Ilustrasi Hari Hepatitis Sedunia (Sumber Foto: Freepik)

Hari Hepatitis Sedunia Diperingati 28 Juli, Kenali Cara Penularan dan Pencegahannya

28 July 2025   |   11:30 WIB
Image
Kintan Nabila Jurnalis Hypeabis.id

Hari Hepatitis Sedunia diperingati setiap 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan hepatitis virus, yaitu peradangan hati yang dapat menyebabkan penyakit hati kronis dan kanker hati. Tanggal ini dipilih untuk memperingati hari lahir Dr. Baruch Samuel Blumberg, penemu virus hepatitis B dan pengembang vaksin hepatitis B.

Mengutip Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tahun ini tema yang diusung, Hepatitis: Let’s Break It Down. Tema ini menyoroti pentingnya memecah berbagai hambatan yang selama ini menghalangi akses masyarakat terhadap layanan pencegahan, diagnosis, dan pengobatan hepatitis, termasuk vaksinasi, tes, serta terapi yang aman dan efektif. Ini juga termasuk stigma sosial yang membuat banyak orang enggan memeriksakan kondisinya dan mencari pengobatan.

Baca juga: 35.757 Bayi Indonesia Berisiko Hepatitis B, Ditularkan Langsung dari Ibu

Hepatitis virus, terutama tipe B dan C, merupakan penyakit yang seringkali tidak menunjukkan gejala hingga tahap lanjut dan dapat menyebabkan sirosis serta kanker hati. WHO mencatat bahwa lebih dari 350 juta orang di dunia hidup dengan hepatitis B atau C, namun hanya sebagian kecil yang mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang memadai. Padahal kedua jenis hepatitis ini dapat dicegah dan diobati. Khusus untuk hepatitis C bahkan dapat disembuhkan.

Melalui tema tersebut, ditekankan pentingnya penyederhanaan, perluasan, dan integrasi layanan hepatitis seperti vaksinasi, praktik injeksi aman, pengurangan dampak buruk (harm reduction), serta tes dan pengobatan ke dalam sistem kesehatan nasional.

Kampanye ini mendorong aksi untuk segera mempercepat upaya perluasan layanan, integrasi sistem, dan mengeliminasi hepatitis sebagai ancaman kesehatan global pada 2030.

Indonesia turut memperingati Hari Hepatitis Sedunia 2025 pada 28 Juli dengan mengusung tema nasional “Bergerak Bersama, Putuskan Penularan Hepatitis”. Tema ini sejalan dengan seruan global WHO, “Hepatitis: Let’s Break It Down”.

Melalui kampanye ini, Kementerian Kesehatan RI mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terlibat dalam upaya eliminasi hepatitis B dan C lewat strategi “empat atasi”, yaitu atasi ketidaktahuan, atasi keterlambatan diagnosis, atasi keterbatasan akses layanan, dan atasi stigma terhadap pasien hepatitis.

Berbagai kegiatan digelar di seluruh Indonesia, mulai dari seminar daring, skrining gratis, vaksinasi massal, hingga distribusi materi edukatif melalui jejaring puskesmas dan komunitas lokal. Pemerintah menargetkan tercapainya Indonesia bebas hepatitis pada 2030 melalui penguatan imunisasi, perluasan layanan pengobatan, serta integrasi layanan hepatitis dalam sistem kesehatan primer.
 

Cara Penularan dan Pencegahan Hepatitis B dan C

Hepatitis B dan C adalah dua jenis hepatitis virus yang paling umum dan berbahaya karena dapat menyebabkan kerusakan hati kronis. Berdasarkan informasi dari Centers for Disease Control and Prevention (CDF), berikut penjelasan mengenai cara penularan dan pencegahan hepatitis B dan C.

Hepatitis B ditularkan melalui darah dan cairan tubuh, termasuk melalui hubungan seksual tanpa kondom, penggunaan jarum suntik secara bergantian, dari ibu ke bayi saat persalinan, serta melalui paparan alat medis yang tidak steril, berbagi barang pribadi seperti pisau cukur atau sikat gigi yang terkontaminasi darah.

Perlu dicatat, hepatitis B tidak menular melalui kontak kasual seperti bersin, batuk, pelukan, berbagi makanan, atau duduk dekat sesama yang terinfeksi.

Sementara itu, hepatitis C sebagian besar menyebar melalui kontak langsung dengan darah yang terinfeksi, terutama akibat penggunaan jarum suntik bersama, prosedur medis yang tidak aman, atau praktik tato dan tindik di tempat yang tidak steril.

Pencegahan hepatitis B dapat dilakukan secara efektif melalui berbagai langkah. Vaksinasi merupakan metode pencegahan paling efektif dan direkomendasikan untuk hampir semua individu, termasuk bayi baru lahir, anak-anak, serta orang dewasa yang memiliki risiko tinggi terhadap infeksi.

Untuk mencegah penularan dari ibu ke bayi, penting dilakukan skrining hepatitis B pada ibu hamil. Jika hasilnya positif, bayi harus segera mendapatkan vaksin hepatitis B dan suntikan imunoglobulin (HBIG) dalam 12 hingga 24 jam pertama setelah lahir.

Pencegahan juga melibatkan praktik kebersihan yang ketat, seperti penggunaan alat medis steril serta menghindari berbagi jarum suntik, pisau cukur, atau sikat gigi. Selain itu, praktik hubungan seksual yang aman dengan menggunakan kondom dan membatasi jumlah pasangan seksual juga sangat dianjurkan untuk mencegah paparan cairan tubuh yang terinfeksi.

Tak kalah penting, semua produk darah dan peralatan medis harus melalui proses pemeriksaan dan sterilisasi ketat guna mencegah penularan melalui transfusi atau prosedur medis.

Sementara pencegahan hepatitis C memerlukan pendekatan yang lebih ketat karena belum tersedia vaksin untuk virus ini. Oleh karena itu, fokus utama pencegahan adalah menghindari kontak langsung dengan darah yang terinfeksi. Misalnya tidak berbagi jarum suntik, alat suntik, atau peralatan lainnya yang berpotensi terpapar darah. Prosedur medis, tato, atau tindik juga harus dilakukan di fasilitas yang steril dan berizin.

Meskipun risiko penularan melalui hubungan seksual tergolong rendah, penggunaan kondom tetap disarankan, terutama jika pasangan terinfeksi atau termasuk kelompok berisiko tinggi. Selain itu, skrining rutin sangat dianjurkan bagi individu dengan faktor risiko, seperti pengguna narkoba suntik, penerima transfusi darah, ibu hamil, dan mereka yang pernah terpapar darah terkontaminasi.

(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News) 

SEBELUMNYA

Pick A Boo!: The Musical, Mahasiswa PAC LSPR Suguhkan Musikal Bertema Gelap dan Harapan

BERIKUTNYA

Viral Mie Gacoan Bali, Begini Aturan Lengkap Royalti Lagu di Tempat Usaha

Komentar


Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.

Baca Juga:

Baca Juga