Apa Itu 'Performative Male' yang Sedang Tren di Tiktok Sampai Dijadikan Kontes?
31 July 2025 |
21:22 WIB
Akhir-akhir ini, mungkin Genhype sering melihat video tentang performative male yang ramai dijadikan tren oleh berbagai kreator konten di sosial media, seperti Tiktok dan Instagram. Performative Male dicirikan saat seorang laki-laki yang sedang mengenakan tote bag merchandise dari musisi yang tidak banyak diketahui publik, memegang segelas matcha latte, serta membawa buku bertemakan feminis, seperti karya Sylvia Plath dan Joan Didion.
Selain itu, para performative male juga digambarkan dengan penggunaan earphone kabel sambil mendengarkan lagu-lagu emosional, seperti Clairo, Phoebe Bridgers, atau Beabadoobee.
Baca juga: Tren Berpakaian Y2K Ala Romcom 2000-an yang Bisa Kamu Coba
Dilansir dari Esquire Magazine, istilah performative man dan performative + action digunakan untuk menyebut fenomena ini karena para laki-laki muda berusaha menarik perhatian dengan citra yang lebih dekat dengan selera perempuan modern, dibandingkan dengan citra maskulin tradisional.
Kemunculan istilah “Performative Male” menurut Esquire adalah cara para pria muda yang berani menampilkan diri mereka sebagai pria yang memiliki selera artistik dan alternatif agar dianggap mempunyai kemampuan emosi yang lebih intelektual.
Pilihan bacaan dari karya sastra para penulis yang terkenal mendefinisikan kembali arti menjadi seorang pria yang berani menunjukkan perasaan mereka, alih-alih memendamnya karena dianggap kurang maskulin, berhasil meraih kepopuleran di kalangan anak muda saat ini.
Para pria dengan selera seperti performative male dianggap lebih menarik untuk para perempuan, karena kemiripan mereka dengan karakter-karakter “written by a woman” yang jauh dari persepsi pria maskulin tradisional.
Jika selama ini kita sering mendengar konsep “Male Gaze” yang diciptakan oleh ahli film feminis, Laura Mulvey pada tahun 1970-an yang membahas bagaimana konsep patriarki dan maskulinitas tradisional banyak mempengaruhi apresiasi dan konsumsi film.
Selain Laura Mulvey, kritikus seni dan novelis John Berger, juga mendeskripsikan istilah ini meskipun hanya menyebutnya dengan “the gaze”. Menurutnya, seseorang tidak akan bisa menjadi netral ketika menyerap suatu media tertentu, di mana tindakan tersebut pasti akan dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan pengaruh lingkungan sosialnya.
Konsep performative male yang saat ini sedang tren, mungkin dapat disebut sebagai bagian dari istilah “Female Gaze” yang mencakup bagaimana perempuan memandang karakter-karakter maskulin yang jauh dari stereotip tradisional, di mana pria baru dianggap maskulin saat berperilaku lebih kaku.
Selain ramai menjadi konten video dari para pengguna sosial media, performative male bahkan sempat dijadikan sebagai ajang kontestasi untuk masyarakat New York City yang digelar pada Senin (21/7) lalu. Kontes ini diikuti oleh para pria yang memiliki ciri khas yang sama dengan performative male, yakni menggunakan totebag, memegang segelas matcha, menggunakan wired earphone, hingga memiliki boneka labubu.
Sementara itu, beberapa bintang Hollywood, seperti Timothee Chalamet dan Paul Mescal juga dijadikan sebagai tolak ukur konsep performative male yang menarik banyak perhatian penggemar perempuan karena keberhasilan mereka dalam memerankan karakter film yang diadaptasi dari novel-novel yang menunjukkan definisi berbeda dari karakter pria, yakni Little Woman karya Louisa May Alcott dan Normal People karya Sally Rooney.
Baca juga: Tren Model Rambut Cewek Korea 2025, Hush Cut sampai Tassel Cut
Selain itu, para performative male juga digambarkan dengan penggunaan earphone kabel sambil mendengarkan lagu-lagu emosional, seperti Clairo, Phoebe Bridgers, atau Beabadoobee.
Baca juga: Tren Berpakaian Y2K Ala Romcom 2000-an yang Bisa Kamu Coba
Dilansir dari Esquire Magazine, istilah performative man dan performative + action digunakan untuk menyebut fenomena ini karena para laki-laki muda berusaha menarik perhatian dengan citra yang lebih dekat dengan selera perempuan modern, dibandingkan dengan citra maskulin tradisional.
Kemunculan istilah “Performative Male” menurut Esquire adalah cara para pria muda yang berani menampilkan diri mereka sebagai pria yang memiliki selera artistik dan alternatif agar dianggap mempunyai kemampuan emosi yang lebih intelektual.
Pilihan bacaan dari karya sastra para penulis yang terkenal mendefinisikan kembali arti menjadi seorang pria yang berani menunjukkan perasaan mereka, alih-alih memendamnya karena dianggap kurang maskulin, berhasil meraih kepopuleran di kalangan anak muda saat ini.
Para pria dengan selera seperti performative male dianggap lebih menarik untuk para perempuan, karena kemiripan mereka dengan karakter-karakter “written by a woman” yang jauh dari persepsi pria maskulin tradisional.
Jika selama ini kita sering mendengar konsep “Male Gaze” yang diciptakan oleh ahli film feminis, Laura Mulvey pada tahun 1970-an yang membahas bagaimana konsep patriarki dan maskulinitas tradisional banyak mempengaruhi apresiasi dan konsumsi film.
Selain Laura Mulvey, kritikus seni dan novelis John Berger, juga mendeskripsikan istilah ini meskipun hanya menyebutnya dengan “the gaze”. Menurutnya, seseorang tidak akan bisa menjadi netral ketika menyerap suatu media tertentu, di mana tindakan tersebut pasti akan dipengaruhi oleh alam bawah sadar dan pengaruh lingkungan sosialnya.
Konsep performative male yang saat ini sedang tren, mungkin dapat disebut sebagai bagian dari istilah “Female Gaze” yang mencakup bagaimana perempuan memandang karakter-karakter maskulin yang jauh dari stereotip tradisional, di mana pria baru dianggap maskulin saat berperilaku lebih kaku.
Selain ramai menjadi konten video dari para pengguna sosial media, performative male bahkan sempat dijadikan sebagai ajang kontestasi untuk masyarakat New York City yang digelar pada Senin (21/7) lalu. Kontes ini diikuti oleh para pria yang memiliki ciri khas yang sama dengan performative male, yakni menggunakan totebag, memegang segelas matcha, menggunakan wired earphone, hingga memiliki boneka labubu.
Sementara itu, beberapa bintang Hollywood, seperti Timothee Chalamet dan Paul Mescal juga dijadikan sebagai tolak ukur konsep performative male yang menarik banyak perhatian penggemar perempuan karena keberhasilan mereka dalam memerankan karakter film yang diadaptasi dari novel-novel yang menunjukkan definisi berbeda dari karakter pria, yakni Little Woman karya Louisa May Alcott dan Normal People karya Sally Rooney.
Baca juga: Tren Model Rambut Cewek Korea 2025, Hush Cut sampai Tassel Cut
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.