1,3 Juta Kematian Per Tahun Terjadi Akibat Hepatitis, Kenali Bahayanya
29 July 2025 |
15:30 WIB
Setiap tanggal 28 Juli, dunia memperingati Hari Hepatitis Dunia sebagai upaya meningkatkan kesadaran terhadap penyakit yang sering kali luput dari perhatian. Tahun ini, tema global yang diusung adalah Let's Break It Down, sementara Indonesia mengangkat tema nasional Bergerak Bersama Putuskan Penularan Hepatitis.
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa hepatitis masih merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama jenis B dan C. Kedua jenis ini dapat berkembang secara kronis tanpa gejala jelas, namun berpotensi menyebabkan komplikasi berat seperti sirosis dan kanker hati jika tidak ditangani sejak dini.
“Indonesia bersama negara-negara lain di dunia memperingati hari ini dengan seruan melawan hepatitis untuk mencapai eliminasi pada 2030,” ujar Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI Ina Agustina Isturini.
Baca juga: Hari Hepatitis Sedunia Diperingati 28 Juli, Kenali Cara Penularan dan Pencegahannya
Hepatitis didefinisikan sebagai peradangan hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi virus, penggunaan obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol, kondisi medis, hingga perlemakan hati. Terdapat 5 jenis utama hepatitis yaitu A, B, C, D, dan E. Tiap-tiap jenisnya memiliki karakteristik penularan, gejala, tingkat keparahan, dan metode pencegahan yang berbeda.
Jenis B dan C dikenal memiliki potensi paling berbahaya karena dapat berkembang menjadi penyakit kronik. Penularan hepatitis B dan C dapat terjadi melalui kontak dengan darah terinfeksi, hubungan seksual dengan penderita, serta penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Data menunjukkan sekitar 25% kasus hepatitis kronik dapat berkembang menjadi sirosis, dan 5-10% langsung menjadi kanker hati.
Ina mengatakan, Indonesia termasuk negara dengan beban hepatitis yang tinggi. Berdasarkan data WHO dan International Agency for Research on Cancer, Indonesia berada pada posisi keempat dunia dengan angka kejadian hepatitis B sebesar 8,53 per 100.000 penduduk.
Diperkirakan terdapat 6,7 juta penduduk yang hidup dengan infeksi hepatitis B kronik. Meskipun prevalensi ini menurun dari 7,1% pada 2013, akan tetapi beban penyakit tetap signifikan terutama di kalangan orang dewasa.
Untuk hepatitis C, angka infeksi diperkirakan mencapai 2,5 juta penduduk dengan prevalensi nasional sekitar 1%. Sementara itu, di tingkat global, terdapat 254 juta orang yang hidup dengan hepatitis B kronik dan 50 juta dengan hepatitis C. Di kawasan Asia Tenggara saja, jumlah penderita hepatitis B mencapai 61,4 juta dengan angka kematian tahunan sebesar 218.000 kasus.
“Target global pada 2030 adalah menurunkan 90% infeksi baru dan 65% kematian akibat hepatitis dibandingkan pada 2015,” jelas Ina.
Upaya eliminasi hepatitis di Indonesia telah berlangsung sejak 1987 melalui pilot project WHO untuk imunisasi hepatitis B pada bayi. Pada 1997, vaksin hepatitis B resmi menjadi bagian dari program imunisasi nasional. Langkah penting lainnya diambil pada 2014 dengan mulai difokuskannya deteksi hepatitis pada ibu hamil. Langkah ini penting karena penularan dari ibu ke bayi dapat menyebabkan infeksi kronis sejak dini.
Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B reaktif kini diberikan vaksin hepatitis B dan hepatitis B immunoglobulin sesegera mungkin untuk mencegah infeksi kronis. Sejak 2017, program ini mulai diintegrasikan dengan skrining HIV dan sifilis sebagai bagian dari strategi triple eliminasi.
Ketua Komite Ahli Hepatitis Kemenkes RI David Handojo Muljono mengatakan, perjalanan infeksi hepatitis bersifat diam-diam dan kronis. Hepatitis B terutama ditularkan melalui proses persalinan, sedangkan hepatitis C memiliki tingkat kronisitas hingga 80% sering kali tanpa gejala.
Berbeda dengan hepatitis C yang dapat disembuhkan, hepatitis B tidak bisa sembuh total karena virusnya menetap di dalam inti sel hati seumur hidup. Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi sangat krusial.
“Kalau terkena pada usia bayi, maka individu tersebut akan 90% mengalami kronisitas,” jelas David.
Sebagai bentuk perlindungan sejak dini, imunisasi hepatitis B wajib diberikan pada bayi baru lahir dalam waktu kurang dari 24 jam. Selain itu, bayi yang dilahirkan dari ibu dengan hepatitis B reaktif juga diberikan immunoglobulin untuk mencegah infeksi kronik. David mengatakan upaya ini telah menjadi bagian dari strategi nasional yang dijalankan sejak 2017.
Strategi penanggulangan hepatitis terdiri dari 4 pilar utama yakni pencegahan, penemuan kasus, pengobatan, dan promosi kesehatan. Pencegahan dilakukan melalui vaksinasi hepatitis B terutama pada kelompok risiko tinggi seperti tenaga kesehatan dan bayi.
Penemuan kasus dilakukan lewat skrining pada populasi umum dan berisiko termasuk ibu hamil, pasien hemodialisis, pengguna jarum suntik, serta warga binaan. Melalui program Cek Kesehatan Gratis juga, deteksi hepatitis B dan C dilakukan secara luas di masyarakat.
Layanan pengobatan juga telah diperluas, termasuk dengan pemberian antivirus untuk hepatitis C dan hepatitis B. Sejak 2025, seluruh fasilitas kesehatan di kabupaten dan kota diminta menyediakan layanan antivirus untuk ibu hamil dengan hepatitis B reaktif. Untuk hepatitis C, pengobatan disediakan secara gratis di 71 rumah sakit di seluruh Indonesia bagi kelompok berisiko tinggi.
"Kalau hepatitis B tidak bisa disembuhkan, maka yang harus dilakukan adalah pengendalian agar tidak berkembang menjadi kanker atau sirosis, serta tidak menularkan ke orang lain," ujar David.
Lebih lanjut, David menjelaskan, dampak hepatitis bisa sangat luas mulai dari gangguan fungsi hati, sirosis, hingga kanker hati. Selain itu, dampak sosial dan psikologis seperti stigma, diskriminasi, gangguan kepercayaan diri, hingga kehilangan produktivitas juga turut membebani individu dan masyarakat.
David menyebut, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengendalian hepatitis. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi hepatitis B menurun dari 9,7% pada 2007 menjadi 2,4% pada 2023. Penurunan drastis juga terjadi pada kelompok balita, dari 7,3% menjadi di bawah 0,5%. Ini menunjukkan efektivitas imunisasi untuk bayi baru lahir.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Cakupan imunisasi secara nasional pada 2024 masih berada di angka 79,69%. David menyebut, hanya 3 provinsi saja yang telah mencapai cakupan di atas 100% yaitu Banten, Bali, dan DKI Jakarta. Untuk itu, upaya peningkatan cakupan serta pelacakan dan penanganan ibu hamil dengan hepatitis B masih perlu diperkuat.
Baca juga: 35.757 Bayi Indonesia Berisiko Hepatitis B, Ditularkan Langsung dari Ibu
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Peringatan ini menjadi pengingat bahwa hepatitis masih merupakan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama jenis B dan C. Kedua jenis ini dapat berkembang secara kronis tanpa gejala jelas, namun berpotensi menyebabkan komplikasi berat seperti sirosis dan kanker hati jika tidak ditangani sejak dini.
“Indonesia bersama negara-negara lain di dunia memperingati hari ini dengan seruan melawan hepatitis untuk mencapai eliminasi pada 2030,” ujar Direktur Penyakit Menular Kemenkes RI Ina Agustina Isturini.
Baca juga: Hari Hepatitis Sedunia Diperingati 28 Juli, Kenali Cara Penularan dan Pencegahannya
Hepatitis didefinisikan sebagai peradangan hati yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi virus, penggunaan obat-obatan tertentu, konsumsi alkohol, kondisi medis, hingga perlemakan hati. Terdapat 5 jenis utama hepatitis yaitu A, B, C, D, dan E. Tiap-tiap jenisnya memiliki karakteristik penularan, gejala, tingkat keparahan, dan metode pencegahan yang berbeda.
Jenis B dan C dikenal memiliki potensi paling berbahaya karena dapat berkembang menjadi penyakit kronik. Penularan hepatitis B dan C dapat terjadi melalui kontak dengan darah terinfeksi, hubungan seksual dengan penderita, serta penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Data menunjukkan sekitar 25% kasus hepatitis kronik dapat berkembang menjadi sirosis, dan 5-10% langsung menjadi kanker hati.
Ina mengatakan, Indonesia termasuk negara dengan beban hepatitis yang tinggi. Berdasarkan data WHO dan International Agency for Research on Cancer, Indonesia berada pada posisi keempat dunia dengan angka kejadian hepatitis B sebesar 8,53 per 100.000 penduduk.
Diperkirakan terdapat 6,7 juta penduduk yang hidup dengan infeksi hepatitis B kronik. Meskipun prevalensi ini menurun dari 7,1% pada 2013, akan tetapi beban penyakit tetap signifikan terutama di kalangan orang dewasa.
Untuk hepatitis C, angka infeksi diperkirakan mencapai 2,5 juta penduduk dengan prevalensi nasional sekitar 1%. Sementara itu, di tingkat global, terdapat 254 juta orang yang hidup dengan hepatitis B kronik dan 50 juta dengan hepatitis C. Di kawasan Asia Tenggara saja, jumlah penderita hepatitis B mencapai 61,4 juta dengan angka kematian tahunan sebesar 218.000 kasus.
“Target global pada 2030 adalah menurunkan 90% infeksi baru dan 65% kematian akibat hepatitis dibandingkan pada 2015,” jelas Ina.
Upaya eliminasi hepatitis di Indonesia telah berlangsung sejak 1987 melalui pilot project WHO untuk imunisasi hepatitis B pada bayi. Pada 1997, vaksin hepatitis B resmi menjadi bagian dari program imunisasi nasional. Langkah penting lainnya diambil pada 2014 dengan mulai difokuskannya deteksi hepatitis pada ibu hamil. Langkah ini penting karena penularan dari ibu ke bayi dapat menyebabkan infeksi kronis sejak dini.
Bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B reaktif kini diberikan vaksin hepatitis B dan hepatitis B immunoglobulin sesegera mungkin untuk mencegah infeksi kronis. Sejak 2017, program ini mulai diintegrasikan dengan skrining HIV dan sifilis sebagai bagian dari strategi triple eliminasi.
Imunisasi Jadi Kunci
Hepatitis B dan C meciptakan sekitar 1,3 juta kematian di dunia setiap tahunnya. Khususnya hepatitis B, Indonesia bersama China dan India menyumbang lebih dari 50?ban dunia. Upaya untuk mengeliminasi penyakit ini terus dilakukan melalui pendekatan komprehensif mulai dari pencegahan hingga pengobatan.Ketua Komite Ahli Hepatitis Kemenkes RI David Handojo Muljono mengatakan, perjalanan infeksi hepatitis bersifat diam-diam dan kronis. Hepatitis B terutama ditularkan melalui proses persalinan, sedangkan hepatitis C memiliki tingkat kronisitas hingga 80% sering kali tanpa gejala.
Berbeda dengan hepatitis C yang dapat disembuhkan, hepatitis B tidak bisa sembuh total karena virusnya menetap di dalam inti sel hati seumur hidup. Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi sangat krusial.
“Kalau terkena pada usia bayi, maka individu tersebut akan 90% mengalami kronisitas,” jelas David.
Sebagai bentuk perlindungan sejak dini, imunisasi hepatitis B wajib diberikan pada bayi baru lahir dalam waktu kurang dari 24 jam. Selain itu, bayi yang dilahirkan dari ibu dengan hepatitis B reaktif juga diberikan immunoglobulin untuk mencegah infeksi kronik. David mengatakan upaya ini telah menjadi bagian dari strategi nasional yang dijalankan sejak 2017.
Strategi penanggulangan hepatitis terdiri dari 4 pilar utama yakni pencegahan, penemuan kasus, pengobatan, dan promosi kesehatan. Pencegahan dilakukan melalui vaksinasi hepatitis B terutama pada kelompok risiko tinggi seperti tenaga kesehatan dan bayi.
Penemuan kasus dilakukan lewat skrining pada populasi umum dan berisiko termasuk ibu hamil, pasien hemodialisis, pengguna jarum suntik, serta warga binaan. Melalui program Cek Kesehatan Gratis juga, deteksi hepatitis B dan C dilakukan secara luas di masyarakat.
Layanan pengobatan juga telah diperluas, termasuk dengan pemberian antivirus untuk hepatitis C dan hepatitis B. Sejak 2025, seluruh fasilitas kesehatan di kabupaten dan kota diminta menyediakan layanan antivirus untuk ibu hamil dengan hepatitis B reaktif. Untuk hepatitis C, pengobatan disediakan secara gratis di 71 rumah sakit di seluruh Indonesia bagi kelompok berisiko tinggi.
"Kalau hepatitis B tidak bisa disembuhkan, maka yang harus dilakukan adalah pengendalian agar tidak berkembang menjadi kanker atau sirosis, serta tidak menularkan ke orang lain," ujar David.
Lebih lanjut, David menjelaskan, dampak hepatitis bisa sangat luas mulai dari gangguan fungsi hati, sirosis, hingga kanker hati. Selain itu, dampak sosial dan psikologis seperti stigma, diskriminasi, gangguan kepercayaan diri, hingga kehilangan produktivitas juga turut membebani individu dan masyarakat.
David menyebut, Indonesia menunjukkan kemajuan signifikan dalam pengendalian hepatitis. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI), prevalensi hepatitis B menurun dari 9,7% pada 2007 menjadi 2,4% pada 2023. Penurunan drastis juga terjadi pada kelompok balita, dari 7,3% menjadi di bawah 0,5%. Ini menunjukkan efektivitas imunisasi untuk bayi baru lahir.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Cakupan imunisasi secara nasional pada 2024 masih berada di angka 79,69%. David menyebut, hanya 3 provinsi saja yang telah mencapai cakupan di atas 100% yaitu Banten, Bali, dan DKI Jakarta. Untuk itu, upaya peningkatan cakupan serta pelacakan dan penanganan ibu hamil dengan hepatitis B masih perlu diperkuat.
Baca juga: 35.757 Bayi Indonesia Berisiko Hepatitis B, Ditularkan Langsung dari Ibu
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.