Plunge, Lakon Teater Tentang Perempuan yang Menolak Dilupakan
06 August 2025 |
15:55 WIB
Kaum perempuan kerap menjadi kelompok yang paling terdampak oleh krisis sosial, ekonomi, maupun konflik negara. Sebab, selain menjadi minoritas di negara patriarkal, mereka acapkali juga menjadi korban pelecehan, baik verbal maupun seksual.
Situasi inilah yang coba diungkai dengan ciamik oleh Teater Tetas saat mementaskan lakon Plunge, dalam pembukaan Djakarta International Theater Platform (DITP) di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Selasa, 5 Juli 2025.
Intro berita yang menggambarkan situasi kawasan Asia Tenggara bergema dari atas panggung Graha Bhakti Budaya. Seorang news anchor dari Singapura dengan blazer hijau tampak fokus menatap kamera sembari menyiarkan kondisi ekonomi yang anjlok di Indonesia.
Rautnya yang semringah disiarkan secara langsung lewat layar di belakang panggung. Tiga sosok laki-laki mendengarkan siaran tersebut sambil sesekali mengomentari sang pewarta. Mereka tampak seperti netizen pada era kiwari.
Baca juga: Teater Koma akan Gelar Pertunjukan Mencari Semar 13-17 Agustus 2025
Tak menunggu lama, adegan berpindah ke sudut lain. Sorot lampu mengarah pada perempuan di Jakarta, yang mengutarakan pikirannya dengan cergas. Akan tetapi, keluarganya tak memberinya keleluasaan untuk turun aksi menyikapi situasi politik yang memanas.
Di tengah gemuruh politik dan ekonomi yang mengguncang Asia pada 1998, dua perempuan tersebut seolah menjadi saksi sekaligus korban dari krisis yang tak hanya menghancurkan angka-angka bursa di layar televisi, tetapi juga kebebasan menyampaikan pendapat.
Plunge, naskah karya Jean Tay (Singapura) yang diadaptasi oleh Teater Tetas, membawa penonton menyelami dunia Isabel dan Ina- dua tokoh perempuan beretnis Tionghoa-yang hidup dalam gejolak krisis moneter dan kerusuhan sosial, meski tempat mereka terpisah.
Disusun laiknya fragmen adegan, penonton diajak menyelami hal-hal yang jarang diungkap media. Tentang empati, kebebasan berekspresi, dan bagaimana fakta-fakta kerap dibelokkan menjadi narasi yang selalu memojokkan kalangan akar rumput.
Berlangsung sekira 60 menit, pertunjukan ini seolah menjadi tafsir atas Krisis Moneter Asia 1997–1998, yang mana perempuan kerap menjadi yang paling terdampak dalam setiap peristiwa besar, meski jarang diberi tempat utama dalam buku-buku sejarah.
Dalam versi panggung Teater Tetas, naskah yang ditulis oleh Jean Tay pada 2007 ini mendapat napas baru dengan pendekatan yang intim, meski sesekali muncul distraksi antar satu adegan dengan adegan lain melalui dialog antar pemain.
Jean Tay, lewat terjemahan oleh Muhammad Abe, merangkai realitas domestik dan geopolitik dalam satu panggung kecil yang terasa dekat. Pertunjukan ini membuktikan bahwa keruntuhan nilai bisa dimulai dari hal-hal paling sepele seperti keputusan editorial atau percakapan di ruang tamu.
Namun, kelindan jahitan peristiwa kadang tak berjalan mulus. Pilihan dramaturgi panggung antar satu tokoh dengan karakter lainnya saat mengomentari berita sesekali mengacaukan pesan. Kendati begitu, tafsir ini bisa dilihat sebagai bentuk kekacauan informasi yang diterima masyarakat.
Singkat cerita, yang menggugah dari pertunjukan ini adalah caranya mempertemukan dua kisah kerusuhan Mei 1998 dalam satu simpul sejarah. Ketika Ina yang akhirnya memilih bergabung dalam aksi demokrasi damai, batas antara ruang aman dan ancaman yang menjadi kabur, begitu pula dengan Isabel.
Akbar Yumni, salah satu kurator DITP 2025, mengatakan bahwa dipilihnya naskah Plunge sebagai pembuka DITP bukan tanpa alasan. Salah satunya untuk menguji konteks ke-Asia Tenggara-an, di mana naskah dari satu negara dimainkan oleh kelompok dari negara lain.
Dia menjelaskan, runtuhnya spekulasi global yang berpusat di pasar uang Barat menyingkap betapa bertaliannya ekonomi, pemerintahan, dan kehidupan di Asia. Saat mata uang anjlok dan perekonomian kolaps, pondasi rumah tangga pun turut goyah.
“Isu 98 ini kan isunya regional. Mulai dari Thailand, Kamboja, Singapura, dan Indonesia berlangsung serentak. Jadi kenapa naskah tersebut yang dipilih, salah satunya karena situasinya sama,” paparnya.
Selaras, sutradara Teater Tetas Harris Syaus menjelaskan bahwa Plunge dipilih karena relevan dengan konteks sosial-politik Asia Tenggara, dan tetap dapat diadaptasi dalam lanskap hari ini. Sebelumnya, mereka sempat mempertimbangkan naskah dari penulis Filipina dan Singapura, namun akhirnya memilih karya Jean Tan.
Dalam pertunjukannya, Harris juga memilih pendekatan dramaturgi Bertolt Brecht, yang menekankan efek alienasi atau keterasingan. Tujuannya bukan untuk membuat penonton larut dalam cerita, melainkan mendorong mereka berpikir kritis terhadap struktur kuasa yang ditampilkan, termasuk dalam membaca ulang tragedi 1998 secara lebih jernih.
"Yang menarik dari naskah ini adalah semua karakter yang ada di atas panggung tidak mutlak dibaca sebagai narasi tunggal, jadi mereka bisa menjadi narasi alternatif," katanya.
Secara keseluruhan, pertunjukan ini juga menegaskan komitmen Teater Tetas dalam menjadikan teater sebagai ruang belajar dan refleksi. Sejak didirikan oleh Ags. Arya Dipayana pada 1978, Teater Tetas memang selalu mengangkat kisah-kisah dengan kepedulian sosial tinggi.
Selain Teater Tetas, rangkaian DITP juga akan dimeriahkan oleh pertunjukan dari kelompok teater lokal dan internasional. Di antaranya Tapir Studio (Malaysia), Nungki Kusumastuti (Jakarta), Teater Sambilan Ruang (Padang), Trà Nguyễn (Vietnam), dan masih banyak lagi.
Baca juga: Adinia Wirasti Perankan Lady Capulet di Teater Romeo & Juliet, Siap Tur Panggung Keliling Australia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Situasi inilah yang coba diungkai dengan ciamik oleh Teater Tetas saat mementaskan lakon Plunge, dalam pembukaan Djakarta International Theater Platform (DITP) di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada Selasa, 5 Juli 2025.
Intro berita yang menggambarkan situasi kawasan Asia Tenggara bergema dari atas panggung Graha Bhakti Budaya. Seorang news anchor dari Singapura dengan blazer hijau tampak fokus menatap kamera sembari menyiarkan kondisi ekonomi yang anjlok di Indonesia.
Rautnya yang semringah disiarkan secara langsung lewat layar di belakang panggung. Tiga sosok laki-laki mendengarkan siaran tersebut sambil sesekali mengomentari sang pewarta. Mereka tampak seperti netizen pada era kiwari.
Baca juga: Teater Koma akan Gelar Pertunjukan Mencari Semar 13-17 Agustus 2025

Salah satu adegan lakon Plunge, dalam pembukaan DITP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2025. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Di tengah gemuruh politik dan ekonomi yang mengguncang Asia pada 1998, dua perempuan tersebut seolah menjadi saksi sekaligus korban dari krisis yang tak hanya menghancurkan angka-angka bursa di layar televisi, tetapi juga kebebasan menyampaikan pendapat.
Plunge, naskah karya Jean Tay (Singapura) yang diadaptasi oleh Teater Tetas, membawa penonton menyelami dunia Isabel dan Ina- dua tokoh perempuan beretnis Tionghoa-yang hidup dalam gejolak krisis moneter dan kerusuhan sosial, meski tempat mereka terpisah.
Disusun laiknya fragmen adegan, penonton diajak menyelami hal-hal yang jarang diungkap media. Tentang empati, kebebasan berekspresi, dan bagaimana fakta-fakta kerap dibelokkan menjadi narasi yang selalu memojokkan kalangan akar rumput.
Berlangsung sekira 60 menit, pertunjukan ini seolah menjadi tafsir atas Krisis Moneter Asia 1997–1998, yang mana perempuan kerap menjadi yang paling terdampak dalam setiap peristiwa besar, meski jarang diberi tempat utama dalam buku-buku sejarah.
Dalam versi panggung Teater Tetas, naskah yang ditulis oleh Jean Tay pada 2007 ini mendapat napas baru dengan pendekatan yang intim, meski sesekali muncul distraksi antar satu adegan dengan adegan lain melalui dialog antar pemain.

Salah satu adegan lakon Plunge, dalam pembukaan DITP di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2025. (sumber gambar: Hypeabis.id/Robby Fathan)
Namun, kelindan jahitan peristiwa kadang tak berjalan mulus. Pilihan dramaturgi panggung antar satu tokoh dengan karakter lainnya saat mengomentari berita sesekali mengacaukan pesan. Kendati begitu, tafsir ini bisa dilihat sebagai bentuk kekacauan informasi yang diterima masyarakat.
Singkat cerita, yang menggugah dari pertunjukan ini adalah caranya mempertemukan dua kisah kerusuhan Mei 1998 dalam satu simpul sejarah. Ketika Ina yang akhirnya memilih bergabung dalam aksi demokrasi damai, batas antara ruang aman dan ancaman yang menjadi kabur, begitu pula dengan Isabel.
Akbar Yumni, salah satu kurator DITP 2025, mengatakan bahwa dipilihnya naskah Plunge sebagai pembuka DITP bukan tanpa alasan. Salah satunya untuk menguji konteks ke-Asia Tenggara-an, di mana naskah dari satu negara dimainkan oleh kelompok dari negara lain.
Dia menjelaskan, runtuhnya spekulasi global yang berpusat di pasar uang Barat menyingkap betapa bertaliannya ekonomi, pemerintahan, dan kehidupan di Asia. Saat mata uang anjlok dan perekonomian kolaps, pondasi rumah tangga pun turut goyah.
“Isu 98 ini kan isunya regional. Mulai dari Thailand, Kamboja, Singapura, dan Indonesia berlangsung serentak. Jadi kenapa naskah tersebut yang dipilih, salah satunya karena situasinya sama,” paparnya.
Selaras, sutradara Teater Tetas Harris Syaus menjelaskan bahwa Plunge dipilih karena relevan dengan konteks sosial-politik Asia Tenggara, dan tetap dapat diadaptasi dalam lanskap hari ini. Sebelumnya, mereka sempat mempertimbangkan naskah dari penulis Filipina dan Singapura, namun akhirnya memilih karya Jean Tan.
Dalam pertunjukannya, Harris juga memilih pendekatan dramaturgi Bertolt Brecht, yang menekankan efek alienasi atau keterasingan. Tujuannya bukan untuk membuat penonton larut dalam cerita, melainkan mendorong mereka berpikir kritis terhadap struktur kuasa yang ditampilkan, termasuk dalam membaca ulang tragedi 1998 secara lebih jernih.
"Yang menarik dari naskah ini adalah semua karakter yang ada di atas panggung tidak mutlak dibaca sebagai narasi tunggal, jadi mereka bisa menjadi narasi alternatif," katanya.
Secara keseluruhan, pertunjukan ini juga menegaskan komitmen Teater Tetas dalam menjadikan teater sebagai ruang belajar dan refleksi. Sejak didirikan oleh Ags. Arya Dipayana pada 1978, Teater Tetas memang selalu mengangkat kisah-kisah dengan kepedulian sosial tinggi.
Selain Teater Tetas, rangkaian DITP juga akan dimeriahkan oleh pertunjukan dari kelompok teater lokal dan internasional. Di antaranya Tapir Studio (Malaysia), Nungki Kusumastuti (Jakarta), Teater Sambilan Ruang (Padang), Trà Nguyễn (Vietnam), dan masih banyak lagi.
Baca juga: Adinia Wirasti Perankan Lady Capulet di Teater Romeo & Juliet, Siap Tur Panggung Keliling Australia
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.