Melihat Kembali Jejak Diponegoro Lewat Bahasa Seni Kontemporer di Galnas
04 August 2025 |
21:30 WIB
Sudah dua abad berlalu sejak Perang Jawa berkobar, tapi semangat perlawanan itu belum padam. Pameran bertajuk Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro di Galeri Nasional Indonesia, mengajak pengunjung untuk menyelami jejak-jejak sejarah lewat karya seni yang menggugah.
Tak hanya menghadirkan sosok Pangeran Diponegoro secara langsung dalam karya, pameran ini juga mengungkap sisi-sisi tersembunyi dari masa perang, dinamika sosial budaya yang menyertainya, hingga bagaimana gaungnya masih terasa sampai sekarang.
Baca juga: Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas
Terdapat 33 karya dari 26 perupa dan kolektif yang meramaikan seteleng ini. Antara lain Adryan Adinugraha x Fahira Herniman (Tab Space), Alfiah Radini, Aliansyah Chaniago, Arafura, Arief Witjaksana, Basoeki Abdullah, Candrani Yulis, Daoed Joesoef, dan Fadrie (Fadriah Syuaib).
Kemudian Galam Zulkifli, Hardi, I Wayan 'Kun Adnyana, dan Irene Agrivina x HONF, Jompet Kuswidananto, Mahdi Abdullah, Misbach Tamrin, Nasirun, Patra Padi, Raden Saleh, S. Sudjojono, Sutjipto Adi, Ugo Untoro, Yani Mariani Sastranegara, Yoes Rizal, Yosep Arizal, dan Yunizar.
Menariknya, mereka menghadirkan cita-cita dan semangat Diponegoro dengan berbagai pendekatan dan medium. Salah satunya hadir dalam karya Yosep Arizal bertajuk The Cock (2025), sebuah instalasi berdimensi besar yang menyoroti ketegangan budaya dalam Perang Jawa.
Karya ini merefleksikan penolakan Diponegoro terhadap proyek kolonial, seperti pembangunan rel kereta api yang melintasi makam leluhurnya. Lewat pendekatan material dan visual, Yosep juga menafsirkan relasi kuasa antara yang mengontrol dan yang dikontrol dalam sistem kolonial.
Ada pula karya Nok Santri: Resiliensi Renik (2025) dari Irene Agrivina x HONF. Dalam instalasi ini, para seniman dan kolaborator mengangkat isu ketahanan pangan dengan berangkat dari makanan yang diyakini pernah dikonsumsi Diponegoro dan pasukannya saat bergerilya, yakni nok santri.
Alih-alih sekadar menampilkan bentuk fisiknya, mereka menyuguhkan pengalaman multisensorik melalui instalasi visual dan suara yang menggugah. Melalui pendekatan ini, makanan yang dulunya dibuat masyarakat untuk para gerilyawan itu tak hanya menjadi nutrisi, tapi juga narasi.
Visual berbeda juga hadir dalam karya Sutjipto Adi, berjudul Vibrasi Bara Tanah Nusantara (2025). Menggunakan medium cat akrilik dan spidol di atas kanvas berukuran 200 x 450 cm, karya ini menyajikan tafsir visual atas vibrasi perjuangan yang menyala selama berabad-abad di Nusantara dan menjadi pemantik Perang Jawa.
Terdiri dari tiga panel kanvas, sang seniman membentuk semacam anyaman waktu yang menyampaikan narasi non-verbal tentang luka, perlawanan, dan harapan. Namun, pada saat yang sama, Sutjipto juga membangun ketegangan emosional melalui permainan garis, tekstur, dan benturan warna.
Salah satu kurator pameran, Putra Hidayatullah, menyebut bahwa para perupa dalam pameran ini tidak semata-mata merepresentasikan figur heroik atau peristiwa sejarah secara literal. Bahkan, para seniman justru merepresentasikan Diponegoro lewat hal-hal tak terduga.
“Karya-karya kontemporer dalam pameran ini tidak bertujuan untuk merepresentasikan seorang figur heroik secara literal atau menjadi ‘ilustrasi’ peristiwa,” katanya.
Salah satu yang menarik adalah karya bertajuk Jalan Sang Ratu Adil #2 (2025) karya Galam Zulkifli. Alih-alih menggambarkan sosok Diponegoro, seniman asal Sumbawa itu justru mengeksplorasi figur Diponegoro sebagai penanda keseharian, seperti nama jalan dan penunjuk arah di lanskap urban.
Menariknya, karya ini lahir dari eksperimen media sosial, di mana Galam mengumpulkan lebih dari 20.000 foto suasana Jalan Diponegoro dari 126 kota. Hasilnya adalah video digital yang dikombinasikan dengan wajah-wajah etnik dari berbagai daerah di Indonesia dalam bentuk mosaik lorong waktu.
Lain lagi karya Arafura berjudul Ulangan (2025) dengan media interaktif berupa proyeksi visual dalam ruang gelap, sistem digital, output generatif, kursi, meja, dan perlengkapan tulis-menulis seperti pensil 2B, penggaris, serta alat pemindai.
Menggunakan lembar soal pilihan ganda, karya partisipatoris ini akan mengajak kita mengisi daftar pertanyaan yang diajukan Arafura. Tak ada jawaban benar atau salah, karena seluruh respons diproses secara algoritmik dan memunculkan citra visual secara langsung di dinding instalasi.
Pande Made Anagha, salah satu anggota dari kolektif Arafura, mengatakan karya ini menggambarkan persoalan penguasaan lahan yang sudah ada sejak zaman Diponegoro. Lewat Ulangan, pihaknya menjembatani persoalan tersebut dengan situasi hari ini, baik dari sudut pandang lingkungan maupun politik.
"Diponegoro melawan Belanda karena tanahnya dulu dipatok oleh mereka. Lewat karya ini kami ingin merelevansikan isu itu ke zaman sekarang. Tentang bagaimana kita memandang tanah sebagai medium untuk tempat berdoa, dan hidup di sana," katanya.
Judul Ulangan dalam karya ini juga merujuk pada ruang kelas, di mana pengunjung diajak duduk dan menjawab soal layaknya sedang mengikuti ujian. Namun kata “ulangan” juga bisa dimaknai sebagai pengulangan sejarah, yang mana generasi hari ini memegang kendali atas arah perjalanan ke depan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Tak hanya menghadirkan sosok Pangeran Diponegoro secara langsung dalam karya, pameran ini juga mengungkap sisi-sisi tersembunyi dari masa perang, dinamika sosial budaya yang menyertainya, hingga bagaimana gaungnya masih terasa sampai sekarang.
Baca juga: Menyalakan Ingatan Kolektif: Perang Diponegoro dalam Tafsir Artistik di Galnas
Terdapat 33 karya dari 26 perupa dan kolektif yang meramaikan seteleng ini. Antara lain Adryan Adinugraha x Fahira Herniman (Tab Space), Alfiah Radini, Aliansyah Chaniago, Arafura, Arief Witjaksana, Basoeki Abdullah, Candrani Yulis, Daoed Joesoef, dan Fadrie (Fadriah Syuaib).
Kemudian Galam Zulkifli, Hardi, I Wayan 'Kun Adnyana, dan Irene Agrivina x HONF, Jompet Kuswidananto, Mahdi Abdullah, Misbach Tamrin, Nasirun, Patra Padi, Raden Saleh, S. Sudjojono, Sutjipto Adi, Ugo Untoro, Yani Mariani Sastranegara, Yoes Rizal, Yosep Arizal, dan Yunizar.
Menariknya, mereka menghadirkan cita-cita dan semangat Diponegoro dengan berbagai pendekatan dan medium. Salah satunya hadir dalam karya Yosep Arizal bertajuk The Cock (2025), sebuah instalasi berdimensi besar yang menyoroti ketegangan budaya dalam Perang Jawa.
Karya ini merefleksikan penolakan Diponegoro terhadap proyek kolonial, seperti pembangunan rel kereta api yang melintasi makam leluhurnya. Lewat pendekatan material dan visual, Yosep juga menafsirkan relasi kuasa antara yang mengontrol dan yang dikontrol dalam sistem kolonial.
_crop.jpg)
Pengunjung melintasi karya bertajuk Vibrasi Bara Tanah Nusantara dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)
Ada pula karya Nok Santri: Resiliensi Renik (2025) dari Irene Agrivina x HONF. Dalam instalasi ini, para seniman dan kolaborator mengangkat isu ketahanan pangan dengan berangkat dari makanan yang diyakini pernah dikonsumsi Diponegoro dan pasukannya saat bergerilya, yakni nok santri.
Alih-alih sekadar menampilkan bentuk fisiknya, mereka menyuguhkan pengalaman multisensorik melalui instalasi visual dan suara yang menggugah. Melalui pendekatan ini, makanan yang dulunya dibuat masyarakat untuk para gerilyawan itu tak hanya menjadi nutrisi, tapi juga narasi.
Visual berbeda juga hadir dalam karya Sutjipto Adi, berjudul Vibrasi Bara Tanah Nusantara (2025). Menggunakan medium cat akrilik dan spidol di atas kanvas berukuran 200 x 450 cm, karya ini menyajikan tafsir visual atas vibrasi perjuangan yang menyala selama berabad-abad di Nusantara dan menjadi pemantik Perang Jawa.
Terdiri dari tiga panel kanvas, sang seniman membentuk semacam anyaman waktu yang menyampaikan narasi non-verbal tentang luka, perlawanan, dan harapan. Namun, pada saat yang sama, Sutjipto juga membangun ketegangan emosional melalui permainan garis, tekstur, dan benturan warna.
Penanda Keseharian
Salah satu kurator pameran, Putra Hidayatullah, menyebut bahwa para perupa dalam pameran ini tidak semata-mata merepresentasikan figur heroik atau peristiwa sejarah secara literal. Bahkan, para seniman justru merepresentasikan Diponegoro lewat hal-hal tak terduga.“Karya-karya kontemporer dalam pameran ini tidak bertujuan untuk merepresentasikan seorang figur heroik secara literal atau menjadi ‘ilustrasi’ peristiwa,” katanya.
Salah satu yang menarik adalah karya bertajuk Jalan Sang Ratu Adil #2 (2025) karya Galam Zulkifli. Alih-alih menggambarkan sosok Diponegoro, seniman asal Sumbawa itu justru mengeksplorasi figur Diponegoro sebagai penanda keseharian, seperti nama jalan dan penunjuk arah di lanskap urban.
Menariknya, karya ini lahir dari eksperimen media sosial, di mana Galam mengumpulkan lebih dari 20.000 foto suasana Jalan Diponegoro dari 126 kota. Hasilnya adalah video digital yang dikombinasikan dengan wajah-wajah etnik dari berbagai daerah di Indonesia dalam bentuk mosaik lorong waktu.

Pengunjung menyaksikan karya bertajuk Ulangan, dalam pameran Nyala: 200 Tahun Perang Diponegoro, di Galeri Nasional Indonesia, Senin, (21/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Fanny Kusumawardhani)
Lain lagi karya Arafura berjudul Ulangan (2025) dengan media interaktif berupa proyeksi visual dalam ruang gelap, sistem digital, output generatif, kursi, meja, dan perlengkapan tulis-menulis seperti pensil 2B, penggaris, serta alat pemindai.
Menggunakan lembar soal pilihan ganda, karya partisipatoris ini akan mengajak kita mengisi daftar pertanyaan yang diajukan Arafura. Tak ada jawaban benar atau salah, karena seluruh respons diproses secara algoritmik dan memunculkan citra visual secara langsung di dinding instalasi.
Pande Made Anagha, salah satu anggota dari kolektif Arafura, mengatakan karya ini menggambarkan persoalan penguasaan lahan yang sudah ada sejak zaman Diponegoro. Lewat Ulangan, pihaknya menjembatani persoalan tersebut dengan situasi hari ini, baik dari sudut pandang lingkungan maupun politik.
"Diponegoro melawan Belanda karena tanahnya dulu dipatok oleh mereka. Lewat karya ini kami ingin merelevansikan isu itu ke zaman sekarang. Tentang bagaimana kita memandang tanah sebagai medium untuk tempat berdoa, dan hidup di sana," katanya.
Judul Ulangan dalam karya ini juga merujuk pada ruang kelas, di mana pengunjung diajak duduk dan menjawab soal layaknya sedang mengikuti ujian. Namun kata “ulangan” juga bisa dimaknai sebagai pengulangan sejarah, yang mana generasi hari ini memegang kendali atas arah perjalanan ke depan.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.