Pentas Ceramah Sri Hanuraga di Salihara (Sumber gambar: dok Salihara)

Menemukan Makna Indonesia dari Alunan Jazz Sri Hanuraga

15 August 2025   |   19:00 WIB
Image
Chelsea Venda Jurnalis Hypeabis.id

Like
Pentas Ceramah Jazz sebagai Metode Menjadi Indonesia oleh musisi Sri Hanuraga menjadi salah satu pertunjukan menarik di Literature and Ideas Festival (LIFEs) 2025 di Teater Salihara, Jumat (14/8/2025). Dalam penampilannya, Aga memadukan monolog reflektif dengan improvisasi musik jazz.

Pentas yang berlangsung 90 menit ini menghadirkan pengalaman unik yang mengajak penonton berpikir sekaligus menikmati alunan nada. Lewat pertunjukan ini, Aga mengajak penonton memahami jazz bukan sekadar aliran musik, melainkan sebuah cara berpikir dan metode membentuk identitas.

Selama pertunjukan, dia membedah filosofi jazz dengan menerima kontradiksi, merangkul ketidaksempurnaan, dan membangun harmoni melalui interaksi. Dalam perjalanan itu, dia kemudian menemukan jejak-jejak Menjadi Indonesia melalui musik jazz.

Baca juga: Hypeprofil Musisi Barry Likumahuwa: Dari Radio Ayah, Jazz Masuk ke Dalam Dada
 

Pentas Ceramah Sri Hanuraga di Salihara (Sumber gambar: dok Salihara)

Pentas Ceramah Sri Hanuraga di Salihara (Sumber gambar: dok Salihara)


Aga memulainya dengan cerita masa kecil ketika pertama kali menemukan musik jazz. Dia kemudian bertemu dengan para senior musisi jazz dan menyarankannya untuk memperdalam jazz dalam kerangka akademik. Aga kemudian bersekolah di Belanda. Di sana, cintanya terhadap musik klasik terus tumbuh.

Musisi sekaligus dosen ini percaya bahwa seni dan estetika bukan hanya soal rasa indah, tapi juga cara berpikir. Menurutnya, imajinasi dan logika selalu berjalan berdampingan. Jazz, yang sudah dia geluti sejak lama, menjadi lensa utama dalam melihat dan memahami hal tersebut, termasuk identitasnya sebagai pemusik Indonesia.

Bagi Aga, Indonesia adalah hasil dari proses saling membentuk dan saling merujuk pemahaman identitas. Proses ini terjadi mulai dari individu, kelompok kecil, hingga tingkatan sosial dan ekonomi yang lebih luas. Identitas bangsa bukanlah sesuatu yang statis, katanya, tapi lebih ke sesuatu yang terus berkembang lewat interaksi banyak pihak.

"Lalu bagaimana jazz membantu saya dalam memahami itu semua? Pertama, musisi jazz mengamati dan menyerap kosabunyi di luar dirinya lalu mempersonalisasinya dengan cara yang khas. Bunyi itu diserap apa adanya hingga benar-benar menubuh, baru kemudian mengalami proses abstraksi," ujarnya.

Proses ini tidak berhenti di situ. Sebab, menurutnya, bunyi yang sudah diolah akan melalui tahap abstraksi, semacam pemurnian ide, yang kemudian dipelajari hingga benar-benar menjadi bagian dari tubuh dan kesadaran. Proses dalam jazz ini yang kemudian membentuk pola pikir seorang musisi, termasuk dirinya.

Aga juga bercerita kalau jazz yang dipahaminya telah mengajarkan untuk hidup berdampingan dengan kontradiksi. Alih-alih memaksakan penyelesaian, jazz justru merangkul perbedaan dan ketidaksepahaman sebagai bagian dari keindahan.

"Jazz juga mampu mengolah benda-benda bekas dari keseharian dan segala sesuatu di luar dirinya, lalu mengasingkannya melalui improvisasi," katanya.

Dalam ceramah ini, Aga ingin menunjukkan bahwa prinsip-prinsip tersebut bisa dipakai untuk membaca realitas. Cara kerja musisi jazz dalam menyerap dan mempersonalisasi bunyi bisa menjadi gambaran bagaimana kita memproses pengalaman hidup.

Dia bahkan menampilkan contoh konkret, yakni mengubah puisi dan proses penyulingan air minum di Jakarta menjadi komposisi bunyi. Proses ini disebut sonifikasi, yakni mengonversi data atau peristiwa menjadi suara.
 

Pentas Ceramah Sri Hanuraga di Salihara (Sumber gambar: dok Salihara)

Pentas Ceramah Sri Hanuraga di Salihara (Sumber gambar: dok Salihara)


Dengan pendekatan ini, penonton diajak melihat dunia dari sudut pandang baru. Musik menjadi jembatan antara pengalaman sehari-hari dengan pemahaman yang lebih mendalam, persis seperti cara jazz membentuk cara berpikir dan rasa bagi seorang Sri Hanuraga.

Dengan kedekatan-kedekatan realitas seperti inilah, musiknya kemudian menemukan makna Indonesia. Baginya, ini lebih dari sekadar memasukkan bebunyian musik tradisional ke dalam sebuah lagu.

Festival sastra dua tahunan Literature and Ideas Festival (LIFEs) masih berlangsung hingga 16 Agustus 2025. LIFEs 2025 mengangkat tema Menjadi Indonesia. Festival ini akan mengajak publik kembali memaknai dan merenungkan secara luas isu-isu tentang diri, identitas, komunitas, dan kebangsaan yang relevan bagi khalayak di dalam maupun luar Indonesia.

Baca juga: Festival Sastra LIFEs 2025 Hadirkan Diskusi Kritis Tentang Menjadi Indonesia

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

5 Rekomendasi Facial Wash Brand Lokal Aman untuk Semua Jenis Kulit

BERIKUTNYA

Rekomendasi Booth Aksesoris Kekinian di The BFF Festival 2025

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga