Krisis Matcha Dunia, Daun Kelor Jadi Alternatif
31 July 2025 |
17:36 WIB
Matcha, bubuk minuman berbahan dasar daun teh hijau asal Jepang menjadi favorit banyak orang. Kafe-kafe dan restoran turut berkreasi dengan makanan dan minuman matcha, orang-orang menebar virus matcha melalui sosial media, membuatnya dengan mudah dicintai hingga ke penjuru dunia.
Sayangnya, ada kabar buruk bagi matcha lovers. Saking tingginya permintaan, stok matcha semakin hari mulai semakin menipis.
Tak hanya di Indonesia, luar negeri juga sama sukanya dengan matcha. Kesulitan ketersediaan teh ini jadi permasalahan global. Japan International Transport and Tourism Institute mendata, setelah gelombang pandemi berakhir, pariwisata Jepang bangkit secara cepat.
Baca juga: JKTGO Crazy Matcha Festival Digelar Agustus 2025, Matcha Lovers Merapat!
Bahkan, pada tahun 2024, sebanyak 36,9 juta turis mancanegara berkunjung ke Jepang, mengalahkan rekor di tahun 2019 yakni 31,9 juta orang. Turis-turis ini ramai membeli teh, termasuk matcha, sampai perusahaan dan penjual teh lokal kehabisan pasokan.
Salah satu perusahaan matcha terkenal, Marukyu Koyamaen memberikan peringatan di situs penjualannya perihal ini. Disebutkan di laman pertamanya, “Pelanggan yang terhormat, kami telah menerima pesanan dengan jumlah tinggi yang tak terduga beberapa bulan belakangan. Dengan sangat menyesal kami umumkan bahwa ketersediaan semua produk Matcha akan dibatasi mulai sekarang.”
Forbes menduga, permintaan akan matcha akan meroket hingga 5 miliar USD di tahun 2028, 10% jauh lebih tinggi dari tahun 2023. Lebih lanjut, Time menyusuri laporan dari Kementerian Pertanian Jepang, tercatat tencha, bentuk mentah dari matcha dipanen 2,5 kali lebih banyak dibanding di tahun 2014.
Oleh karena itu, Genhype pecinta matcha harus mulai gencar bergerak mencari alternatif. Sebuah tumbuhan yang mungkin tidak asing di pekarangan rumah ataupun di kebun-kebun kita bisa jadi salah satunya. Daun kelor atau nama latinnya Moringa oleifera sering dibicarakan sebagai pengganti matcha.
Kualitas dari daun kelor ditentukan dari geografi, kondisi lingkungan, musim, dan jenisnya. Biasa ditemukan di negara-negara tropis, daun kelor juga dapat dibuat bubuk dan punya ribuan manfaat yang tak kalah dari matcha.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lina Novi Ariani dan rekannya berjudul Potensi Bubuk Daun Kelor untuk Bahan Pangan Fungsional: Tinjauan dari Universitas Brawijaya mengatakan, bubuk daun kelor adalah sumber protein, vitamin, mineral, dan fitonutrien seperti karotenoid, tokoferol, polifenol, flavonoid, alkaloid, dan tanin.
Bubuk daun kelor memiliki manfaat seperti antikanker, antiinflamasi, mencegah kerusakan hati dan jantung, serta antioksidan. Beberapa studi yang ditinjau mengatakan bahwa ekstrak daun kelor punya potensi sebagai bahan makanan karena mudah larut dan menambah nutrisi pada makanan.
Sedikit berbeda dari matcha, daun kelor tidak mengandung kafein, lebih terasa ‘hijau’ dan sehat dengan aroma khas rumput yang kuat ketimbang matcha. Namun, khasiat daun kelor lebih banyak dari matcha, sehingga bisa jadi alternatif yang menyehatkan.
Apakah Genhype tertarik beralih ke bubuk daun kelor?
Baca juga: Tren Konsumsi Matcha Sebagai Superfood, Ini Manfaatnya Menurut Ahli Nutrisi
Sayangnya, ada kabar buruk bagi matcha lovers. Saking tingginya permintaan, stok matcha semakin hari mulai semakin menipis.
Tak hanya di Indonesia, luar negeri juga sama sukanya dengan matcha. Kesulitan ketersediaan teh ini jadi permasalahan global. Japan International Transport and Tourism Institute mendata, setelah gelombang pandemi berakhir, pariwisata Jepang bangkit secara cepat.
Baca juga: JKTGO Crazy Matcha Festival Digelar Agustus 2025, Matcha Lovers Merapat!
Bahkan, pada tahun 2024, sebanyak 36,9 juta turis mancanegara berkunjung ke Jepang, mengalahkan rekor di tahun 2019 yakni 31,9 juta orang. Turis-turis ini ramai membeli teh, termasuk matcha, sampai perusahaan dan penjual teh lokal kehabisan pasokan.
Salah satu perusahaan matcha terkenal, Marukyu Koyamaen memberikan peringatan di situs penjualannya perihal ini. Disebutkan di laman pertamanya, “Pelanggan yang terhormat, kami telah menerima pesanan dengan jumlah tinggi yang tak terduga beberapa bulan belakangan. Dengan sangat menyesal kami umumkan bahwa ketersediaan semua produk Matcha akan dibatasi mulai sekarang.”
Forbes menduga, permintaan akan matcha akan meroket hingga 5 miliar USD di tahun 2028, 10% jauh lebih tinggi dari tahun 2023. Lebih lanjut, Time menyusuri laporan dari Kementerian Pertanian Jepang, tercatat tencha, bentuk mentah dari matcha dipanen 2,5 kali lebih banyak dibanding di tahun 2014.
Oleh karena itu, Genhype pecinta matcha harus mulai gencar bergerak mencari alternatif. Sebuah tumbuhan yang mungkin tidak asing di pekarangan rumah ataupun di kebun-kebun kita bisa jadi salah satunya. Daun kelor atau nama latinnya Moringa oleifera sering dibicarakan sebagai pengganti matcha.
Kualitas dari daun kelor ditentukan dari geografi, kondisi lingkungan, musim, dan jenisnya. Biasa ditemukan di negara-negara tropis, daun kelor juga dapat dibuat bubuk dan punya ribuan manfaat yang tak kalah dari matcha.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Lina Novi Ariani dan rekannya berjudul Potensi Bubuk Daun Kelor untuk Bahan Pangan Fungsional: Tinjauan dari Universitas Brawijaya mengatakan, bubuk daun kelor adalah sumber protein, vitamin, mineral, dan fitonutrien seperti karotenoid, tokoferol, polifenol, flavonoid, alkaloid, dan tanin.
Bubuk daun kelor memiliki manfaat seperti antikanker, antiinflamasi, mencegah kerusakan hati dan jantung, serta antioksidan. Beberapa studi yang ditinjau mengatakan bahwa ekstrak daun kelor punya potensi sebagai bahan makanan karena mudah larut dan menambah nutrisi pada makanan.
Sedikit berbeda dari matcha, daun kelor tidak mengandung kafein, lebih terasa ‘hijau’ dan sehat dengan aroma khas rumput yang kuat ketimbang matcha. Namun, khasiat daun kelor lebih banyak dari matcha, sehingga bisa jadi alternatif yang menyehatkan.
Apakah Genhype tertarik beralih ke bubuk daun kelor?
Baca juga: Tren Konsumsi Matcha Sebagai Superfood, Ini Manfaatnya Menurut Ahli Nutrisi
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.