Astronot di luar angkasa. (Sumber: NASA)

NASA dan Google Kembangkan AI sebagai Asisten Medis Astronaut di Luar Angkasa

11 August 2025   |   15:30 WIB
Image
Luh Muni Wiraswari Mahasiswa Universitas Padjadjaran

Saat menonton film The Martian, Genhype akan menyaksikan bagaimana Matt Damon, seorang astronot yang sedang melakukan perjalanan di luar angkasa, mengoperasi dirinya sendiri untuk mengeluarkan benda asing dari tubuhnya. Matt Damon melakukan operasi darurat tanpa pendampingan tenaga medis di sampingnya. 

Namun, bagaimana jika astronot di dunia nyata terluka atau sakit saat menjalankan misi?

Baca juga: NASA Bakal Hadirkan Tayangan Live Aktivitas Luar Angkasa Bareng Netflix

National Aeronautics and Space Administration (NASA) memiliki tim medis yang terdiri dari dokter, psikolog, hingga ahli bedah penerbangan yang akan membantu para astronot sebelum, selama, juga setelah melaksanakan misi luar angkasa. 

Selain itu, menurut situs resmi NASA, para astronot juga biasanya diberikan pelatihan kedokteran luar angkasa dari ahli bedah penerbangan. Namun, biasanya tim medis ini hanya mengawasi dan memberi panduan medis bagi para awak pesawat luar angkasa dari bumi, jarang dari mereka yang ikut pergi ke luar angkasa.

Maka dari itu, seiring berkembangnya perjalanan luar angkasa dengan waktu yang lebih lama dan jarak tempuh yang lebih jauh, NASA secara bertahap mengembangkan teknologi agar perawatan medis di luar angkasa bisa lebih efisien dan mandiri. 

Saat ini, NASA tengah melakukan eksperimen awal dengan konsep asisten medis AI. Teknologi ini dikembangkan bersama Google dengan sebutan Crew Medical Officer Digital Assistant (CMO-DA) yang berada dalam environment Vertex AI Google Cloud.

CMO-DA dirancang untuk membantu para astronot mendiagnosis dan mengobati gejala ketika tidak ada dokter yang tersedia atau komunikasi ke Bumi terputus. Alat ini mencakup ucapan, teks, hingga gambar. 

Menurut keterangan David Cruley, teknisi di Unit Bisnis Google Public Sector, proyek ini beroperasi di bawah perjanjian berlangganan Google Public Sector subscription dan biayanya telah mencakup layanan cloud, infrastruktur pengembangan aplikasi, dan pelatihan model AI.

NASA memiliki kode sumber aplikasi dan telah membantu menyempurnakan model AI. Platform Google Vertex AI menyediakan akses ke model dari Google dan pihak ketiga.

CMO-DA pun telah diuji dalam 3 skenario medis, yakni kondisi cedera pergelangan kaki, nyeri panggul, dan sakit telinga. Penilaian kinerja AI ini dilakukan oleh tiga dokter, yang salah satunya adalah astronot. Mereka menilai dari evaluasi awal, riwayat, penalaran secara klinis, hingga perawatan.

Ketiganya menemukan tingkat akurasi diagnostik yang tinggi. Mereka menilai bahwa evaluasi nyeri pinggang dan rencana akurasi memiliki skor akurasi sebesar 74%. Sementara nyeri telinga dan cedera pergelangan kaki memiliki skor sebesar 80?n 88%.

Proses ini dilakukan secara bertahap. Selanjutnya, para ilmuwan NASA ingin mengembangkan kemampuan kecerdasan buatan ini dengan menambahkan lebih banyak sumber data. Misalnya, menambahkan data perangkat medis, hingga melatih CMO-DA agar menjadi situationally aware mengenai kondisi khusus luar angkasa.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Reality Club Umumkan Daftar Lagu Album Ke-4, Siap Rilis Akhir Agustus

BERIKUTNYA

Hanung Bramantyo Ungkap Kejanggalan Rilis Film Animasi Merah Putih: One For All

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga: