The Story of Vivienne. (Sumber foto: Instagram/tsov.id)

Bercerita Lewat Aroma, Gaya Unik Parfum The Story of Vivienne

15 August 2025   |   21:12 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Perfume holds a thousand memories. Kalimat ini bukan hanya kutipan puitis, tapi menjadi pijakan utama bagi Syifa Amelia Falah (27) dan Agung Satria Permana (24) saat merintis bisnis parfum mereka yang unik, The Story of Vivienne (TSOV). Di tengah maraknya produk wewangian lokal, TSOV menawarkan pendekatan berbeda.

Mereka menyuguhkan parfum sebagai media bercerita. Setiap botol bukan hanya berisi aroma, tapi juga fragmen kehidupan seorang tokoh fiksi bernama Vivienne.

Baca juga: Rekomendasi Parfum dari The BFF Festival yang Cocok Digunakan Saat Cuaca Panas

Berbeda dengan merek parfum pada umumnya, TSOV dibangun dengan konsep seperti novel, lengkap dengan chapter atau bab yang menggambarkan perjalanan hidup sang tokoh. Sejak diluncurkan pada November 2023, TSOV telah merilis enam varian parfum, atau yang mereka sebut sebagai enam chapter cerita Vivienne.

Masing-masing bab tidak hanya memiliki aroma khas, tetapi juga makna emosional yang menyertainya, menciptakan kedekatan antara pengguna dan cerita yang disampaikan.

Menurut Agung, karakter Vivienne masih dalam proses pengembangan cerita, dan kelak akan dituangkan dalam bentuk novel utuh. Namun justru, penantian inilah yang menciptakan keterikatan antara konsumen dan merek. Banyak pelanggan mengikuti perkembangan ceritanya dengan antusias.

“Kita penginnya buat parfum yang enggak cuma buat dipakai aja, tapi juga bisa mengingatkan seseorang terhadap suatu kejadian,” ujar Syifa.

Bab pertama berjudul “Vivienne’s Childhood” yang menggambarkan masa kecil Vivienne dan kerinduannya pada sosok ayah. Aromanya segar dan ringan.

Bab kedua, “Oh My Puberty”, memancarkan wangi manis khas remaja. Lalu, cerita berlanjut ke bab ketiga, “The Ballad of Ants and Woodpecker”, yang merepresentasikan kisah pertemanan dalam aroma yang menyenangkan.
 

Bab keempat, “Prince Charming or Boy Next Door?”, menjadi bab romantis Vivienne, dengan sentuhan aroma maskulin yang menandai ketertarikannya pada seorang pria. Sementara itu, bab lima dan enam dirilis bersamaan dengan tone yang lebih gelap.

Bab lima, “Rose-Alinda”, mengandung aroma bunga mawar yang menggambarkan kekaguman Vivienne pada figur publik idolanya. Sedangkan bab enam, “Insectum”, punya aroma kompleks dan dalam, yang menggambarkan Vivienne sebagai sosok alpha female dalam sebuah hubungan.

Cerita Vivienne tidak hanya menjadi elemen naratif, tetapi juga bagian dari strategi pemasaran TSOV. Syifa menjelaskan bahwa storytelling cocok dengan citra merek mereka. Tak hanya dibagikan lewat media sosial, cerita Vivienne juga dicantumkan di balik kemasan masing-masing parfum, menjadikan tiap bab terasa personal bagi penggunanya.

TSOV juga terus mengeksplorasi cara baru untuk berinteraksi dengan audiens. Menurut Syifa, ada kemungkinan untuk menambahkan twist dalam cerita ke depannya, agar konsumen terus penasaran dan terlibat secara emosional.

Dia juga menyoroti potensi besar industri parfum lokal. Dengan bahan baku berkualitas dan kreativitas yang kuat, TSOV berharap bisa melangkah lebih jauh, tak hanya di Indonesia, tetapi juga di pasar Asia dan internasional.

“Karena memang sebenarnya bibit Indonesia memiliki bibit (parfum) yang bagus. Jadi, sayang aja kalau kita enggak mengeksplorasinya,” tutup Syifa.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

Angkat Warisan Lokal, KaIND Hadirkan Koleksi Kolaborasi di The BFF Festival

BERIKUTNYA

Naskah Buku Baru Pramoedya Ananta Toer Ditemukan di Pasar Loak Senen

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga