Masalah Gigi, Anemia & Kebugaran Dominasi Penyakit Anak
02 August 2025 |
16:00 WIB
Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas Kementerian Kesehatan RI kini mulai merambah spesifik ke anak-anak sekolah. Setelah diluncurkan untuk masyarakat umum yang dapat dilakukan di Puskesmas, kini pemerintah akan langsung turun tangan ke sekolah-sekolah untuk menjemput bola anak-anak demi mendeteksi dini penyakit yang diderita usia anak.
Dalam pelaksanaan awal di 72 sekolah rakyat, Kemenkes RI telah menemukan sejumlah masalah kesehatan yang cukup dominan di kalangan siswa. Selanjutnya, sekolah-sekolah lain bisa mendapatkan layanan ini dimulai 4 Agustus 2025 mendatang. Sejauh ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut lebih dari 7.400 anak telah menjalani pemeriksaan dalam program ini.
Baca juga: Hari Alpukat Sedunia: Manfaat Alpukat untuk Diet dan Kesehatan Jantung
Dari hasil skrining tersebut, masalah kesehatan gigi menjadi temuan tertinggi dengan angka mencapai 49%. Selain itu, sekitar 33% anak mengalami kurangnya tingkat kebugaran, sementara 26,6% mengalami anemia. Kondisi anemia ini ditandai oleh kadar hemoglobin (HB) yang rendah, di bawah 12 g/dL dan dinilai berisiko tinggi terutama bagi anak perempuan menjelang usia remaja.
Selain tiga masalah utama tersebut, ditemukan pula kasus gangguan mata, tekanan darah rendah, penyakit menular seperti TBC, gangguan gizi, hingga masalah telinga. Pemeriksaan juga mulai mencakup aspek kesehatan mental yang selama ini jarang tersentuh di program kesehatan sekolah baik dasar hingga menengah.
“Di program cek kesehatan gratis sekolah ini, kita juga mulai memperkenalkan cek kesehatan jiwa. Karena banyak selama ini kita tidak bisa mengidentifikasi kalau ada masalah kejiwaan di anak-anak kita,” kata Menkes Budi.
Dalam pemeriksaan awal, ditemukan sejumlah siswa mengalami gejala kecemasan dan depresi yang ditengarai berkaitan dengan paparan gadget dan konten media sosial. Pemerintah menilai bahwa aspek kesehatan mental anak-anak harus segera ditangani sebagai bagian dari pendekatan preventif.
Program ini akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dengan dukungan lintas kementerian, termasuk Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, dan Kantor Staf Presiden. Lebih dari 10.000 puskesmas dan 60.000 puskesmas pembantu turut dikerahkan untuk menyukseskan program ini.
Nemun yang menjadi perhatian, kurangnya tenaga medis terutama dokter gigi juga menjadi perhatian. Bukan jumlah ratusan saja, Menkes Budi mengonfirmasi ada kekurangan sekitar 4.000 dokter gigi di fasilitas kesehatan tingkat pertama di seluruh Indonesia.
Baca juga: 5 Panduan Menjaga Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak di Setiap Tahapan Usia
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah mempertimbangkan skema task shifting untuk pelayanan gigi dasar. Sementara untuk solusi jangka panjang, Kemenkes bertekad memproduksi tenaga kesehatan gigi yang lebih banyak dan menyebar di seluruh Indonesia,
Selain itu, distribusi tablet tambah darah dan integrasi program senam sehat akan diperkuat. Pemerintah mengajak guru, orang tua, dan masyarakat mendukung program CKG agar kesehatan anak terjaga sejak dini demi menciptakan generasi Indonesia yang sehat dan produktif.
Dalam pelaksanaan awal di 72 sekolah rakyat, Kemenkes RI telah menemukan sejumlah masalah kesehatan yang cukup dominan di kalangan siswa. Selanjutnya, sekolah-sekolah lain bisa mendapatkan layanan ini dimulai 4 Agustus 2025 mendatang. Sejauh ini, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut lebih dari 7.400 anak telah menjalani pemeriksaan dalam program ini.
Baca juga: Hari Alpukat Sedunia: Manfaat Alpukat untuk Diet dan Kesehatan Jantung
Dari hasil skrining tersebut, masalah kesehatan gigi menjadi temuan tertinggi dengan angka mencapai 49%. Selain itu, sekitar 33% anak mengalami kurangnya tingkat kebugaran, sementara 26,6% mengalami anemia. Kondisi anemia ini ditandai oleh kadar hemoglobin (HB) yang rendah, di bawah 12 g/dL dan dinilai berisiko tinggi terutama bagi anak perempuan menjelang usia remaja.
Selain tiga masalah utama tersebut, ditemukan pula kasus gangguan mata, tekanan darah rendah, penyakit menular seperti TBC, gangguan gizi, hingga masalah telinga. Pemeriksaan juga mulai mencakup aspek kesehatan mental yang selama ini jarang tersentuh di program kesehatan sekolah baik dasar hingga menengah.
“Di program cek kesehatan gratis sekolah ini, kita juga mulai memperkenalkan cek kesehatan jiwa. Karena banyak selama ini kita tidak bisa mengidentifikasi kalau ada masalah kejiwaan di anak-anak kita,” kata Menkes Budi.
Dalam pemeriksaan awal, ditemukan sejumlah siswa mengalami gejala kecemasan dan depresi yang ditengarai berkaitan dengan paparan gadget dan konten media sosial. Pemerintah menilai bahwa aspek kesehatan mental anak-anak harus segera ditangani sebagai bagian dari pendekatan preventif.
Program ini akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dengan dukungan lintas kementerian, termasuk Kementerian Pendidikan, Kementerian Agama, Kementerian Sosial, Kementerian Dalam Negeri, dan Kantor Staf Presiden. Lebih dari 10.000 puskesmas dan 60.000 puskesmas pembantu turut dikerahkan untuk menyukseskan program ini.
Nemun yang menjadi perhatian, kurangnya tenaga medis terutama dokter gigi juga menjadi perhatian. Bukan jumlah ratusan saja, Menkes Budi mengonfirmasi ada kekurangan sekitar 4.000 dokter gigi di fasilitas kesehatan tingkat pertama di seluruh Indonesia.
Baca juga: 5 Panduan Menjaga Kesehatan dan Tumbuh Kembang Anak di Setiap Tahapan Usia
Sebagai solusi jangka pendek, pemerintah mempertimbangkan skema task shifting untuk pelayanan gigi dasar. Sementara untuk solusi jangka panjang, Kemenkes bertekad memproduksi tenaga kesehatan gigi yang lebih banyak dan menyebar di seluruh Indonesia,
Selain itu, distribusi tablet tambah darah dan integrasi program senam sehat akan diperkuat. Pemerintah mengajak guru, orang tua, dan masyarakat mendukung program CKG agar kesehatan anak terjaga sejak dini demi menciptakan generasi Indonesia yang sehat dan produktif.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.