Sesi talkshow peluncuran buku Youthquake di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Cerita Proses Kreatif di Balik Buku Youthquake, Angkat Isu & Keresahan Anak Muda

11 August 2025   |   18:36 WIB
Image
Luke Andaresta Jurnalis Hypeabis.id

Elex Media melalui lini penerbit YOI Books berkolaborasi dengan Pear Press menerbitkan Youthquake, sebuah buku fiksi bercorak jurnalistik yang memotret ragam persoalan anak muda masa kini. Mulai dari soal identitas, relasi, hingga tekanan sosial, yang disajikan dengan keberanian, kejujuran, dan sentuhan interaktif yang memantik aksi. 
 
Youthquake ditulis oleh Dyana Savina Hutadjulu dan Ratri Maria. Dyana Savina Hutadjulu atau Vina merupakan aktivis yang telah bekerja di ranah isu anak muda, kesetaraan gender, dan inklusi sosial di ragam organisasi selama 15 tahun. 

Baca juga: Buku Youthquake Hadir Jadi Navigasi Bagi Anak Muda Bertumbuh
 
Sementara Ratri Maria adalah seorang diaspora Indonesia yang telah menghabiskan lebih dari 15 tahun bekerja di bidang iklim, inklusi keuangan/gender, dan AI (data science).
 
Buku Youthquake terinspirasi dari pengalaman Vina dan Ratri yang memang selama ini memiliki ketertarikan terhadap isu-isu anak muda. Mereka juga memiliki keresahan tentang minimnya referensi anak muda dalam menghadapi gejolak-gejolak dalam hidupnya di berbagai sisi mulai dari soal identitas, karier hingga masalah keuangan.
 

Sesi talkshow peluncuran buku Youthquake di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Acara peluncuran buku Youthquake di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Ratri mengatakan buku Youthquake terinspirasi dari pengalaman kehidupan pribadinya ketika menginjak usia 20-an yang terasa bergejolak dan tak jarang merasa seperti hilang arah. Ketika di posisi itu, dia pun merasakan banyak tekanan dan pertanyaan, sekaligus bingung untuk mencari jalan keluarnya.
 
Berangkat dari pengalaman itu, dia mencoba untuk berbagi tips atau trik khususnya untuk anak muda ketika sedang merasakan kondisi yang sama lewat buku Youthquake, yang mulai digarap sejak 2015. Judul Youthquake sendiri diambil sebagaimana isi bukunya, yakni membicarakan guncangan-guncangan layaknya 'gempa' yang dirasakan anak muda, sekaligus mencoba mencari navigasinya.
 
"Jangan sampai anak-anak muda ngalamin semua itu sendiri, merasa sendirian. Harapannya buku ini menjadi pendamping untuk tahu bahwa mereka enggak sendiri, dan ada caranya menavigasi isu-isu itu," katanya dalam acara peluncuran di Jakarta, Minggu (10/8/2025).
 
Lantaran berbicara soal anak muda, Vina dan Ratri pun melibatkan anak-anak muda langsung dalam penggarapan buku Youthquake. Mereka dihubungkan dengan sejumlah anak muda dari 10 provinsi di Indonesia, melalui kerja sama dengan dua organisasi anak muda yakni Yayasan Kesehatan Perempuan dan Perkumpulan Pamflet Generasi.
 

Sesi talkshow peluncuran buku Youthquake di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Sesi talkshow peluncuran buku Youthquake di Gramedia Jalma, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2025). Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta.

Vina mengatakan anak-anak muda yang terlibat adalah mereka yang telah terbiasa untuk menyuarakan isu-isu sosial di generasi mereka. Proses riset dan diskusi melalui FGD pun dilakukan tidak secara konvensional, melainkan secara daring dengan bantuan teknologi dan human-centered designer. Setelah itu, dilakukan analisa dan pematangan materi bersama tim editor.
 
Berdasarkan pengalaman riset dan diskusi, Vina menemukan bahwa hampir semua anak muda tersebut setidaknya pernah mengalami satu kali kekerasan seksual dengan berbagai bentuk. Ironisnya, tak sedikit dari mereka yang menormalisasi dan menganggap bahwa itu merupakan hal biasa.
 
"Tapi itu tidak biasa, karena dari normalisasi yang kecil itu bisa jadi kekerasan dengan dampak yang lebih besar. Jadi kita membantu lewat buku ini sebagai teman bicara teman memvalidasi pengalaman yang mereka miliki ketika mereka bingung," ucapnya.
 
Vina menuturkan anak-anak muda tersebut juga cenderung tidak terpapar informasi dan tidak memiliki pendampingan, di samping memiliki isu-isu sosial yang berat. Lewat buku ini, dia dan Ratri pun ingin menumbuhkan empati di kalangan pembaca khususnya terhadap mereka yang rentan, sehingga apapun masalah dan tantangannya, anak-anak muda tetap bisa merasa berdaya untuk bangkit dan tumbuh dengan versi terbaik diri mereka masing-masing.
 
"Jadi kita mau buku ini buat orang tuh baca dan langsung berempati. Karena anak muda-anak muda ini tidak punya siapa-siapa lain lagi selain orang yang hadir untuk mereka dan kita ingin memprofilkan anak-anak muda yang sudah bisa jadi agents of change di sepuluh provinsi di buku ini," imbuhnya.
 
Ratri menambahkan selain diangkat dari hasil riset mereka, isu-isu sosial anak muda yang hadir di buku Youthquake juga berangkat dari pengalaman personal dirinya dan Vina. Salah satunya terkait kesehatan mental, isu yang menurutnya dari dulu hingga sekarang masih sangat relevan untuk diperbincangkan.
 
Menurutnya, usia muda menjadi fase dimana seseorang kerap merasa stres, merasa bingung menavigasi kehidupan identitas dan kemauannya, hingga merasa mendapatkan pemahaman dari luar yang tidak sejalan dengan keyakinan diri sendiri.
 
Ratri pun berharap buku Youthquake bisa dibaca tak hanya oleh anak muda, tetapi juga mereka yang berinteraksi dengan anak muda seperti orang tua, agar bisa memahami sekaligus menumbuhkan empati terhadap keresahan atau minat yang sedang dialami anak muda masa kini.
 
"Dengan kemasan cerita yang autentik, bahasa yang mengalir, dan ruang interaktif yang mengajak pembaca ikut berproses, Youthquake diharapkan menjadi bacaan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menggerakkan. Buku ini adalah cara untuk mengajak anak muda menyadari bahwa mereka punya peran besar," ucap Ratri.
 

Buku Youthquake. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)

Buku Youthquake. (Sumber gambar: Hypeabis.id/Luke Andaresta)
 

Youthquake adalah buku setebal 200 halaman yang berisi kumpulan cerita nyata tentang keresahan, pertanyaan, tekanan, dan perjuangan dari sejumlah anak muda dengan berbagai latar belakang. Diceritakan oleh mereka yang menjalaninya, buku ini menawarkan ruang dialog bagi pembaca yang sedang bingung, lelah, atau berjuang mengenal siapa mereka sebenarnya.
 
Di dalamnya, pembaca akan menemukan potongan-potongan cerita dan berbagai pengalaman, mulai dari yang mempertanyakan standar, berdamai dengan trauma, keberanian mencintai diri sendiri meski berbeda, hingga tentang suara yang tak mau lagi dibungkam. 
 
Berbeda dari buku motivasi yang penuh kalimat manis, Youthquake mengajak pembaca memasuki ruang refleksi dan perlawanan melalui kumpulan kisah nyata yang lahir dari keresahan, pertanyaan, dan perjuangan. Mengajak pembaca untuk merayakan kekacauan masa muda, sekaligus membangun keberanian untuk memilih jalan sendiri dengan kepala tegak dan hati yang jujur.
 
Setiap bab dalam Youthquake juga berisi worksheet, mengundang pembaca untuk ikut terlibat mengisi halaman-halaman latihan reflektif, menggarisbawahi hal-hal yang penting bagi dirinya, dan merancang langkah nyata yang bisa dilakukan setelah membaca. Pendekatan ini membuat Youthquake tak hanya menjadi bacaan, melainkan juga pengalaman yang menghidupkan kembali rasa percaya diri dan solidaritas di kalangan muda.
 
Adapun, buku Youthquake tersedia di toko buku Gramedia seluruh Indonesia, marketplace resmi, maupun platform digital.

Baca juga: Menyusuri Perjalanan Sastra di Media Massa dalam Pameran Ruang Sastra Bicara

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News

SEBELUMNYA

7 Trik Dekorasi Menyulap Rumah Jadi Tampak Mewah & Elegan

BERIKUTNYA

Joyland Festival 2025 Batal Digelar, Begini Cara Refund Tiketnya

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga