Festival Sastra LIFEs 2025 Hadirkan Diskusi Kritis Tentang Menjadi Indonesia
01 August 2025 |
21:30 WIB
Komunitas Salihara Arts Center kembali menggelar festival sastra dua tahunan Literature and Ideas Festival (LIFEs). Tahun ini, LIFEs akan digelar pada 8-16 Agustus 2025 yang berlokasi tersebar di berbagai titik di Jakarta dengan Komunitas Salihara Arts Center sebagai pusatnya.
Berbeda dengan gelaran sebelumnya, tahun ini LIFEs hadir dalam satu rangkaian yang lebih panjang yang terbagi ke dalam pra-LIFEs dan paska-LIFEs. Dalam sesi itu, pengunjung bisa menikmati ragam pertunjukan dari pada 2-3 dan 22-23 Agustus 2025. Adapun, sepanjang pelaksanaan LIFEs pada 8-16 Agustus 2025, publik dapat menikmati sederet diskusi, lokakarya, pertunjukan, ceramah, hingga pameran.
Baca juga: Festival Sastra H.B. Jassin Siap Hadirkan Sederet Acara Asyik di TIM Cikini
Baca juga: Festival Sastra H.B. Jassin Siap Hadirkan Sederet Acara Asyik di TIM Cikini
LIFEs 2025 mengangkat tema Menjadi Indonesia. Festival ini akan mengajak publik kembali memaknai dan merenungkan secara luas isu-isu tentang diri, identitas, komunitas, dan kebangsaan yang relevan bagi khalayak di dalam maupun luar Indonesia. Sebanyak 35 penampil yang terbagi ke dalam 20 rangkaian program akan dihadirkan, tak hanya dari Indonesia tetapi juga Asia Tenggara dan Palestina.
Direktur LIFEs Ayu Utami mengatakan LIFEs tahun ini mengusung tema "Menjadi Indonesia" lantaran bertepatan dengan momentum 80 tahun Indonesia merdeka, plus munculnya kontroversi terkait penulisan ulang sejarah yang dimaksudkan menjadi sejarah resmi oleh pemerintah.
Menurut Ayu, banyak orang beranggapan bahwa sejarah Indonesia atau identitas keIndonesiaan itu merupakan suatu identitas yang telah terbentuk.
"Sebetulnya kami mau menekankan bahwa identitas Indonesia itu tidak pernah fix, tidak pernah sudah jadi begitu saja. Harus terus dibicarakan dan dinegosiasikan," katanya dalam acara konferensi pers di Jakarta, Jumat (1/8/2025).
"Sebetulnya kami mau menekankan bahwa identitas Indonesia itu tidak pernah fix, tidak pernah sudah jadi begitu saja. Harus terus dibicarakan dan dinegosiasikan," katanya dalam acara konferensi pers di Jakarta, Jumat (1/8/2025).
Meski demikian, Ayu menerangkan bahwa tema "Menjadi Indonesia" sejatinya telah dirancang sebelum adanya kontroversi mengenai penulisan ulang sejarah nasional. Namun, dalam proses persiapan LIFEs 2025, muncul berbagai dinamika sosial yang ditandai dengan beberapa tagar seperti #IndonesiaGelap, #KaburAjaDulu hingga penulisan ulang sejarah, yang akhirnya menjadi bagian dari isu yang diangkat di LIFEs tahun ini.
Tajuk ini dinilai makin relevan untuk menjawab kegelisahan generasi muda yang sempat melihat #IndonesiaGelap, ingin #KaburAjaDulu, atau ingin tahu penulisan kembali sejarah Indonesia. LIFEs 2025 akan mengajak publik menelusuri karya-karya dari klasik maupun suara terkini, dalam bedah buku, seminar, ceramah, pentas bincang, maupun pentas inovatif, yang membincangkan apa itu menjadi Indonesia dan masih perlukah.
"Ini kan harus kami respon, artinya satu perkembangan yang terjadi dalam masa kami menyiapkan festival ini. Tapi kalau mau dikaitkan sama penulisan ulang sejarah, pesan kami, sebenarnya yang dibutuhkan itu bukan penulisan sejarah versi resmi, tetapi kemampuan untuk melihat banyak versi sejarah dan minat akan sejarah. Supaya orang-orang itu menggali sejarahnya masing-masing," ujarnya.
Rangkaian Acara LIFEs 2025
Dalam program LIFEs 2025, publik dapat menikmati pembacaan karya dari bintang-bintang baru di dunia sastra dilanjutkan dengan Makan Malam Sastra. Tema Menjadi Indonesia juga memberikan ruang untuk melihat bagaimana karya-karya klasik Indonesia, hingga ke karya penulis di era modern membentuk identitas bangsa.
Semua itu akan tertuang dalam diskusi-diskusi menarik seperti Sastra dan Subaltern, Indonesia Gelap dan Sekitarnya, Klasik Nan Asyik: Ignas Kleden & Parakitri Simbolon, Aksi Massa Spionase Nusantara, Indonesia di Jalan Saya, Kontroversi Penulisan Ulang Sejarah Indonesia serta Identitas dan (De)Kolonisasi.
Selain diskusi, kita juga melihat berbagai kegiatan interaktif seperti lokakarya Urban Raga yang menggabungkan gerak dan menulis kreatif dan lokakarya Memasak Resep Warisan Soekarno, di mana peserta dapat mendalami resep Mustikarasa sebagai salah satu buku resep peninggalan era Soekarno.
Bagi yang ingin menyuarakan perasaan dalam bentuk puisi atau narasi bisa mengirimkan puisi mereka dan terlibat dalam Jakarta Poetry Slam: Grand Slam 2025. Adapun pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan Membaca Senyap bersama Baca Bareng SBC Jakarta yang dapat dilakukan di seluruh area Komunitas Salihara Arts Center.
Bagi yang ingin menyuarakan perasaan dalam bentuk puisi atau narasi bisa mengirimkan puisi mereka dan terlibat dalam Jakarta Poetry Slam: Grand Slam 2025. Adapun pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan Membaca Senyap bersama Baca Bareng SBC Jakarta yang dapat dilakukan di seluruh area Komunitas Salihara Arts Center.
Sembari menunggu pergantian sesi antarprogram, pengunjung bisa menikmati Pameran Interaktif: Menjadi Indonesia yang menghadirkan kombinasi grafis dan video atas teks-teks penting dalam karya dan kritik sastra ataupun seni di Galeri Salihara.
Selain diskusi, lokakarya, dan pameran, akan hadir juga pentas dalam berbagai multidisiplin, seperti Rumah dengan Selembar Tikar, sebentuk teater arsip bermodul dengan naskah Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), serta Pentas Urban Raga yang merupakan eksperimen berkarya secara kolektif dengan koreografi dan kata-kata.
Tak hanya itu, pengunjung juga dapat mendalami bagaimana jazz nusantara berkembang dalam Pentas Ceramah: Jazz Sebagai Metode Menjadi Indonesia, serta Ceramah: Hukum sebagai Kebudayaan: Suatu Gagasan tentang Indonesia, yang membahas bagaimana hukum tidak akan terpisahkan dari aspek kehidupan namun pengaplikasiannya selalu kontroversial di negara ini.
Publik juga bisa menyaksikan pertunjukan The Gaza Monologues, serangkaian kesaksian yang ditulis oleh para remaja Palestina, suara-suara muda yang selamat dari agresi militer dan terus hidup di bawah bayang-bayang penjajahan. Pertunjukan ini diharapkan dapat memberikan sudut pandang yang lain tentang artinya menjadi bangsa yang merdeka.
Adapun, LIFEs 2025 akan ditutup oleh pertunjukan musik dari Sukatani yang dikenal menyuarakan keresahan generasi yang hidup di antara ingatan akan kekerasan struktural dan kebutuhan akan bentuk-bentuk baru perlawanan melalui karya-karya mereka.
"Di LIFEs kali ini kita ingin buat orang lebih interaktif, gimana caranya supaya mereka ikut mengerti atau mengetahui perkembangan sejarah," kata Ayu.
Buat Genhype yang tertarik untuk datang ke LIFEs 2025, dapat melihat jadwal terbaru seluruh acaranya di lifes.salihara.org dan memilih program-program yang sesuai dengan minat kalian.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.