Waspada Minta Saran ChatGPT, Pria Ini Alami Halusinasi
10 August 2025 |
20:30 WIB
ChatGPT dianggap sebagai penyedia informasi, sarana percakapan, dan pemberi saran yang cepat serta responsif. Namun, selaiknya Genhype jangan mudah percaya terhadap perkataan dari model bahasa kecerdasan buatan yang dikembangkan OpenAI ini, termasuk ketika ingin hidup sehat dengan mengubah pola makan.
Laporan terbaru dari jurnal Annals of Internal Medicine Clinical Cases yang terbit pada 5 Augustus 2025, mengungkapkan seorang pria paruh baya mengalami gejala kejiwaan usai berkonsultasi dengan ChatGPT sebelum mengubah pola makannya. Tiga bulan konsisten menjalani perubahan pola makan tersebut, dia akhirnya dirawat di unit gawat darurat dengan gejala paranoia dan halusinasi.
Baca juga: Hypeprofil Creative Advisor Motulz Anto: Kecerdasan Buatan itu Alat, Bukan Pengganti Manusia
Ternyata, pria berusia 60 tahun itu menderita bromisme, suatu sindrom yang disebabkan oleh paparan kronis yang berlebihan terhadap senyawa kimia bromida atau senyawa sejenisnya, bromin. Dalam kasus ini, pria tersebut telah mengonsumsi natrium bromida yang dibelinya secara daring.
Awalnya, pasien membaca tentang dampak negatif kesehatan akibat mengonsumsi terlalu banyak garam dapur, yang juga disebut natrium klorida. Terinspirasi oleh riwayat studi nutrisinya di perguruan tinggi, pria tersebut memutuskan untuk melakukan eksperimen pribadi untuk menghilangkan klorida dari pola makannya.
Pasien berkonsultasi dengan ChatGPT, baik model ChatGPT 3.5 atau 4.0. Penulis laporan tidak mendapatkan akses ke log percakapan pasien, sehingga susunan kata yang dihasilkan oleh model bahasa besar (LLM) tidak diketahui.
Kendati demikian, pria tersebut melaporkan bahwa ChatGPT menyatakan klorida dapat ditukar dengan bromida. Pasien lantas mengganti semua natrium klorida dalam makanannya dengan natrium bromida.
Setelah tiga bulan mengonsumsi natrium bromida, alih-alih garam dapur, pria tersebut akhirnya datang ke unit gawat darurat. Hasil laboratoriumnya saat itu menunjukkan penumpukan karbon dioksida dalam darahnya, serta peningkatan alkalinitas (kebalikan dari keasaman).
Pasien juga memiliki kadar klorida yang tinggi dalam darahnya, tetapi kadar natriumnya normal. Setelah diselidiki lebih lanjut, dokter mendapati kasus pseudohiperkloremia, yang berarti tes laboratorium untuk klorida memberikan hasil yang salah karena senyawa lain dalam darah, yaitu bromida dalam jumlah besar, mengganggu pengukuran.
Setelah berkonsultasi dengan literatur medis dan Pusat Pengendalian Racun, dokter pria tersebut mendiagnosis bromisme. Setelah dirawat untuk pemantauan elektrolit dan pemulihan, pria tersebut mengatakan sangat haus tetapi paranoid terhadap air yang ditawarkan.
Setelah seharian penuh di rumah sakit, paranoianya semakin parah dan dia mulai mengalami halusinasi. Pasien kemudian mencoba melarikan diri dari rumah sakit sehingga petugas medis menahannya di ruang psikiatrik. Selama penahanan, pasien mulai menerima antipsikotik.
Kondisi vital pria tersebut stabil setelah diberikan cairan dan elektrolit, dan seiring membaiknya kondisi mentalnya setelah mengonsumsi antipsikotik. Pasien pun memberi tahu dokter tentang penggunaan ChatGPT.
Pria itu juga mencatat gejala-gejala tambahan yang baru disadari, seperti jerawat di wajah dan benjolan merah kecil di kulitnya, yang mungkin merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap bromida. "Pasien juga melaporkan insomnia, kelelahan, masalah koordinasi otot, dan rasa haus yang berlebihan, yang semakin menunjukkan bromisme," tulis dokternya, seperti dikutip dari Live Science, Minggu (10/8/2025).
Baca juga: Segera! Pemerintah Bakal Terbitkan UU Kecerdasan Buatan yang Atur Etika & Hak Cipta
Dokter yang menangani kasus ini lantas melakukan simulasi dengan mencoba bertanya kepada ChatGPT 3.5 tentang klorida apa yang bisa diganti. Dia mendapat respons yang serupa, yakni ChatGPT menyertakan bromida. Sayangnya, LLM itu tidak memberikan peringatan kesehatan spesifik atau mencari konteks lebih lanjut tentang mengapa pertanyaan itu diajukan.
Juru bicara OpenAI, pengembang ChatGPT saat dikonfirmasi mengenai kasus ini, menyatakan bahwa layanannya tidak ditujukan untuk diagnosis atau pengobatan kondisi kesehatan apa pun. "Anda tidak boleh mengandalkan keluaran dari layanan kami sebagai satu-satunya sumber kebenaran atau informasi faktual, atau sebagai pengganti nasihat profesional," sebut juru bicara tersebut.
Laporan terbaru dari jurnal Annals of Internal Medicine Clinical Cases yang terbit pada 5 Augustus 2025, mengungkapkan seorang pria paruh baya mengalami gejala kejiwaan usai berkonsultasi dengan ChatGPT sebelum mengubah pola makannya. Tiga bulan konsisten menjalani perubahan pola makan tersebut, dia akhirnya dirawat di unit gawat darurat dengan gejala paranoia dan halusinasi.
Baca juga: Hypeprofil Creative Advisor Motulz Anto: Kecerdasan Buatan itu Alat, Bukan Pengganti Manusia
Ternyata, pria berusia 60 tahun itu menderita bromisme, suatu sindrom yang disebabkan oleh paparan kronis yang berlebihan terhadap senyawa kimia bromida atau senyawa sejenisnya, bromin. Dalam kasus ini, pria tersebut telah mengonsumsi natrium bromida yang dibelinya secara daring.
Awalnya, pasien membaca tentang dampak negatif kesehatan akibat mengonsumsi terlalu banyak garam dapur, yang juga disebut natrium klorida. Terinspirasi oleh riwayat studi nutrisinya di perguruan tinggi, pria tersebut memutuskan untuk melakukan eksperimen pribadi untuk menghilangkan klorida dari pola makannya.
Pasien berkonsultasi dengan ChatGPT, baik model ChatGPT 3.5 atau 4.0. Penulis laporan tidak mendapatkan akses ke log percakapan pasien, sehingga susunan kata yang dihasilkan oleh model bahasa besar (LLM) tidak diketahui.
Kendati demikian, pria tersebut melaporkan bahwa ChatGPT menyatakan klorida dapat ditukar dengan bromida. Pasien lantas mengganti semua natrium klorida dalam makanannya dengan natrium bromida.
Setelah tiga bulan mengonsumsi natrium bromida, alih-alih garam dapur, pria tersebut akhirnya datang ke unit gawat darurat. Hasil laboratoriumnya saat itu menunjukkan penumpukan karbon dioksida dalam darahnya, serta peningkatan alkalinitas (kebalikan dari keasaman).
Pasien juga memiliki kadar klorida yang tinggi dalam darahnya, tetapi kadar natriumnya normal. Setelah diselidiki lebih lanjut, dokter mendapati kasus pseudohiperkloremia, yang berarti tes laboratorium untuk klorida memberikan hasil yang salah karena senyawa lain dalam darah, yaitu bromida dalam jumlah besar, mengganggu pengukuran.
Setelah berkonsultasi dengan literatur medis dan Pusat Pengendalian Racun, dokter pria tersebut mendiagnosis bromisme. Setelah dirawat untuk pemantauan elektrolit dan pemulihan, pria tersebut mengatakan sangat haus tetapi paranoid terhadap air yang ditawarkan.
Setelah seharian penuh di rumah sakit, paranoianya semakin parah dan dia mulai mengalami halusinasi. Pasien kemudian mencoba melarikan diri dari rumah sakit sehingga petugas medis menahannya di ruang psikiatrik. Selama penahanan, pasien mulai menerima antipsikotik.
Kondisi vital pria tersebut stabil setelah diberikan cairan dan elektrolit, dan seiring membaiknya kondisi mentalnya setelah mengonsumsi antipsikotik. Pasien pun memberi tahu dokter tentang penggunaan ChatGPT.
Pria itu juga mencatat gejala-gejala tambahan yang baru disadari, seperti jerawat di wajah dan benjolan merah kecil di kulitnya, yang mungkin merupakan reaksi hipersensitivitas terhadap bromida. "Pasien juga melaporkan insomnia, kelelahan, masalah koordinasi otot, dan rasa haus yang berlebihan, yang semakin menunjukkan bromisme," tulis dokternya, seperti dikutip dari Live Science, Minggu (10/8/2025).
Baca juga: Segera! Pemerintah Bakal Terbitkan UU Kecerdasan Buatan yang Atur Etika & Hak Cipta
Dokter yang menangani kasus ini lantas melakukan simulasi dengan mencoba bertanya kepada ChatGPT 3.5 tentang klorida apa yang bisa diganti. Dia mendapat respons yang serupa, yakni ChatGPT menyertakan bromida. Sayangnya, LLM itu tidak memberikan peringatan kesehatan spesifik atau mencari konteks lebih lanjut tentang mengapa pertanyaan itu diajukan.
Juru bicara OpenAI, pengembang ChatGPT saat dikonfirmasi mengenai kasus ini, menyatakan bahwa layanannya tidak ditujukan untuk diagnosis atau pengobatan kondisi kesehatan apa pun. "Anda tidak boleh mengandalkan keluaran dari layanan kami sebagai satu-satunya sumber kebenaran atau informasi faktual, atau sebagai pengganti nasihat profesional," sebut juru bicara tersebut.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.