Potensi Besar Kosmetik Halal Indonesia di Pasar Global, Ekspor Capai US$486 Juta
09 August 2025 |
13:59 WIB
Di tengah tren kecantikan global yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain yang diperhitungkan di pasar kosmetik dan kecantikan dunia, terutama untuk produk berbahan alami dan segmen halal.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk kosmetik Indonesia mencapai US$486,38 juta pada 2024, menempatkan Indonesia sebagai eksportir kosmetik ke-38 dunia.
Angka ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total proyeksi nilai pasar kosmetik global yang diperkirakan melonjak dari US$75,65 miliar menjadi US$114,69 miliar pada 2025, dengan proyeksi pertumbuhan CAGR sebesar 3,96% per tahun sepanjang 2025 hingga 2030. Artinya, kontribusi Indonesia belum menyentuh satu persen dari keseluruhan permintaan global.
Baca Juga: Mengenal Perbedaan Produk Kosmetik Bibir, dari Lip Tint sampai Lip Gloss
Deden Muhammad FS Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag mengatakan, dengan masih minimnya proporsi market share Indonesia di pasar global justru menjadi peluang yang harus digarap oleh para pelaku industri kosmetik dan kecantikan di Indonesia.
“Indonesia memiliki potensi besar karena kita tidak hanya kaya akan bahan baku alami, tapi juga memiliki kekuatan di segmen kosmetik halal. Yang dibutuhkan sekarang adalah memperkuat standardisasi, riset, dan dukungan ekspor agar produk lokal bisa bersaing di pasar global,” ujarnya di sela acara Indobeauty Expo 2025.
Selain itu, dengan mengikuti berbagai pameran internasional baik di dalam maupun luar negeri yang mempertemukan pelaku usaha dengan para buyer dari luar negeri juga bisa menjadi upaya dalam memperluas pasar ekspor.
Hingga saat ini, pasar ekspor kosmetik dan kecantikan dari produsen Indonesia sebagian besar masih menyasar pasar Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, termasuk ke pasar Timur Tengah seperti Uni Emirates Arab (UEA) mengingat produk kosmetik Indonesia sudah tersertifikasi halal.
Namun, Kemendag juga mendorong pelaku usaha untuk mengincar pasar non-tradisional yang dinilai cukup menjanjikan seperti Asia Selatan, Afrika, Rusia, hingga Amerika Latin. Selain itu, pihaknya juga menghadirkan program BISA (Berani Inovasi, Siap Adaptasi) untuk memperkuat UMKM agar lebih siap memasuki pasar global.
Meskipun mengincar pasar luar negeri, tetapi Kementerian Perdagangan juga menekankan pentingnya pengamanan pasar dalam negeri sebagai pilar utama. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia tentu saja menjadi pasar yang potensial dan juga sangat rentan dari serbuan produk kecantikan asal luar negeri seperti China, Korea, dan Thailand.
“Kita tidak bisa membiarkan pasar domestik dikuasai oleh produk luar. Oleh karena itu, kami bekerja sama lintas kementerian dan lembaga untuk menerapkan perlindungan, termasuk hambatan non-tarif, persyaratan teknis, hingga mendorong penggunaan produk dalam negeri,” ujarnya.
Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Indonesia Solihin Sofian menyatakan, salah satu strategi untuk membedakan produk Indonesia dari persaingan global adalah dengan mengusung identitas yang kuat yaitu kosmetik halal dan tematik.
Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, maka kosmetika halal menjadi peluang strategis. Menurutnya, kosmetik halal itu lebih dari sekadar label agama, tetapi telah dianggap sebagai produk yang sehat dan ramah lingkungan di pasar internasional.
Sementara itu, keunggulan tematik yang dimaksud adalah dengan memanfaatkan kekayaan biobotanical yang ada dimana saat ini Indonesia merupakan negara dengan kekayaan biobotanical nomor dua di dunia sehingga keunggulan tersebut harus dimaksimalkan.
“Mengapa tidak menjadikannya fondasi utama [produk halal dan tematik/alami] untuk produk kosmetik kita?” ujarnya.
Dengan pendekatan ini, Indonesia diharapkan bisa naik kelas sebagai pemain utama kosmetik halal dunia yang mana saat ini Indonesia telah berada di peringkat ke-3 secara global untuk industri kosmetik halal, naik dari posisi sebelumnya yang ada di peringkat ke-5.
“Saya optimis Indonesia bisa menjadi ikon kosmetika halal dunia, apalagi didukung generasi muda yang sangat kreatif dan ekosistem industri yang mulai terbentuk dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Memang diakui olehnya salah satu tantangan terbesar industri kosmetik nasional adalah belum terbangunnya ekosistem yang terintegrasi. “Kita sering bicara produk, tapi lupa bicara ekosistem,” ujar pelaku industri.
Ekosistem ini mencakup rantai pasok bahan baku lokal, riset dan pengembangan (R&D), SDM terlatih, hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN.
Dengan membangun ekosistem ini secara serius, biaya logistik bisa ditekan, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) meningkat, dan industri menjadi lebih mandiri. “Saat ini, kami juga berupaya menyiapkan lulusan perguruan tinggi agar langsung siap masuk industri kosmetik, bukan sekadar sarjana,” lanjutnya.
Meskipun persaingan global semakin ketat, pemerintah dan pelaku industri sepakat bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kosmetik halal dunia. Dukungan dari berbagai pihak, baik kementerian, asosiasi, hingga lembaga pendidikan, menjadi kunci agar industri kosmetik tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dan mendunia.
Hadirnya pameran Indo Beauty Expo 2025 bisa menjadi etalase produk kosmetik dan kecantikan Indonesia yang tematik, halal, dan berakar pada kekayaan alam serta budaya bangsa.
CEO Krista Exhibition Daud D Salim mengatakan bahwa pameran ini diikuti lebih dari 120 peserta yang mewakili lebih dari 250 merek ternama di industri kosmetik, perawatan diri, dan inovasi kecantikan. Tahun ini, partisipasi datang dari lebih dari sembilan negara, di antaranya Uni Emirat Arab, Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jepang, dan Tiongkok.
“IndoBeauty Expo 2025 menjadi peluang emas untuk menunjukkan potensi, memperluas jaringan bisnis, serta menjajaki kolaborasi strategis dengan pasar global,” tuturnya.
Baca Juga: Cara Pakai Lipstik Matte Tanpa Membuat Bibir Kering dan Pecah-pecah
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor produk kosmetik Indonesia mencapai US$486,38 juta pada 2024, menempatkan Indonesia sebagai eksportir kosmetik ke-38 dunia.
Angka ini masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total proyeksi nilai pasar kosmetik global yang diperkirakan melonjak dari US$75,65 miliar menjadi US$114,69 miliar pada 2025, dengan proyeksi pertumbuhan CAGR sebesar 3,96% per tahun sepanjang 2025 hingga 2030. Artinya, kontribusi Indonesia belum menyentuh satu persen dari keseluruhan permintaan global.
Baca Juga: Mengenal Perbedaan Produk Kosmetik Bibir, dari Lip Tint sampai Lip Gloss
Deden Muhammad FS Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag mengatakan, dengan masih minimnya proporsi market share Indonesia di pasar global justru menjadi peluang yang harus digarap oleh para pelaku industri kosmetik dan kecantikan di Indonesia.
“Indonesia memiliki potensi besar karena kita tidak hanya kaya akan bahan baku alami, tapi juga memiliki kekuatan di segmen kosmetik halal. Yang dibutuhkan sekarang adalah memperkuat standardisasi, riset, dan dukungan ekspor agar produk lokal bisa bersaing di pasar global,” ujarnya di sela acara Indobeauty Expo 2025.
Selain itu, dengan mengikuti berbagai pameran internasional baik di dalam maupun luar negeri yang mempertemukan pelaku usaha dengan para buyer dari luar negeri juga bisa menjadi upaya dalam memperluas pasar ekspor.
Hingga saat ini, pasar ekspor kosmetik dan kecantikan dari produsen Indonesia sebagian besar masih menyasar pasar Asia Tenggara seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, termasuk ke pasar Timur Tengah seperti Uni Emirates Arab (UEA) mengingat produk kosmetik Indonesia sudah tersertifikasi halal.
Namun, Kemendag juga mendorong pelaku usaha untuk mengincar pasar non-tradisional yang dinilai cukup menjanjikan seperti Asia Selatan, Afrika, Rusia, hingga Amerika Latin. Selain itu, pihaknya juga menghadirkan program BISA (Berani Inovasi, Siap Adaptasi) untuk memperkuat UMKM agar lebih siap memasuki pasar global.
Meskipun mengincar pasar luar negeri, tetapi Kementerian Perdagangan juga menekankan pentingnya pengamanan pasar dalam negeri sebagai pilar utama. Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 280 juta jiwa, Indonesia tentu saja menjadi pasar yang potensial dan juga sangat rentan dari serbuan produk kecantikan asal luar negeri seperti China, Korea, dan Thailand.
“Kita tidak bisa membiarkan pasar domestik dikuasai oleh produk luar. Oleh karena itu, kami bekerja sama lintas kementerian dan lembaga untuk menerapkan perlindungan, termasuk hambatan non-tarif, persyaratan teknis, hingga mendorong penggunaan produk dalam negeri,” ujarnya.
Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Indonesia Solihin Sofian menyatakan, salah satu strategi untuk membedakan produk Indonesia dari persaingan global adalah dengan mengusung identitas yang kuat yaitu kosmetik halal dan tematik.
Mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim, maka kosmetika halal menjadi peluang strategis. Menurutnya, kosmetik halal itu lebih dari sekadar label agama, tetapi telah dianggap sebagai produk yang sehat dan ramah lingkungan di pasar internasional.
Sementara itu, keunggulan tematik yang dimaksud adalah dengan memanfaatkan kekayaan biobotanical yang ada dimana saat ini Indonesia merupakan negara dengan kekayaan biobotanical nomor dua di dunia sehingga keunggulan tersebut harus dimaksimalkan.
“Mengapa tidak menjadikannya fondasi utama [produk halal dan tematik/alami] untuk produk kosmetik kita?” ujarnya.
Dengan pendekatan ini, Indonesia diharapkan bisa naik kelas sebagai pemain utama kosmetik halal dunia yang mana saat ini Indonesia telah berada di peringkat ke-3 secara global untuk industri kosmetik halal, naik dari posisi sebelumnya yang ada di peringkat ke-5.
“Saya optimis Indonesia bisa menjadi ikon kosmetika halal dunia, apalagi didukung generasi muda yang sangat kreatif dan ekosistem industri yang mulai terbentuk dari hulu ke hilir,” tegasnya.
Memang diakui olehnya salah satu tantangan terbesar industri kosmetik nasional adalah belum terbangunnya ekosistem yang terintegrasi. “Kita sering bicara produk, tapi lupa bicara ekosistem,” ujar pelaku industri.
Ekosistem ini mencakup rantai pasok bahan baku lokal, riset dan pengembangan (R&D), SDM terlatih, hingga kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset seperti BRIN.
Dengan membangun ekosistem ini secara serius, biaya logistik bisa ditekan, Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) meningkat, dan industri menjadi lebih mandiri. “Saat ini, kami juga berupaya menyiapkan lulusan perguruan tinggi agar langsung siap masuk industri kosmetik, bukan sekadar sarjana,” lanjutnya.
Meskipun persaingan global semakin ketat, pemerintah dan pelaku industri sepakat bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi ikon kosmetik halal dunia. Dukungan dari berbagai pihak, baik kementerian, asosiasi, hingga lembaga pendidikan, menjadi kunci agar industri kosmetik tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh dan mendunia.
Hadirnya pameran Indo Beauty Expo 2025 bisa menjadi etalase produk kosmetik dan kecantikan Indonesia yang tematik, halal, dan berakar pada kekayaan alam serta budaya bangsa.
CEO Krista Exhibition Daud D Salim mengatakan bahwa pameran ini diikuti lebih dari 120 peserta yang mewakili lebih dari 250 merek ternama di industri kosmetik, perawatan diri, dan inovasi kecantikan. Tahun ini, partisipasi datang dari lebih dari sembilan negara, di antaranya Uni Emirat Arab, Indonesia, Korea Selatan, Thailand, Hong Kong, Malaysia, Taiwan, Jepang, dan Tiongkok.
“IndoBeauty Expo 2025 menjadi peluang emas untuk menunjukkan potensi, memperluas jaringan bisnis, serta menjajaki kolaborasi strategis dengan pasar global,” tuturnya.
Baca Juga: Cara Pakai Lipstik Matte Tanpa Membuat Bibir Kering dan Pecah-pecah
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.