Sutradara Hanung Bramantyo (foto: Instagram/Hanungbramantyo)

Hanung Bramantyo Ungkap Kejanggalan Rilis Film Animasi Merah Putih: One For All

11 August 2025   |   14:48 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Sutradara Hanung Bramantyo turut menanggapi kemunculan film animasi Merah Putih: One For All yang belakangan mendapat sorotan tajam dari publik. Sutradara asal Yogyakarta ini mempertanyakan banyak hal terkait produksi hingga distribusi, termasuk mengapa film tersebut mendapat jadwal tayang di bulan Agustus.

Menurut Hanung, saat ini ada ratusan judul film Indonesia yang antre untuk tayang di bioskop. Dia menilai jadwal perilisan film animasi itu terasa janggal di tengah antrean panjang tersebut. Melalui unggahan di Instagram Story, Hanung menyoroti artikel berisi pernyataan produser film yang menyebut tidak mendapat dana dari pemerintah.

Namun, dia menilai perilisan film ini justru terkesan terburu-buru meski kualitasnya belum maksimal. “Terus kenapa harus buru-buru tayang? Ironisnya kok bisa dapat tanggal tayang di tengah 200 judul film Indonesia ngantre tayang?” tulis Hanung, Senin, (11/8/2025).

Baca Juga: Ini Rumah Produksi di Balik Film Animasi Merah Putih: One For All

Dalam unggahan lain di Threads, Hanung Bramantyo turut membahas soal bujet produksi Merah Putih: One For All. Film animasi ini disebut menghabiskan biaya sekitar Rp 6,7 miliar.

Hanung menyebut, dari jumlah tersebut, setelah dipotong pajak 13 persen, dana yang tersisa untuk produksi film hanya menjadi sekitar Rp 6 miliar. Menurutnya, angka itu tetap akan menghasilkan kualitas yang rendah meskipun tanpa ada penyalahgunaan anggaran.

Meski secara awam angka tersebut terkesan besar, sebenarnya untuk skala produksi animasi itu sangat kecil. Di menjelaskan, pembuatan film animasi umumnya membutuhkan biaya minimal Rp 30–40 miliar di luar promosi.

Proses pembuatannya pun tak bisa sebentar. Menurutnya, film animasi setidaknya memakan waktu 4 hingga 5 tahun agar hasilnya sesuai standar.

Dengan bujet Rp6 miliar, kata Hanung, hasil yang bisa dicapai biasanya hanya sampai tahap previs atau storyboard berwarna yang digerakkan sebagai panduan animator. Jika hasil pada tahap ini yang ditayangkan, dia menilai penonton kemungkinan besar akan menolak.

Hanung mengibaratkan kondisi itu seperti membangun rumah yang belum diplester dan lantainya masih berupa cor-coran. Menurutnya, jika yang terjadi demikian, film dengan kondisi seperti ini belum layak untuk dirilis ke publik.

Merah Putih: One for All adalah film animasi bergenre petualangan yang digarap oleh sutradara Endiarto dan Bintang Takari. Produksinya digarap oleh Perfiki Kreasindo.

Cerita film ini mengikuti delapan anak dari sebuah desa yang membentuk kelompok bernama "Tim Merah Putih". Tugas mereka adalah menjaga Bendera Pusaka yang akan dikibarkan pada upacara Hari Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus.

Tiga hari sebelum upacara, bendera tersebut mendadak hilang. Anak-anak yang berasal dari latar belakang suku dan budaya berbeda, seperti Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, hingga keturunan Tionghoa, kemudian bersatu untuk mencarinya.

Dalam pencarian itu, mereka menghadapi berbagai rintangan, mulai dari menyeberangi sungai, melewati hutan, hingga menghadapi badai. Selain itu, mereka juga harus belajar mengatasi perbedaan dan ego masing-masing. Film ini dijadwalkan tayang pada 14 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia.

Baca Juga: Film Animasi Merah Putih: One for All Tuai Kritik, Dibandingkan dengan Kualitas Jumbo

SEBELUMNYA

NASA dan Google Kembangkan AI sebagai Asisten Medis Astronaut di Luar Angkasa

BERIKUTNYA

New Line Siapkan Film Ketujuh Final Destination, Janjikan Plot Lebih Mencekam

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga