Karya ADITH dan Howard Laurent Curi Perhatian di Jakarta Fashion & Food Festival
27 July 2025 |
16:59 WIB
Gelaran Jakarta Fashion and Food Festival (JF3) yang berlangsung 25-27 di Summarecon Mall Kelapa Gading, menyuguhkan deretan busana karya desainer lokal dan mancanegara. Salah satunya jenama ADITH yang meluncurkan koleksi terbarunya bertajuk Eunoia.
Setelah sukses membawa karyanya ke New York Fashion Week untuk koleksi Spring/Summer, kali ini ADITH memamerkan karya busana untuk musim Fall/Winter.
Busana yang ditampilkan terdiri dari 15 looks ready to wear yang mengangkat filosofi keseimbangan hidup, sebuah ajakan untuk menjaga harmoni antara nilai-nilai tradisional warisan leluhur dan dinamika kehidupan modern masa kini.
Baca Juga: Paris Haute Couture Fall/Winter 2025-2026, Koleksi Adibusana Gothic sampai Gaun Alga
“Eunoia adalah kata serapan dari bahasa Yunani yang berarti ‘pemikiran yang baik’, saya percaya, dalam menciptakan sebuah karya, kita harus memulainya dari niat dan pemikiran yang baik,” tutur desainer Adith Hendart, dalam sesi konferensi pers JF3.
Koleksi Eunoia hadir sebagai cerminan pribadi sang desainer yang mencintai minimalisme, teknologi, dan kepraktisan gaya hidup modern, namun juga memiliki ketertarikan mendalam terhadap estetika masa lalu dan segala sesuatu yang bersifat vintage.
Lewat koleksi ini, Adith menggambarkan sebuah dunia ideal di mana keterbukaan dan kebebasan masa kini dapat berpadu dengan tata krama, kelas, dan sensitivitas artistik masa lalu, yang menciptakan harmoni dalam berpakaian sekaligus dalam cara hidup.
Filosofi ini diterjemahkan ke dalam setiap desain melalui perpaduan gaya, fungsi, dan estetika. Siluet-siluet ultra feminin yang terinspirasi dari varsity casual glamour dipadu dengan detail payet berkilau. Menciptakan kesan nostalgia yang berpadu manis dengan nuansa modern.
Material yang digunakan pun dipilih secara cermat, seperti wool, crispy, dan satin, untuk memastikan kenyamanan dan keindahan dalam satu kesatuan.
Warna-warna dalam koleksi ini juga menjadi penanda keseimbangan antara elegansi dan keberanian. Palet cherry lacquer yang lembut namun tegas menghadirkan karakter kuat yang cocok digunakan dalam berbagai suasana.
Salah satu koleksi busana ADITH, berupa gaun panjang merah marun dengan siluet yang anggun dan elegan. Terbuat dari bahan satin yang mengilap, gaun tersebut menampilkan kesan mewah dengan tekstur kain yang jatuh dan lembut.
Potongan leher berbentuk V yang dalam memberikan kesan dramatis dan sensual, sementara bagian pinggang dililit dengan aksen simpul atau drapery yang menciptakan efek siluet ramping dan feminin.
Lebih dari sekadar estetika, ADITH tetap membawa pesan keberlanjutan dalam karya-karyanya melalui penggunaan sequins atau payet dari limbah plastik. Setiap karya busananya merupakan bentuk ekspresi diri yang tidak hanya memikat, tetapi juga peduli dengan isu lingkungan.
"Karena hakekatnya fesyen bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bentuk ekspresi diri yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan," katanya.
Bagi Adith, busana adalah medium refleksi nilai hidup mengenai bagaimana kita menyeimbangkan pekerjaan, hubungan sosial, dan waktu untuk diri sendiri, sembari hidup selaras dengan alam.
Melalui Eunoia, ADITH mengingatkan bahwa fesyen bukan hanya tentang tren atau penampilan, melainkan tentang makna dan harmoni yang dirayakan setiap harinya.
Sebanyak 24 looks busana dikenakan oleh para model yang melenggang di runway. Dalam proses penggarapannya, Howard Laurent memadukan teknik dengan kerumitan tinggi seperti pembuatan korset, sulam payet, taburan sequin, dan detail mutiara.
Hasilnya berupa deretan busana bernuansa glamor namun tetap mempertahankan kesederhanaan dalam desain yang wearable, mencerminkan kepekaan estetik sekaligus visi praktis sang desainer.
“Lustre bukan hanya tentang fashion, ini adalah tentang kilau dari dalam diri. Saya ingin karya ini menjadi dorongan semangat bagi para desainer muda untuk berani bersinar,” ujar Howard Laurent, dalam konferensi pers JF3.
Howard menjelaskan bahwa, koleksi busananya terinspirasi dari keanggunan sosok wanita. Dalam proses kreatifnya dia menggunakan teknik corsetting, menyesuaikan bentuk tubuh wanita yang beragam.
"Tubuh wanita berbeda-beda, teknik corsetting kami sesuaikan untuk membentuk siluet yang memperkuat keunikan tiap individu,” ujarnya.
Waktu pengerjaan koleksi ini cukup panjang, yakni sekitar 3 hingga 5 bulan, dengan 80 persen material dibuat sendiri secara manual. Baginya, ini adalah bagian dari komitmen terhadap craftsmanship, yang menjadi nilai penting di balik karya-karyanya.
Salah satu karya busananya berupa gaun panjang strapless yang menonjolkan siluet tubuh dengan potongan ramping dan elegan. Gaunnya dihiasi bordir motif burung bangau dan bunga-bunga perak yang kaya detail, menciptakan kesan mewah sekaligus artistik.
Sebagai pelengkap, dikenakan mantel panjang berbahan satin hitam yang disampirkan di bahu untuk memberikan sentuhan dramatis dan anggun. Penampilan ini semakin sempurna dengan sepatu pointed-toe berkilau serta anting statement berbentuk sayap yang mempertegas tema kilau alias lustre.
Presentasi mode Howard Laurent ditutup dengan gaun silver yang memancarkan kemewahan dan keanggunan sebagai simbol Lustre. Tak hanya itu, kolaborasi dengan brand sepatu lokal VENIVOIR turut mempercantik looks gaun-gaun yang dikenakan para model.
Didirikan sejak 2019, jenama Howard Laurent kini memasuki tahun keenam dengan reputasi yang semakin kuat di industri mode Indonesia. Howard, yang juga merupakan dosen pattern drafting dan sewing di Istituto di Moda Burgo Indonesia, terus menunjukkan konsistensinya dalam menghadirkan karya berkualitas sekaligus menginspirasi generasi muda untuk berkarya.
Adapun JF3, sejak pertama kali diselenggarakan pada 2004, telah menjadi ruang penting bagi desainer lokal dan perajin tradisional untuk menampilkan keindahan wastra Nusantara dalam balutan gaya modern.
Festival mode dan gaya hidup ini akan menghadirkan lebih dari 45 desainer, serta jenama lokal dan mancanegara dari Eropa seperti Prancis dan Asia mencakup Korea Selatan dan negara-negara Asean seperti Vietnam, Laos, dan Thailand yang akan menampilkan koleksi busana teranyarnya.
Baca Juga: Detail Kebaya Pengantin dan Gaun Afterparty Alyssa Daguise Rancangan Tex Saverio
Setelah sukses membawa karyanya ke New York Fashion Week untuk koleksi Spring/Summer, kali ini ADITH memamerkan karya busana untuk musim Fall/Winter.
Busana yang ditampilkan terdiri dari 15 looks ready to wear yang mengangkat filosofi keseimbangan hidup, sebuah ajakan untuk menjaga harmoni antara nilai-nilai tradisional warisan leluhur dan dinamika kehidupan modern masa kini.
Baca Juga: Paris Haute Couture Fall/Winter 2025-2026, Koleksi Adibusana Gothic sampai Gaun Alga
“Eunoia adalah kata serapan dari bahasa Yunani yang berarti ‘pemikiran yang baik’, saya percaya, dalam menciptakan sebuah karya, kita harus memulainya dari niat dan pemikiran yang baik,” tutur desainer Adith Hendart, dalam sesi konferensi pers JF3.
Koleksi Eunoia hadir sebagai cerminan pribadi sang desainer yang mencintai minimalisme, teknologi, dan kepraktisan gaya hidup modern, namun juga memiliki ketertarikan mendalam terhadap estetika masa lalu dan segala sesuatu yang bersifat vintage.
Lewat koleksi ini, Adith menggambarkan sebuah dunia ideal di mana keterbukaan dan kebebasan masa kini dapat berpadu dengan tata krama, kelas, dan sensitivitas artistik masa lalu, yang menciptakan harmoni dalam berpakaian sekaligus dalam cara hidup.
Filosofi ini diterjemahkan ke dalam setiap desain melalui perpaduan gaya, fungsi, dan estetika. Siluet-siluet ultra feminin yang terinspirasi dari varsity casual glamour dipadu dengan detail payet berkilau. Menciptakan kesan nostalgia yang berpadu manis dengan nuansa modern.
Material yang digunakan pun dipilih secara cermat, seperti wool, crispy, dan satin, untuk memastikan kenyamanan dan keindahan dalam satu kesatuan.
Warna-warna dalam koleksi ini juga menjadi penanda keseimbangan antara elegansi dan keberanian. Palet cherry lacquer yang lembut namun tegas menghadirkan karakter kuat yang cocok digunakan dalam berbagai suasana.

Koleksi busana ADITH (Sumber Foto: JF3)
Salah satu koleksi busana ADITH, berupa gaun panjang merah marun dengan siluet yang anggun dan elegan. Terbuat dari bahan satin yang mengilap, gaun tersebut menampilkan kesan mewah dengan tekstur kain yang jatuh dan lembut.
Potongan leher berbentuk V yang dalam memberikan kesan dramatis dan sensual, sementara bagian pinggang dililit dengan aksen simpul atau drapery yang menciptakan efek siluet ramping dan feminin.
Lebih dari sekadar estetika, ADITH tetap membawa pesan keberlanjutan dalam karya-karyanya melalui penggunaan sequins atau payet dari limbah plastik. Setiap karya busananya merupakan bentuk ekspresi diri yang tidak hanya memikat, tetapi juga peduli dengan isu lingkungan.
"Karena hakekatnya fesyen bukan hanya soal penampilan, tetapi juga bentuk ekspresi diri yang mencerminkan nilai-nilai kehidupan," katanya.
Bagi Adith, busana adalah medium refleksi nilai hidup mengenai bagaimana kita menyeimbangkan pekerjaan, hubungan sosial, dan waktu untuk diri sendiri, sembari hidup selaras dengan alam.
Melalui Eunoia, ADITH mengingatkan bahwa fesyen bukan hanya tentang tren atau penampilan, melainkan tentang makna dan harmoni yang dirayakan setiap harinya.
Howard Laurent Glamor dalam Koleksi Lustre
Jenama lainnya yang juga melenggangkan karya busananya di JF3 2025 ada Howard Laurent. Bertajuk Lustre, koleksi ini mencerminkan keindahan yang berkilau dan glamor yang memikat sebagai simbol kepercayaan diri.Sebanyak 24 looks busana dikenakan oleh para model yang melenggang di runway. Dalam proses penggarapannya, Howard Laurent memadukan teknik dengan kerumitan tinggi seperti pembuatan korset, sulam payet, taburan sequin, dan detail mutiara.
Hasilnya berupa deretan busana bernuansa glamor namun tetap mempertahankan kesederhanaan dalam desain yang wearable, mencerminkan kepekaan estetik sekaligus visi praktis sang desainer.
“Lustre bukan hanya tentang fashion, ini adalah tentang kilau dari dalam diri. Saya ingin karya ini menjadi dorongan semangat bagi para desainer muda untuk berani bersinar,” ujar Howard Laurent, dalam konferensi pers JF3.
Howard menjelaskan bahwa, koleksi busananya terinspirasi dari keanggunan sosok wanita. Dalam proses kreatifnya dia menggunakan teknik corsetting, menyesuaikan bentuk tubuh wanita yang beragam.
"Tubuh wanita berbeda-beda, teknik corsetting kami sesuaikan untuk membentuk siluet yang memperkuat keunikan tiap individu,” ujarnya.
Waktu pengerjaan koleksi ini cukup panjang, yakni sekitar 3 hingga 5 bulan, dengan 80 persen material dibuat sendiri secara manual. Baginya, ini adalah bagian dari komitmen terhadap craftsmanship, yang menjadi nilai penting di balik karya-karyanya.

Koleksi Howard Laurent (Sumber Foto: JF3)
Salah satu karya busananya berupa gaun panjang strapless yang menonjolkan siluet tubuh dengan potongan ramping dan elegan. Gaunnya dihiasi bordir motif burung bangau dan bunga-bunga perak yang kaya detail, menciptakan kesan mewah sekaligus artistik.
Sebagai pelengkap, dikenakan mantel panjang berbahan satin hitam yang disampirkan di bahu untuk memberikan sentuhan dramatis dan anggun. Penampilan ini semakin sempurna dengan sepatu pointed-toe berkilau serta anting statement berbentuk sayap yang mempertegas tema kilau alias lustre.
Presentasi mode Howard Laurent ditutup dengan gaun silver yang memancarkan kemewahan dan keanggunan sebagai simbol Lustre. Tak hanya itu, kolaborasi dengan brand sepatu lokal VENIVOIR turut mempercantik looks gaun-gaun yang dikenakan para model.
Didirikan sejak 2019, jenama Howard Laurent kini memasuki tahun keenam dengan reputasi yang semakin kuat di industri mode Indonesia. Howard, yang juga merupakan dosen pattern drafting dan sewing di Istituto di Moda Burgo Indonesia, terus menunjukkan konsistensinya dalam menghadirkan karya berkualitas sekaligus menginspirasi generasi muda untuk berkarya.
Adapun JF3, sejak pertama kali diselenggarakan pada 2004, telah menjadi ruang penting bagi desainer lokal dan perajin tradisional untuk menampilkan keindahan wastra Nusantara dalam balutan gaya modern.
Festival mode dan gaya hidup ini akan menghadirkan lebih dari 45 desainer, serta jenama lokal dan mancanegara dari Eropa seperti Prancis dan Asia mencakup Korea Selatan dan negara-negara Asean seperti Vietnam, Laos, dan Thailand yang akan menampilkan koleksi busana teranyarnya.
Baca Juga: Detail Kebaya Pengantin dan Gaun Afterparty Alyssa Daguise Rancangan Tex Saverio
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.