Jadikan Sinema Sebagai Jembatan Sejarah, Fadli Zon Dukung Pembuatan Film Perang Jawa
04 August 2025 |
22:00 WIB
Banyak jejak sejarah Indonesia yang memiliki peluang untuk diolah menjadi karya seni, khususnya film. Sayangnya, potensi ini belum dimanfaatkan secara maksimal akibat keterbatasan sumber daya dan mahalnya biaya produksi. Kondisi ini membuat tak banyak sineas yang berani menjadikan sejarah sebagai tema utama.
Sutradara Angga Dwimas Sasongko menjadi salah satu dari sedikit pembuat film yang memilih melangkah ke ranah tersebut. Lewat proyek film terbarunya, dia tengah mempersiapkan sebuah film epik bertajuk Perang Jawa, pada periode perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap pemerintah kolonial Belanda pada 1825–1830.
Baca juga: Visinema Umumkan Film Epik Perang Jawa, Mulai Produksi 2027
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, pun menyatakan dukungannya terhadap proyek film ini. Menurutnya, Perang Jawa adalah peristiwa besar dalam sejarah bangsa yang layak diangkat ke layar lebar. Dia menilai, bila digarap dengan pendekatan sinematik yang tepat, film ini berpotensi menghadirkan narasi sejarah, dan visual yang kuat.
Lebih jauh, Fadli menekankan bahwa film Perang Jawa tidak semestinya dilihat semata sebagai proyek film komersial. Dalam pandangannya, proyek seperti ini justru memiliki nilai strategis, tidak hanya dalam memperkuat kesadaran sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kancah global.
“Ini merupakan proyek penting dan monumental. Kami sangat mendukung,” ujar Fadli dalam pernyataan resmi setelah menerima kunjungan Angga Dwimas Sasongko bersama tim Visinema di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senin (4/7/2025).
Setali tiga uang, Angga Dwimas Sasongko menjelaskan bahwa film Perang Jawa tidak akan disajikan sebagai biopik atau film perang konvensional. Dia ingin menghadirkan pendekatan yang lebih luas, reflektif, dan filosofis terhadap sosok Diponegoro, serta menyelami nilai-nilai kejawaan dan kepemimpinan yang dianut.
Angga juga menyoroti langkanya film epik sejarah berskala besar di Indonesia. Dia menyebut bahwa sejak Tjoet Nja’ Dhien karya Eros Djarot sekitar tiga dekade lalu, belum ada film sejenis yang memiliki dampak serupa. Inilah yang menurutnya menjadi alasan mendasar mengapa film seperti Perang Jawa perlu dibuat.
“Film ini bukan kerja Visinema semata, tetapi ikhtiar bersama. Kami berharap Perang Jawa bisa sebesar dan memiliki dampak positif yang melampaui zaman, seperti film Tjoet Nja' Dhien," kata Angga.
Produser Taufan Adryan menambahkan bahwa pendekatan naratif film ini juga akan menggambarkan transformasi batin Diponegoro secara lebih intim. Fokus cerita tidak semata pada aksi heroik, tetapi juga pada pertumbuhan dan pergolakan pribadi sang tokoh, termasuk ketegangan antara keyakinan spiritual, budaya, dan kenyataan politik kolonial.
Untuk memperkuat dimensi sejarah, Visinema juga menggandeng sejarawan Peter Carey sebagai konsultan utama. Carey merupakan penulis buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Penulisan skenario dilakukan oleh Ifan Ismail, penulis Habibie & Ainun sekaligus peraih Piala Citra.
Lebih lanjut Menbud juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan akan terus membuka ruang kolaborasi bagi sineas yang mengangkat tema sejarah dan identitas nasional. Dia menyebut sinema sebagai salah satu sarana paling strategis untuk menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus memperkuat posisi budaya Indonesia di tingkat nasional maupun global.
“Film memiliki peran strategis sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia bukan hanya media hiburan, tapi juga alat edukasi dan diplomasi budaya,” pungkas Fadli.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Sutradara Angga Dwimas Sasongko menjadi salah satu dari sedikit pembuat film yang memilih melangkah ke ranah tersebut. Lewat proyek film terbarunya, dia tengah mempersiapkan sebuah film epik bertajuk Perang Jawa, pada periode perlawanan Pangeran Diponegoro terhadap pemerintah kolonial Belanda pada 1825–1830.
Baca juga: Visinema Umumkan Film Epik Perang Jawa, Mulai Produksi 2027
Menteri Kebudayaan Fadli Zon, pun menyatakan dukungannya terhadap proyek film ini. Menurutnya, Perang Jawa adalah peristiwa besar dalam sejarah bangsa yang layak diangkat ke layar lebar. Dia menilai, bila digarap dengan pendekatan sinematik yang tepat, film ini berpotensi menghadirkan narasi sejarah, dan visual yang kuat.
Lebih jauh, Fadli menekankan bahwa film Perang Jawa tidak semestinya dilihat semata sebagai proyek film komersial. Dalam pandangannya, proyek seperti ini justru memiliki nilai strategis, tidak hanya dalam memperkuat kesadaran sejarah, tetapi juga sebagai bagian dari diplomasi budaya Indonesia di kancah global.
“Ini merupakan proyek penting dan monumental. Kami sangat mendukung,” ujar Fadli dalam pernyataan resmi setelah menerima kunjungan Angga Dwimas Sasongko bersama tim Visinema di Gedung Kementerian Kebudayaan, Senin (4/7/2025).
Setali tiga uang, Angga Dwimas Sasongko menjelaskan bahwa film Perang Jawa tidak akan disajikan sebagai biopik atau film perang konvensional. Dia ingin menghadirkan pendekatan yang lebih luas, reflektif, dan filosofis terhadap sosok Diponegoro, serta menyelami nilai-nilai kejawaan dan kepemimpinan yang dianut.
Angga juga menyoroti langkanya film epik sejarah berskala besar di Indonesia. Dia menyebut bahwa sejak Tjoet Nja’ Dhien karya Eros Djarot sekitar tiga dekade lalu, belum ada film sejenis yang memiliki dampak serupa. Inilah yang menurutnya menjadi alasan mendasar mengapa film seperti Perang Jawa perlu dibuat.
“Film ini bukan kerja Visinema semata, tetapi ikhtiar bersama. Kami berharap Perang Jawa bisa sebesar dan memiliki dampak positif yang melampaui zaman, seperti film Tjoet Nja' Dhien," kata Angga.
Produser Taufan Adryan menambahkan bahwa pendekatan naratif film ini juga akan menggambarkan transformasi batin Diponegoro secara lebih intim. Fokus cerita tidak semata pada aksi heroik, tetapi juga pada pertumbuhan dan pergolakan pribadi sang tokoh, termasuk ketegangan antara keyakinan spiritual, budaya, dan kenyataan politik kolonial.
Untuk memperkuat dimensi sejarah, Visinema juga menggandeng sejarawan Peter Carey sebagai konsultan utama. Carey merupakan penulis buku The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855. Penulisan skenario dilakukan oleh Ifan Ismail, penulis Habibie & Ainun sekaligus peraih Piala Citra.
Lebih lanjut Menbud juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan akan terus membuka ruang kolaborasi bagi sineas yang mengangkat tema sejarah dan identitas nasional. Dia menyebut sinema sebagai salah satu sarana paling strategis untuk menghubungkan masa lalu dan masa kini, sekaligus memperkuat posisi budaya Indonesia di tingkat nasional maupun global.
“Film memiliki peran strategis sebagai jembatan antara masa lalu dan masa kini. Ia bukan hanya media hiburan, tapi juga alat edukasi dan diplomasi budaya,” pungkas Fadli.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.