 4 seri, yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca telah diterbikan ulang dengan sampul khusus.
Baca juga: Bunga Penutup Abad Kembali Dipentaskan Rayakan Seabad Pramoedya Ananta Toer
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dari beberapa judul yang akan terbit, dua buku di antaranya diketahui telah siap untuk rilis. Dua buku tersebut adalah Mata Pusaran dan Musim Kawin di Nusa Kambangan. Hal ini disampaikan langsung oleh Astuti Ananta Toer, putri sulung sastrawan Pramoedya dengan Maemunah Thamrin.
Baca juga: Pramoedya Ananta Toer & Gagasan tentang Indonesia yang Tak Lekang Zaman
Astuti mengatakan saat ini kedua buku tersebut secara umum siap rilis. Namun, pihaknya juga masih mencoba melakukan pencarian dan penyusunan. Sebab, sejumlah lembar naskah dari buku Pram masih hilang dan tercecer. Pihaknya pun masih berusaha mencari naskah-naskah tersebut yang belum ditemukan.
Salah satunya pada Mata Pusaran yang hingga saat ini naskahnya belum lengkap. Sebagai informasi, naskah master ketikan dari karya ini sempat dirampas dan disita negara. Hingga saat ini naskah tersebut tak diketahui rimbanya. Buku ini merupakan salah satu karya yang disebut sebagai tulisan terakhir Pram.
Meski begitu, ada pula naskah yang kembali ke tangan keluarga melalui cara yang tak terduga. Salah satunya adalah sebagian naskah Mata Pusaran yang ditemukan di pasar loak Senen, Kwitang. Penemunya adalah seorang warga negara Belanda yang kemudian menyerahkannya kepada keluarga sebagai hadiah ulang tahun untuk Pramoedya.
"Sebagian masih kita dapat, seperti Mata Pusaran itu naskahnya bahkan ada yang ditemukan di loakan Senen, Kwitang. Itu yang nemuin orang Belanda, dan sudah diserahkan kepada keluarga sebagai hadiah ulang tahun pak Pram kemarin," ungkap Astuti di Jakarta, Jumat (15/8/2025).
Menurut Astuti, jika seluruh naskah kembali, bukunya akan memiliki jumlah halaman yang cukup banyak. Sebab, katanya, naskah-naskah ini ditulis oleh Pramoedya sejak 1980 hingga 2006.
“Kalau Pak Pram menulis buku harian itu tidak sedikit-sedikit, bisa sampai 21 halaman sekali tulis,” ujarnya.
Kebiasaan itu membuat catatan hariannya kerap berkembang menjadi karya utuh. Beberapa bukunya, seperti Larasati, bahkan berasal dari kumpulan catatan harian yang panjang dan mendetail.
Sementara itu, Aditya Ananta Toer, cucu Pramoedya, menambahkan bahwa saat ini dua buku tersebut secara umum sudah siap tayang. Tahapannya saat ini tengah di penyuntingan. Proses ini dilakukan untuk memutuskan bagian mana yang bisa diterbitkan dan mana yang sebaiknya tidak dimasukkan.
“Beberapa naskah kan memang belum kembali, jadi kami harus menyesuaikan. Tapi secara umum, semuanya sudah siap cetak,” kata Aditya.
Dia menegaskan, keluarga selalu memperhitungkan waktu yang tepat sebelum merilis karya baru sang kakek. Menurutnya, pemilihan momentum ini selalu punya makna penting bagi perilisan buku Pram.
"Setiap kali keluarga mengeluarkan buku baru Pramoedya, biasanya kami berupaya mencari momen yang sesuai," katanya.
Adit belum bisa memastikan apakah perilisan buku ini masih masuk dalam rangkaian 100 tahun Pramoedya atau justru akan dipilih momen lain. Pihak keluarga kini masih berdiskusi terkait hal tersebut.
Sebelumnya, dalam rangka 100 tahun Pramoedya Ananta Toer, Tetralogi Pulau Buru yang terdiri 4 seri, yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca telah diterbikan ulang dengan sampul khusus.
Baca juga: Bunga Penutup Abad Kembali Dipentaskan Rayakan Seabad Pramoedya Ananta Toer
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.