Gaduh Merah Putih: One For All, Segini Biaya Ideal & Tahapan Produksi Film Animasi
13 August 2025 |
20:30 WIB
Film animasi Merah Putih: One For All menuai kritik jelang penayangannya besok, 14 Agustus 2025 di bioskop Tanah Air. Selain kualitas animasi yang dinilai masih mentah, biaya dan proses produksi juga yang menjadi sorotan masyarakat dari film animasi ini.
Bicara proses produksi film animasi, CEO Anantarupa Studios Ivan Chen, menerangkan setidaknya butuh waktu sekitar 4-8 tahun. Secara garis besar mirip dengan proses pembuatan film, yaitu pra-produksi, produksi, dan pascaproduksi.
"Saat ini mustahil bisa dikerjakan dalam waktu singkat," ujarnya kepada Hypeabis.id, Rabu (13/4/2025).
Baca juga: Hanung Bramantyo Ungkap Kejanggalan Rilis Film Animasi Merah Putih: One For All
Dia menjelaskan, salah satu tahapan awal pra produksi adalah penulisan naskah. Penulisan naskah ini dimulai dari ide awal hingga siap untuk tahap pra produksi, setidaknya berlangsung 6 bulan hingga 1 tahun.
Berlanjut ke tahapan pra produksi yang biasanya terdiri dari visual consept development, storyboarding, animatic yang bisa memakan waktu setahun. Lalu, di tahun ke tiga baru bisa mulai produksi animasinya.
"Animasi tidak bisa dikerjakan dalam waktu singkat, produksi animasi jika semua siap, setidaknya tiga tahun," tutur Ivan yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Pengembangan Pemanfaatan dan Budidaya, Bidang Kebudayanaan, Kadin
Untuk membuat film animasi, jumlah pekerjanya pun bisa mencapai 400-1.500 orang. Jumlah tersebut tergantung genre, kompleksitas cerita, jumlah karakter, dan kompleksitas scene
Bicara biaya ideal, Ivan menyebut untuk satu film animasi setidaknya butuh anggaran Rp30 miliar hingga Rp150 miliar. Adapun film animasi Merah Putih: One For All yang saat ini viral diperbincangkan, digadang-gadang menelan anggaran Rp6,5 miliar.
"Budget Rp6,5 miliar [mungkin] hanya cukup untuk sampai bikin naskah dan previz (pre-vizuallization)," imbuhnya.
Ivan menilai memang akses pembiayaan masih menjadi tantangan besar bagi industri animasi di Tanah Air. Tak ayal film animasi Merah Putih: One For All menurutnya terbilang masih mentah jika memang diproduksi dalam waktu yang singkat dan anggaran yang sangat terbatas. Kendati demikian, Ivan mengapresiasi animator yang sudah bekerja semaksimalnya dalam pembuatan film ini.
Oleh karena itu, dia berharap agar pemerintah melalui menteri keuangan merealisasikan kebijakan super-tax deduction untuk industri konten. Dengan demikian, generasi muda Indonesia dapat berkarya maksimal dan mengejar ketinggalan.
Ivan menyampaikan, sejatinya talenta animasi Indonesia banyak yang mumpuni, hanya memang kurang investasi. "Karena kenyataannya banyak animator-animator Indonesia bekerja di produksi sekelas Hollywood," sebutnya.
Ivan menegaskan, nilai ekspor migas Indonesia yang US$13 miliar, ternyata hanya setara 1 game yang masuk top 50 global. Bahkan, pendapatan retail Pokemon tahun lalu lebih dari setengah APBN Indonesia.
Jad, dia mempertanyakan kapan Indonesia mulai berinvetasi ke industri konten atau value creation? "Seluruh dunia sudah mulai meninggalkan bisnis ekstratif, bahkan Arab Saudi berinvestasi ratusan triliun untuk membangun industri gamenya dari nol," tutur Ivan.
Untuk diketahui, film animasi Merah Putih: One for All akan dirilis di bioskop mulai 14 Agustus 2025. Dalam sinopsis di laman Cinema21, animasi itu bercerita tentang 8 anak dari berbagai latar belakang budaya bersatu menyelematkan bendera merah putih pusaka yang hilang secara misterius.
Mereka harus mengatasi perbedaan, menembus sungai, hutan, dan badai, bahkan meredam ego, demi satu tujuan mulia, yakni mengibarkan bendera pada Hari Kemerdekaan. Anak-anak itu menunjukkan bahwa perbedaan bukan halangan, tapi kekuatan dengan menunjukkan keberanian, kerja sama, dan cinta terhadap tanah air.
Baca juga: Produser Film Animasi Merah Putih One for All Bantah Dapat Dana dari Pemerintah
Bicara proses produksi film animasi, CEO Anantarupa Studios Ivan Chen, menerangkan setidaknya butuh waktu sekitar 4-8 tahun. Secara garis besar mirip dengan proses pembuatan film, yaitu pra-produksi, produksi, dan pascaproduksi.
"Saat ini mustahil bisa dikerjakan dalam waktu singkat," ujarnya kepada Hypeabis.id, Rabu (13/4/2025).
Baca juga: Hanung Bramantyo Ungkap Kejanggalan Rilis Film Animasi Merah Putih: One For All
Dia menjelaskan, salah satu tahapan awal pra produksi adalah penulisan naskah. Penulisan naskah ini dimulai dari ide awal hingga siap untuk tahap pra produksi, setidaknya berlangsung 6 bulan hingga 1 tahun.
Berlanjut ke tahapan pra produksi yang biasanya terdiri dari visual consept development, storyboarding, animatic yang bisa memakan waktu setahun. Lalu, di tahun ke tiga baru bisa mulai produksi animasinya.
"Animasi tidak bisa dikerjakan dalam waktu singkat, produksi animasi jika semua siap, setidaknya tiga tahun," tutur Ivan yang juga saat ini menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Pengembangan Pemanfaatan dan Budidaya, Bidang Kebudayanaan, Kadin
Untuk membuat film animasi, jumlah pekerjanya pun bisa mencapai 400-1.500 orang. Jumlah tersebut tergantung genre, kompleksitas cerita, jumlah karakter, dan kompleksitas scene
Bicara biaya ideal, Ivan menyebut untuk satu film animasi setidaknya butuh anggaran Rp30 miliar hingga Rp150 miliar. Adapun film animasi Merah Putih: One For All yang saat ini viral diperbincangkan, digadang-gadang menelan anggaran Rp6,5 miliar.
"Budget Rp6,5 miliar [mungkin] hanya cukup untuk sampai bikin naskah dan previz (pre-vizuallization)," imbuhnya.
Ivan menilai memang akses pembiayaan masih menjadi tantangan besar bagi industri animasi di Tanah Air. Tak ayal film animasi Merah Putih: One For All menurutnya terbilang masih mentah jika memang diproduksi dalam waktu yang singkat dan anggaran yang sangat terbatas. Kendati demikian, Ivan mengapresiasi animator yang sudah bekerja semaksimalnya dalam pembuatan film ini.
Oleh karena itu, dia berharap agar pemerintah melalui menteri keuangan merealisasikan kebijakan super-tax deduction untuk industri konten. Dengan demikian, generasi muda Indonesia dapat berkarya maksimal dan mengejar ketinggalan.
Ivan menyampaikan, sejatinya talenta animasi Indonesia banyak yang mumpuni, hanya memang kurang investasi. "Karena kenyataannya banyak animator-animator Indonesia bekerja di produksi sekelas Hollywood," sebutnya.
Ivan menegaskan, nilai ekspor migas Indonesia yang US$13 miliar, ternyata hanya setara 1 game yang masuk top 50 global. Bahkan, pendapatan retail Pokemon tahun lalu lebih dari setengah APBN Indonesia.
Jad, dia mempertanyakan kapan Indonesia mulai berinvetasi ke industri konten atau value creation? "Seluruh dunia sudah mulai meninggalkan bisnis ekstratif, bahkan Arab Saudi berinvestasi ratusan triliun untuk membangun industri gamenya dari nol," tutur Ivan.
Untuk diketahui, film animasi Merah Putih: One for All akan dirilis di bioskop mulai 14 Agustus 2025. Dalam sinopsis di laman Cinema21, animasi itu bercerita tentang 8 anak dari berbagai latar belakang budaya bersatu menyelematkan bendera merah putih pusaka yang hilang secara misterius.
Mereka harus mengatasi perbedaan, menembus sungai, hutan, dan badai, bahkan meredam ego, demi satu tujuan mulia, yakni mengibarkan bendera pada Hari Kemerdekaan. Anak-anak itu menunjukkan bahwa perbedaan bukan halangan, tapi kekuatan dengan menunjukkan keberanian, kerja sama, dan cinta terhadap tanah air.
Baca juga: Produser Film Animasi Merah Putih One for All Bantah Dapat Dana dari Pemerintah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.