DITP 2025 Hadir di TIM, Panggung Pertunjukan dan Dialog Budaya Asia Tenggara
06 August 2025 |
08:00 WIB
Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) bersama mitra penyelenggara, Gema Citra Nusantara, kembali menggelar Djakarta International Theater Platform (DITP) di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada 5 sampai 12 Agustus 2025.
Memasuki tahun ke-8 penyelenggaraan, DITP terus memperkuat posisinya sebagai ruang untuk eksperimen artistik, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas disiplin di bidang seni pertunjukan.
Tahun ini, program besutan Komite Teater DKJ ini juga hadir untuk membangun jejaring kerja di antara praktisi teater, seniman pertunjukan, dan peneliti, sekaligus menumbuhkan ekosistem kepenontonan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Teater Koma akan Gelar Pertunjukan Mencari Semar 13-17 Agustus 2025
Mengusung tema kuratorial “rumah || panggung”, DITP 2025 mengajak publik untuk meninjau ulang identitas dan eksistensi manusia di tengah derasnya arus informasi, teknologi digital, dan dinamika ilmu pengetahuan.
Direktur Artistik DITP 2025, Yustiansyah Lesmana, menjelaskan bahwa konsep 'rumah panggung' merujuk pada struktur tradisional Asia Tenggara yang memisahkan dan sekaligus menjembatani ruang domestik dan publik.
Simbol ‘||’ dipilih sebagai metafora ruang transisional yang menjadi tempat bersemainya relasi, pertemuan, dan produksi makna lintas identitas. Tema ini sekaligus membuka arah kuratorial baru yang berakar pada gagasan geopolitik dan geokultural Bumi Antara atau Bumantara.
"Konsep ini terinspirasi dari pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana yang ingin membangun perspektif kebudayaan Asia Tenggara secara utuh, termasuk dalam konteks kesenian," ungkap Yustiansyah.
Lebih jauh, DITP bukan hanya menawarkan panggung pertunjukan, tapi juga ruang diskursif untuk membayangkan bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi medium berpikir bersama di antara negara-negara Asia Tenggara.
"Inisiatif ini adalah upaya jangka panjang untuk memperkuat akar ekosistem pertunjukan, sembari tetap terbuka terhadap dialog lintas sejarah, identitas, dan budaya," tambahnya.
Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi, turut menegaskan bahwa DITP menjadi salah satu forum penting dalam memetakan isu kontemporer, serta melihat pencapaian dan arah baru karya seni pertunjukan hari ini.
Menurutnya, tema “Bumantara” juga bermakna ruang atmosfer yang terbentang antara langit dan bumi—ruang simbolik yang dapat menjadi saksi sekaligus medium peristiwa budaya.
"Ruang-ruang antara inilah yang coba direnungkan kembali oleh DITP, melalui simbol rumah panggung yang sarat nilai lokal sekaligus terbuka untuk reinterpretasi global," katanya.
Tahun ini, DITP juga menghadirkan program baru bertajuk BELALANG \\ CÀO CÀO: Translocal Performance Lab, yakni residensi tiga minggu yang mempertemukan delapan seniman Asia Tenggara dan ditutup dengan presentasi performatif.
Selain itu, pengunjung bisa mengeksplorasi instalasi “Dwelling / Departing” karya Kamizu (Myanmar), sebuah karya yang mengajak audiens merenungi kembali makna rumah melalui pengalaman ruang yang puitis dan kontemplatif.
Rangkaian DITP juga akan dimeriahkan oleh pertunjukan dari kelompok teater lokal dan internasional, menjadikan perhelatan ini sebagai salah satu agenda wajib bagi penikmat seni pertunjukan di Jakarta.
Sebagai informasi, sejak awal kehadirannya Djakarta International Theater Platform (DITP) dibayangkan bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan juga ruang pertukaran gagasan kritis tentang kondisi penciptaan teater kontemporer.
Melampaui batas negara dan disiplin, DITP berfungsi sebagai infrastruktur cair yang merangkai praktik artistik, jejaring lintas konteks, dan sensibilitas budaya yang terus berkembang.
Baca Juga: Adinia Wirasti Perankan Lady Capulet di Teater Romeo & Juliet, Siap Tur Panggung Keliling Australia
Memasuki tahun ke-8 penyelenggaraan, DITP terus memperkuat posisinya sebagai ruang untuk eksperimen artistik, pertukaran pengetahuan, dan kolaborasi lintas disiplin di bidang seni pertunjukan.
Tahun ini, program besutan Komite Teater DKJ ini juga hadir untuk membangun jejaring kerja di antara praktisi teater, seniman pertunjukan, dan peneliti, sekaligus menumbuhkan ekosistem kepenontonan di kawasan Asia Tenggara.
Baca Juga: Teater Koma akan Gelar Pertunjukan Mencari Semar 13-17 Agustus 2025
Mengusung tema kuratorial “rumah || panggung”, DITP 2025 mengajak publik untuk meninjau ulang identitas dan eksistensi manusia di tengah derasnya arus informasi, teknologi digital, dan dinamika ilmu pengetahuan.
Direktur Artistik DITP 2025, Yustiansyah Lesmana, menjelaskan bahwa konsep 'rumah panggung' merujuk pada struktur tradisional Asia Tenggara yang memisahkan dan sekaligus menjembatani ruang domestik dan publik.
Simbol ‘||’ dipilih sebagai metafora ruang transisional yang menjadi tempat bersemainya relasi, pertemuan, dan produksi makna lintas identitas. Tema ini sekaligus membuka arah kuratorial baru yang berakar pada gagasan geopolitik dan geokultural Bumi Antara atau Bumantara.
"Konsep ini terinspirasi dari pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana yang ingin membangun perspektif kebudayaan Asia Tenggara secara utuh, termasuk dalam konteks kesenian," ungkap Yustiansyah.
Lebih jauh, DITP bukan hanya menawarkan panggung pertunjukan, tapi juga ruang diskursif untuk membayangkan bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi medium berpikir bersama di antara negara-negara Asia Tenggara.
"Inisiatif ini adalah upaya jangka panjang untuk memperkuat akar ekosistem pertunjukan, sembari tetap terbuka terhadap dialog lintas sejarah, identitas, dan budaya," tambahnya.
Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta, Bambang Prihadi, turut menegaskan bahwa DITP menjadi salah satu forum penting dalam memetakan isu kontemporer, serta melihat pencapaian dan arah baru karya seni pertunjukan hari ini.
Menurutnya, tema “Bumantara” juga bermakna ruang atmosfer yang terbentang antara langit dan bumi—ruang simbolik yang dapat menjadi saksi sekaligus medium peristiwa budaya.
"Ruang-ruang antara inilah yang coba direnungkan kembali oleh DITP, melalui simbol rumah panggung yang sarat nilai lokal sekaligus terbuka untuk reinterpretasi global," katanya.
Tahun ini, DITP juga menghadirkan program baru bertajuk BELALANG \\ CÀO CÀO: Translocal Performance Lab, yakni residensi tiga minggu yang mempertemukan delapan seniman Asia Tenggara dan ditutup dengan presentasi performatif.
Selain itu, pengunjung bisa mengeksplorasi instalasi “Dwelling / Departing” karya Kamizu (Myanmar), sebuah karya yang mengajak audiens merenungi kembali makna rumah melalui pengalaman ruang yang puitis dan kontemplatif.
Rangkaian DITP juga akan dimeriahkan oleh pertunjukan dari kelompok teater lokal dan internasional, menjadikan perhelatan ini sebagai salah satu agenda wajib bagi penikmat seni pertunjukan di Jakarta.
Sebagai informasi, sejak awal kehadirannya Djakarta International Theater Platform (DITP) dibayangkan bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan juga ruang pertukaran gagasan kritis tentang kondisi penciptaan teater kontemporer.
Melampaui batas negara dan disiplin, DITP berfungsi sebagai infrastruktur cair yang merangkai praktik artistik, jejaring lintas konteks, dan sensibilitas budaya yang terus berkembang.
Baca Juga: Adinia Wirasti Perankan Lady Capulet di Teater Romeo & Juliet, Siap Tur Panggung Keliling Australia
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.