Cerita Fotografer Riza Marlon Memotret Hewan Liar di Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994
26 July 2025 |
21:30 WIB
Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 meninggalkan kesan mendalam bagi para ekspeditornya, salah satunya Riza Marlon. Fotografer yang kini dikenal luas karena fokus pada satwa liar ini kala itu ikut dalam perjalanan tersebut. Di ekspedisi itu, dia bertugas untuk mengabadikan kehidupan fauna di pedalaman kalimantan.
Dalam acara Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Ekspedisi Kapuas Mahakam 1994 yang digelar di mataWaktu pada Sabtu, (16/7/2025), sebagian jepretannya itu ditampilkan. Beberapa potret satwa kecil, serangga malam, hingga detail flora hutan berhasil diabadikannya.
Foto-fotonya turut memperkaya ekspedisi ini. Di antara foto-foto ritual adat, rumah panjang, dan etnografi lain dari suku Dayak, gambar-gambar dari Riza menunjukkan sisi lain ekspedisi.
"Saya satu-satunya peserta ekspedisi yang bukan wartawan. Waktu itu saya diajak karena memang fokus saya memotret satwa liar," katanya.
Baca juga: Klise Kenangan dari Rimba: Ekspedisi Kapuas-Mahakam dan Upaya Mengarsipkan Budaya Dayak
Riza mengaku kala itu dirinya sangat bersemangat ketika diajak bergabung dalam Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994. Dia membayangkan perjalanan tersebut akan membawanya pada pengalaman luar biasa, termasuk kesempatan memotret satwa-satwa langka yang belum banyak terdokumentasikan.
Namun, kenyataannya, rute yang harus dilalui ternyata cukup menantang. Para peserta berjalan berjam-jam setiap hari, sejak pagi hingga sore, melewati hutan yang rapat serta sungai-sungai dengan arus deras yang kadang membentuk jeram. Kondisi ini membuat tenaga terkuras sekaligus memerlukan kewaspadaan ekstra.
Selain itu, perjalanan panjang yang melibatkan kapal besar hingga perahu kecil memunculkan risiko bagi peralatan fotografi yang dibawanya. Kamera, lensa, dan rol film harus selalu dijaga agar tidak rusak terkena air atau benturan.
Kondisi tersebut membatasi keleluasaannya dalam memotret. Dia harus membagi perhatian antara menjaga keselamatan diri, melindungi perlengkapan, sekaligus tetap sigap melihat peluang saat menjumpai satwa di sepanjang perjalanan.
Tantangan itu semakin terasa karena seluruh pemotretan masih menggunakan kamera analog, sehingga Riza baru dapat mengetahui hasil gambarnya setelah film dikirim ke Jakarta untuk diproses.
"Waktu itu semuanya masih analog. Setelah memotret, kita tidak tahu hasilnya seperti apa sampai film tiba di Jakarta dan dicetak," imbuhnya.
Riza menjelaskan bahwa kesempatan memotretnya lebih banyak terjadi pada pagi hari sebelum rombongan kembali melanjutkan perjalanan atau menjelang sore hingga malam saat mereka telah tiba di lokasi perkemahan. Pada momen-momen itulah dia bisa mengambil waktu untuk fokus mencari satwa liar.
Saat malam tiba, dia memanfaatkan kesunyian hutan untuk membidik hewan-hewan kecil menggunakan teknik makro dan bantuan lampu kilat. Katak, kelabang, serta berbagai jenis serangga menjadi sasaran utamanya.
Selain fauna, dia juga mengabadikan beragam tumbuhan khas hutan tropis. Semua itu harus dilakukan dengan keterbatasan teknis, karena seluruh pemotretan menggunakan film ISO 100 yang menuntut ketelitian tinggi.
“Sulitnya memotret dengan ISO 100 itu sangat terasa. Sekarang bisa dinaikkan sampai puluhan ribu, tapi dulu tidak,” ujarnya.
Selain fokus pada satwa liar, Riza juga mendokumentasikan berbagai aktivitas masyarakat Dayak yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Setiap kali rombongan berhenti untuk beristirahat, misalnya, dirinya memanfaatkan waktu untuk merekam momen-momen kehidupan sehari-hari yang berlangsung di sekitar lokasi.
Salah satu hal yang paling sering dia saksikan adalah kebiasaan penduduk setempat berburu. Mereka melakukannya untuk memenuhi kebutuhan pangan selama rombongan berada di wilayah mereka. Hasil buruan itulah yang kemudian dimasak dan disantap bersama.
Menurut Riza, masyarakat Dayak lebih memilih daging segar hasil perburuan dibandingkan persediaan makanan kalengan yang dibawa tim ekspedisi. Beberapa hewan yang berhasil mereka tangkap antara lain rusa, lutung, hingga landak.
“Menariknya, setiap kali kita istirahat, suku Dayak pasti berburu. Beberapa kali kami dapat rusa, lutung, atau landak. Mereka memang tidak terlalu suka makanan kalengan,” kata Riza.
Menurutnya, perjalanan Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 menjadi salah satu petualangan yang menarik. Dia berharap hasil karya dari para fotografer dan tim ekpsedisi lain di perjalanan ini bisa dikemas menjadi buku. Sebab, baginya, ini bisa jadi satu karya etnografi menarik yang menggambarkan masyarakat Dayak pada medio 1994-an.
Ekspedisi Kapuas-Mahakam adalah perjalanan yang dilakukan lebih dari tiga dekade lalu untuk menembus pedalaman Kalimantan. Ekspedisi ini waktu itu dirancang sebagai napak tilas atas rute yang pernah dilalui Dr. Anton Nieuwenhuis, seorang dokter militer asal Belanda, menyeberangi Kalimantan dari Pontianak menuju Samarinda.
Perjalanan Nieuwenhuis kemudian terdokumentasi dalam buku berjudul In Central Borneo, Reis Van Pontianak Naar Samarinda. Lebih dari sekadar catatan ekspedisi, perjalanannya juga memicu terlaksananya musyawarah besar Dayak, sebuah pertemuan bersejarah yang melahirkan kesepakatan untuk menghentikan tradisi mengayau, praktik memenggal kepala musuh yang selama berabad-abad dan menjadi bagian dari konflik antarsuku.
Seratus tahun kemudian, Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 kembali menyusuri jalur tersebut. Tidak hanya merekam rute perjalanan, tim ini juga mendokumentasikan kehidupan budaya masyarakat Dayak yang mulai bersentuhan dengan modernitas.
Rombongan yang terdiri dari jurnalis Kompas Gramedia dan anggota Mapala Universitas Indonesia itu mengarungi sungai berarus deras, melewati hutan rapat, dan tinggal bersama komunitas Dayak Iban untuk mengabadikan tradisi yang pada masa itu sudah semakin jarang terlihat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Dalam acara Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Ekspedisi Kapuas Mahakam 1994 yang digelar di mataWaktu pada Sabtu, (16/7/2025), sebagian jepretannya itu ditampilkan. Beberapa potret satwa kecil, serangga malam, hingga detail flora hutan berhasil diabadikannya.
Foto-fotonya turut memperkaya ekspedisi ini. Di antara foto-foto ritual adat, rumah panjang, dan etnografi lain dari suku Dayak, gambar-gambar dari Riza menunjukkan sisi lain ekspedisi.
"Saya satu-satunya peserta ekspedisi yang bukan wartawan. Waktu itu saya diajak karena memang fokus saya memotret satwa liar," katanya.
Baca juga: Klise Kenangan dari Rimba: Ekspedisi Kapuas-Mahakam dan Upaya Mengarsipkan Budaya Dayak

Acara Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Foto Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 (Sumber gambar: Hypeabis/Robby Fathan)
Riza mengaku kala itu dirinya sangat bersemangat ketika diajak bergabung dalam Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994. Dia membayangkan perjalanan tersebut akan membawanya pada pengalaman luar biasa, termasuk kesempatan memotret satwa-satwa langka yang belum banyak terdokumentasikan.
Namun, kenyataannya, rute yang harus dilalui ternyata cukup menantang. Para peserta berjalan berjam-jam setiap hari, sejak pagi hingga sore, melewati hutan yang rapat serta sungai-sungai dengan arus deras yang kadang membentuk jeram. Kondisi ini membuat tenaga terkuras sekaligus memerlukan kewaspadaan ekstra.
Selain itu, perjalanan panjang yang melibatkan kapal besar hingga perahu kecil memunculkan risiko bagi peralatan fotografi yang dibawanya. Kamera, lensa, dan rol film harus selalu dijaga agar tidak rusak terkena air atau benturan.
Kondisi tersebut membatasi keleluasaannya dalam memotret. Dia harus membagi perhatian antara menjaga keselamatan diri, melindungi perlengkapan, sekaligus tetap sigap melihat peluang saat menjumpai satwa di sepanjang perjalanan.
Tantangan itu semakin terasa karena seluruh pemotretan masih menggunakan kamera analog, sehingga Riza baru dapat mengetahui hasil gambarnya setelah film dikirim ke Jakarta untuk diproses.
"Waktu itu semuanya masih analog. Setelah memotret, kita tidak tahu hasilnya seperti apa sampai film tiba di Jakarta dan dicetak," imbuhnya.
Riza menjelaskan bahwa kesempatan memotretnya lebih banyak terjadi pada pagi hari sebelum rombongan kembali melanjutkan perjalanan atau menjelang sore hingga malam saat mereka telah tiba di lokasi perkemahan. Pada momen-momen itulah dia bisa mengambil waktu untuk fokus mencari satwa liar.
Saat malam tiba, dia memanfaatkan kesunyian hutan untuk membidik hewan-hewan kecil menggunakan teknik makro dan bantuan lampu kilat. Katak, kelabang, serta berbagai jenis serangga menjadi sasaran utamanya.
Selain fauna, dia juga mengabadikan beragam tumbuhan khas hutan tropis. Semua itu harus dilakukan dengan keterbatasan teknis, karena seluruh pemotretan menggunakan film ISO 100 yang menuntut ketelitian tinggi.
“Sulitnya memotret dengan ISO 100 itu sangat terasa. Sekarang bisa dinaikkan sampai puluhan ribu, tapi dulu tidak,” ujarnya.

Salah satu Foto Riza Marlon ditampilkan dalam acara Kongko-kongko & Proyeksi Slide Analog Foto Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 (Sumber gambar: Hypeabis/Robby Fathan)
Selain fokus pada satwa liar, Riza juga mendokumentasikan berbagai aktivitas masyarakat Dayak yang mereka temui di sepanjang perjalanan. Setiap kali rombongan berhenti untuk beristirahat, misalnya, dirinya memanfaatkan waktu untuk merekam momen-momen kehidupan sehari-hari yang berlangsung di sekitar lokasi.
Salah satu hal yang paling sering dia saksikan adalah kebiasaan penduduk setempat berburu. Mereka melakukannya untuk memenuhi kebutuhan pangan selama rombongan berada di wilayah mereka. Hasil buruan itulah yang kemudian dimasak dan disantap bersama.
Menurut Riza, masyarakat Dayak lebih memilih daging segar hasil perburuan dibandingkan persediaan makanan kalengan yang dibawa tim ekspedisi. Beberapa hewan yang berhasil mereka tangkap antara lain rusa, lutung, hingga landak.
“Menariknya, setiap kali kita istirahat, suku Dayak pasti berburu. Beberapa kali kami dapat rusa, lutung, atau landak. Mereka memang tidak terlalu suka makanan kalengan,” kata Riza.
Menurutnya, perjalanan Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 menjadi salah satu petualangan yang menarik. Dia berharap hasil karya dari para fotografer dan tim ekpsedisi lain di perjalanan ini bisa dikemas menjadi buku. Sebab, baginya, ini bisa jadi satu karya etnografi menarik yang menggambarkan masyarakat Dayak pada medio 1994-an.
Ekspedisi Kapuas-Mahakam adalah perjalanan yang dilakukan lebih dari tiga dekade lalu untuk menembus pedalaman Kalimantan. Ekspedisi ini waktu itu dirancang sebagai napak tilas atas rute yang pernah dilalui Dr. Anton Nieuwenhuis, seorang dokter militer asal Belanda, menyeberangi Kalimantan dari Pontianak menuju Samarinda.
Perjalanan Nieuwenhuis kemudian terdokumentasi dalam buku berjudul In Central Borneo, Reis Van Pontianak Naar Samarinda. Lebih dari sekadar catatan ekspedisi, perjalanannya juga memicu terlaksananya musyawarah besar Dayak, sebuah pertemuan bersejarah yang melahirkan kesepakatan untuk menghentikan tradisi mengayau, praktik memenggal kepala musuh yang selama berabad-abad dan menjadi bagian dari konflik antarsuku.
Seratus tahun kemudian, Ekspedisi Kapuas-Mahakam 1994 kembali menyusuri jalur tersebut. Tidak hanya merekam rute perjalanan, tim ini juga mendokumentasikan kehidupan budaya masyarakat Dayak yang mulai bersentuhan dengan modernitas.
Rombongan yang terdiri dari jurnalis Kompas Gramedia dan anggota Mapala Universitas Indonesia itu mengarungi sungai berarus deras, melewati hutan rapat, dan tinggal bersama komunitas Dayak Iban untuk mengabadikan tradisi yang pada masa itu sudah semakin jarang terlihat.
(Baca artikel Hypeabis.id lainnya di Google News)
Komentar
Silahkan Login terlebih dahulu untuk meninggalkan komentar.