Makan Karena Stres? Kenali Emotional Eating dan Cara Mengatasinya
05 August 2025 |
15:00 WIB
Makan tidak hanya dilakukan untuk memuaskan rasa lapar. Ketika merasakan emosi negatif seperti sedih, lelah, ataupun stres, biasanya banyak orang memilih untuk makan. Memakan makanan yang enak merupakan bentuk self reward yang bisa membuat emosi di dalam diri menjadi lebih baik.
Makanan adalah kebutuhan sehari-hari yang sangat dekat dengan kehidupan. Makanan bisa menjadi bagian dari perayaan. Berbagi makanan bisa menjadi cara untuk mendekatkan hubungan dengan orang lain. Berbagai bentuk apresiasi pada orang terdekat pun bisa ditunjukkan lewat makanan.
Baca juga: 5 Tip Punya Badan Ideal dengan Weight Loss Management & Mindful Eating
Maka, memiliki koneksi secara emosional dengan makanan adalah hal yang alamiah. Bahkan sebagian besar orang menemukan comfort food yang sering kali dimakan dan memberi kenyamanan, kebahagiaan, dan kepuasan tersendiri.
Namun, jika makan dijadikan sebagai respons atas emosi demi memenuhi kebutuhan emosional, bukan karena lapar secara harfiah, hal ini akan menimbulkan kebiasaan yang buruk. Apalagi, menurut Help Guide, makanan yang sering dimakan saat situasi emosional tidak baik adalah makanan cepat saji, makanan manis, serta makanan tak sehat lainnya.
Dikutip dari Healthline, meski makan terlihat bisa menjadi distraksi dari situasi emosi yang buruk, seperti rasa panik, perasaan kesepian, sedih, frustrasi, dan lainnya, tetap saja sebetulnya makan bukanlah solusi sejati untuk masalah ini. Dalam beberapa waktu, makanan mungkin bisa menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan emosi. Sementara di waktu lain, ada baiknya kita tidak mengatasi masalah dengan makanan sebab ada cara yang lebih baik untuk mengatasi masalah.
Apabila emotional eating dijadikan solusi utama setiap mengalami masalah emosional, Genhype akan terjebak di dalam siklus yang tidak sehat. Emotional eating tidak akan menyelesaikan masalah yang sebenarnya terjadi.
Siklusnya akan dimulai dari situasi yang tidak baik secara emosional, kemudian merasakan perasaan terdesak untuk makan yang luar biasa. Setelah itu, makanan yang dimakan lebih banyak dari yang kita butuhkan sehingga kita merasa bersalah atas makanan tersebut. Lalu, semuanya akan terulang dari awal seperti siklus yang tak ada hentinya.
Rasa lapar secara emosional tidak akan terpuaskan dengan emotional eating. Kita mungkin akan merasakan nikmat karena makanan yang enak, tetapi emosi yang menjadi pemicunya tetap ada. Emotional eating menyebabkan makan yang tidak teratur sehingga menimbulkan kesulitan untuk mengendalikan berat badan serta dapat memicu eating disorder.
Sebelum mencari jalan keluar dari emotional eating, kita perlu bisa membedakan lapar secara emosional dan lapar secara fisik. Lapar secara fisik biasanya ditandai dengan rasa lapar di perut yang muncul secara bertahap. Selain itu, lapar secara fisik juga akan berhenti saat kita merasa kenyang.
Sebaliknya, lapar emosional biasanya datang secara tiba-tiba. Saat makan, kita akan merasa selalu tidak cukup, selalu ingin makan lebih banyak, jika yang dialami adalah lapar emosional. Lapar emosional dipicu oleh kebutuhan atas rasa nyaman dan ketenangan.
Untuk mengatasi emotional eating, kita perlu memulai kebiasaan baru untuk mengelola emosi. Misalnya, dengan journaling yang bisa melacak dan mendeteksi emosi yang kita rasakan atau mulai kebiasaan mindful eating. Selain itu, kita perlu menemukan cara lain untuk mengatasi situasi emosi yang sedang buruk, misalnya dengan melakukan hobi, berolahraga, hingga meditasi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Makanan adalah kebutuhan sehari-hari yang sangat dekat dengan kehidupan. Makanan bisa menjadi bagian dari perayaan. Berbagi makanan bisa menjadi cara untuk mendekatkan hubungan dengan orang lain. Berbagai bentuk apresiasi pada orang terdekat pun bisa ditunjukkan lewat makanan.
Baca juga: 5 Tip Punya Badan Ideal dengan Weight Loss Management & Mindful Eating
Maka, memiliki koneksi secara emosional dengan makanan adalah hal yang alamiah. Bahkan sebagian besar orang menemukan comfort food yang sering kali dimakan dan memberi kenyamanan, kebahagiaan, dan kepuasan tersendiri.
Namun, jika makan dijadikan sebagai respons atas emosi demi memenuhi kebutuhan emosional, bukan karena lapar secara harfiah, hal ini akan menimbulkan kebiasaan yang buruk. Apalagi, menurut Help Guide, makanan yang sering dimakan saat situasi emosional tidak baik adalah makanan cepat saji, makanan manis, serta makanan tak sehat lainnya.
Dikutip dari Healthline, meski makan terlihat bisa menjadi distraksi dari situasi emosi yang buruk, seperti rasa panik, perasaan kesepian, sedih, frustrasi, dan lainnya, tetap saja sebetulnya makan bukanlah solusi sejati untuk masalah ini. Dalam beberapa waktu, makanan mungkin bisa menjadi pilihan terbaik untuk memulihkan emosi. Sementara di waktu lain, ada baiknya kita tidak mengatasi masalah dengan makanan sebab ada cara yang lebih baik untuk mengatasi masalah.
Apabila emotional eating dijadikan solusi utama setiap mengalami masalah emosional, Genhype akan terjebak di dalam siklus yang tidak sehat. Emotional eating tidak akan menyelesaikan masalah yang sebenarnya terjadi.

Ilustrasi emotional eating. (Sumber foto: Freepik)
Rasa lapar secara emosional tidak akan terpuaskan dengan emotional eating. Kita mungkin akan merasakan nikmat karena makanan yang enak, tetapi emosi yang menjadi pemicunya tetap ada. Emotional eating menyebabkan makan yang tidak teratur sehingga menimbulkan kesulitan untuk mengendalikan berat badan serta dapat memicu eating disorder.
Sebelum mencari jalan keluar dari emotional eating, kita perlu bisa membedakan lapar secara emosional dan lapar secara fisik. Lapar secara fisik biasanya ditandai dengan rasa lapar di perut yang muncul secara bertahap. Selain itu, lapar secara fisik juga akan berhenti saat kita merasa kenyang.
Sebaliknya, lapar emosional biasanya datang secara tiba-tiba. Saat makan, kita akan merasa selalu tidak cukup, selalu ingin makan lebih banyak, jika yang dialami adalah lapar emosional. Lapar emosional dipicu oleh kebutuhan atas rasa nyaman dan ketenangan.
Untuk mengatasi emotional eating, kita perlu memulai kebiasaan baru untuk mengelola emosi. Misalnya, dengan journaling yang bisa melacak dan mendeteksi emosi yang kita rasakan atau mulai kebiasaan mindful eating. Selain itu, kita perlu menemukan cara lain untuk mengatasi situasi emosi yang sedang buruk, misalnya dengan melakukan hobi, berolahraga, hingga meditasi.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.