Bunyi berulang klik… klik… klik… dari slide projector di ruang kecil mataWaktu, kawasan Fatmawati, serupa kapsul waktu. Setiap kali suara itu terdengar, sebuah foto analog muncul di layar. Pengunjung yang datang dibuat terkesima dengan foto yang terpampang.
Bunyi klik pertama menyorotkan gambar tarian sakral di tengah hutan, disusul klik berikutnya yang menampilkan ritual penyembuhan tradisional. Foto-foto lain memperlihatkan ahli mandau sedang mengasah bilahnya, para tetua Dayak dengan telinga panjang mereka, rumah panjang yang berdiri kokoh, serta bentang flora dan fauna Kalimantan yang sudah terkenal akan kelebatannya.
Perpindahan gambar demi gambar tersebut seperti menghidupkan kembali kenangan akan peristiwa yang terjadi sekitar 30 tahun silam. Foto-foto analog yang ditampilkan ini merupakan hasil dari Ekspedisi Kapuas-Mahakam yang digelar pada 1994.
Acara Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Foto Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 (Sumber gambar: Hypeabis/Robby Fathan)
Ekspedisi Kapuas-Mahakam merupakan perjalanan yang menembus jantung pedalaman Pulau Kalimantan lebih dari tiga dekade lalu. Ekspedisi tersebut digelar untuk napak tilas perjalanan Dr. Anton Nieuwenhuis, dokter militer Belanda yang pada 1893–1894 menyeberangi Kalimantan dari Pontianak menuju Samarinda.
Dari perjalanan itu, Nieuwenhuis melahirkan buku In Central Borneo, Reis Van Pontianak Naar Samarinda. Bukan itu saja, perjalanan tersebut lebih penting lagi karena turut berperan menyelenggarakan sebuah musyawarah besar Dayak.
Dalam forum bersejarah tersebut, berbagai sub-suku Dayak sepakat untuk menghentikan praktik adat mengayau, sebuah tradisi memenggal kepala musuh, yang selama berabad-abad menjadi bagian dari dinamika perang antarsuku.
Sama seperti perjalanan Nieuwenhuis seabad sebelumnya, Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 tidak hanya mendokumentasikan rute, tetapi juga merekam denyut budaya dan kehidupan masyarakat Dayak yang mulai bersinggungan dengan modernitas.
Tim ekspedisi ini kala itu terdiri dari gabungan jurnalis dan fotografer Kompas Gramedia bersama Mapala Universitas Indonesia. Mereka mengarungi sungai berarus deras, menembus rimba, dan tinggal bersama masyarakat Dayak Iban untuk merekam tradisi yang saat itu sudah mulai jarang terlihat.
Dimulai dari upacara mandung (penghormatan kepada roh leluhur), tenun ikat, pengobatan tradisional, hingga seni tari yang hanya ditampilkan dalam momen-momen sakral lainnya. Kini, lebih dari tiga puluh tahun kemudian, foto-foto yang lama tersimpan itu direncanakan akan diterbitkan menjadi sebuah buku.
Inisiatif ini bukan sekadar proyek dokumentasi, melainkan upaya menghidupkan kembali memori visual tentang Kalimantan pada masa transisi, ketika sebagian besar wilayahnya masih perawan dan budaya Dayak masih bertahan kuat. Namun, saat ini rencana tersebut masih dalam proses yang berliku.
Salah satu fotografer yang tergabung dalam ekspedisi ini, Riza Marlon, dalam Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Foto Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 (Sumber gambar: Hypeabis/Robby Fathan)
Salah satu fotografer yang tergabung dalam ekspedisi ini, Riza Marlon, mengatakan sekitar satu tahun yang lalu, tepatnya saat ekspedisi berumur 30 tahun ini berjalan, para tim yang terlibat sempat berkumpul di sebuah tempat. Di samping reuni sekaligus semacam perayaan, kumpul-kumpul itu juga kemudian menghidupkan kembali ide untuk menerbitkan foto-foto saat ekspedisi menjadi sebuah buku.
"Kalau saya sih pengin buku itu tetap jadi. Saya senang segala sesuatu itu jadi buku gitu, biar jadi literasi juga untuk generasi yang lebih muda," ungkap Riza Marlon yang karib disapa Caca tersebut.
Namun, dirinya menyadari bahwa membangkitkan ide yang telah lama terkubur bukanlah hal yang gampang. Saat ini tim ekspedisi sudah makin menua. Selain itu, masing-masing juga mungkin telah memiliki project pribadi lain.
Di sisi lain, karena ini adalah karya kolektif, dalam artian banyak fotografer terlibat, tentu diskusi juga bisa menjadi panjang. Oleh karena itu, dirinya merasa perlu ada komitmen yang lebih agar hasil ekspedisi tersebut bisa segera menjadi sebuah buku.
"Kita harus bisa bikin timeline dan deadline. Jadi, kita harus punya rencana mau ngapain dan selesainya itu kapan, itu sih yang penting. Selesai enggak selesai ya dikumpulkan. Jadi, jangan berharap lengkap, sempurna, segala macem," imbuhnya.
Caca mengatakan dalam satu tahun terakhir, ide untuk menjadikan karya ekspedisi ini menjadi buku sebenarnya sudah cukup berprogres. Nuke, salah satu ekspeditor yang tergabung kala itu cukup terlibat aktif untuk proses penyusunan. Namun, kabar duka kemudian datang, Nuke beberapa bulan lalu telah berpulang.
Saat ini, project penerbitan buku ini pun kemudian cukup mengambang. Menurutnya, para tim ekspeditor perlu segera berkumpul lagi dan menunjuk pemimpin baru untuk menakhodai project ini.
Mimpi yang Lama Terpendam
Salah satu fotografer yang tergabung dalam ekspedisi ini, Don Hasman dalam Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Foto Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 (Sumber gambar: Hypeabis/Robby Fathan)
Ide membukukan hasil karya Ekspedisi Kapuas-Mahakam ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Fotografer lain yang turut tergabung di ekspedisi ini, Don Hasman, menyebut sejak 1994, ide menjadikan perjalanan ini menjadi sebuah buku sudah ada.
Don menyebut kala itu rencana awalnya satu tahun setelah ekpsedisi, yakni 1995, akan diterbitkan menjadi buku. Jika waktu itu kejadian, penerbitan buku itu berada pada momen yang tepat.
Sebab, buku itu terbit bertepatan dengan momen 100 tahun dari Dr. Anton Nieuwenhuis, dokter militer Belanda yang menjelajahi pedalaman Kalimantan, yang menjadi inspirasi dari perjalanan ini. Kemudian, waktu itu, 1995, Indonesia juga sedang berusia 50 tahun.
Oleh karena itu, buku ini akan jadi satu catatan etnografi menarik untuk mengungkap masyarakat Kalimantan, khususnya suku Dayak. Don menyebut pihak Gramedia juga diketahui telah menyediakan anggaran untuk penerbitan buku ini.
Namun, rupanya waktu itu berbarengan dengan proyek Arung Samudera dari Angkatan Laut. Oleh karena itu, Don menduga penerbitan buku ekspedisi ini jadi ditunda. Barulah, setahun kemudian, para ekspeditor mulai menginisiasi penerbitan buku ini lagi.
"Ekspedisi ini menghasilkan 1.300 rol. Namun, kalau bicara sekarang, beda lagi. Katakanlah mungkin 10 persen rusak, tapi itu sudah bagus," imbuhnya.
Pentingnya Arsip Etnografi
Fotografer senior yang juga terlibat di ekspedisi ini, Eddy Hasby mengatakan Indonesia perlu banyak riset dan arsip terkait etnografi. Dalam ekspedisi ini, para fotografer banyak mengabadikan kehidupan masyarakat Dayak pada era 1994, ketika arsip foto belum begitu populer.
Namun, hanya 30 tahun berselang, foto-foto ekspedisi kala itu sebenarnya cukup tercecer. Padahal, arsip mengenai kondisi ini sangatlah penting. Foto-foto dari masa lalu bisa menjadi pembanding yang apik tentang apa yang dahulu ada, lalu tidak ada, atau apa yang dahulu ada dan hingga kini tetap ada.
Dia membandingkan dengan ekspedisi dr Anton dari Belanda yang arsipnya masih begitu baik dan bisa tetap dilihat oleh generasi penerus. "Kalau kita lihat, arsip kita banyak sekali di Leiden, tapi di sini kan enggak," imbuhnya.
Eddy berharap permasalahan arsip ini menjadi satu isu penting bagi fotografer muda. Sementara itu, fotografer lainnya, Tantyo Bangun mengatakan masalah arsip memang kini jadi hal yang krusial dan punya dinamikanya sendiri.
Fotografer Eddy Hasby dan Tantyo Bangun dalam Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Foto Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 (Sumber gambar: Hypeabis/Robby Fathan)
Jika pada masa lalu, fotografer hanya punya sedikit roll film sehingga kehilangan arsip menjadi begitu terasa dampaknya. Namun, pada masa sekarang, fotografer muda tidak lagi punya masalah soal kuantitas.
Sebaliknya, masalahnya ialah pada kualitas. Dalam artian, dengan banyaknya foto yang bisa diambil saat ini, fotografer masa kini perlu membedakan antara mana yang menjadi voice dan mana yang sekadar noise.
Terkait dengan foto-foto dari Ekspedisi Kapuas-Mahakam, dirinya menyarankan agar jika belum bisa menjadi sebuah buku, tak ada salahnya untuk dikemas dalam bantuk lain, tak terkecuali lewat online.
"Jadi, kita taruh dahulu di online, di sebuah server gitu. Syukur-syukur kan kita bisa membuatnya interaktif gitu, mungkin kita bisa juga sambil kita ceritain apa yang terjadi di foto itu. Itu bisa dicicil juga gitu, sehingga anak-anak sekarang setiap saat juga bisa melihat," jelasnya.
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.