Pendar Menderma, Saat Refleksi Manusia & Alam Menyatu di Karya Restu Taufik Akbar
01 August 2025 |
18:30 WIB
CAN's Gallery berkolaborasi dengan Artsociates menggelar pameran tunggal Restu Taufik Akbar bertajuk Pendar Menderma. Pameran yang berlangsung pada 31 Juli sampai 1 September 2025 itu menghadirkan sepuluh lukisan terbaru Restu yang merefleksikan hubungan manusia dengan alam.
Melalui pameran ini, Restu ingin mengajak audiens untuk memproyeksikan diri atau bahkan meleburnya dalam bingkai karya. Menggunakan medium stainless steel mirror, sang seniman mengajak manusia menelaah kembali dirinya terhadap realitas.
Tajuk Pendar Menderma dipilih sebagai bentuk manifestasi poros-poros reflektif yang memproyeksikan hakikat manusia dalam relasinya dengan lingkungan sekitar, serta semesta tempat mereka hidup, khususnya untuk mendekatkan diri dengan alam.
Baca juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
Menariknya, pameran ini dihadirkan melalui upaya pemaknaan dan pemanfaatan cahaya dalam dua cara. Pertama, cahaya hadir secara langsung di ruang pamer, laiknya pameran pada umumnya. Akan tetapi, ada juga ruang pamer yang menyajikan lukisan dengan interaksi penonton.
Saat memasuki ruang pamer, publik akan langsung bersitatap dengan lukisan bertajuk Insun Medal: Lina Menyela Cahna (2025). Dibuat dengan medium polyurethane, nitrocellulose, dan vitrail on stainless steel mirror plate, karya ini menghamparkan lanskap hutan dengan air mengalir.
Didominasi palet kebiruan, lukisan ini menghadirkan guratan-guratan putih keperakan di atas permukaan reflektif yang menciptakan efek seperti aliran sungai, lanskap tanah, dan ranting-ranting pohon berlatarkan gunung serta lembah.
Sementara itu, dalam ruang yang menyajikan lukisan dengan interaksi penonton, kita akan melihat pantulan gambar dari karya-karya Restu saat disoroti senter. Meski hadir dengan gaya abstrak, akan tetapi kita bakal melihat senarai visual yang imersif.
Kurator Bob Edrian mengatakan, meski menghadirkan senarai lukisan abstrak, Pendar Menderma justru berangkat dari filosofi insun medal, insun madangan, ungkapan dalam bahasa Sunda yang berarti “aku lahir untuk memberi pencerahan”.
Filosofi ini sebenarnya berasal dari para leluhur di Sumedang, Jawa Barat, tempat Restu dilahirkan. Lewat falsafah itulah sang seniman menelusuri pendaran alam semesta yang kemudian memunculkan kesadaran dari relasi harmonis antara sesama makhluk, alam, dan pencipta.
"Restu berbicara tentang eksistensi manusia melalui karyanya. Adanya pertimbangan ruang pamer, di mana cahaya sudah hadir dan yang satu belum (gelap), itu menandakan bagaimana sosok manusia berefleksi dalam pameran ini," katanya.
Lebih lanjut dia mengungkap, pameran ini juga mengungkai apa yang kerap luput dari perhatian publik, yakni objek atau warna hadir karena ada cahaya. Karena menggunakan stainless steel, bagian reflektif di lukisan itulah yang kelak memunculkan wajah publik yang melihat karya tersebut.
Setali tiga uang, Restu mengungkap karya-karyanya dalam pameran ini memang berkaitan dengan unsur alam dalam pilihan bentuk, warna, dan kehadiran cahaya. Refleksi ini juga tak lepas dari hobinya yang menyukai kegiatan luar ruang seperti naik gunung hingga touring motor.
Lewat karya-karyanya, sang seniman berharap publik juga dapat menyelami cahaya yang tak kasat mata, menelusuri lapisan-lapisan pengalaman, keyakinan, dan interaksi yang menjadi denyut nadi kehidupan. Termasuk meresapi hubungan vertikal dan horizontal yang membentuk keberadaan manusia.
"Lewat karya saya ini saya berharap memang dapat menjadi impuls publik untuk merasakan peristiwa, dan menyadari dirinya sendiri," papar peraih Gold Prize dalam kategori Seniman Mapan pada ajang UOB Painting of The Year itu.
Restu Taufik Akbar adalah seniman visual yang berkarya lintas medium, termasuk lukisan, gambar, video, patung, dan instalasi. Dia lulus dengan predikat summa cum laude dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, pada 2015.
Karyanya banyak terinspirasi oleh pengalaman spiritual dan kedekatannya dengan alam. Sejak pameran tunggal perdananya yang bertajuk Lucidity (2015), Restu aktif berpameran di berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara.
Baca juga: Menyalakan Ingatan: Cek 5 Karya Sorotan di Pameran Nyala Galnas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Melalui pameran ini, Restu ingin mengajak audiens untuk memproyeksikan diri atau bahkan meleburnya dalam bingkai karya. Menggunakan medium stainless steel mirror, sang seniman mengajak manusia menelaah kembali dirinya terhadap realitas.
Tajuk Pendar Menderma dipilih sebagai bentuk manifestasi poros-poros reflektif yang memproyeksikan hakikat manusia dalam relasinya dengan lingkungan sekitar, serta semesta tempat mereka hidup, khususnya untuk mendekatkan diri dengan alam.
Baca juga: Eksplorasi Kenangan dan Hujan, Ugo Untoro Gelar Pameran Tunggal di Nadi Gallery
Menariknya, pameran ini dihadirkan melalui upaya pemaknaan dan pemanfaatan cahaya dalam dua cara. Pertama, cahaya hadir secara langsung di ruang pamer, laiknya pameran pada umumnya. Akan tetapi, ada juga ruang pamer yang menyajikan lukisan dengan interaksi penonton.
Saat memasuki ruang pamer, publik akan langsung bersitatap dengan lukisan bertajuk Insun Medal: Lina Menyela Cahna (2025). Dibuat dengan medium polyurethane, nitrocellulose, dan vitrail on stainless steel mirror plate, karya ini menghamparkan lanskap hutan dengan air mengalir.
Didominasi palet kebiruan, lukisan ini menghadirkan guratan-guratan putih keperakan di atas permukaan reflektif yang menciptakan efek seperti aliran sungai, lanskap tanah, dan ranting-ranting pohon berlatarkan gunung serta lembah.
Sementara itu, dalam ruang yang menyajikan lukisan dengan interaksi penonton, kita akan melihat pantulan gambar dari karya-karya Restu saat disoroti senter. Meski hadir dengan gaya abstrak, akan tetapi kita bakal melihat senarai visual yang imersif.

Foto close up lukisan karya Restu Taufik Akbar berjudul Insun Medal: Lina Menyela Cahna dalam pameran bertajuk Pendar Menderma, di CAN's Gallery, Jakarta, Kamis (31/7/25). (sumber gambar: Hypeabis.id/Prasetyo Agung Ginanjar)
Filosofi ini sebenarnya berasal dari para leluhur di Sumedang, Jawa Barat, tempat Restu dilahirkan. Lewat falsafah itulah sang seniman menelusuri pendaran alam semesta yang kemudian memunculkan kesadaran dari relasi harmonis antara sesama makhluk, alam, dan pencipta.
"Restu berbicara tentang eksistensi manusia melalui karyanya. Adanya pertimbangan ruang pamer, di mana cahaya sudah hadir dan yang satu belum (gelap), itu menandakan bagaimana sosok manusia berefleksi dalam pameran ini," katanya.
Lebih lanjut dia mengungkap, pameran ini juga mengungkai apa yang kerap luput dari perhatian publik, yakni objek atau warna hadir karena ada cahaya. Karena menggunakan stainless steel, bagian reflektif di lukisan itulah yang kelak memunculkan wajah publik yang melihat karya tersebut.
Setali tiga uang, Restu mengungkap karya-karyanya dalam pameran ini memang berkaitan dengan unsur alam dalam pilihan bentuk, warna, dan kehadiran cahaya. Refleksi ini juga tak lepas dari hobinya yang menyukai kegiatan luar ruang seperti naik gunung hingga touring motor.
Lewat karya-karyanya, sang seniman berharap publik juga dapat menyelami cahaya yang tak kasat mata, menelusuri lapisan-lapisan pengalaman, keyakinan, dan interaksi yang menjadi denyut nadi kehidupan. Termasuk meresapi hubungan vertikal dan horizontal yang membentuk keberadaan manusia.
"Lewat karya saya ini saya berharap memang dapat menjadi impuls publik untuk merasakan peristiwa, dan menyadari dirinya sendiri," papar peraih Gold Prize dalam kategori Seniman Mapan pada ajang UOB Painting of The Year itu.
Restu Taufik Akbar adalah seniman visual yang berkarya lintas medium, termasuk lukisan, gambar, video, patung, dan instalasi. Dia lulus dengan predikat summa cum laude dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, pada 2015.
Karyanya banyak terinspirasi oleh pengalaman spiritual dan kedekatannya dengan alam. Sejak pameran tunggal perdananya yang bertajuk Lucidity (2015), Restu aktif berpameran di berbagai kota di Indonesia maupun mancanegara.
Baca juga: Menyalakan Ingatan: Cek 5 Karya Sorotan di Pameran Nyala Galnas
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.